Tampilkan postingan dengan label Serial Dakwah Kampus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Serial Dakwah Kampus. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 November 2011

Kontrol Gagasan

7 Juli 2010

Realitas dunia kampus tak ada bedanya dengan realitas kehidupan dalam skala nasional. Dakwah yang kita lakukan di kampus sesungguhnya sama persis dengan dakwah yang kita lakukan pada skala negara. Komponen objek dakwah yang harus kita urus juga sama. Di sana ada politik, di sana ada realitas sosial, dan di sana juga ada realitas ekonomi. Yang membedakan keduanya hanyalah pada besaran wilayah amal yang harus kita kelola dan kerjakan.

Jika kondisinya demikian, maka Interaksi kita sebagai dai dan organisasi yang membawa misi Islam dengan berbagai lembaga kemahasiswaan adalah satu realitas yang tak bisa dihindari. Termasuk interkasi dengan organ-organ kultur mahasiswa kampus. Organisasi kemahasiswaan dengan berbagai ragam basis ideology yang dimilikinya. Di sana ada Islam. di sana juga ada agama lainnya. Di sana juga ada kelompok nasionalis dan bahkan sekuler.


Nah, ketika kita ingin menguatkan pijakan kaki dakwah di tengah masyarakat kampus. Maka menjadi satu keniscayaan akan adanya interaksi antara harokah dan kadernya dengan beragam pemikiran dan basis ideologi tersebut. Dan keberadaan kita seharusnya dapatlah di terima oleh semua masyarakat kampus. Dan salah satu alasan penerimaan itu sesungguhnya adalah gagasan.

Gagasan yang ingin kita berikan sebagai sebentuk keinginan luhur kepada penataan masyarakat kampus. Tetapi di silah letak masalahnya. Kita dihadapkan pada pertanyaan ini: Bagaimana caranya agar gagasan yang kita berikan dapat diterima oleh banyak kelompok masyarakat kampus dengan ideology yang juga beragam tersebut, tanpa meninggalkan nilai-nilai yang menjadi dasar amal yang kita lakukan. Yaitu Islam.

Gagasan adalah mutiara. Mutiara yang menjadi nilai tawar yang sangat menentukan grade harokah di mata masyarakat kampus. Juga, gagasan dalam dakwah adalah faktor yang mampu mendinamisasi gerak harokah.

Akan tetapi, ketika dakwah memasuki era terbuka, dan terjadi interaksi dengan ragam pemikiran, maka gagasan yang lahir dari harokah dan kader harokah menjadi sangat mungkin telah mendapatkan pengaruh luar, akibat interaksi yang intens dengan realitas masyarakat kampus secara umum maupun melalui dialog antar gerakan, sehingga boleh jadi gagasan menjadi jauh terpinggirkan dari aspek-aspek orisinalitas Islam dan dakwah itu sendiri.

Ada hal yang utama untuk dilakukan di sini. Yaitu bagaimana menjaga orisinalitas gagasan yang kita release pada masyarakat kampus, agar tidak keluar dari bingai ideology yang kita pahami? Jawabannya adalah pemahaman yang mendalam terhadap aspek tsawabit dan mutaghayiirat dalam Islam. Tsawabit dalam agama. itulah yang kita sebut dengan aqidah, syariat, ibadah dan akhlak. Juga aspek tsawabit dalam fikroh. Tentang metode perjuangan dan cara pencapaian cita-cita dakwah. Dan hal lainnya, Yang semuanya tak boleh berubah.

Juga, pengetahuan yang mendalam tentang aspek Islam yang mana saja yang boleh disesuaikan dengan realitas zaman. Inilah yang kita sebut dengan aspek mutaghayiirat. Aspek mutaghayiirat memberikan ruang gerak yang luas bagi harokah untuk mencreate satu model perjuangan tetapi tetap dalam bingkai keislmanan. Jika mutaghayyirat member ruang gerak yang luas, maka tsawabitlah yang menjaga orisinalitas dakwah dan Islam.

Oleh sebab itulah kader harokah harus benar-benar memahami dua aspek ini. Dalam Islam dan juga dalam harokah. Agar dakwah bisa terus mengembangkan sayap selebar-lebarnya tetapi tetap dalam bingkai nilai-nilai Islam yang kita yakini.

Maka dasar pengetahuan yang kuat akan kedua aspek tersebut di atas menjadi sangat penting. Karena di tengah begitu banyaknya subhat kehidupan yang menari-nari di sekitar kita, kita memerlukan satu daya proteksi yang kuat, agar interaksi kita dengan subhat-subhat tersebut tidak mempegaruhi struktur bangunan kepribadian kita dan organisasi kita.

Dan hanyalah orang-orang yang memiliki ke dalam ilmulah yang dapat tetap bertahan dengan identitasnya di tengah subhat-subhat tersebut. “Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami."

readmore »»ǴǴ

Sabtu, 26 November 2011

Tradisi Ilmiah

Ahad, 11 Juli 2010

Dalam sebuah pertemuan para penanggung jawab dakwah. Muncul satu diskusi tentang dasar pertimbangan penentuan model pelaksanaan beberapa program dakwah yang akan dieksekusi di lapangan. Termasuk kebijakan-kebijakan lain secara umum dalam dakwah. Dalam diskusi, ditentukanlah dan ditetapkan satu model kegiatan yang begitu perfect. Dengan satu model pelaksanaan yang sangat ideal dan memang sangat menjanjikan. Bahwa hasil akan dicapai bisa maksimal bagi pemenuhan target-target dan tujuan pelaksanaannya.

Tapi ada yang missing dari kebijakan yang telah kita tetapkan. Pertanyaan ini yang belum bisa dijawab dengan baik: seberapa mampukah dan seberapa efektifkah strategi yang telah ditetapkan untuk melaksanakan konsep ideal yang ada?

Kebijakan-kebijkan yang kita tetapkan dalam dakwah haruslah dapat dijelaskan secara rasional. Kebijakan yang kita ambil untuk merespon realitas lapangan dakwah haruslah mampu menggabungkan dua nilai sekaligus. Nilai kebenaran dan nilai ketepatan. Kebenaran menjelaskan tetang kebijakan yang kita ambil benar secara manhaj dan ketepatan menjelaskan tentang kebijakan yang telah kita ambil bersesuaian dengan realitas internal dan realitas eksternal dakwah.

Kebenaran dan ketepatan dalam merespon realitas dakwah sangat ditentukan oleh satu kompetensi yang kita sebut dengan tradisi ilmiah. Inilah yang terkadang kita lupakan jika tidak bisa dikatakan terlalu sering kita abaikan.

Tradisi ilmiah sesungguhnya berasal dari kemampuan untuk menilai dan menganalisis realitas internal dan realitas eksternal. Realitas internal menjelaskan segala kekurangan dan kekuatan yang dimliki oleh harokah dan kader harokah. Sedangkan realitas eksternal menjelaskan tentang seberapa besar hambatan dan peluang-peluang yang ada di lapangan amal.

Karena tentu saja kita tidak ingin melakukan dan menetapkan satu kebijakan dakwah di tengah situasi yang begitu besar ruang ketidakpastiannya tanpa di bangun di atas dasar rasionalisasi yang kuat, yang mampu menjelaskan bahwa kebijakan yang kita ambil untuk dilaksanakan tidak hanya mengandung nilai kebenaran tetapi juga mengandung dengan nilai ketepatan (Waqi)

Rasulullah SAW mengatakan: “Allah SWT merahmati orang yang mengetahui kapasitas dirinya.” Pernyataan ini menjelaskan kepada kita tentang pentingnya memahami kapasitas diri. baik kapasitas internal harokah maupun kadernya secara keseluruhan. Pemahaman yang baik tentang diri ini, akan mampu menempatkan kader dan diri harokah pada sikap-sikap yang benar. Bahwa kebijakan yang telah diambi tidak lebih rendah dari kemampuannya. Juga, tidak melebihi kapasitas yang dimilikinya.

Tradisi ilmiah merupakan suatu kebijakan yang menjelaskan bahwa setiap sikap dan kebijkan yang kita tetapkan harus dibangun di atas basis data yang kuat. Data tentang realitas internal dan realitas eksternal.

Memang. Dalam kenyataannya tidaklah menjadi mustahil bahwa hal besar yang akan kita tetapkan dapat dengan mudah untuk kita capai. Tapi jika obsesi yang kita tetapkan itu terlalu tinggi sementara kapasitas internal yang kita memiliki tidak memenuhi syarat, maka secara matematis target tersebut sangat sulit tercapai. Karena adanya jurang pemisah di sini. Jurang pemisah yang membentang antara kapasitas internal dan realitas sosial yang kita inginkan.

