Minggu, 07 Agustus 2011

"Ramadhan, Mardrasah bagi Fisik, Jiwa dan Akal Untuk Merealisasikan Tugas Sebagai Wakil Allah Di Muka Bumi”

kamis, 4 Agustus 2011

Bismillahirrahmanirrahim……

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.
(Q.S Al Baqarah : 183)

Saudara-saudara sekalian,
Adalah satu kesyukuran yang sangat besar, atas karunia ramadhan yang diberikan oleh Allah swt kepada kita semua. Ramadhan yang kita jalani hari ini, dan juga tentu oleh saudara-saudara kita muslim yang lainnya, seharusnya berujung dengan hadirnya ketakwaan yang menguat pada diri kita sebagai muslim yang beriman. Karena takwa adalah output dari Ramadhan yang kita jalani saat ini, juga ibadah lainnya.

Salawat, salam kepada Rasulullah SAW. Teladan yang telah mengajarkan kita banyak hal dalam kehidupan ini, termasuk bagaimana cara terbaik untuk mempersiapkan diri menghadapi dan menjalani ramadhan, bahkan mengajarkan kepada kita tentang bagaimana memanfaatkan energi ramadhan untuk melakukan perubahan-perubahan besar dalam sejarah kehidupan kaum muslim, bahkan lebih luas, dalam skala peradaban manusia.

Saya ingin, memulai materi ini, dengan apa yang disebutkan terakhir, yaitu tentang bagaimana memanfaatkan energi ramadhan untuk melakukan perubahan-perubahan yang besar dalam kehidupan kita terutama dalam kehidupan kita secara pribadi sebagai seorang muslim.

Saudara-saudara sekalian,
Saya ingin memulai tema ini dengan menggambarkan sedikit tentang sejarah awal berdirinya institusi islam sebagai pengejawantahan dari nilai-nilai islam yang sejati. Karena kata Allah “wamaa`arsalnaaka illa rahmatal lil alamin”


Setelah Rasulullah SAW, meletakkan dasar-dasar keislaman yang paling hakiki, pada sekitar 200 orang muslim yang terdiri dari kaum muhajirin (Madinah dan Yastrib) dan Anshar, beliau menuntaskan tahap awal dakwahnya dengan melakukan hijrah ke Madinah dan mulai membangun islam sebagai sebuah institusi di sana (Madinah).

Akan tetapi, institusi madinah masih harus mengalami ujian eksistensinya, dan kita memahami secara baik bahwa kaum muslimin madinah harus menghadapi puluhan kali peperangan untuk melewati tahapan uji eksistensi ini.

Syariat puasa kemudian diturunkan oleh Allah SWT, pada tahun kedua hijriah pada bulan ramadhan, dan kita juga memahami persis bahwa Perang Badar Qubra terjadi pada bulan yang sama. Tetapi ketika menghadapi kondisi yang berat seperti ini, perhatikanlah, diantara kalimat-kalimat sahabat saat menghadapi peperangan ini (Badar):

Sa`ad bin Muadz : “kami benar-benar telah beriman kepadamu, kami membenarkanmu dan bersaksi bahwa engkau membawa kebenaran. Kami berikan untuk semua itu janji dan kesetiaan kami untuk mendengar dan taat, maka laksanakanlah apa yang engkau mau. Dan kami akan bersamamu. Demi Tuhan yang telah mengutusmu dengan kebenaran, Seandainya saja dihadapan kami terdapat lautan, niscaya kami akan menyelaminya bersamamu, tak seorang pun dari kami yang akan tinggal”

Atau seperti kalimat Umair bin Himam, ketika Rasulullah mengatakan: “demi zat yang jiwaku berada ditangan-Nya, tidaklah seseorang memerangi mereka pada hari ini, kemudian terbunuh, maju dan tak lari dari peperangan niscaya Allah akan memasukannya ke dalam syurga”. Beliau (Umair bin Himam) menyambut seruan itu: “bakh….bakh….(aku redho, aku redho).

Jumlah kaum muslimin pada saat itu hanya 300-an orang, harus berhadapan dengan pasukan yang dipimpin Abu Jahal dengan jumlah sekitar 1000 orang lengkap dengan pakaian perang, sedangkan kaum muslimin hanya menggunakan senjata sederhana, yang senjata itu sebenarnya hanya bertujuan untuk menghadang kafilah dagang Abu Sofyan.

