Kita hanya menyaksikan apa yang disajikan media.
Sedangkan kita tidak paham persis situasi yang ada dibalik peristiwa itu.
Tapi ada yang lebih buruk dari itu:
kita menerima informasi media sebagai kebenaran tanpa pernah merasa ngeri.
Pagi ini, aku dihentak lagi oleh nasehat seorang Guruku:
"Jangan terpesona oleh fenomena-fenomena, fokuskanlah perhatianmu pada hakekat dari suatu peristiwa"
Dua mata, dua kali melihat. Dua telinga, dua kali mendengar.
Tapi kita hanya diberikan satu mulut, agar hanya satu kali bicara.
Itulah ajaran tentang "kearifan".
Ajaran tentang kebijaksanaan.
Yang bisa memfungsikan karunia Allah diatas secara tepat,
maka dia adalah orang yg paling punya potensi memiliki ilmu lebih banyak.
Yang paling mampu menggali hikmah dari setiap peristiwa
Salah satu hal yang menggerahkan, dari sekian banyaknya kelemahan generasi,
adalah karena mereka memfungsikan lisannya lebih banyak.
Sedangkan mata dan telinga hanya difungsikan sedikit
Guru, terbaringlah engkau dalam keabadian akhirat,
sambil menikmati buah dari jerih payah kebaikan yang telah kau tanam,
dan kini kau nikmati tunai, balasan atas itu
"Aku Telah Berjanji Kepada Sejarah Untuk Pantang Menyerah, Berselempang Semangat Yang Tidak Pernah Mati"
Minggu, 16 November 2014
Hujan Kematian
Tanah mulai basah. Tidakkah engkau mulai merasakan dingin?!
Sedangkan malam mulai berlalu tanpa nyanyian burung.
Dan senja, pergi lebih cepat dari biasanya
Tak ada yang bisa memastikan apa yang akan terjadi esok.
Hujan ataukah banjir
Tapi mengapa aku merasakan, waktu tak mau beranjak pergi?
Bunuh. Mereka saling membunuh.
Kematian dimana-mana. Meski gerak jasad masih ada
Apakah dunia telah menjadi rimba yg menakutkan?
Rimba yang tak pernah kutemukan kisahnya dalam buku-buku...
Rimba yang peristiwanya tak pernah ada dalam sejarah para binatang
Ketika Ibu membunuh anaknya.
Atau ketika para anak menistakan ayah dan ibunya
Mengapa manusia kini menatap kita dengan begitu dingin? Seolah mangsa?
Menatap kita dengan tatapan yang lebih dingin dari malam ini.
Bahkan kini engkau tak harus menunggu datangnya hujan....
karena bumi telah tenggelam dalam lautan air mata
Tak ada lagi cinta yang menghangatkan hubungan....
Kita harus kembali memaknai Cinta....
agar hidup kita bisa berlanjut
Sedangkan malam mulai berlalu tanpa nyanyian burung.
Dan senja, pergi lebih cepat dari biasanya
Tak ada yang bisa memastikan apa yang akan terjadi esok.
Hujan ataukah banjir
Tapi mengapa aku merasakan, waktu tak mau beranjak pergi?
Bunuh. Mereka saling membunuh.
Kematian dimana-mana. Meski gerak jasad masih ada
Apakah dunia telah menjadi rimba yg menakutkan?
Rimba yang tak pernah kutemukan kisahnya dalam buku-buku...
Rimba yang peristiwanya tak pernah ada dalam sejarah para binatang
Ketika Ibu membunuh anaknya.
Atau ketika para anak menistakan ayah dan ibunya
Mengapa manusia kini menatap kita dengan begitu dingin? Seolah mangsa?
Menatap kita dengan tatapan yang lebih dingin dari malam ini.
Bahkan kini engkau tak harus menunggu datangnya hujan....
karena bumi telah tenggelam dalam lautan air mata
Tak ada lagi cinta yang menghangatkan hubungan....
Kita harus kembali memaknai Cinta....
agar hidup kita bisa berlanjut