Jurang pemisah inilah yang harus diatasi dan dicarikan solusi. Membuat jembatan penguhubung antara target realistis sesuai dengan kondisi internal dan internal kita. Maka yang perlu kita lakukan adalah menetapkan target sederhana dan realistis jika kita tidak bisa mengupgrade kapasitas dan menghilangkan hambatan internal dalam waktu singkat. Tapi mungkin sebagai pekerja proyek peradaban, sifat sepert ini kurang baik untuk dipertahankan karena mentarlitas seperti ini adalah mentalitas orang-orang yang kalah dan lemah.

Maka kita memang perlu membuat target itu sebesarnya-besarnya lalu menghitung seberapa lebar jurang pemisah yang ada yang dapat menghambat pencapaian tujuan. Kondisi yang kedua inilah yang diselesaikan dengan mengupgrade kapasitas internal dan menghilangkan hambatan eksternal kita.

Up grade kapasitas internal dapat dilakukan dalam satu program yang terencana, baik itu dari kapasitas organisasi maupun kader harokah. sedangkan hambatan ekseternal dapat dihilangkan dengan kemapuan strategi yang baik terutama para qiyadah harokah terutama melalui proses belajar yang tidak pernah boleh berhenti. Setiap peristiwa dan pengalaman yang melingkupi kita di lapangan dakwah adalah pelajaran berharga yang dapat kita jadikan sumber pelajaran untuk menata organisasi ini menjadi lebih kuat dimasa depan. Agar kebenaran yang kita bahwa ini dapat diterima dengan baik oleh setiap orang. Dari kelompok manapun dia. Dan dengan ideologi apapun dia hidup. “karena kelemah lembutanmu dalam menyampaikan kebenaran itu. Maka musuh-musuh dakwah ini menganggapmu sebagai teman yang sangat baik”.

Sedangkan secara eksternal, masyarakat perlu kita kondisikan agar mereka mampu menerima nilai-nilai baik yang kita bawa. Melalui proses pembauran, menjadi bagian dari mereka. Dan pada saat yang sama kita mendidik mereka, tak sekadar membantu mereka, tapi mendorong mereka untuk secara mandiri menata hidup mereka menjadi lebih baik. Inilah yang kita harapkan. Bahwa hasil-hasil penataan pribadi-pribadi muslim, harus lebih berdaya, untuk melakukan proses perubahan dalam skala yang lebih besar. Masyarakat. Agar nilai-nilai kebaikan ini mendapatkan dukungan yang kuat dari masyarakat. Wallahualam

readmore »»ǴǴ

Senin, 31 Oktober 2011

Profesionalisme

Rabu, 7 Juli 2010
Pukul 20.22 WITA

Masyarakat kampus adalah stok masyarakat kelas menengah bagi masyarakat secara kesuruhannya di masa depan. Ini juga memiliki makna lain bahwa mahasiswa adalah stok pemimpin masyarakat.

Olehnya itu, setiap kader harokah sudah seharusnya menyadari bahwa penyiapan diri untuk menjadi bagian dari stok kepemimpinan masyarakat masa depan adalah sebuah keniscayaan. Juga untuk merespon kebutuhan harokah yang sedang menjalani tahapan dakwah institusi menuju tahapan dakwah pada level negara. Inilah alasan yang menjelaskan bahwa profesionalisme kader harokah sudah harus ditumbuhkan sejak dini. Di usia kampus. Usia mahasiswa.


Yang saya maksud dengan profesionalisme di sini adalah bidang profesi dimana kader harokah menempuh pendidikan. Inilah yang disebutkan oleh Anis Matta dengan kata “kontribusi”. Dari tiga langkah peradaban yang hendak kita lakukan. Afiliasi, Partisipasi dan Kontribusi. Pemahaman tentang hal ini yang memang masih missing pada sebagian kader harokah. Bukan karena fikroh tetapi lebih disebabkan karena selama usia-usia kampus, kader-kader harokah disibukkan dengan aktifitas yang bersifat dakwah amm dan aktifitas politik sehingga kurang fokus terhadap bidang profesinya masing-masing.

Juga selain karena efek yang masih tersisa dari tahap awal perintisan dakwah di lingkungan terdidik ini. Dimana dahulu, kader-kader perintis dakwah kampus memberikan perhatian yang lebih besar terhadap peletakan dasar dakwah yang kuat dan kurang memperhatikan profesionalisme bidang akademiknya.

Akan tetapi, realitas zaman telah memaksa setiap kader harokah untuk mengupayakan mobilitas vertikal. Mobilitas vertikal pada berbagai struktur kenegaraan dan pada semua levelnya. Sudah saatnya mobilitas ini digelorakan dengan gelombang yang semakin besar.

Paradigma pandang kader sudah saatnya diubah bahwa mobilitas vertikal muslim tidak lagi cukup dilakukan secara terbatas pada lembaga-lembaga tertentu saja. Sebab, jika pada suatu saat, ketika kader harokah diamanahkan oleh zaman untuk mengelola negeri ini, maka adalah niscaya tidak hanya dibutuhkan orang-orang yang memiliki komitmen keIslaman yang sama, komitmen perbaikan yang sama tetapi memerlukan orang sholeh dengan kompetensi profesionalisme yang memadai.

Ustadz Cahyadi Takariawan menyebutkan bahwa gerakan dakwah harus mempersiapkan dirinya untuk memasuki orbit kelembagaan politik. Politik, sebagaimana defenisi umum yang kita pahami, yaitu upaya-upaya untuk mendistribusikan kebaikan-kebaikan secara utuh kepada seluruh lapisan masyarakat dan meminimalisir terjadinya kemungkaran-kemungkaran pada semua level masyarakat.

Oleh sebab itulah, kader-kader dakwah harus menjadi bagian dari manusia-manusia yang mengambil kebijakan agar eksistensi dakwah semakin kokoh dengan tampilnya orang-orang sholeh dengan profesionalisme yang memadai pada semua lembaga-lembaga negara. Agar nilai-nilai kebaikan dapat didistribusikan melalui semua sarana yang bisa digunakan untuk itu.

Tentu saja, generasi yang disiapkan harus memiliki kompetensi yang terbaik dibidangnya masing-masing. Memimpin perubahan tidaklah cukup dilakukan hanya pada satu bidang saja. Tapi perlu ada kontribusi yang sama besarnya pada semua bidang kehidupan. Itulah salah satu desain masa depan yang sudah harus sejak awal dipikirkan dan dikerjakan. Oleh kader dan juga oleh harokah secara keseluruhannya.

Akan tetapi untuk dapat bertahan (survive) dan semakin kompetitif di masa depan dan mencapai mobilitas yang maksimal untuk memimpin, maka diperlukan suatu pola kaderisasi yang mapan, mulai dari rekrutmen, pembinaan, pemberdayaan dan pengujian kepemimpinan kader.

Sekali lagi pemahaman dan kesadaran tentang hal ini sangat penting. Sebab, ketika kita berbicara mihwar muassasi dan mihwar daulah, itu artinya akan dibutuhkan sekian banyak kader professional, unggul dibidangnya masing-masing untuk mengelola berbagai institusi. Agar Islam dan kadernya bisa ada pada setiap sisi kehidupan bangsa ini. Seperti ketika Islam ada di setiap rumah penduduk madinah pada masa Rasulullah SAW.


readmore »»ǴǴ

Senin, 10 Oktober 2011

Tegar Di Tengah Badai

Ahad, 9 Oktober 2011
Pukul 06.02 WITA


Di perjalanan panjang kehidupan ini, sesekali kita akan diterpa badai kehidupan. Hal ini bukan sesuatu hal yang harus kita cemaskan, tetapi hal Ini justru kita butuhkan untuk mengokohkan, untuk meneguhkan dan untuk menguatkan seluruh instrumen kepribadian kita, fisik, jiwa, dan akal agar mampu menuntaskan sisa perjalanan kehidupan kita.

Jika pada suatu waktu Allah SWT mengatakan “Apakah kalian akan menyatakan diri kalian beriman padahal kalian belum benar-benar diuji” maka ini adalah penjelasan tentang hakekat bahwa Allah SWT akan menyediakan tantangan-tantangan kehidupan untuk menaikan kita pada satu tangga kemuliaan yang lebih tinggi dari posisi hidup kita sebelumnya.

Lihatlah sejarah, dan semua karya fenomenal yang pernah diukir manusia-manusia besar dalam kehidupan, akan kita temukan disana satu fakta bahwa sebelum mereka mencapai tangga prestisius kehidupan yang membuat mereka terhormat, mereka harus melalui jalan yang berdarah-darah, jalan yang menguras air mata dan fisik, serta debu-debu kehidupan.

Seorang Sayyid Quthb yang menyelesaikan karya fenomenal Tafsir Fii Zilalil Qur`an justru ketika ia menjalani masa-masa penyiksaan dalam penjara. Atau kisah terusirnya Rasulullah SAW dan para sahabatnya dari tanah air tercinta, lalu hidup di negeri baru tanpa harta, tanpa keluarga sebelum mereka kembali ke kota Mekakkah 10 tahun kemudian.