Peristiwa tersebut, juga tentang sikap-sikap para sahabat, membuat kita menghasilkan satu kesimpulan: adanya kesadaran tentang orientasi akhir dari kehidupan kita sebagai seorang muslim, mampu menghilangkan semua rasa takut akan penderitaan hidup.

Saudara-saudara sekalian
Kesadaran yang kuat tentang muara akhir dari kehidupan ini, akan memberikan kita keterarahan, sekaligus kemampuan untuk menghemat energi hidup kita, untuk hanya menuju kepada satu hal, akhirat. Karena kesadaran inilah yang pertama kali ditanamkan oleh Rasulullah SAW, selama 13 tahun dakwahnya di Makkah, menjelaskan tentang, Iman kepada Allah, Iman kepada Rasulullah dan Iman kepada hari akhirat, sebelum merubah hal-hal lainnya pada diri seorang manusia.

Saudara-saudara sekalian
Kesadaran inilah yang juga ingin kita perkuat, terutama dimomen ramadhan ini, ketika nuansa ruhiyah tengah menguat di dada-dada kita. Kita, adalah manusia yang diciptakan oleh Allah SWT, dan sejak semula kita telah memahami dengan jelas, bahwa ketika Allah SWT hendak menciptakan manusia, Allah terlebih dahulu menjelaskan secara tegas, tugas yang akan diemban oleh makhluk baru yang disebut manusia itu.

Allah SWT mengatakan: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." (Q.S. 2 : 30)

Khalifah (wakil Allah SWT di bumi) adalah misi hidup yang telah diberikan oleh Allah SWT kepada kita semua. Ini adalah tanggungjawab yang besar. Karena tugas ini tidak mampu diemban oleh makhluk-makhluk lainnya. Peran yang akan kita emban, dalam perjalanan menuju muara akhir dari kehidupan kita ini dalam kondisi yang terbaik, muara akhir itu adalah akhirat. Disanalah Allah SWT menyediakan balasan bagi peran itu, jika kita berhasil mengembannya secara baik, Allah menjaminkan syurga bagi kita, dan sebaliknya, Allah menjanjikan neraka bagi kita.

Momentum ramadhan adalah waktu yang sangat tepat untuk menguatkan kembali kesadaran kita akan hal ini, kesadaran akan visi hidup kita sebagai muslim, karena kita ingin menjadikan ramadhan ini sebagai awal bagi perubahan-perubahan besar dalam hidup kita di masa yang akan datang.

Saudara-saudara sekalian
Untuk tugas besar itu, untuk menuntaskan tugas besar sebagai wakil Allah SWT di muka bumi, Dia, Allah SWT telah memberikan kita penjelasan tentang bagaimana seharusnya kita menjalani kehidupan ini, melalui para nabi yang diutus-Nya sampai matarantai kenabian itu ditutup oleh Rasulullah SAW dengan mukjizatnya, Al Quran. Setelah, Allah SWT, membekali kita, manusia, untuk menjalankan peran itu, berupa akal, jiwa dan jasad untuk dapat menyelsaikan tugas itu.

Saudara-saudara sekalian,
Pada dasarnya Allah SWT, telah menyediakan sarana-sarana penguatan tiga infrakstruktur kepribadian kita tersebut. Sarana itu adalah ibadah-ibadah yang ada.
Ramadhan, adalah madrasah terbaik untuk mengasah dan mendidik 3 infrastruktur kepribadian kita ini, melalui puasa dan ibadah-ibadah lain, yang kita maksimalkan, pada bulan ramadhan ini. Ramadhan akan melatih kita, untuk mendidik 3 infrastruktur kepribadian kita ini, agar efektif, agar maksimal dalam menjalan peran-peran kekhalifan, peran-peran sebagai wakil Allah SWT di muka bumi ini.

Saudara-saudara sekalian,
Pendidikan ruhiah (jiwa).
Menjelang ramadhan, kita telah jauh-jauh hari, bahkan jika melihat sikap para sahabat menghadapi ramadhan, telah menyiapkan diri untuk menyambut kehadiran bulan yang agung ini. Lalu kita menyusun target-target amal yang hendak kita kerjakan selama ramadhan.

Semua perencanaan itu kita mulai dengan satu hal, azzam (tekad). Tekad, adalah satu hal yang terdapat dalam jiwa. Kita tentu saja, dalam menyusun target-target tersebut bukan tanpa kemauan yang kuat karena kita mengharapkan pahala sebanyak-banyaknya. Lalu, ketika ramadhan tiba kita juga dengan tekad yang kuat berupaya untuk merealisasikan semua perencanaan-perencaan itu, karena kita ingin meraih gelar fitrah di ujung ramadhan.

