Tampilkan postingan dengan label Serial Taujihat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Serial Taujihat. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 November 2011

“Inilah Aku”

Sabtu, 12 November 2011

Tidakkah kau lihat anak kecil, hai orang yang berakal
Ia tak punya pengetahuan tentang dirinya
Telinganya tidak tahu apa itu irama
(Iqbal)

Laki-laki itu berdiri tegap di tengah-ditengah zamannya. Ketika zaman dibingungkan oleh hilangnya identitas manusianya. Jejak-jejak kemunduran telah nampak begitu jelas. Ketika manusia tenggelam dalam parsialisasi agama dan kehidupan, laki-laki itu berdiri menentang badai parsialisasi. Ketika para pendahulu, larut dalam kebingungan atau mulai putus asa terhadap realitas, laki-laki itu berteriak lantang “inilah aku”. Laki-laki itu adalah Hasan Al Banna.

Keruntuhan kekhalifahan Turki Utsmani menjadi puncak kebingungan manusia muslim tentang siapa dirinya. Mereka bagaiakan anak-anak ayam yang kehilangan induk. Hasan Al Banna muda berdiri dan berteriak lantang di tengah zaman untuk menegaskan dirinya. Bukan hanya sebagai individu tapi sebagai muslim.

“Akulah petualang yang mencari kebenaran, Akulah manusia yang mencari makna dan hakekat kemanusiaannya di tengah manusia. Akulah patriot yang berjuang menegakkan kehormatan, kebebasan, ketenangan, dan kehidupan yang baik bagi tanah air di bawah naungan Islam yang hanif.

Adalah kalimat-kalimatnya untuk penegasan tentang jati dirinya. Tentang siapa dirinya dan bagaimana ia akan bekerja mengambil tugas kemanusiaannya. Dan ini juga penjelasan tentang besar cita-citanya.

Akulah lelaki bebas yang telah mengetahui rahasia wujudnya, maka Ia pun berseru, 'Sesungguhnya Shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah, tuhan semesta Alam yang tiada sekutu bagi-Nya. Kepada yang demikian itulah aku diperintahkan, dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri.' Inilah Aku. Dan kamu, Kamu sendiri siapa?"

Adalah kalimat-kalimatnya untuk menegaskan orientasi dari semua amal kehidupan yang telah dan akan terus-menerus dilakukannya selama hidup tanpa henti. Juga penjelasan tentang penyerahan diri yang total kepada Sang Pencipta terhadap semua upaya manusiawinya.

Sikap ini memang tak dimiliki oleh banyak orang. Seperti itulah sejarah akhirnya mengajarkan kepada kita kisah Dzul Jausyan, yang ditawari Rasulullah SAW untuk masuk islam setelah usainya perang badar. Tapi ia menolak bergabung, karena alasan kaum muslimin saat itu begitu tertindas dan terusir dari tanah tercinta mereka. Dzul Jausyan hanya akan bergabung jika Rasulullah berhasil menaklukkan kota mekkah. Dan Rasulullah menjanjikan kemenangan itu. Berselang 7 tahun kemudian, kota mekkah dibebaskan, Dzul Jausyan kemudian menyesali ketidakbergabungannya sejak awal, dan ia tertinggal jauh dari kemuliaan mereka yang merintis jalan menuju pembebasan kota Mekkah, setelah 10 tahun hijrah.

“Inilah aku” adalah kata yang mewakili sifat kepeloporan, inisiatif mengambil tanggung jawab sekaligus penegasan jati diri yang hakiki di tengah kebingungan manusia tentang siapa dirinya. Dan sikap ini mungkin tak kita temukan di zaman saat ia hidup.

Kita perlu meniru sikap ini, karena ini juga merupakan sikap yang telah dicontohkan oleh Nabi umat ini. Ketika ia harus berdiri tegap di tengah-tengah masyarakat jahiliyah jazirah arab untuk menegaskan hakekat kemanusiaan dan penghambaan yang tanpa kompromi, hanya kepada Allah SWT.

“Inilah Aku” adalah penjelasan tentang kepeloporan, yang dengannya seseorang berdiri tegap seorang diri dan kini diikuti oleh ribuan dan bahkan milyaran manusia. Tapi harga yang harus di bayar oleh sikap ini memang mahal. Sehingga banyak yang kemudian memilih untuk tidak mengambil sikap-sikap ini karena tidak sanggup menanggung beban dan benturan yang kelak pasti dihadapinya.