Tetapi, yang kita butuhkan setelah kesadaraan ini adalah jawaban akan pertanyaan ini, apa yang kita butuhkan agar terpaaan badai kehidupan itu dapat kita lalui, agar kita mampu mencapai tangga kemuliaan hidup?. Yang kita butuhkan untuk mampu melampaui badai hidup itu adalah kejelasan tujuan, cadangan kesabaran yang tak terbatas dan keyakinan yang teguh akan dekatnya pertolongan Allah SWT


Kejelasan tujuan menjadi instrument yang menjelaskan bahwa setiap sikap kita dalam hidup hanya akan mengarahkan kita pada satu arah yang jelas. Tujuan itu seperti setitik cahaya di dalam lorong gelap. Tujuan memberi arah kepada kita untuk selalu menuju ke sana. Kejelasan tujuan juga akan menjadi patron bagi kita, bahwa jika pada suatu saat dalam hidup, kita mulai menjauh dari arah yang telah kita tetapkan, kita akan mampu mengatur ulang langkah agar kembali ke track semula.

Inilah alasan yang menjelaskan mengapa Allah SWT ketika hendak menciptakan manusia, yang pertama kali dilakukan-Nya adalah menjelaskan apa tujuan menciptakan manusia. “Dan berkata Allah kepada malaikat: Saya hendak menciptakan khalifah (manusia) di muka bumi”. Agar kelak manusia yang akan diciptakan ini memiliki kejelasan orientasi, kejelasan tentang peran kehidupannya di muka bumi, yaitu sebagai wakil Allah SWT.

Yang kita butuhkan setelah itu adalah kesabaran. Kesabaran adalah karakter dasar yang harus dimiliki oleh penempuh jalan panjang menuju titik akhir hidupnya. Tak satupun yang mampu menyelesaikan perjalanan jika ia tak memiliki cadangan kesabaran yang besar. Kesabaran ini akan terus menerus diuji oleh waktu yang dihabiskan dalam perjalanan panjang menuju terminal akhir perjalanan hidup kita.

Kesabaran menjadi kebutuhan yang tak pernah boleh tak terawat. Karena kesabaran kita butuhkan ketika hendak mengatur ulang langkah, yang lelah akibat terpaan badai hidup. Juga, kesabaran ini kita butuhkan untuk menunggu datangnya jawaban atas setiap upaya kehidupan dari Sang Pencipta. Semua hal yang kita kerjakan dalam perjalan kehidupan membutuhkan sifat ini.

Hal terakhir yang kita butuhkan adalah bahwa kita harus benar-benar meyakini dengan sekuat-kuatnya akan adanya tangan Allah SWT yang akan menuntun kita agar tak jatuh ke dalam lumpur, ada tangan Allah yang akan menyingkirkan setiap hambatan kehidupan. Kita tak mungkin dibiarkan sendiri tanpa pertolongan-Nya.

Manusia, kadang begitu cemas karena terlalu seringnya gagal atas suatu usahanya dalam hidup. Tetapi saya percaya bahwa teruslah berupaya, jangan pernah berhenti mewujudkan mimpi anda, karena setelah jatah kegagalan anda telah terlampaui yang datang sesudahnya adalah kesuksesan-kesuksesan. Pada saat yang sama, kita memiliki tempat menggantung kehidupan. Maka orang-orang beriman yang diberi beban menempuh jalan panjang keimanan akan selalu memiliki harapan yang permanen, karena mereka memilki Allah.

Mungkin memang kisah hidup kita tak seindah kisah-kisah yang diceritakan dalam serial cinta yang ditulis oleh Anis Matta dan juga tak seperkasa para pahlawan yang diceritakannya dalam serial kepahlawanan, tetapi kita memiliki serial pembelajaran hidup yang akan memberikan kita satu hal, yaitu kemampuan untuk mengindahkan cinta dan memiliki karakter seperkasa pahlawan. Karena sekolah kehidupan ini mengajarkan kita satu hakekat, bahwa waktu kita untuk belajar selalu jauh lebih lama dibandingkan dengan waktu ujian.

readmore »»ǴǴ

Kamis, 08 September 2011

Akhir Sejarah Kita

Senin, 19 Juli 2010
Pukul 20.27 WITA

Kita telah di didik dalam tarbiyah sekian lama. Dimulai saat kali pertama kita menginjakkan kaki di dunia kampus. Dunia intelektual. Disanalah kita dikenalkan tentang jati diri sebagai muslim. Juga telah dijelaskan tentang visi hidup kita. Untuk hidup di dunia hanya dalam bingkai ibadah. juga telah sangat memahami dengan sesadar-sadarnya tugas sejarah kita. Sebagai khalifah Allah swt di muka bumi ini

Kita telah menanamkan semua hal tersebut secara kuat di dasar laut sanubari kita. Dan dengan keyakinan yang sangat kuat bahwa sekeras apapun badai yang menghadang di hadapan kita kelak, badai itu tak akan pernah dapat menggoyahkan langkah-langkah kaki kita untuk mewujudkan tugas sejarah itu tadi. Karena akar pohon iman kita telah menancap jauh ke dasar bumi jiwa kita.

Disanalah, di dalam tarbiyah itulah juga kita di didik untuk menjadi orang-orang yang memiliki mimpi. Mengimpikan peran-peran besar kita dalam sejarah peradaban manusia.

Kini tiba saatnya kita bekerja. Setelah memiliki mimpi-mimpi. Kini saatnya kita mengintegrasikan diri dengan umat dan manusia secara keseluruhannya setelah kita didik di lingkungan yang nyaman itu. Haloqah tarbiyah.

Saatnya kita keluar menyalalakan lilin iman ditengah kegelapan umat ini. Karena inilah tugas sejarah kita.

Dan rentang usia yang kita miliki, yang menentukan usia hidup kita tidaklah begitu panjang. Akan tetapi, inilah anugerah yang telah diberikan oleh Allah SWT kepada kita. Di usia kita yang masih muda ini. Kita telah memutuskan untuk hidup sebagai jundi-Nya. Dan telah dengan penuh kesungguhan untuk memaksimalkan sisa usia kita bagi perjuangan di jalan-Nya

Dan kelak insya Allah di masa depan, jika Allah memberikan kita kesempatan dan umur panjang, kita akan melihat manusia berbondong-bondong masuk ke dalam islam. “Sampai aku melihat manusia bersujud dari barat hingga ketimur.” Kata Rasulullah saat Perang Khandak. Sebagai sebuah janji yang pasti akan terjadi.

Tapi kita ingin memulainya dari kelompok masyarakat terdidik ini. Karena merekalah masa depan bangsa dan peradaban. Agar transformasi masyarakat bisa lebih maksimal kita lakukan dengan tampilnya pemimpin yang karakternya merupakan paduan dari tingkat intelektual yang baik dan kualitas keimananan yang baik pula.

Maka mari kita tekadkan sejak hari ini. Bahwa kita akan terus bekerja agar tak satupun manusia yang diperbudak oleh manusia yang lain. Setelah itu kita berikan kebebasan kepada mereka untuk memilih akidah yang diinginkannya. Dan lebih jauh setelahnya, kita akan membingkai hidup mereka dalam bingkai nilai-nilai islam yang universal.

Karena kita adalah guru peradaban manusia. Dan dari sinilah kita memulai langkah untuk merangkai indah akhir sejarah kita di lembar sejarah peradaban manusia. Agar alam semesta ini kembali pada hakekat diciptakannya.

Karena inilah akhir sejarah kita.
readmore »»ǴǴ

Minggu, 17 Juli 2011

Pengaruh

Kamis, 8 Juni 2010
Pukul 19.41 WITA

Pada satu ketika, dikalangan teman-teman ada satu diskusi tentang bagaimana mengukur hasil akhir dari kinerja dakwah yang kita lakukan setelah melalui sekian banyak tahapan-tahapan dakwah seperti yang disebutkan dalam manhaj dakwah kita. Indikator yang memberikan gambaran real tentang hasil dakwah yang telah dilakukan. Indikator yang dimaksud adalah bagaimana mengukur kata “pengaruh” dakwah dikalangan mahasiswa dan masyarakat secara keseluruhan?

Secara keseluruhan bahwa pengaruh yang akan kita ukur ini merupakan hasil kerja keras dari dua tahapan dari empat marhalah dakwah kita. Itulah yang kita sebut dengan marahalah persiapan (tandzimi) dan marahalah sya`bi. Hasil kerja dari tahapan ini adalah terbentuknya basis kader utama dan basis sosial dakwah dikalangan masyarakat , melalui penyebaran fikroh dan syiar-syiar Islam yang kita lakukan. Dimana pekerjaan marhalahnya tentu saja tidaklah selesai meskipun dakwah telah memasuki tahapan lanjut. Karena pemahaman kita tentang semua marahalah itu adalah perluasan bukan perpindahan marahalah.