Lalu, semua perencanaan amal itu, dengan sangat sungguh-sungguh ingin kita wujudkan selama 30 hari di Ramadhan. Dan tekad yang itu akan semakin kuat jika benar-benar menanamkan satu kesadaran yang kuat akan manfaat dari semua ibadah-ibadah tersebut.
Atau contoh lain misalnya, alasan apa yang menjelaskan kepada kita bahwa kita sama sekali tidak tergoda untuk makan dan minum disiang hari, hal yang biasa kita lakukan di luar ramadhan padahal kita kan bisa saja melakukan hal tersebut secara sembunyi-sembunyi.

Ahli-ahli kesehatan menyebutkan bahwa sugesti yang kita berikan kepada jiwa kita (niat) untuk puasa, akan memasuki sel-sel saraf dan merangsangnya. Sugesti itu, benar-benar memberikan efek yang luar biasa pada jiwa kita. Bayangkanlah, di siang hari di luar bulan ramadhan, kita begitu mudah lapar jika sejak pagi sampai siang tidak makan, itu karena sejak awal yang muncul dalam presepsi jiwa kita adalah bahwa kita bisa makan jika kita lapar.

Jika pada suatu waktu Rasulullah mengatakan: “Allah tidak melihat kepada rupa kalian, tidak melihat kepada wajah kalian, tetapi Allah melihat hati-hati kalian”. Tekad (iradah), adalah salah satu nilai yang terdapat dalam jiwa yang sangat diperhatikan oleh Allah SWT, misalnya: “waidza azzamta fatawakkal alallah.”

Itu adalah latihan dan ujian tekad yang panjang karena kita akan melakukan hal tersebut kurang lebih 30 hari. Meskipun ada fenomena yang kita temukan pada sebagian orang, bahwa tekad menuntaskan semua rencana amal mereka tidak selesai sampai di akhirnya. Karena masjid-masjid akhirnya mulai kosong terutama pada sepuluh hari terakhir ramadhan. Hal ini disebabkan karena tekad mereka tidak kuat, dan karena kesadaran akan balasan kebaikan di ramadhan tidak mengakar kokoh dalam kesadaran mereka.

Pendidikan fisik
Diantara hadist-hadist Rasulullah tentang puasa adalah “summu tasihhu.” Berpuasalah, agar kalian sehat. Sehat, dalam hal jiwa (ruhiy) dan juga termasuk kesehatan fisik. Fisik adalah kendaraan jiwa dan pikiran. Perintah-perintah jiwa dan pikiran tidak akan terlaksana dengan baik bila fisik tidak berada dalam kondisi yang baik dan prima. Sehingga fisik membutuhkan perawatan yang baik.

Ahli-ahli kesehatan dengan perkembangan ilmu pengetahun saat ini menyebutkan bahwa beberapa manfaat puasa antara lain adalah:
a.Berpuasa, memberikan kesempatan bagi organ pencernaan dan saraf untuk beristrahat bekerja selama kurang lebih 14 jam
b.Berpuasa membantu menurunkan kadar gula dalam darah, kolesterol, dan tekanan darah yang berlebihan akibat pola makan yang buruk
c.Berpuasa dapat menurunkan berat badan
d.Berpuasa adalah diet yang sehat karena ia tidak menyebabkan kekuarangan zat gizi tertentu

Saudara-saudara sekalian
Kesehatan fisik adalah modal yang kita butuhkan untuk meralisasikan keinginan-keinginan baik bagi seorang muslim. Kekuatan tekad, cita-cita yang besar, dan tanggung jawab yang besar seorang muslim, membutuhkan kendaraan yang kuat yaitu fisik yang kuat, bugar, sehat untuk bekerja, untuk beramal dan memberikan manfaat kepada sebanyak-banyaknya manusia. Apalagi untuk tugas sebesar, wakil Allah SWT dimuka bumi. Dan puasa, sekali lagi telah menjelaskan banyak sekali fakta, adalah madrasah yang sangat baik untuk mengkondisikan fisik agar tetap sehat.

Kondisi fisik kita haruslah menampilkan performance sistem pendukung yang seimbang dengan beban yang akan ia pikul. Dan itu artinya, diperlukan manajemen kesehatan pribadi agar kualitas fisik seorang muslim itu baik, sehat, kuat dan bugar. Dan Alhamudlillah Allah SWT menyediakan ramadhan bagi kita untuk mengkondisikan fisik kita. Selain, manfaat-manfaat ibadah ramadhan lain misalnya.