Dalam konteks perubahan, kata “inilah aku” adalah titik tolak untuk bergerak. “Inilah aku” dimulai dengan penegasan tentang jati diri, lalu keluar membimbing manusia mengenalkan hakekat diri mereka sendiri, sebagai manusia dan sebagai muslim. Pengenalan jati diri ini akan menjadi langkah awal menuju perubahan arah kehidupan manusia. Dan itulah juga sebabnya mereka, para pelopor itu menjadi teladan sepanjang masa, yang dari merekalah kita belajar.

readmore »»ǴǴ

Minggu, 07 Agustus 2011

"Ramadhan, Mardrasah bagi Fisik, Jiwa dan Akal Untuk Merealisasikan Tugas Sebagai Wakil Allah Di Muka Bumi”

kamis, 4 Agustus 2011

Bismillahirrahmanirrahim……

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.
(Q.S Al Baqarah : 183)

Saudara-saudara sekalian,
Adalah satu kesyukuran yang sangat besar, atas karunia ramadhan yang diberikan oleh Allah swt kepada kita semua. Ramadhan yang kita jalani hari ini, dan juga tentu oleh saudara-saudara kita muslim yang lainnya, seharusnya berujung dengan hadirnya ketakwaan yang menguat pada diri kita sebagai muslim yang beriman. Karena takwa adalah output dari Ramadhan yang kita jalani saat ini, juga ibadah lainnya.

Salawat, salam kepada Rasulullah SAW. Teladan yang telah mengajarkan kita banyak hal dalam kehidupan ini, termasuk bagaimana cara terbaik untuk mempersiapkan diri menghadapi dan menjalani ramadhan, bahkan mengajarkan kepada kita tentang bagaimana memanfaatkan energi ramadhan untuk melakukan perubahan-perubahan besar dalam sejarah kehidupan kaum muslim, bahkan lebih luas, dalam skala peradaban manusia.

Saya ingin, memulai materi ini, dengan apa yang disebutkan terakhir, yaitu tentang bagaimana memanfaatkan energi ramadhan untuk melakukan perubahan-perubahan yang besar dalam kehidupan kita terutama dalam kehidupan kita secara pribadi sebagai seorang muslim.

Saudara-saudara sekalian,
Saya ingin memulai tema ini dengan menggambarkan sedikit tentang sejarah awal berdirinya institusi islam sebagai pengejawantahan dari nilai-nilai islam yang sejati. Karena kata Allah “wamaa`arsalnaaka illa rahmatal lil alamin”


Setelah Rasulullah SAW, meletakkan dasar-dasar keislaman yang paling hakiki, pada sekitar 200 orang muslim yang terdiri dari kaum muhajirin (Madinah dan Yastrib) dan Anshar, beliau menuntaskan tahap awal dakwahnya dengan melakukan hijrah ke Madinah dan mulai membangun islam sebagai sebuah institusi di sana (Madinah).

Akan tetapi, institusi madinah masih harus mengalami ujian eksistensinya, dan kita memahami secara baik bahwa kaum muslimin madinah harus menghadapi puluhan kali peperangan untuk melewati tahapan uji eksistensi ini.

Syariat puasa kemudian diturunkan oleh Allah SWT, pada tahun kedua hijriah pada bulan ramadhan, dan kita juga memahami persis bahwa Perang Badar Qubra terjadi pada bulan yang sama. Tetapi ketika menghadapi kondisi yang berat seperti ini, perhatikanlah, diantara kalimat-kalimat sahabat saat menghadapi peperangan ini (Badar):

Sa`ad bin Muadz : “kami benar-benar telah beriman kepadamu, kami membenarkanmu dan bersaksi bahwa engkau membawa kebenaran. Kami berikan untuk semua itu janji dan kesetiaan kami untuk mendengar dan taat, maka laksanakanlah apa yang engkau mau. Dan kami akan bersamamu. Demi Tuhan yang telah mengutusmu dengan kebenaran, Seandainya saja dihadapan kami terdapat lautan, niscaya kami akan menyelaminya bersamamu, tak seorang pun dari kami yang akan tinggal”

Atau seperti kalimat Umair bin Himam, ketika Rasulullah mengatakan: “demi zat yang jiwaku berada ditangan-Nya, tidaklah seseorang memerangi mereka pada hari ini, kemudian terbunuh, maju dan tak lari dari peperangan niscaya Allah akan memasukannya ke dalam syurga”. Beliau (Umair bin Himam) menyambut seruan itu: “bakh….bakh….(aku redho, aku redho).

Jumlah kaum muslimin pada saat itu hanya 300-an orang, harus berhadapan dengan pasukan yang dipimpin Abu Jahal dengan jumlah sekitar 1000 orang lengkap dengan pakaian perang, sedangkan kaum muslimin hanya menggunakan senjata sederhana, yang senjata itu sebenarnya hanya bertujuan untuk menghadang kafilah dagang Abu Sofyan.

Peristiwa tersebut, juga tentang sikap-sikap para sahabat, membuat kita menghasilkan satu kesimpulan: adanya kesadaran tentang orientasi akhir dari kehidupan kita sebagai seorang muslim, mampu menghilangkan semua rasa takut akan penderitaan hidup.