“Pengaruh” bukanlah satu ukuran yang kita klaim.

Indikator yang kita bisa gunakan sesungguhnya dapat memakai dua pendekatan sekaligus. Indikator itu adalah indikator kualititatif dan indikator kuantitatif. Indikator kualitatif untuk mengukur keberhasilan dakwah kita misalnya adalah dengan memperhatikan situasi sosial masyarakat yang terwarnai dengan nilai-nilai keIslaman. Tapi indikator kualitatif sangat sulit menilainya. Karena lebih bersifat pada presepsi.

Sebab, jika kita melihat pada skala yang lebih besar misalnya. NU dan Muhammadiyah mengklaim dirinya sebagai dua ormas terbesar di Indonesia dengan jumlah pengikut terbesar. Akan tetapi ternyata PKB dan PAN tidak bisa memenangkan pemilu di Indonesia dan bahkan faktanya jumlah suara pemilihnya menunjukkan tren menurun.
Meskipun, memang kedua ormas tersebut tidak secara eksplisit menyebutkan dirinya sebagai underbow dari kedua partai tersebut. Tapi fakta menunjukan bahwa elit-elit politik kedua partai tersebut, juga adalah elit-elit pada kedua ormas tersebut. Dan mereka tidak memenangkan pemilu. Minimal pada kekuatan pengaruh elitnya terhadap orang-orang yang disebutnya dengan “warga Muhamadiyah atau NU”

Kita masuk pada wilayah yang lebih kecil. kita. Apa indikator bahwa kita memiliki “pengaruh” dikalangan masyarakat ? Pengaruh yang saya maksud disini adalah yang paling berpengaruh. Maka jika dapat disederhanakan dengan menggunakan analogi di atas, indikator pengaruh itu adalah kemenangan dalam pemilu. Tapi pemenangan di sini memiliki padanan kata lainnya, mobilitas. Mobilitas, Inilah yang ingin saya sebut sebagai indikator bahwa kita memiliki pengaruh dikalangan masyarakat . Bukan pengaruh yang kita klaim.

Mobilitas sesungguhnya dapat mencakup dua hal. Pertama, mobilitas internal kita. Kemampuan mobilisasi kader kita. Dari sini akan jelas terlihat bahwa orang-orang yang kita tarbawiyah adalah kader kita. Bukan klaim bahwa seseorang itu adalah kader kita karena kita mentarbawiyah seseorang. Dalam beberapa kasus di beberapa fakultas misalnya. Kita menyebutkan tentang jumlah kadernya lebih dari separuh total mahasiswa. Tapi faktanya tidak dapat memenangkan pemilu.

Dan kedua adalah mobilitas masyarakat yang menjadi ukuran luas lingkaran pengaruh kita. Lingkaran pengaruh ini sesungguhnya dapat terbentuk dari banyak alasan. Pertama, masyarakat yang telah terwarnai oleh fikroh dakwah yang kita lakukan selama mihwar sya`bi. Karena “gagal” tertarbawiyah. Kedua, lingkaran pengaruh yang terbentuk karena kompetensi kader. Karena kebutuhan mereka terhadap kader, mereka akan cenderung mengikuti apa yang menjadi “keinginan” kita.

Inilah indikator pengaruh kita dikalangan masyarakat . Tetapi nilai pengaruh ini tidaklah menjadi alasan bahwa kita bisa bertahan pada puncak kekuasaan. Sebab untuk penyeimbangan kekuasaan, kita perlu menguasai lebih dari 50% pada dua lembaga ini. Lembaga eksekutif itulah yang kita sebut sebagai BEM atau Himpunan. Dan lembaga legislative itulah yang kita sebut dengan dewan mahasiswa atau majelis perwakilan mahasiswa.
readmore »»ǴǴ

Minggu, 05 Juni 2011

Kepemimpinan, Jalan Menuju Masyarakat Madani

Refleksi Singkat 13 Tahun Reformasi

Kejatuhan Soeharto pada tahun 1998, setelah ia berkuasa sekitar 32 tahun, merupakan satu babak baru dalam kehidupan Indonesia sebagai sebuah bangsa setelah melalui tahapan kehidupan politiknya dalam dua orde sebelumnya. Soeharto, dengan narasi pembangunan yang dibawanya telah membawa bangsa Indonesia memasuki era kesejahteraan tetapi tidak memberikan kebebasan bagi masyarakat untuk berekspresi, berpendapat, apalagi untuk mengambil sikap yang bertentangan dengan sikap pemerintah yang berkuasa

Reformasi telah melalui perjalanan yang cukup lama, sekitar 13 tahun. Tetapi harapan akan hadirnya kehidupan yang lebih baik di orde ini, masih belum lagi dapat dinikmati. Fajar kehidupan yang lebih baik belum lagi terbit. Sementara masyarakat telah sering dikecewakan oleh tak kunjung hadirnya perubahan, yang kita harapkan dapat diinsiparikan oleh mereka-mereka yang menduduki singgasana kepemimpinan di negeri ini.

Kepempinan nasional belum mampu mengantar bangsa Indonesia ke arah yang lebih baik. Hal ini ditandai dengan jatuh bangunnya kepemimpinan bangsa, sejak masa peralihan kepemimpinan dari Orde Baru kepada Orde Reformasi pada kepemimpinan Habibie, Abdurrahman Wahid, lalu Megawati. Dan kini, Susilo Bambang Yudhoyono.


Angka utang luar negeri Indonesia terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Belum lagi jumlah penduduk miskin yang masih cukup besar. Permasalahan penegakkan hukum yang masih belum menggembirakan terutama beberapa kasus korupsi besar, seperti kasus Gayus Tambunan, Susnoduadji, dan kasus Bank Century. Masalah-masalah ekonomi yang telah begitu kompleks dan membutuhkan solusi penyelesaian dengan segera antaralain masalah ketenagakerjaan dan pengangguran, kemiskinan, kesenjangan kehidupan ekonomi antara desa dan kota, serta kesenjangan antara daerah kepulauan

Dalam situasi seperti ini, dalam kondisi kekecewaan masyarakat yang terus berulang, kerinduan masyarakat akan hadirnya sosok kepemimpinan baru yang lebih baik, menjadi sangat kuat. Generasi tua yang saat ini menjadi aktor panggung politik sudah memasuki usia senja. Mereka sudah tak kuat lagi menghadapi zaman. Dan ini berarti peluang generasi baru, mengisi kekosongan harapan bagi kepemimpinan nasional menjadi sangat besar.

Salah satu faktor penentu keberhasilan dari suatu bangsa untuk keluar dari masa transisi adalah faktor kepemimpinan itu sendiri. Karena pemimpinlah yang akan mengarahkan masyarakatnya untuk dapat mencapai cita-cita kebangkitannya. Pemimpinlah yang menjadi teladan, sekaligus pengayom dan pemberi motivasi bagi masyarakatnya untuk bangkit. Dan inilah masalah utama yang belum bisa terjawab sampai saat ini. Kepemimpinan.

Musim Gugur Kepemimpinan

Masa transisi demokrasi yang diharapkan dapat terwujud lebih jauh menuju ke masa konsolidasi demokrasi, dimana lembaga-lembaga dan tata pemerintahan diharapkan sudah dapat diorganisasikan dan mulai bekerja serta berinteraksi menuntut aturan-aturan main yang baru pula, ternyata masih belum menampakkan hasil yang maksimal.

Kondisi ini diperparah dengan mencairnya gerakan-gerakan kemahasiswaan dan kembali kembali kepada urusan kampus mereka sendiri-sendiri. Sehingga hampir tidak ada lagi aksi-aksi mahasiswa yang mampu mengkonsolidasi banyak kalangan untuk mendorong terjadi perubahan sebagaimana yang tertuang dalam amanat reformasi.

Figur pemimpin yang tampil pada masa transisi ini telah memunculkan kekecewaan baru, karena harapan akan perubahan tidak kunjung diwujudkan. Para pemimpin asyik sendiri dengan pemuasan kepentingan pribadi, keluarga dan kelompoknya.

Mungkin tidaklah terlalu arogan untuk menyatakan bahwa, hari esok adalah musim gugur kepemimpinan, karena hampir tidak ada lagi pemimpin tua yang tertarik untuk terjun ke medan pertempuran, karena selain usia mereka sudah senja, fisik mereka juga sudah tak sanggup lagi menanggung beban kepemimpinan yang berat di negeri ini.

Musim gugur kepemimpinan Indonesia tahun 2014, membuat sebagian politisi kebingungan mencari figur baru untuk bisa mereka "jual" bagi kemenangan pemilu. Perhatikan sikap-sikap mereka pada media. Dan negeri ini telah memasuki salah satu fase dimana penduduknya dihuni oleh mayoritas penduduk di kelompok usia muda. Dan ini artinya celah sejarah telah terbuka bagi tampilnya generasi baru kepemimpinan baru untuk segera merebut momentum tersebut.