Pendidik Akal
Jiwa, raga dan pikiran kita adalah unsur yang tidak dapat kita pisah-pisahkan. Ketiganya menyatu saling mempengaruhi. Suasana jiwa yang baik atau pikiran yang jernih, akan mempengaruhi kualitas kesehatan fisik kita. Sebaliknya, kondisi kesehatan fisik yang buruk juga akan mengeruhkan suasana jiwa dan pikiran kita.

Hal ini, ingin kita kaitkan untuk memperkuat satu kesadaran akan tugas besar kita sebagai wakil Allah SWT, untuk mengelola bumi ini termasuk manusia secara keseluruhan karena kesadaran yang kuat akan orientasi kehidupan kita, akan membuat kita benar-benar mengupayakan bagaimana membangun kesadaran yang kuat tentang bagaimana memaksimalkan energi ibadah itu untuk merealisaikan tugas kita sebagai hamba. Orang-orang bijak mengatakan “semakin besar cita-cita anda, semakin kuat kesadaran anda akan tugas besar anda, maka adrenalin anda akan terpompa untuk mewujudkannya”.

Tapi kemauan yang kuat (tekad yang kuat), harus disertai dengan kapasitas akal yang besar, dan dukungan fisik yang kuat. Dan semua itu, bisa kita dapatkan melalui ibadah-ibadah ramadhan kita, selain janji akan dilipatkan gandakannya pahala. Karena energi besar dalam melaksanakan tugas-tugas besar kita sebagai wakil Allah SWT di muka bumi, seharusnya bisa kita peroleh dari ibadah-ibadah yang kita laksanakan.
Terakhir, setelah kita membangun kesadaran yang kuat akan tugas besar kita sebagai wakil Allah SWT di muka bumi, juga setelah kita membangun kesadaran akan manfaat ramadhan, bahwa ada balasan pahala berlipat dari setiap amal di dalamnya karena yang sangat kita harapkan dari Ramadhan ini kita bisa “terlahir kembali” dalam keadaan fitrah di akhir Ramadhan nanti, lalu menyadari manfaatnya, antaralain, bahwa Ramadhan bisa mendidik dengan baik fisik, jiwa dan akal kita, sebagai infrastruktur kepribadian yang menjadi modal kita untuk menjalankan tugas kekhalifahan dimuka bumi, maka itulah sebagian obsesi-obsesi besar yang ingin kita realisasikan di ramadhan tahun ini.

Kejelasan tujuan, keterarahan perjalanan, akan benar-benar membuat kita bersemangat dalam melaksanakan seluruh target-target ibadah ramadhan kita, karena tanpa target yang jelas di Ramadhan tahun, maka kita juga tidak akan dapat mengukur hasil kerja-kerja ibadah kita di ramadhan tahun ini. Semoga tekad kita, bisa terus menguat hingga akhir ramadhan dengan amal yang terus konsisten bahkan tekad itu terus kita bawa setelah ramadhan ini.

Demikian, mudah-mudahan Allah SWT, memberikan kita semuanya kekuatan untuk menjadikan ramadhan tahun ini, sebagai awal dari semua kebaikan yang akan kita peroleh di masa-masa yang akan datang, pada bulan-bulan di luar bulan Ramadhan.
readmore »»ǴǴ

Selasa, 19 Juli 2011

Sujud Di Ujung Ikhtiar Cinta

Selasa, 19 Juli 2011

Dipelataran sejarah, cinta menghiasi setiap berandanya
Di antara rasa yang menghias bergantinya musim
Karena rindu adalah karunia Tuhan untuk setiap jiwa
Maka, biarkan ia, cinta mengalir menuju muara kesejatian

Seperti kumbang yang merindu kehadiran musim semi
Begitulah para pecinta menanti kehadiran sang pasangan jiwa
Karena lirik adalah luahan perasaan dikedalaman jiwa
Maka, biarkan ia, cinta memekar berpadu dengan irama kasih


Dihiaskan lagu nurani, ia menjawab panggilan rindu
Melepas pergi, melerai rindu, untuk menguatkan cinta
karena ia telah berjanji menjemputnya di ujung musim ini
agar ia tak gugur ke bumi, agar ia tak tersia