Saudara-saudara sekalian
Kesadaran yang kuat tentang muara akhir dari kehidupan ini, akan memberikan kita keterarahan, sekaligus kemampuan untuk menghemat energi hidup kita, untuk hanya menuju kepada satu hal, akhirat. Karena kesadaran inilah yang pertama kali ditanamkan oleh Rasulullah SAW, selama 13 tahun dakwahnya di Makkah, menjelaskan tentang, Iman kepada Allah, Iman kepada Rasulullah dan Iman kepada hari akhirat, sebelum merubah hal-hal lainnya pada diri seorang manusia.

Saudara-saudara sekalian
Kesadaran inilah yang juga ingin kita perkuat, terutama dimomen ramadhan ini, ketika nuansa ruhiyah tengah menguat di dada-dada kita. Kita, adalah manusia yang diciptakan oleh Allah SWT, dan sejak semula kita telah memahami dengan jelas, bahwa ketika Allah SWT hendak menciptakan manusia, Allah terlebih dahulu menjelaskan secara tegas, tugas yang akan diemban oleh makhluk baru yang disebut manusia itu.

Allah SWT mengatakan: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." (Q.S. 2 : 30)

Khalifah (wakil Allah SWT di bumi) adalah misi hidup yang telah diberikan oleh Allah SWT kepada kita semua. Ini adalah tanggungjawab yang besar. Karena tugas ini tidak mampu diemban oleh makhluk-makhluk lainnya. Peran yang akan kita emban, dalam perjalanan menuju muara akhir dari kehidupan kita ini dalam kondisi yang terbaik, muara akhir itu adalah akhirat. Disanalah Allah SWT menyediakan balasan bagi peran itu, jika kita berhasil mengembannya secara baik, Allah menjaminkan syurga bagi kita, dan sebaliknya, Allah menjanjikan neraka bagi kita.

Momentum ramadhan adalah waktu yang sangat tepat untuk menguatkan kembali kesadaran kita akan hal ini, kesadaran akan visi hidup kita sebagai muslim, karena kita ingin menjadikan ramadhan ini sebagai awal bagi perubahan-perubahan besar dalam hidup kita di masa yang akan datang.

Saudara-saudara sekalian
Untuk tugas besar itu, untuk menuntaskan tugas besar sebagai wakil Allah SWT di muka bumi, Dia, Allah SWT telah memberikan kita penjelasan tentang bagaimana seharusnya kita menjalani kehidupan ini, melalui para nabi yang diutus-Nya sampai matarantai kenabian itu ditutup oleh Rasulullah SAW dengan mukjizatnya, Al Quran. Setelah, Allah SWT, membekali kita, manusia, untuk menjalankan peran itu, berupa akal, jiwa dan jasad untuk dapat menyelsaikan tugas itu.

Saudara-saudara sekalian,
Pada dasarnya Allah SWT, telah menyediakan sarana-sarana penguatan tiga infrakstruktur kepribadian kita tersebut. Sarana itu adalah ibadah-ibadah yang ada.
Ramadhan, adalah madrasah terbaik untuk mengasah dan mendidik 3 infrastruktur kepribadian kita ini, melalui puasa dan ibadah-ibadah lain, yang kita maksimalkan, pada bulan ramadhan ini. Ramadhan akan melatih kita, untuk mendidik 3 infrastruktur kepribadian kita ini, agar efektif, agar maksimal dalam menjalan peran-peran kekhalifan, peran-peran sebagai wakil Allah SWT di muka bumi ini.

Saudara-saudara sekalian,
Pendidikan ruhiah (jiwa).
Menjelang ramadhan, kita telah jauh-jauh hari, bahkan jika melihat sikap para sahabat menghadapi ramadhan, telah menyiapkan diri untuk menyambut kehadiran bulan yang agung ini. Lalu kita menyusun target-target amal yang hendak kita kerjakan selama ramadhan.

Semua perencanaan itu kita mulai dengan satu hal, azzam (tekad). Tekad, adalah satu hal yang terdapat dalam jiwa. Kita tentu saja, dalam menyusun target-target tersebut bukan tanpa kemauan yang kuat karena kita mengharapkan pahala sebanyak-banyaknya. Lalu, ketika ramadhan tiba kita juga dengan tekad yang kuat berupaya untuk merealisasikan semua perencanaan-perencaan itu, karena kita ingin meraih gelar fitrah di ujung ramadhan.

Lalu, semua perencanaan amal itu, dengan sangat sungguh-sungguh ingin kita wujudkan selama 30 hari di Ramadhan. Dan tekad yang itu akan semakin kuat jika benar-benar menanamkan satu kesadaran yang kuat akan manfaat dari semua ibadah-ibadah tersebut.
Atau contoh lain misalnya, alasan apa yang menjelaskan kepada kita bahwa kita sama sekali tidak tergoda untuk makan dan minum disiang hari, hal yang biasa kita lakukan di luar ramadhan padahal kita kan bisa saja melakukan hal tersebut secara sembunyi-sembunyi.