KAMMI dan Peluang Kepemimpinan

Merenungkan kembali sejarah kepemimpinan nasional sejak bangsa ini memperoleh kemerdekaannya, dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan yang pernah tampil di panggung politik negeri ini selalu berakhir dengan tragis, tanpa ada hasil karya yang bisa dibanggakan.

Hanya saja, sejarah dalam cara pandang generasi baru bukanlah sesuatu yag harus terus dicaci atau dikutuki. Karena sikap seperti ini hanya akan mendatangkan sakit hati dan trauma terhadap masa silam. Sejarah seharusnya dipandang seperti ini, bahwa sejarah adalah tempat belajar tentang nilai apa yang bisa kita ambil untuk kehidupan hari ini, meninggalkan dan melupakan hal yang buruk dari sejarah masa lalu, dan mengambil hal-hal baik untuk merancang masa depan.

Dalam kondisi berulangkalinya kekecewaan masyarakat terhadap kepemimpinan nasional saat ini, KAMMI seharusnya mampu menjawab tantangan ini, untuk segera “merebut” kepemimpinan nasional, sekaligus untuk menjawab dan mengejewantahkan visi KAMMI sebagai penyedia stok kepemimpinan yang permanen. “KAMMI adalah wadah perjuangan permanen yang akan melahirkan kader-kader pemimpn masa depan dalam upaya mewujudkan masyarakat Islami di Indonesia.” Maka salah satu ukuran keberhasilan KAMMI sebagai sebuah organisasi adalah terbentuknya stok kepemimpinan baru bagi bangsa ini.


Dari sini kita memulai

KAMMI sebagai salah satu elemen gerakan mahasiswa yang harus “bertanggung jawab” atas bergulirnya reformasi harus segera mendorong dirinya sebagai sebuah lembaga dan mendorong kader-kadernya untuk menghadirkan sosok kepemimpinan baru, bukan lagi kepimpinan alternatif, tetapi menjadi jaminan kepemimpinan baru yang lebih baik, yang menjadi tempat di mana bangsa ini bisa menitipkan harapan akan kehidupan yang lebih baik, harapan akan perbaikan. ditengah kondisi perpolitikan bangsa dan kekuasaan yang hanya diisi oleh orang-orang lama, orang-orang tua, yang sepertinya untuk menitipkan harapan perbaikan bagi negeri ini kepada mereka sudah sangat sulit.

Untuk itulah, salah satu tugas besar KAMMI saat ini adalah membentuk stok “gerombolan pemimpin” dengan sifat-sifat kepemimpinan yang harus dipupuk sejak saat ini, dan dapat menjadi acuan bagi para kader untuk mendidik dan mendesain dirinya. Adapun sifat-sifat kepemimpinan ideal yang kita inginkan ada pada kader-kader KAMMI adalah:

Karakter Visioner.

Visi suatu organisasi atau visi hidup seseorang seperti mercusuar yang menyorotkan lampu untuk menunjuk arah kemana suatu kapal akan menuju. Seperti itu jugalah visi yang terkandung pada diri seorang pemimpin, visi yang jelas akan menjadi sumber motivasi yang besar baginya untuk mendesain dan menentukan langkah-langkah yang tepat menuju tujuan tersebut.

Indonesia yang dicita-citakan oleh KAMMI telah digariskan sebagaimana yang tertuang dalam visi KAMMI yang menyebutkan bahwa KAMMI adalah wadah perjuangan permanen yang akan melahirkan kader-kader pemimpin masa depan dalam upaya mewujudkan masyarakat Islami di Indonesia.

Masyarakat madani dalam pandangan KAMMI merupakan suatu masyarakat yang jauh dari semangat otoriteranisme, dipenuhi dengan nilai-nilai keadilan, persamaan, kebebasan, dan kemerdekaan.

Dalam konteks cita-cita menegakkan masyarakat madani, KAMMI, menyadari dengan sangat kuat bahwa peran pemimpin sangat signifikan dalam setiap proses perubahan. Hal ini secara jelas juga tertuang dalam prinsip perjuangan KAMMI yang menyebutkan bahwa kepemimpinan umat adalah strategi perjuangan KAMMI.

Visi ini harus terintegrasi secara kuat dalam diri seorang kader. Sehinggga kader menjadi gambaran dari visi itu sendiri. Cita-cita tentang masyarakat madani di Indonesia adalah satu cita-cita yang sangat besar.

Kejelasan visi seorang pemimpin akan mampu mengarahkan seluruh potensi bangsa yang sedang kebingungan mencari arah. Visi yang jelas akan mampu membuat bagsa ini lebih mampu menentukan sikapnya tentang hal yang akan dikontribusikan bagi pencapaian visi tersebut.

Dalam konteks keindonesiaan, sosok kepemimpinan tersebut harus memiliki kapasitas intelektual memadai dan menguasai kondisi makro nasional dari berbagai aspeknya, sehingga dapat menyelesaikan agenda perubahan yang dicita-citakan. Pengetahuan yang kuat akan kondisi politik, ekonomi, sosial dan budaya bangsa sangat penting, agar sikap-sikap dan langkah-langkah yang diambil dalam menegakkan cita-cita yang diinginkan dapat sesuai serta tidak bertentangan dengan realitas masyarakat indonesia. Agar peran dan sikap-sikap kepemimpinan yang dijalankan di masa depan tidak menyebabkan luka bagi masyarakat.

Sifat ini telah tersirat dalam karakter muslim negarawan point pertama dan kedua yaitu Memiliki Basis Ideologi Islam yang Mengakar dan Memiliki Basis Pengetahuan dan Pemikiran yang Mapan.

Karakter Pelayan.

Kepimimpinan pada dasarnya adalah investasi jangka panjang. Kepemimpinan terhadap masyarakat tidak serta merta hadir begitu saja, Karena ia selama dibangun dari kontribusi-kontribusi kebaikan di masa lalu. Sifat ini, menunjukan karakter kader sebagai pekerja yang tekun dan taat pada proses perencanaan yang sudah dicita-citakan oleh KAMMI, menguasai detil masalah-masalah inti kebangsaan dan mampu melibatkan semua elemen yang kompeten sebagai tim kerja yang solid.

Begitulah sejarah kepemimpinan yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Aspek trust, kepercayaan, dengan gelar Al Amin yang diperolehnya di usia muda menjadi modal sosial yang sangat berharga bagi peran-peran kenabian yang beliau lakukan. Karena masa transisi adalah masa yang sangat rawan bagi terjadinya perpecahan sehingga karakter ini sangat dibutuhkan untuk dapat menciptakan solidaritas yang kuat antara berbagai elemen bangsa untuk bersama-sama bekerja mendesain Indonesia yang lebih baik.

Cara pandang yang terbaik dalam memandang bangsa ini adalah bahwa negeri ini adalah satu kesatuan yang utuh, yang tidak dapat dipisahkan oleh keragaman kehidupan masyarakatnya. Keragaman bukanlah hal yang harus menyebabkan perpecahan, tetapi keragaman adalah potensi yang bisa didayagunakan untuk kemanfaatan bagi bangsa secara keseluruhan. Bangsa ini, dengan masyarakatnya haruslah dapat dijadikan sebagai objek sekaligus sebagai subjek pembangunan, dengan partisipasi total seluruh masyarakatnya.

Sifat ini telah tersirat dalam karakter muslim negarawan point ketiga dan keempat, idealis dan konsisten berkotribusi pada pemecahan permasalahan umat dan bangsa.

Karakter Pembina,

Karakter ini akan terbangun dari integritas kepribadian yang kuat dari seorang pemimpin. Integritas kepribadian yang kuat, tonggak pemikiran yang kokoh akan menjadi modal utama untuk membangun kepercayaan masyarakat, dan menjadi rujukan semua pihak dalam perencanaan masalah bangsa, yang setia dengan nilai-nilai dasar bangsa dan menjadi teladan bagi kehidupan bermasyarakat secara komprehensif.

Salah satu masalah besar bangsa ini adalah ketiadaan keteladanan para pemimpinannya. Nilai-nilai moralitas yang kuat sudah tidak kita temukan. Kredibilitas moral akan menjadi salah satu kunci pengaruh seorang kader terhadap masyarakat. Dan sifat ini telah tersirat dalam karakter muslim negarawan point kelima, menjadi perekat komponen bangsa sebagai upaya perbaikan.

Izinkan Kami Menata Ulang Indonesia

Untuk meralisasikan cita-cita perubahan yan diinginkan tentu tidak bisa hanya melalui perubahan pada puncak kekuasaan di Indonesia. Tetapi perlu ada gerombolan kepemimpinan baru yang diciptakan, agar dapat mengisi “kekosongan” kepemimpinan yang terjadi pada berbagai sektor kehidupan bangsa ini saat ini.