Maka di antara sujud-sujud panjangnya
Ikhtiar cinta digenapkan, untuk meminta keputusan
Keputusan dari Sang Maha Cinta di lembar ketetapan-Nya
Agar cinta kita diiringi terbitnya cahaya dari cinta abadi.
readmore »»ǴǴ

Minggu, 17 Juli 2011

Pengaruh

Kamis, 8 Juni 2010
Pukul 19.41 WITA

Pada satu ketika, dikalangan teman-teman ada satu diskusi tentang bagaimana mengukur hasil akhir dari kinerja dakwah yang kita lakukan setelah melalui sekian banyak tahapan-tahapan dakwah seperti yang disebutkan dalam manhaj dakwah kita. Indikator yang memberikan gambaran real tentang hasil dakwah yang telah dilakukan. Indikator yang dimaksud adalah bagaimana mengukur kata “pengaruh” dakwah dikalangan mahasiswa dan masyarakat secara keseluruhan?

Secara keseluruhan bahwa pengaruh yang akan kita ukur ini merupakan hasil kerja keras dari dua tahapan dari empat marhalah dakwah kita. Itulah yang kita sebut dengan marahalah persiapan (tandzimi) dan marahalah sya`bi. Hasil kerja dari tahapan ini adalah terbentuknya basis kader utama dan basis sosial dakwah dikalangan masyarakat , melalui penyebaran fikroh dan syiar-syiar Islam yang kita lakukan. Dimana pekerjaan marhalahnya tentu saja tidaklah selesai meskipun dakwah telah memasuki tahapan lanjut. Karena pemahaman kita tentang semua marahalah itu adalah perluasan bukan perpindahan marahalah.

“Pengaruh” bukanlah satu ukuran yang kita klaim.

Indikator yang kita bisa gunakan sesungguhnya dapat memakai dua pendekatan sekaligus. Indikator itu adalah indikator kualititatif dan indikator kuantitatif. Indikator kualitatif untuk mengukur keberhasilan dakwah kita misalnya adalah dengan memperhatikan situasi sosial masyarakat yang terwarnai dengan nilai-nilai keIslaman. Tapi indikator kualitatif sangat sulit menilainya. Karena lebih bersifat pada presepsi.

Sebab, jika kita melihat pada skala yang lebih besar misalnya. NU dan Muhammadiyah mengklaim dirinya sebagai dua ormas terbesar di Indonesia dengan jumlah pengikut terbesar. Akan tetapi ternyata PKB dan PAN tidak bisa memenangkan pemilu di Indonesia dan bahkan faktanya jumlah suara pemilihnya menunjukkan tren menurun.
Meskipun, memang kedua ormas tersebut tidak secara eksplisit menyebutkan dirinya sebagai underbow dari kedua partai tersebut. Tapi fakta menunjukan bahwa elit-elit politik kedua partai tersebut, juga adalah elit-elit pada kedua ormas tersebut. Dan mereka tidak memenangkan pemilu. Minimal pada kekuatan pengaruh elitnya terhadap orang-orang yang disebutnya dengan “warga Muhamadiyah atau NU”

Kita masuk pada wilayah yang lebih kecil. kita. Apa indikator bahwa kita memiliki “pengaruh” dikalangan masyarakat ? Pengaruh yang saya maksud disini adalah yang paling berpengaruh. Maka jika dapat disederhanakan dengan menggunakan analogi di atas, indikator pengaruh itu adalah kemenangan dalam pemilu. Tapi pemenangan di sini memiliki padanan kata lainnya, mobilitas. Mobilitas, Inilah yang ingin saya sebut sebagai indikator bahwa kita memiliki pengaruh dikalangan masyarakat . Bukan pengaruh yang kita klaim.

Mobilitas sesungguhnya dapat mencakup dua hal. Pertama, mobilitas internal kita. Kemampuan mobilisasi kader kita. Dari sini akan jelas terlihat bahwa orang-orang yang kita tarbawiyah adalah kader kita. Bukan klaim bahwa seseorang itu adalah kader kita karena kita mentarbawiyah seseorang. Dalam beberapa kasus di beberapa fakultas misalnya. Kita menyebutkan tentang jumlah kadernya lebih dari separuh total mahasiswa. Tapi faktanya tidak dapat memenangkan pemilu.