Ahli-ahli kesehatan menyebutkan bahwa sugesti yang kita berikan kepada jiwa kita (niat) untuk puasa, akan memasuki sel-sel saraf dan merangsangnya. Sugesti itu, benar-benar memberikan efek yang luar biasa pada jiwa kita. Bayangkanlah, di siang hari di luar bulan ramadhan, kita begitu mudah lapar jika sejak pagi sampai siang tidak makan, itu karena sejak awal yang muncul dalam presepsi jiwa kita adalah bahwa kita bisa makan jika kita lapar.

Jika pada suatu waktu Rasulullah mengatakan: “Allah tidak melihat kepada rupa kalian, tidak melihat kepada wajah kalian, tetapi Allah melihat hati-hati kalian”. Tekad (iradah), adalah salah satu nilai yang terdapat dalam jiwa yang sangat diperhatikan oleh Allah SWT, misalnya: “waidza azzamta fatawakkal alallah.”

Itu adalah latihan dan ujian tekad yang panjang karena kita akan melakukan hal tersebut kurang lebih 30 hari. Meskipun ada fenomena yang kita temukan pada sebagian orang, bahwa tekad menuntaskan semua rencana amal mereka tidak selesai sampai di akhirnya. Karena masjid-masjid akhirnya mulai kosong terutama pada sepuluh hari terakhir ramadhan. Hal ini disebabkan karena tekad mereka tidak kuat, dan karena kesadaran akan balasan kebaikan di ramadhan tidak mengakar kokoh dalam kesadaran mereka.

Pendidikan fisik
Diantara hadist-hadist Rasulullah tentang puasa adalah “summu tasihhu.” Berpuasalah, agar kalian sehat. Sehat, dalam hal jiwa (ruhiy) dan juga termasuk kesehatan fisik. Fisik adalah kendaraan jiwa dan pikiran. Perintah-perintah jiwa dan pikiran tidak akan terlaksana dengan baik bila fisik tidak berada dalam kondisi yang baik dan prima. Sehingga fisik membutuhkan perawatan yang baik.

Ahli-ahli kesehatan dengan perkembangan ilmu pengetahun saat ini menyebutkan bahwa beberapa manfaat puasa antara lain adalah:
a.Berpuasa, memberikan kesempatan bagi organ pencernaan dan saraf untuk beristrahat bekerja selama kurang lebih 14 jam
b.Berpuasa membantu menurunkan kadar gula dalam darah, kolesterol, dan tekanan darah yang berlebihan akibat pola makan yang buruk
c.Berpuasa dapat menurunkan berat badan
d.Berpuasa adalah diet yang sehat karena ia tidak menyebabkan kekuarangan zat gizi tertentu

Saudara-saudara sekalian
Kesehatan fisik adalah modal yang kita butuhkan untuk meralisasikan keinginan-keinginan baik bagi seorang muslim. Kekuatan tekad, cita-cita yang besar, dan tanggung jawab yang besar seorang muslim, membutuhkan kendaraan yang kuat yaitu fisik yang kuat, bugar, sehat untuk bekerja, untuk beramal dan memberikan manfaat kepada sebanyak-banyaknya manusia. Apalagi untuk tugas sebesar, wakil Allah SWT dimuka bumi. Dan puasa, sekali lagi telah menjelaskan banyak sekali fakta, adalah madrasah yang sangat baik untuk mengkondisikan fisik agar tetap sehat.

Kondisi fisik kita haruslah menampilkan performance sistem pendukung yang seimbang dengan beban yang akan ia pikul. Dan itu artinya, diperlukan manajemen kesehatan pribadi agar kualitas fisik seorang muslim itu baik, sehat, kuat dan bugar. Dan Alhamudlillah Allah SWT menyediakan ramadhan bagi kita untuk mengkondisikan fisik kita. Selain, manfaat-manfaat ibadah ramadhan lain misalnya.

Pendidik Akal
Jiwa, raga dan pikiran kita adalah unsur yang tidak dapat kita pisah-pisahkan. Ketiganya menyatu saling mempengaruhi. Suasana jiwa yang baik atau pikiran yang jernih, akan mempengaruhi kualitas kesehatan fisik kita. Sebaliknya, kondisi kesehatan fisik yang buruk juga akan mengeruhkan suasana jiwa dan pikiran kita.

Hal ini, ingin kita kaitkan untuk memperkuat satu kesadaran akan tugas besar kita sebagai wakil Allah SWT, untuk mengelola bumi ini termasuk manusia secara keseluruhan karena kesadaran yang kuat akan orientasi kehidupan kita, akan membuat kita benar-benar mengupayakan bagaimana membangun kesadaran yang kuat tentang bagaimana memaksimalkan energi ibadah itu untuk merealisaikan tugas kita sebagai hamba. Orang-orang bijak mengatakan “semakin besar cita-cita anda, semakin kuat kesadaran anda akan tugas besar anda, maka adrenalin anda akan terpompa untuk mewujudkannya”.