Sejumlah besar stok kepemimpinan baru harus dapat segera disiapkan. Dimana stok kepemimpinan ini nantinya akan menjadi penerus ide perubahan yang telah dicita-citakan oleh KAMMI, melalui mobilitas kader, penyebaran kader ke berbagai pusat kekuatan dan kekuasaan dalam rangka mempengaruhi, merumuskan dan mengimplementasikan kebijakan publik agar sesuai dengan nilai-nilai islam.

Karakter Muslim Negarawan harus terinternalisasi secara kuat pada diri kader-kadernya, setelah itu, tersedialah stok kepemimpinan bangsa dalam jumlah yang besar untuk kemudian melakukan perubahan pada berbagai sektor kehidupan bangsa melalui gerakan mobilitas pada berbagai sektor tersebut. Gerakan perubahan yang ingin kita lakukan harus melalui dua bentuk. Yaitu gerakan kultural dan gerakan struktural.
Gerakan kultural (mobilitas horizontal) dilakukan melalui penyebaran kader ke berbagai kalangan dan lapisan masyarakat, agar masyarakat dapat mentransformasi diri mereka sendiri menjadi lebih baik.

Mobilitas horizontal ini lebih bersifat bottom up dimana kader akan bergerak bersama-sama masyarakat untuk berpartisipasi dalam melakukan perbaikan dalam berbagai bidang kehidupan bangsa, baik itu ekonomi, sosial, budaya, lingkungan hidup, kependudukan, kewanitaan, kemiskinan dan lain sebagainya. Oleh karena itu, dibutuhkan jumlah kader yang besar dan juga tentu memiliki kualitas yang terbaik, agar gelombang perubahan bottom up yang hendak dilakukan menjadi lebih besar.

Penyebaran kader-kader KAMMI ke berbagai kalangan dan lapisan bangsa ini adalah untuk menggerakkan peran serta masyarakat dalam mentransformasi diri mereka sendiri. Karena kaidah dasar perubahan sesungguhnya selalu bermula dari diri mereka sendiri. Bukan dari luar diri, atau lingkungan eksternal seseorang. “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sampai mereka merubah diri mereka sendiri.”

Gerakan perubahan horizontal ini, juga memungkinkan kader-kader KAMMI berinteraksi dan mentransformasi ide-ide perubahan yang diinginkannya, sehingga kelak akan terbentuk satu barisan pendukung dalam jumlah besar terhadap cita-cita perubahan yang ingin dilakukan. Dan keberhasilan menciptakan pendukung dalam jumlah besar akan mampu memberikan kontribusi bagi mudahnya kader-kader KAMMI melakukan mobilitas vertical.

Mobilitas struktural (mobilitas vertikal) dilakukan dengan mendorong kader-kader untuk terlibat secara intensif ke lembaga pemerintah (sektor publik), sektor swasta dan organisasi kemasyarakatan (LSM/third sector).

Keterlibatan kader-kader KAMMI dalam tiga sektor ini bertujuan untuk berkontribusi dalam membangun sistem, membuat kebijakan publi, regulasi dan perundangan secara struktural, top down, untuk digunakan sebagai pedoman dalam rangka transformasi masyarakat. Gerakan struktural ini juga berperan dalam rangka implementasi dan pengawasan pembangunan bangsa.

Di era keterbukaan ini faktor yang paling menentukan kesuksesan dalam merebutkan pengaruh dan kepemimpinan adalah yaitu faktor kualitas dan faktor peluang. Faktor kualitas kader berkaitan dengan kredibiltas personal sedangkan peluang mobilitas vertikal sangat ditentukan oleh kondisi internal dan eksternal organisasi.

Dengan kondisi ini, maka kewajiban untuk penataan kader menjadi sangat dibutuhkan. Karena banyaknya sektor kehidupan di bangsa ini begitu luas, maka perlu diciptakan “gerombolan pemimpin” dalam jumlah yang besar.

Oleh sebab itulah, untuk semakin memperbesar peluang mobilitas kader, maka transparansi kelembagaan harus terus menerus didorong dan dengan cara inilah Peluang mobilitas kader-kader KAMMI ke berbagai lembaga dan sektor kehidupan bangsa masyarakat akan menjadi sangat besar (mobilitas vertikal). Karena masyarakat akan memiliki kecenderungan positif untuk menentukan pilihan-pilihan mereka secara nasional.

Dan Keberanian kader untuk mencoba masuk ke wilayah-wilayah heterogen akan menjadi salah satu faktor keberhasilan dan peningkatan kapasitasnya. Karena kader akan langsung berhadapan dengan lapangan/medan amal yang sesungguhnya. Selain tentu saja, secara internal kelembagaan, KAMMI juga harus melakukan penataan kader ini.
Hal ini akan memberikan keuntungan secara tidak langsung bagi organisasi dan juga bagi kader.

Karena cita-cita besar KAMMI untuk melakukan perubahan pada bangsa adalah melalui kepemimpinan, dan kepemimpinan pada dasarnya adalah investasi dalam jangka waktu yang panjang, maka jika sejak awal kader telah dilatih dan dididik hidup di dunia heterogen dengan kredibilitas moral dan profesionalisme yang baik yang mereka miliki tentu saja akan menjadi investasi yang baik untuk merebut kepemimpinan masa depan. Atau mungkin jika penyiapan ini telah ada dan tertata baik, masyarakat akan segera memberikan tugas kepemimpinan itu kepada kader-kader KAMMI dengan ikhlas, karena mereka tidak punya solusi lain untuk perbaikan. Kecuali, memberikan dan menitipkan harapan itu kepada kader-kader KAMMI. Wallahualam
readmore »»ǴǴ

Selasa, 10 Mei 2011

Akumulasi Beban



Jum`at, 11 Maret 2011

Hakekat sebuah perjalanan adalah ujian. Hanya saja, pemahaman yang baik akan tabiat jalan yang ditempuh akan mampu memberikan seseorang kesadaran yang kuat tentang apa yang perlu dipersiapkannya agar perjalanannya dapat sampai ke tujuan.

Pengetahuan tentang tabiat jalan, juga akan memberikan kesadaran yang kuat bagi seseorang bahwa mungkin akan ada tikungan-tikungan perjalanan yang akan ia temui selama perjalanan menuju tujuan tersebut. Dimana tikungan-tikungan tersebut bisa saja membuatnya tersesat sehingga tidak dapat sampai ke tujuan yang telah ia tetapkan.

Jika kita mencoba merefleksi ulang perjalan kita dalam dakwah ini, maka kita akan menemukan bahwa ada korelasi positif antara lamanya perjalanan atau usia kita dalam dakwah dengan pertambahan beban yang kita pikul.

Jika kita mencoba merefleksi ulang, saat pertama kita disentuh oleh tarbiyah, maka beban kita hanya ada satu, yaitu kehadiran di halaqoh. Tetapi seiring pertambahan usia kita dalam tarbiyah, kita merasakan bahwa beban-beban yang kita pikul dalam dakwah ini semakin berat dan bertambah. Sekarang antum semuanya mendapatkan banyak sekali amanah dakwah, yang membuat antum semuanya hampir tidak punya waktu untuk mengurusi diri sendiri.

Peerlahan-lahan kita mulai merasakan kebenaran dari kalimat Ustad Hasan Al Banna bahwa: “kewajiban seorang muslim itu, jauh lebih banyak dibandingkan dengan waktu yang tersedia baginya”

Maka benarlah sebuah analogi yang menyebutkan bahwa “perjalanan dakwah itu, bukanlah seperti perjalanan sebuah bus, dimana ada saja penumpangnya yang turun dan ada juga penumpangnya yang naik. Tetapi hakekat dakwah ini, adalah seperti sebuah kendaran, apa saja namanya, tetapi kendaraan itu hanya memberikan satu pintu masuk bagi penumpang-penumpang baru untuk naik tetapi tidak memberikan jalan keluar, jalan turun bagi penumpang yang telah berada di atas bus”

Itulah pelajaran sejarah yang bisa kita temukan dalam kehidupan Rasulullah SAW. Karena beliau adalah teladan terbaik maka darinyalah kita juga bisa belajar tentang hakekat ini.

Di awal-awal dakwahnya, di Mekkah, beliau mungkin hanya punya beberapa beban, antaralain beban untuk menyeru manusia kepada risalah yang dibawanya, atau juga ancaman pembunuhan yang didapatkannya dari orang-orang Quraisy, atau juga ia hanya punya satu beban, seorang Istri. Khadijah r.a.

Tapi seiring pertambahan usianya didalam dakwah, di Madinnah, beban-beban itu semakin bertambah. Beliau, bukan hanya mendapatkan ancaman pembunuhan saja, tetapi beliau harus berhadap-hadapan secara langsung dengan para kafirun dan quraisy. Bukan hanya mengatakan “bersabar” tapi, kakek yang berusia 57 tahun itu kini harus mengenakan pakaian dari besi untuk melindungi tubuhnya dari ancaman libasan pedang yang datang dari musuh-musuhnya di medan perang.