Dan kedua adalah mobilitas masyarakat yang menjadi ukuran luas lingkaran pengaruh kita. Lingkaran pengaruh ini sesungguhnya dapat terbentuk dari banyak alasan. Pertama, masyarakat yang telah terwarnai oleh fikroh dakwah yang kita lakukan selama mihwar sya`bi. Karena “gagal” tertarbawiyah. Kedua, lingkaran pengaruh yang terbentuk karena kompetensi kader. Karena kebutuhan mereka terhadap kader, mereka akan cenderung mengikuti apa yang menjadi “keinginan” kita.

Inilah indikator pengaruh kita dikalangan masyarakat . Tetapi nilai pengaruh ini tidaklah menjadi alasan bahwa kita bisa bertahan pada puncak kekuasaan. Sebab untuk penyeimbangan kekuasaan, kita perlu menguasai lebih dari 50% pada dua lembaga ini. Lembaga eksekutif itulah yang kita sebut sebagai BEM atau Himpunan. Dan lembaga legislative itulah yang kita sebut dengan dewan mahasiswa atau majelis perwakilan mahasiswa.
readmore »»ǴǴ

Sabtu, 25 Juni 2011

Resensi Buku : Meretas Jalan Menuju Kebangkitan Umat

Buku ini akan coba saya paparkan melalui tiga kerangka dasar:
1.Presepsi Hasan Albana tentang proyek kebangkitan

Proyek kebangkitan pada dasarnya haruslah dibangun diatas dasar metode/cara dengan langkah-langkah yang jelas
Pada dasarnya kita akan menyimpulkan presepsi hasan al banna tentang proyek kebangkitan dalam kerangka berikut:
a.Identifikasi masalah umat
“ Di Mesir dan negara-negara Islam lainnya, terjadi berbagai peristiwa yang mengguncangkan jiwa dan membangkitkan rasa duka dalam hati…”
“ kami heran kepada orang-orang itu yang banyak diantaranya ad cendekiawan dan orang-orang alim yang lebih layak dari pada kami untuk mengemban amanah ini,
Bukankah ini juga salah satu penyakit umat”

• Masalah kuantitatif
“ lebih dari 60% penduduk, hidup dengan tingkat kehidupan binatang….dst”
“ wahai ikhwan, itulah bahasa angka, hanaya sebagian kecil dari sekian banyak fenomena…”
• Masalah kualitatif
“ bidang politik…., bidang ekonomi,….pemikiran,…bidang sosial….”
b.Kajian sejarah kebangkitan umat-umat terdahulu

“ kebangkitan seluruh bangsa selalu bermula dari kelemahan….siapakah yang bisa percaya sebelumnya, bahwa jazirah Arab yang merupakan gurun tandus itu akan memancarkan cahaya hidayah dan pengetahuan….”
• Studi sejarah islam
“ Risalah Antara Kemarin dan Hari Ini”
• Studi sejarah umat yang bangkit (hal. 64)
• Studi sejarah gerakan kebangkitan dan perubahan (hal. 65)

c.Mengambil pelajaran dari sejarah kebangkitan
“ kelompok orang yang mengkaji sejarah umat dan tahapan-tahapan kebangkitannya kemudian meyakini sepenuhnya….”
• Hukum-hukum kebangkitan (hal. 80)
-Pemikiran yang terfokus – focus mengikuti langkah-langkah Rasulullah (Hal. 81)
- Kekuatan dan pertahanan - “bisa saya katakana hal terpenting yang harus mendapatkan perhatian pertama adalah kebangkita spiritual” (hal.82)
- Perubahan internal
“ sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan mereka sendiri” (hal. 85)
- Titik tolak
“ disinilah titik mula yang benar datang, dari kondisi kejiwaan yang sehat” (hal 87)
- Pilar kebangkitan: Cita-cita, kebanggan, kekuatan, ilmu, akhlak, harta, dan undang-undang”

d. Bagaimana berinteraksi dengan pelajaran-pelajaran
“ janganlah kalian sekali-kali melanggar aksioma alam, pergunakanlah dan kendalikan arusnya….”


MAAF DUA BAGIAN BERIKUTNYA BELUM SEMPAT DIBUAT RESENSINYA......
readmore »»ǴǴ

Resensi Risalah Pergerakan IM 1-2

Kondisi mesir VS kondisi sekarang (terkhusus Indonesia).Menjelaskan tentang kondisi mesir pada saat itu dan kondisi dunia (hal 273.Secara detil kondisi mesir dijelaskan pada RP 2 hal 93.Menjelaskan tentang kondisi dunia dan Indonesia saat ini. Lalu Bandingkan keduanya.