Tapi kemauan yang kuat (tekad yang kuat), harus disertai dengan kapasitas akal yang besar, dan dukungan fisik yang kuat. Dan semua itu, bisa kita dapatkan melalui ibadah-ibadah ramadhan kita, selain janji akan dilipatkan gandakannya pahala. Karena energi besar dalam melaksanakan tugas-tugas besar kita sebagai wakil Allah SWT di muka bumi, seharusnya bisa kita peroleh dari ibadah-ibadah yang kita laksanakan.
Terakhir, setelah kita membangun kesadaran yang kuat akan tugas besar kita sebagai wakil Allah SWT di muka bumi, juga setelah kita membangun kesadaran akan manfaat ramadhan, bahwa ada balasan pahala berlipat dari setiap amal di dalamnya karena yang sangat kita harapkan dari Ramadhan ini kita bisa “terlahir kembali” dalam keadaan fitrah di akhir Ramadhan nanti, lalu menyadari manfaatnya, antaralain, bahwa Ramadhan bisa mendidik dengan baik fisik, jiwa dan akal kita, sebagai infrastruktur kepribadian yang menjadi modal kita untuk menjalankan tugas kekhalifahan dimuka bumi, maka itulah sebagian obsesi-obsesi besar yang ingin kita realisasikan di ramadhan tahun ini.

Kejelasan tujuan, keterarahan perjalanan, akan benar-benar membuat kita bersemangat dalam melaksanakan seluruh target-target ibadah ramadhan kita, karena tanpa target yang jelas di Ramadhan tahun, maka kita juga tidak akan dapat mengukur hasil kerja-kerja ibadah kita di ramadhan tahun ini. Semoga tekad kita, bisa terus menguat hingga akhir ramadhan dengan amal yang terus konsisten bahkan tekad itu terus kita bawa setelah ramadhan ini.

Demikian, mudah-mudahan Allah SWT, memberikan kita semuanya kekuatan untuk menjadikan ramadhan tahun ini, sebagai awal dari semua kebaikan yang akan kita peroleh di masa-masa yang akan datang, pada bulan-bulan di luar bulan Ramadhan.
readmore »»ǴǴ

Minggu, 22 Mei 2011

Asy Syajaah

Kamis, 10 Februari 2011

Kita pernah mendengar satu penjelasan dari salah satu hadist Rasulullah SAW yang menyebutkan bahwa kita, kaum muslimin, pada suatu ketika akan hidup seperti makanan yang diperebutkan oleh banyak orang atau umat-umat yang lainnya. Dan ketika seorang sahabat bertanya, mengapa hal itu terjadi, Rasulullah menjawab: “karena kaum muslimin menderita suatu penyakit yang disebut wahn”. Meskipun, jumlah kaum muslimin sangat banyak.

Alasan inilah yang kemudian menjelaskan satu realitas yang sedang kita hadapi saat ini. Yaitu ketiadaan kewibawaan kaum muslimin dihadapan umat-umat yang lain. Ketiadaan mentalitas keberanian, Asy Syajaah, selain berefek pada tak dipandangnya umat muslimin secara eksternal, penyakit ini justru tidak sedikit kita temukan berkembang dikalangan internal kaum muslimin sehingga keberanian untuk memikul beban yang lebih banyak sangat jarang kita temukan.

Kita belum akan berbicara pada keberanian secara eksternal, tapi di sini kita hanya akan berbicara tentang keberanian secara internal yang mendorong seseorang untuk mengambil peran-peran keislaman seiring dengan usia perjalanannya di muka bumi.

Tugas meneruskan risalah ini, jika kita bisa menganalogikannya, maka perjalanan hidup ini bukanlah seperti kerja sebuah bus, yang sepanjang perjalanannya ada saja muatannya yang naik dan ada juga turun. Tetapi sifat pekerjaan meneruskan risalah ini adalah sebuah kendaraan yang penumpangnnya tidak pernah turun, yang ada hanyalah terus menerus bertambah bebannya seiring dengan pertambahan usia perjalanannya.

Iman, tentu saja tidak akan bernilai jika tidak mendorong pemiliknya untuk merealisasikannya menjadi amal yang nyata di tengah realitas kehidupan. Kita yang dididik dalam keislaman sekian lama, untuk membangun kembali karakter keislaman kita, tentu saja dalam doktrin-doktrin keislman itu, kita yang menyebutkan bahwa nahnu qaum amaliyyun, kalian adalah kaum yang beramal. Bukan para propagandis kebaikan. Tapi kita adalah pekerja amal.

Sebagian aktivis, sekali lagi mengalami kendala ini. Ketiadaan sifat Asy Syajaah dalam jiwanya. Sehingga hal inilah yang menjadi alasan yang menjelaskan bahwa sebagian muslim tidak berani mengambil alih tugas-tugas keislaman secara berani. Entah, sebesar apapun risiko yang kemudian akan hadapi karena tugas itu. Adanya ketakutan bahwa suatu saat ia akan disalahkan karena ketidaksanggupannya menyelesaikan target-target tugas yang diberikan kepadanya.