Istri, ini juga bertambah. Jika di Mekkah ia hanya mengurusi Khadijah, kini, di Madinah, beliau harus mengurusi sembilan orang istri dalam rumahnya, bahkan dalam salah satu riwayat disebutkan bahwa istrinya ada 13 orang.

Jadi jika pada suatu waktu kita menemukan riwayat bahwa salah satu doa yang paling sering dibaca oleh Rasulullah SAW adalah: “Ya Allah, jadikanlah amal-amal terbaikku adalah amal yang terakhir, dan jadikanlah umur terbaikku adalah di akhirnya, dan jadikanlah hari-hari terbaikku adalah hari ketika aku bertemu dengan-Mu.”

Maka ini adalah penjelasan tentang konsistensi, penjelasan tentang keteguhan dalam melakukan kebaikan dan menyeru manusia ke jalan dakwah.

Tentang hal ini Ustad Hasan Al Banna telah menyebutkan bahwa:
“Di dunia ini banyak orang yang memiliki akal tetapi hanya sedikit yang mempelajari Al Quran, dari yang sedikit mempelajari Al Quran hanya sedikit dari mereka yang mengamalkannya, dari sedikit yang mengamalkannya hanya sedikit yang mendakwahkannya, dari sedikit yang mendakwahkannya hanya sedikit yang bersabar dalam dakwah, dari sedikit yang bersabar itu hanya sedikit yang bertahan sampai ke ujungnya.”

Artinya, bahwa dakwah ini hakekatnya adalah seleksi. Dan karena perjalanan dakwah ini adalah perjalanan yang sangat panjang, maka kita menemukan bahwa banyak orang yang akhirnya berhenti, mundur dari dakwah.

Dan seiring pertambahan usia kita dalam dakwah, di sepanjang pertambahan usia itu, Allah SWT juga menyediakan banyak sekali peristiwa-peristiwa dakwah, untuk menguji kita, dalam banyak bentuknya, untuk membuat karakter asli dari setiap kita keluar satu persatu. Dan dalam ujian-ujian itu, ada yang akhirnya tak mampu bertahan sehingga memilih mundur dari perjalanan. Tetapi ada juga, yang menjadikan peristiwa-peristiwa itu sebagai alat untuk meningkatkan keteguhannya di jalan dakwah. Karena besarnya cadangan kesabaran di banker perasaan dan jiwanya.

Jika pada suatu waktu kita mendengarkan kalimat : “likulli marhalatin rijaluha, likulii marhalatin tabi`atuha”. Setiap zaman ada rijalnya, setiap zaman ada tantangan-tantangannya sendiri. Artinya, bahwa setiap zaman itu punya tabiatnya sendiri-sendiri dan orang yang dapat hidup di suatu zaman itu harus bisa menyesuaikan dirinya dengan kondisi zaman tersebut agar ia bisa bertahan.

Dakwah kita ini, sudah menempuh sekian dari tahapan-tahapan dakwah yang digariskannya menuju pencapaian cita-citanya. Dakwah ini telah melalui dua tahapannya, tandzimi dan sya`bi. Dan saat ini, generasi kita ini hidup di era muasassi. Tetapi, sebagaimana yang kita pahami, bahwa perubahan marahalah, bukanlah sebuah perpindahan, tetapi perluasan pekerjaan. Dan itu artinya, beban-beban yang kita akan pikul, beban-beban yang harus dipikul oleh kader dakwah pada dua marahalah sebelumnya harus tetap kita pikul, oleh kita, kader dakwah yang hidup di generasi ini, ditambah dengan beban-beban di marahalah ini.

Jika kita masih mengingat pelajaran kita di bangku sekolah, tentang adaptasi, bahwa makhluk-makhluk hidup yang dapat bertahan hidup pada suatu perubahan zaman adalah makhluk hidup yang harus dapat menyesuaiakan dirinya dengan karakter zaman baru.

Ini artinya perubahan marahalah dakwah ini, harus kita sikapi dengan mengkondisikan diri kita, mengkondisikan dan membentuk binaan-bianaan kita agar dapat hidup dan bertahan di zaman ini, di marahalah ini. Karena jika tidak, maka akan ada seleksi alam yang membuat kita tersisih dan mati.

Mungkin pada suatu waktu, kita akan menemukan bahwa dakwah ini membuat satu kebijakan yang tidak kita setujui, lalu kita ngambek dan tidak mau bekerja. Di tengah kesibukan, di tengah banyaknya tuntutan-tuntutan kebutuhan pribadi kita terkadang kita mulai memilih-memilih perkerjaan dakwah berdasarkan apa yang kita senangi dan yang tidak kita senangi.

Dakwah ini, bukan pekerjaan yang kita kerjakan karena suka atau tidak suka, tapi dakwah sudah menetapkan garisnya sendirinya. Jika sudah seperti ini, maka kita telah mencerabut dari hakekat dakwah ini bahwa jalan ini adalah jalan yang pahit. Yang tak dihiasi oleh bunga-bunga indah. Demikianlah Rasulullah berkata: “katakanlah kebenaran itu meskipun pahit”. Pahit bukan untuk objek dakwah, tapi pahit untuk sang da`i. Dan inilah hakekat dari apa yang disebutkan oleh Ust. Hasan Al Banna dalam rukun taat.

Jadi, kesadaran yang kuat tentang adanya pertambahan beban dakwah seiring dengan pertambahan usia kita di dalamnya menjadi sesuatu yang sangat kita butuhkan. Dan dari pelajaran kehidupan Rasulullah SAW, kita bisa mengatakan dengan sangat sadar bahwa:

“jika pada suatu masa, seiring dengan pertambahan usia kita di dalam dakwah, tetapi beban-bebannya tidak bertambah, maka curigalah, jangan-jangan itu adalah isyarat bahwa kita perlahan-lahan akan tersingkir dari jalan dakwah, apalagi jika kita yang meminta untuk peringanan amanah dan beban dakwah, naudzubillah”
readmore »»ǴǴ

Jumat, 25 Februari 2011

Dari Gerakan Ke Negara “Realitas dari Tabiat Asli Islam”


Ahad, 20 Juni 2010

Dari gerakan ke negara, satu tabiat yang tidak mungkin dipisahkan dari cita-cita besar suatu umat yang meyakini bahwa islam adalah agama yang harus hadir di bumi, mengejewantah menjadi realitas, setelah ia diturunkan dari langit oleh Penciptanya, melaui Jibril.

Harus kesana memang ujungnya. Islam pertama kali hadir dalam pribadi manusia. Makanya, sejak semula islam telah mengatakan, “Iqro”. Perintah untuk membaca. Tapi kepada siapa?. Pribadi manusia muslimnya. Itulah yang pertama kali dibidik Sang Tuhan untuk realisasi awal nilai-nilai ajaran Islam.

Lalu Sang Rasul memilih manusia-manusia terbaik sebagai langkah awal perjalan sebuah gerakan menuju negara. Manusia-manusia yang memiliki kekokohan karakter. Tapi sebelumnya, iman mereka telah teguh membaja. Akar-akar imannya tertanam ke dalam dasar hati manusia-manusia itu. Setelah itu, Sang Rasul memilih tanah. Tanah Madinah. Langkah lanjut untuk sekali lagi membuktikan kemegahan Islam. Tapi tetap memang sebelum itu Islam harus menyatu dulu dengan karakter-karakter manusianya. Realitas inilah yang telah dibuktikan oleh sejarah.

Begitu tabiatnya. Islam memang tidak mungkin bisa menunjukan karakter aslinya, sebelum ia menjadi nyata di alam manusia. Lalu ketika islam telah bertransformasi dari sebuah gerakan menjadi sebuah Negara. Islam telah menunjukkan karakter aslinya. Tabiat yang telah pernah dicatatkan dalam sejarah dalam kalimat tuhannya “wama`arsalnaaka illa kaaffatallinnas”. Untuk seluruh manusia. Tanpa tekecuali.
Disanalah islam membuktikan keagungannya tidak hanya untuk umat islam. Tapi untuk semua manusia. Hak-hak diberikan. Kewajiban-kewajiban kenegeraan direalisasikan. Tidak peduli dia muslim atau bukan. Begitulah cara mereka memahami kebajikan ilahiah yang senantiasa memberikan karunia kebaikan dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan setiap makhluk-Nya, muslim dan nonmuslim.

Tapi islam tidak berujung disitu, pada keshalehan pribadi. Ia harus segera keluar, hadir untuk memenuhi kalimat tuhannya yang kedua, “wama arsalnaaka illa rahmatal lil alamin”. Untuk seluruh alam. Karena Islam ingin mengharmonisasi seluruh alam semesta dalam satu bingkai nilai-nilai kebajikan universal. Dan inilah tugas utama manusia-manusia muslimnya.