Kondisi keterpurukan umat pada berbagai aspek pada berbagai aspek (Dakwatuna: Sebuah gejala hal 51).

Tema umum buku ini adalah “kebangkitan dan perjalanan sebuah gerakan menuju realisasi cita-citanya: “kepemimpinan umat – usta`ziatul alam”.

Buku ini terbagi dalam dua jilid, yg bisa kita bagi dalam dua tema besar:
a. Tema Islam dan Tema Kepemimpinan
b. Islam sebagai orientasi dan kepemimpinan sbg sarana realisasi cita-cita


Tema Dakwah – Dalam bingkai jamaah-
Ust Hasan Al Banna menjelaskan ttg dakwah yg dipahami oleh “Ikhwan”
“kami ingin berterus terang kepada semua orang tentang tujuan kami, memaparkan
kepada mereka metode kami dan membimbing mereka menuju jalan kami” (hal.29)

"Tujuan Kami” –
“bersih dari ambisi pribadi, bersih dari kepentingan dunia dan bersih dari hawa nafsu” (hal 29 – kesucian)
“andaikan yg kami lakukan ini ad sebuah keutamaan, maka kami sama sekali tidak menganggap itu keutamaan” (hal,30)

“ Metode Kami” – “tentang modal dasar pencapaian tujuan, maka ada tiga hal: manhaj, pendukung dan pemimpin yg kuat” (hal 54)

“ Jalan Kami” – “kami mengajak manusia kepada satu ideology….” (hal 34. – kejelasan). Ust Hasan Al Banna juga menjelaskan bagaimana sikap ikhwan terhadap berbagai seruan
a. “Haruslah dilihat dari prespektif dakwah kami, apa yg sesuai dengan kami pasti kami setujui pula” (hal 37) – nasionalisme dst
b.“ada golongan manusia yg meyakini apa yg kami yakini…ada juga golongan manusia yg terikat dg kami bukan karena ikatan akidah” (hal 45) – perbedaan aqidah
c.“perbedaan dalam masalah cabang merupakan suatu yg niscaya” (hal. 47) – perbedaan mahzab

Masih – Tema Dakwah Dalam Bingkai Jamaah
Dalam banyak kesempatan anda telah menjelaskan…ternyata para pendengar jauh dari memahami penjelasan anda”

“ Kepada apa kami menyeru manusia?”. Ust Hasan Albana menjelaskan timbangan yang akan dipakai oleh setiap org untuk mengukur kebenaran penjelasan-penjelasannya. “karena tolak ukur yang digunakan oleh masing-masing kita dalam mempersepsi apa yang ia dengar dan apa yang ia katakan saling berbeda…”tolak ukur itu adalah kitabullah” (hal 58).

Ust Hasan Albana menjelaskan Kesenjangan antara orientasi hidup manusia (Muslim) dari orientasi hidup yang seharusnya
“…hai orang-orang yang beriman rukuklah, sujudlah, sembahlah Tuhanmu…..supaya Rasul menjadi saksi atas dirimu, dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia….” (hal. 59).
“ ….jadi kekuasaan itu adalah hak kita, bukan barat atau siapapun…” (hal. 68)

Ust Hasan Albana menjelaskan tentang pentingnya kepemimpinan dengan mengatakan:
“ kekuatan adalah jalan yang paling aman untuk memunculkan kebenaran” ( hal. 69)

Ust Hasan Albana menjelaskan juga tentang referensi yang akan dijadikan sebagai dasar pijakan menuju tujuan tersebut: “bagi umat yang ingin bangkit, untuk menempuh jalan yang paling lurus sekaligus pintas yaitu jalan islam” (hal.77).

Ust Hasan Albana menjelaskan tentang tahapan yang akan ditempuh suatu umat menuju kebangkitannya: (hal. 86 -89): a. Kelemahan;b. Kepemimpinan;c. Pertarungan;d. Iman; e. Kemenangan

Tema Kepemimpinan
Ust. Hasan Albana memandang bahwa proses peralihan suatu umat dan realisasi semua tujuan yang disebutkan di atas sangat ditentukan oleh “kepemimpinan”
“ masa yang paling rawan dalam kehidupan umat adalah ketika berlangsungnya masa peralihan” (hal. 92).