Rasulullah SAW punya cara sendiri untuk membangkitkan dan mendorong karakter ini keluar dari kedalaman jiwa para sahabat-sahabatnya. Pada suatu malam, menjelang hari peperangan Rasulullah SAW mengangkat pedang dihadapan para sahabat dan kemudian berkata: “ Siapa yang mau mengambil pedang ini, maka Allah SWT akan mencintainya”. Maka tak satupun sahabat yang tidak mengangkat tangannya. Sampai kemudian Rasulullah SAW mengatakan: “tapi yang mengambil pedang ini harus mampu menunaikan tugasnya”. Yaitu memenangkan peperangan. Inilah cara Rasulullah SAW, memupuk, memelihara, bibit keberanian di hati sahabat-sahabatnya.

Keberanian ini adalah sejenis keberanian yang pernah dimiliki oleh Umar bin Khatab. Ketika hendak hijrah, beliau mengatakan: “ Saya akan melakukan hijrah, dan saya akan melalui jalan ini, siapa yang mau menjandakan istrinya, meyatimkan anaknya, maka silahkan tunggu saya di sana.” Atau jenis keberanian spektakuler yang pernah diperlihatkan oleh Khalid bin Walid pada wajah sejarah yang ketika hendak memasuki suatu wilayah, maka raja-raja di daerah tersebut tidak lagi melakukan perlawanan kecuali menyerah pasrah.

Sebagian orang memang memiliki sifat As Syajaah ini sebagai sifat bawaan memang mereka miliki sejak lahir. Boleh jadi memang kita tidak memilikinya sebagai bawaan sejak lahir, tetapi sifat ini bisa kita munculkan melalui latihan.

Inilah yang senantiasa dilakukan oleh Rasulullah SAW, yang pada suatu malam menjelang esok hari peperangan ia mengangkat pedangnya dan mengatakan “siapa yang mau mengambil pedang ini, maka ia akan dicintai Allah.” Artinya Rasulullah menstimulasi sifat keberanian untuk mengambil beban dengan risiko berat bagi para sahabatnya.

Keberanian yang tentu saja mengandung risiko ini, hanya akan dimiliki oleh mereka yang memiliki kekuatan iman tak goyah. Yang dengan keimanan yang kuat itulah ia meyakini adanya pertolongan Allah SWT. Apakah Anda memiliki sifat ini? Saya tidak tahu. Tapi saya kira kita bisa melatihnya agar sifat ini muncul sebagai karakter.
readmore »»ǴǴ

Selasa, 08 Februari 2011

Mutiara Di Balik Sejarah Yang Tersimpan Di Bawah Lembar-Lembar


Arif Atul Mahmudah Dullah
Kamis, 1 Juli 2010


Mari. Mari kita rehat sejenak dari rutinitas. Rutinitas yang telah mengikis banyak sekali energi jiwa kita. Sesekali, marilah kita membuka lembar-lembar sejarah yang telah kita tulis-tulis. Mungkin disana, dicoret-coret tak beraturan itu, kita bisa menemukan mutiara. Ya. Rangkaian Mutiara perjalanan hidup.

Mutiara yang ada di setiap langkah yang telah kita tapaki. Dan pada jejak yang telah kita tinggalkan dibelakang. Satu-satu kita baca. Lalu merenungi apa yang ada dibalik setiap katanya. Disanalah mungkin kita bisa menemukan banyak sekali mutiara. Mutiara hikmah yang terpendam dilembar-lembar sejarah itu. Disana ada cerita tentang pendakian gunung cita-cita. Disana ada cerita tentang menuruni bukit ujian perjalanan. Perjalanan yang belum terlalu jauh memang. Tetapi semoga saja mutiara itu mampu memantulkan cahayanya untuk menerangi jalan panjang yang masih terbentang dihadapan.

Disana akan engkau temui cerita tentang perjalanan. Perjalanan mu sendiri. Perjalanan orang lain, saudaramu. Atau juga tentang realitas jiwamu saat menyebrangi jembatan jahiliah menuju terminal iman. Lalu bukalah berangkas amalmu. Bertanyalah sudah seberapa banyak investasimu untuk masa depan. Masa depan yang engkau impikan.

Disana juga akan engkau temukan cerita tentang badai perjalanan. Badai yang menguji seberapa kokohkah engkau, untuk tetap berada dijalan itu. Mungkin disana juga akan engkau temui, bahwa itu bukanlah badai. Tetapi angin sepoi. Karena justru badai sebenarnya sedang menantimu dihadapan. Dihadapan jalan yang sedang jalani saat ini. Ambillah mutiara masa lalumu. Mutiara sejarah itu. Lalu bertanyalah lagi, seberapa kuat engkau bisa bertahan, jika yang datang justru badai sesungguhnya. Bukan angin sepoi.