Tabiat setiap perubahan adalah adanya makna adaptasi. Demikian, dalam perubahan alam harokah. Hanya akan ada dua kelompok kader harokah. Kader yang tak mampu bertahan dialam baru, lalu mati. Tapi ada yang tetap hidup, lalu meneruskan kehidupannya. Tapi di dunia gerakan mungkin akan ada kelompok yang ketiga. Kelompok yang tidak mati, Tapi juga tak mampu mengikuti perkembangan realitas baru zamannya.
Kader yang tak mampu bertahan lalu mati. Biasanya lahir karena kedangkalan pemahaman. Tapi juga sebelumnya, mereka memang tidak pernah memberikan kontribusi terhadap harokah selama masa-masa perjalanan harokah dalam mendaki tangga-tangga tahapan pewujudan cita-citanya. “bersama-sama kita tapi sesungguhnya dia tidak bersama-sama kita”. Ia ada tapi tak berkontribusi. Fisiknya bersama harokah tapi jiwanya tak menyatu dengan tubuh harokah. Mereka mungkin masih disana, bersama harokah. Tapi jika ia tetap demikian, takkan lama sejarah akan segera menghempasnya.

Kelompok yang kedua. Mereka adalah kelompok yang memang tetap mampu bertahan dalam setiap perubahan harokah. Tapi ia sekadar ikut saja dalam perubahan itu. Kelompok kedua ini adalah kelompok kader harokah yang keterlibatan dalam kontribusi-kontribusinya tidak lahir diatas dasar pemahaman yang baik. Tentang mengapa ia harus berkontribusi?

Kelompok yang ketiga. Inilah kader harokah sesungguhnya. Merekalah yang selalu berkata seperti kalimat Saad bin Mu’az dalam perang Badar:
“Wahai Rasulullah, sungguh kami ini telah beriman kepadamu, telah seratus persen meyakini agama dan telah mengakui kebenaran agama yang engkau bawa kepada kami. Kami telah bersumpah setia untuk melaksanakan semua yang telah kami Janjikan kepadamu. Oleh karena itu, segeralah laksanakan apa yang telah menjadi keputusanmu, ya Rasulullah, dan kami setia kepadamu.”

Mereka memenuhi janjinya kepada Allah SWT. Tetapi sebelumnya, kekokohan karakter dan pemahamanya telah terintegrasi kuat dalam setiap sendi-sendi jiwanya. Menyatu. Lalu islam menjadi bagian dirinya. Dan dirinya menjadi bagian dari islam. Manusia yang keluar dari nilai kesendiriannya, untuk diberdayakan untuk semua manusia. Siapapun mereka. Di belahan bumi manapun mereka berada. Dan agama apapun dia.

Masih ada ruang manusia lain. Ruang manusia yang melingkupi tubuh harokah. Itulah masyarakat. Manusia-manusia yang kelak akan menjadi medan, dimana islam membuktikan makna-makna kata-kata ini “wama`arsalnaaka illa kaaffatallinnas” dan “wama arsalnaaka illa rahmatal lil alamin.”

Akan ada tiga kelompok manusia yang kita temukan disini. Pertama, Kelompok yang karena kelurusan fitrahnya ia menerima islam secara objektif. Dia menjadi muslim atau tidak. Menyenangi islam karena nilai-nilai kebaikan universalnya.

Kedua, kelompok yang sangat tidak memahami makna-makna diatas. Dia muslim. Lalu karena kedangkalan pengetahuannya, juga karena memang dia adalah manusia yang tumbuh besar dalam alam pemisah-misahkan makna islam dengan realitas kehidupan. Boleh, oleh dominasi rezim yang menjadi tempat manusia itu tumbuh berkembang. Lalu ia latah bersikap. Memusuhi segala bentuk penggabungan nilai-nilai islam dalam kehidupan.

Ketiga, kelompok yang begitu keras penentangannya. Kelompok ini biasanya berasal dari kelompok yang merasakan ancaman, ketika islam menunjukan karakter aslinya. Karena kepetingannya terancam. Eksistensinya terganggu. Merekalah yang disebutkan oleh Hasan Al Banna “nanti ketika mereka mengetahui karakter dakwah mu yang sesungguhnya maka mereka akan menunjukan pertentangan kepadamu dengan sangat keras”

Inilah realitas yang tetap akan ada. Kecuali jika harokah memang tidak berada diatas rel perjuangannya yang benar.
readmore »»ǴǴ

Kamis, 10 Februari 2011

Impian Besar Pekerjaan Besar


Arif Atul M Dullah
Kamis, 8 Juni 2010


Ada satu gejala yang luar biasa di sebagian kalangan masyarakat barat, kalau tidak bisa disebut semuanya, dan mungkin inilah yang membedakan kita dengan mereka. Sebagai sebuah bangsa. Mungkin juga kita sebagai muslim. Setidaknya inilah yang kita bisa temukan pada penulis-penulis scenario film barat. Atau pada ilmuwan-ilmuwan barat. Ada satu kemampuan mengkhayal yang kuat disana. Sebelum mereka menulis cerita tentang film. Seperti film “the journey to the earth centre”. Cerita tentang perjalanan menuju pusat bumi. Dan dengan sangat yakin saya ingin mengatakan bahwa inilah yang tidak dimiliki oleh sebagian kaum muslimin.

Mungkin kelihatannya terlalu naïf secara nurani keislaman kita, jika menganggap bahwa film-film tersebut benar. Misalnya khayalan mereka tentang adanya satu kehidupan di pusat bumi sana. Atau cerita tentang beberapa astronot yang berhasil menghancurkan meteor besar yang akan menghancurkan bumi. Hampir mustahil memang. Tapi kondisi inilah yang mendorong diri mereka dengan sangat kuat untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan besar untuk membuktikan impian mereka itu. Minimal ada satu sisi positif disini. Mereka merangkai satu mimpi yang mungkin memang mustahil ada. Ceritanya mungkin fiksi. Tapi itulah daya jangkau akal yang besar. Yang kemudian memotivasi mereka secara terus-menerus untuk membuktikan impian mereka itu.

Terasa sangat berbeda dengan diri kita. Sebagai sebuah bangsa atau sebagai seorang muslim. Mungkin kita tidak pernah berani untuk menetapkan satu impian besar dalam hidup kita. Atau mungkin tidak pernah ada memang. Dan jika mungkin ada, maka ada jurang yang besar antara impian dan realisasi impian itu.

Padahal ketika berbicara tentang khilafah. Sebuah cita-cita yang mungkin tidak ada pada sebagian besar kaum muslimin. Sebuah Negara yang luas, Yang disana kita memberikan keadilan bagi manusia secara keseluruhannya. Dan mendistribusikan kesejahteraan bagi seluruh masyarakatnya. Lalu ada janji Allah yang pasti. Yang tidak ada pada keyakinan penulis film-film tadi. Atau ilmuan-ilmuan barat tadi.

Atau misalnya ketika kita membaca ayat-ayat Allah swt. “idza jaa anasrullahi wal fath, wara`aitannasa yadkhuluuna fii dinillahi afwaja”. Atau janji-janji Rasulullah seperti penaklukan kota Roma yang kedua (Italia). Lalu ketika Allah menjanjikan tentang akan datangnya satu masa dimana manusia berbondong-bondong memasuki pintu gerbang keislaman. Sekali lagi mungkin ini tidak ada pada sebagian impian muslim. Atau jika mungkin ada, maka kita akan menemukan adanya jurang pemisah yang besar yang membentang antara impian dan realitas itu.

Jurang pemisah itulah yang ingin saya sebut dengan kerja besar. Janji-janji Allah tersebut terlalu besar. Lalu jika memang menanamkan dalam hati kita tentang kepastian janji tersebut, menyatu dalam impian setiap muslim. Dan mungkin setiap muslim punya impian yang besar itu dalam jiwanya. Tapi mungkin dia tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan besar untuk merealisisasikan janji itu. Padahal impian besar tidak mungkin dicapai hanya dengan melakukan pekerjaan pekerjaan kecil.

Itu realitas yang tak mungkin kita pungkiri. Maka sudah saatnya impian itu kita tanamkan kuat dalam dasar alam jiwa kita. Sebagai muslim. Setelah itu kita mulai melakukan pekerjaan-pekerjaan besar dalam hidup untuk merealisasikan janji tadi.

Jika impian para penulis cerita film-film fiksi itu tidak dibangun dari motivasi iman. Maka kita berbeda, kita memiliki keyakinan akan kepastian janji Allah. Hanya saja untuk merealisasikan cita-cita itu, kita sudah sangat wajib untuk mulai melakukan pekerjaan-pekerjaan besar selama hidup. Agar jurang pemisah antara impian dan realisasi janji itu dapat dijembatani oleh kerja-kerja besar yang akan terus kita lakukan secara berkesinambungan.
readmore »»ǴǴ