Ust. Hasan Albana kemudian menjelaskan dua langkah yang harus ditempuh untuk itu:
a. Membebaskan umat dari belenggu penindasan
b. Merekonstruksi umat agar dapat bersaing dengan bangsa lain

Ust Hasan Albana juga menjelaskan ttg dua jalan yag bisa dilalui : a. Jalan Barat atau b. Jalan Islam

Pemuda

Ust. Hasan Albana memandang bahwa pemuda, adalah salah satu pioner kebangkitan umat,:
“sejak dulu hingga sekarang pemuda merupakan pilar kebangkitan” (hal.128)
“hendaklah kalian mengetahui eksistensi kalian, megetahui posisi kalian, dan bahwa kalian adalah pewaris kekuasaan dunia” (hal.131.

Ust. Hasan Albana memahami betul kedudukan pemuda, sampai-sampai ia menjelaskan secara detil, langkah-langkah yang akan di tempuh oleh gerakan untuk merealisasikan cita-citanya. (hal. 132) dan juga tentang karakter dakwah “karakter pola pikir kami” (hal. 154). Dalam risalah ini pun beliau mengungkapkan kekhawatirannya akan rusaknya generasi ini
“ kalian tidak boleh merasa resah dan jangan merasa lemah (hal. 134.

Sementara untuk menitipkan harapan kepada generasi tua sangat sulit:
“ Lihatlah masjid masjid-masjid itu yg megah dan indah, dia dipenuhi oleh orang-orang yang lemah dan renta…lalu berbagai penampilan yang menipu….apakah hanya sebatas itu hakekat islam yang diinginkan Allah” (hal. 142).

Dakwah Kami di Zaman Baru
Risalah ini ditulis oleh ust hasan Albana pasca perang dunia II, dengan tujuan untuk menjelaskan dakwah ikhwan kepada setiap orang yang masih kebingungan dan masih mencari satu sistem baru untuk hidup mereka, juga urgensi keberadaan organisasi ini

Risalah ini menjelaskan ttg karakter dasar al ikhwan al muslimin dan sikap-sikap ikhwan atas isme lain atas dasar karakter ini.
“ karakter dakwah kami adalah rabbaniyah alamiah” (hal.160)
“ kami sama sekali tidak meyakini prinsip rasialisme dan fanatisme kesukuan…” (hal161)

Ust. Hasan Al Banna juga menjelaskan kedudukan ikhwan diantara kelompok-kelompok islam lainnya:
“ikhwan merupakan salah satu organisasis di antara organisasi-organisasi yang ada” (hal.181)

Antara Kemarin dan Hari Ini
Adalah gambaran tentang kapasitas ust Hasan Al Banna membaca sejarah perjalan umat islam dari awal kali dideklarasikan oleh Rasulullah SAW sampai zaman dimana Hasan Al Banna hidup. Lalu beliau mengatakan “DARI SINI KITA MEMULAI”

Muktamar V
Ust. Hasan Albana menjelaskan karakter fikroh dakwah ikhwan di hadapan para kader-kadernya dengan mengatakan:
“anda akan bisa mengatakan tanpa ragu bahwa ikhwanul muslimin adalah:” (Hal. 227 – 229)

Risalah Jihad
Ust Hasan Al Bana menjelaskan tentang kewajiban serta tujuan jihad berdasarkan penjelasan Al Quran dan Sunnah dengan mengatakan:“ umat islam kini dalam keadaan terhina dihadapan kaum lain dan menjadi objek hukum mereka,…maka wajiblah setiap muslim untuk mempersiapkan diri dan mengokohkan niat mereka untuk menghadapi jihad sampai datangnya kesempatan itu…” (hal 37)

Ust. Hasan Al Bana menjelaskan tentang tujuan perang dalam islam
“ ….bukan sebagai alat pemusnah orang kafir atau sarana bagi kepentingan pribadi tetapi sebagai pelindung bagi dakwah dan jaminan bagi perdamaian….” (hal 39)

Mar`ah Muslimah

Nilai-nilai umum (hal 47-48):
a. Islam mengangkat harkat dan martabat wanita dan menjadikannya sabgai partner laki-laki dalam hak dan kewajiban
b. Membedakan laki-laki dan wanita dalam hak, adalah hal yang sudah pasti ada, krn penciptaan dan karena peran
c. Antara laki-laki dan wanita tedaapt fitrah ketertarikan yg kuat

Pandangan islam terhadap wanita dalam masyarakat:
a. Mendapatkan pendidikan
“ ajarilah wanita dengan melihat tugas dan peran yang telah dititahkan Allah kepadanya” (hal 51)
b. Membedakan laki-laki dan perempuan
readmore »»ǴǴ