Tidak…itu realitas duniamu dimasa lalu. Pejamkan matamu. Lalu ambilah mutiara di balik sejarah yang tersimpan di bawah lembar-lembar itu. Kemudian bukalah matamu untuk melihat realitas duniamu kini. Karena inilah realitas duniamu. Indonesia dan dunia Islam mu.

Disana ada hujan air mata yang terus-menerus menyirami bumi tandus keadilan negerimu. Saat linangan air mata seorang Ibu untuk sang anak yang kehilangan dua cahaya matanya. Atau cerita tentang seorang anak yang tak mampu mengerjakan dan mewujudkan apa yang menjadi impiannya. Karena terhempas badai selama perjalannya kesana. Atau kisah tentang anak-anak muslim yang harus mengambil alih peran orang tua mereka, untuk membela nilai-nilai kemanusiaannya. Menjaga harga imannya.

Mutiara sejarah itu adalah cerita tentang bagaimana caramu belajar. Belajar untuk menjadi lebih baik. Sebagai muslim. Dan kini sudah saatnya engkau, untuk keluar menuju ke medan-medan. Lalu nyalakanlah lilin keimananmu untuk menerangi lorong-lorong gelap keadilan di negerimu.

Mungkin memang, engkau hanya bisa menjadi sebatang lilin dengan seberkas cahaya ditengah luasnya kegelapan negeri mu. Tetapi dengan tiupan angin cintamu, berkas sinarnya bisa merambah, membakar sumbu lilin-lilin lain disekitarnya sampai ribuan bahkan jutaan lilin menebarkan cahayanya. Sepertimu pertama kali. Hingga kelak cahanya tak hanya lagi menerangi bumi indonesiamu tapi juga peradaban manusia.

Mungkin memang engkau juga tidak bisa menjadi bangunan baru peradaban negerimu, tetapi tutuplah matamu sekali lagi. Lalu katakan. Akulah batu bata yang akan menjadi bagian dari batu bata yang banyak itu. Batu bata peradaban. Melalui kontribusi kebaikan yang terus menerus aku berikan. Sekecil apapun itu. Sesederhana apapun itu.

Engkau hanya perlu berucap kepada dirimu sendiri sekali lagi. Aku memang bukan matahari. Tapi aku adalah satu lilin yang telah memberikan cahayanya untuk menyalakan lilin-lilin lainnya. Memang. Aku hanyalah sebatang lilin. Aku memang bukanlah sebuah bangunan peradaban. Tapi aku adalah bagian dari batu bata peradaban itu.

Setelah itu kelak, saat engkau hendak menghadap Sang Penciptamu, engkau bisa berkata dihadapan-Nya dengan bangga: Aku telah melakukan apa yang aku bisa. Hanya untukmu Ya Allah. Lalu tutuplah matamu dalam damai. Karena syurga-Nya menunggu.

readmore »»ǴǴ

Kamis, 03 Februari 2011

Ikhlas



Rabu, 18 Agustus 2010
Pukul 09.30 WITA

Ikhlas. Hanyalah sebuah kata sederhana, tapi nilai setiap amal yang dilakukan oleh seorang hamba dihadapan Allah SWT sangat ditentukan seberapa besar kadar keikhlasan di dalamnya. Tapi di sini kita tidak akan berbicara teori-teori tentang keikhlasan.

Inilah sebagian dari sejarah keikhlasan yang disaksikan oleh napas alam semeseta. Tetang satu kisah pada tahun ke-10 kenabian, saat Sang Rasul ditinggalkan dua orang pelindung terbaiknya. Abu Thalib, pamannya dan Khadijah, istri beliau. Karena keduanya telah dipanggil oleh Allah SWT. Dan ini artinya, awal dimulainya satu tekanan yang sangat berat oleh orang-orang Quraisy terhadap dakwah beliau.

Setelah mengalami tekanan yang sangat berat dari kaum kafir Quraisy, Sang Rasul menuju ke satu kota, itulah kota Thoif. Satu tempat dakwah baru. Di sanalah, Sang Rasul mengharapkan adanya satu tempat aman bagi penumbuhan dakwah islam. Dalam perjalanannya ke Thoif, Sang Rasul ditemani oleh didikannya, Zaid Bin Haritsa.

Dalam perjalanannya ke Thoif, Sang Rasul melakukan dakwah dan menyeru setiap kabilah yang ditemuinya di sepanjang perjalannya. Akan tetapi tak satu pun yang merespon dakwah Sang Rasul. Meskipun dengan berbagai cara dan pendekatan yang telah dilakukannya. Selama 10 hari perjalannya, Dan tidak ada pemuka dan tokoh-tokoh yang tidak didatangi oleh beliau. Tapi tidak ada satupun yang menyambut seruan sang Rasul.

Puncak penolakan itulah direspon lebih jauh. Bahwa tokoh-tokoh masyarakat Thoif dengan kemuliaan kedudukannya, dan Sang Rasul dengan kemuliaannya. Mereka tahu bahwa dengan kemuliaan yang mereka miliki tidak pantas memperlakukan orang mulia ini dengan kasar. Lalu memerintahkan budak-budak mereka untuk melempari Sang Rasul dan sang murid, Zaid bin Haritsa sampai keluar dari kota Thoif. Dan dalam riwayat dijelaskan bahwa tubuh sang Rasul sampai bercucuran darah, dan Zaid bin Haritsa tidak berhenti melindungi Sang Rasul dari lemparan batu sampai mereka berhasil keluar dari kota Thoif.

Di kisah ini ada tugas dakwah. Di kisah ini ada murobbi. Di kisah ini ada mutarabbi. Dan di situ ada pemahaman qiyadah wal jundiyah yang semuanya menyatu menjadi sebuah kesatuan dalam sejarah dakwah Sang Rasul menyebarkan islam di Kota Thoif.

Jadi kalau kita berbicara tentang keikhlasan, maka kita akan bertanya: Zain bin Haritsa akan mendapatkan apa, dan apakah ada jaminan bahwa dia bisa aman dari lemparan batu-batu itu? Dia tahu risikonya. Tapi dia tidak berhenti melindungi Rasulullah. Meskipun Sang Rasul tetap terkena.

Baik murobbi maupun mutarobbi, menghadapi medan dakwah yang sedemikian beratnya. Mereka tidak mempermasalahkan beratnya tanggung jawab dakwah itu. Tapi yang mereka persoalkan adalah jangan-jangan pilihannya lari, menjauhi dari lemparan batu itu salah. Justru Sang Rasul sebagai murobbi, sebagai qiyadah dan Zaid bin Haritsa sebagai mutarobbi, sebagai jundi. Zaid merasa, jangan-jangan perlindungan yang diberikannya kepada qiyadah, kepada Sang Rasul itu tidak cukup.

Jadi mereka tidak mempersoalkan luka yang dideritanya, kesulitan yang dihadapinya, tantangan yang menjadi lawannya. Tapi yang mereka permasalahkan adalah apakah sudah cukup usaha mereka untuk menunjukan ketaatannya kepada tanggung jawab dakwah yang dipikulnya. Sehingga begitu sampai di perkebunan kurma, Sang Rasul menengadahkan tangan. Dan memohonkan satu doa:

“Ya Allah, kepadamu saya keluhkan lemahnya kekuatanku, lemahnya strategi yang saya buat, ketidakmampuan saya menunjukkan izzah dihadapan manusia, Wahai Tuhan Yang Maha Pengasih, Engkau adalah Tuhannya orang-orang yang lemah dan Engkau adalah Tuhan saya. Kepada siapapun Engkau akan perhadapkan saya. Kepada pihak yang akan menghinakan saya. Atau kepada orang yang telah engkau serahkan urusanku kepadanya. Dia mau memperlakukan saya sekehendaknya. Saya tidak peduli. Selama engkau tidak murka kepadaku ya Allah. Saya tidak peduli”

Jadi yang dikhawatirkan Sang Rasul dalam menghadapi beban dakwah adalah jangan-jangan pilihan-pilihan strateginya itu salah dan justru mendatangkan kemurkaan dari Allah SWT. Dari sini kita memahami bahwa doa ini, tidak mungkin keluar dari lidah-lidah manusia kecuali didasari oleh sebuah praktek keikhlasan yang keluar dari kerangka-kerangka teori kebahasaan.

Jadi jaminan untuk memelihara keikhlasan itu dari diri kita, maka kita perlu membaca siroh, sejarah orang-orang yang telah mempraktekkan keikhlasan dalam hidup mereka. Sehingga kita tidak akan menghabiskan waktu kita untuk berkelakar dengan teori-teori kebahasaan tentang apa itu ikhlas.

Oleh sebab itu, tidak pantas kalimat-kalimat ikhlas itu lebih banyak keluar dari lisan para murobbi. Tetapi ikhlas harus lebih banyak terlihat dari sikap dan tingkah laku para murobbi. Ikhlas bukan kalimat indah untuk diperdengarkan dan dilekuk-lekukkan nilai seninya. Tapi ikhlas adalah rekomendasi yang harus segera menjelma menjadi sikap.

Tugas-tugas dakwah ini mendidik kita dalam waktu yang panjang untuk tidak menakar diri kita pada gelar-gelar yang kita peroleh di sepanjang perjalanan dakwah ini. Dan keikhlasan ini, akan teruji pada pengambilan peran-peran dakwah secara berkesinambungan.

Itulah sejarah keikhlasan. Dan kita ingin memulai menguji ikhlas itu pada diri kita dengan kerja-kerja tanpa henti. Adapun balasan, itu hanyalah sesuatu yang kita harapkan datangnya dari Allah SWT, jika ia datang dari manusia. Maka itulah makna “sebagian dari janji Allah yang disegerakan bagi seorang hamba-Nya di dunia”.
readmore »»ǴǴ