Minggu, 05 Juni 2011

Kepemimpinan, Jalan Menuju Masyarakat Madani

Refleksi Singkat 13 Tahun Reformasi

Kejatuhan Soeharto pada tahun 1998, setelah ia berkuasa sekitar 32 tahun, merupakan satu babak baru dalam kehidupan Indonesia sebagai sebuah bangsa setelah melalui tahapan kehidupan politiknya dalam dua orde sebelumnya. Soeharto, dengan narasi pembangunan yang dibawanya telah membawa bangsa Indonesia memasuki era kesejahteraan tetapi tidak memberikan kebebasan bagi masyarakat untuk berekspresi, berpendapat, apalagi untuk mengambil sikap yang bertentangan dengan sikap pemerintah yang berkuasa

Reformasi telah melalui perjalanan yang cukup lama, sekitar 13 tahun. Tetapi harapan akan hadirnya kehidupan yang lebih baik di orde ini, masih belum lagi dapat dinikmati. Fajar kehidupan yang lebih baik belum lagi terbit. Sementara masyarakat telah sering dikecewakan oleh tak kunjung hadirnya perubahan, yang kita harapkan dapat diinsiparikan oleh mereka-mereka yang menduduki singgasana kepemimpinan di negeri ini.

Kepempinan nasional belum mampu mengantar bangsa Indonesia ke arah yang lebih baik. Hal ini ditandai dengan jatuh bangunnya kepemimpinan bangsa, sejak masa peralihan kepemimpinan dari Orde Baru kepada Orde Reformasi pada kepemimpinan Habibie, Abdurrahman Wahid, lalu Megawati. Dan kini, Susilo Bambang Yudhoyono.


Angka utang luar negeri Indonesia terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Belum lagi jumlah penduduk miskin yang masih cukup besar. Permasalahan penegakkan hukum yang masih belum menggembirakan terutama beberapa kasus korupsi besar, seperti kasus Gayus Tambunan, Susnoduadji, dan kasus Bank Century. Masalah-masalah ekonomi yang telah begitu kompleks dan membutuhkan solusi penyelesaian dengan segera antaralain masalah ketenagakerjaan dan pengangguran, kemiskinan, kesenjangan kehidupan ekonomi antara desa dan kota, serta kesenjangan antara daerah kepulauan

Dalam situasi seperti ini, dalam kondisi kekecewaan masyarakat yang terus berulang, kerinduan masyarakat akan hadirnya sosok kepemimpinan baru yang lebih baik, menjadi sangat kuat. Generasi tua yang saat ini menjadi aktor panggung politik sudah memasuki usia senja. Mereka sudah tak kuat lagi menghadapi zaman. Dan ini berarti peluang generasi baru, mengisi kekosongan harapan bagi kepemimpinan nasional menjadi sangat besar.

Salah satu faktor penentu keberhasilan dari suatu bangsa untuk keluar dari masa transisi adalah faktor kepemimpinan itu sendiri. Karena pemimpinlah yang akan mengarahkan masyarakatnya untuk dapat mencapai cita-cita kebangkitannya. Pemimpinlah yang menjadi teladan, sekaligus pengayom dan pemberi motivasi bagi masyarakatnya untuk bangkit. Dan inilah masalah utama yang belum bisa terjawab sampai saat ini. Kepemimpinan.

Musim Gugur Kepemimpinan

Masa transisi demokrasi yang diharapkan dapat terwujud lebih jauh menuju ke masa konsolidasi demokrasi, dimana lembaga-lembaga dan tata pemerintahan diharapkan sudah dapat diorganisasikan dan mulai bekerja serta berinteraksi menuntut aturan-aturan main yang baru pula, ternyata masih belum menampakkan hasil yang maksimal.

Kondisi ini diperparah dengan mencairnya gerakan-gerakan kemahasiswaan dan kembali kembali kepada urusan kampus mereka sendiri-sendiri. Sehingga hampir tidak ada lagi aksi-aksi mahasiswa yang mampu mengkonsolidasi banyak kalangan untuk mendorong terjadi perubahan sebagaimana yang tertuang dalam amanat reformasi.

Figur pemimpin yang tampil pada masa transisi ini telah memunculkan kekecewaan baru, karena harapan akan perubahan tidak kunjung diwujudkan. Para pemimpin asyik sendiri dengan pemuasan kepentingan pribadi, keluarga dan kelompoknya.

Mungkin tidaklah terlalu arogan untuk menyatakan bahwa, hari esok adalah musim gugur kepemimpinan, karena hampir tidak ada lagi pemimpin tua yang tertarik untuk terjun ke medan pertempuran, karena selain usia mereka sudah senja, fisik mereka juga sudah tak sanggup lagi menanggung beban kepemimpinan yang berat di negeri ini.

Musim gugur kepemimpinan Indonesia tahun 2014, membuat sebagian politisi kebingungan mencari figur baru untuk bisa mereka "jual" bagi kemenangan pemilu. Perhatikan sikap-sikap mereka pada media. Dan negeri ini telah memasuki salah satu fase dimana penduduknya dihuni oleh mayoritas penduduk di kelompok usia muda. Dan ini artinya celah sejarah telah terbuka bagi tampilnya generasi baru kepemimpinan baru untuk segera merebut momentum tersebut.

KAMMI dan Peluang Kepemimpinan

Merenungkan kembali sejarah kepemimpinan nasional sejak bangsa ini memperoleh kemerdekaannya, dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan yang pernah tampil di panggung politik negeri ini selalu berakhir dengan tragis, tanpa ada hasil karya yang bisa dibanggakan.

Hanya saja, sejarah dalam cara pandang generasi baru bukanlah sesuatu yag harus terus dicaci atau dikutuki. Karena sikap seperti ini hanya akan mendatangkan sakit hati dan trauma terhadap masa silam. Sejarah seharusnya dipandang seperti ini, bahwa sejarah adalah tempat belajar tentang nilai apa yang bisa kita ambil untuk kehidupan hari ini, meninggalkan dan melupakan hal yang buruk dari sejarah masa lalu, dan mengambil hal-hal baik untuk merancang masa depan.

Dalam kondisi berulangkalinya kekecewaan masyarakat terhadap kepemimpinan nasional saat ini, KAMMI seharusnya mampu menjawab tantangan ini, untuk segera “merebut” kepemimpinan nasional, sekaligus untuk menjawab dan mengejewantahkan visi KAMMI sebagai penyedia stok kepemimpinan yang permanen. “KAMMI adalah wadah perjuangan permanen yang akan melahirkan kader-kader pemimpn masa depan dalam upaya mewujudkan masyarakat Islami di Indonesia.” Maka salah satu ukuran keberhasilan KAMMI sebagai sebuah organisasi adalah terbentuknya stok kepemimpinan baru bagi bangsa ini.


Dari sini kita memulai

KAMMI sebagai salah satu elemen gerakan mahasiswa yang harus “bertanggung jawab” atas bergulirnya reformasi harus segera mendorong dirinya sebagai sebuah lembaga dan mendorong kader-kadernya untuk menghadirkan sosok kepemimpinan baru, bukan lagi kepimpinan alternatif, tetapi menjadi jaminan kepemimpinan baru yang lebih baik, yang menjadi tempat di mana bangsa ini bisa menitipkan harapan akan kehidupan yang lebih baik, harapan akan perbaikan. ditengah kondisi perpolitikan bangsa dan kekuasaan yang hanya diisi oleh orang-orang lama, orang-orang tua, yang sepertinya untuk menitipkan harapan perbaikan bagi negeri ini kepada mereka sudah sangat sulit.

Untuk itulah, salah satu tugas besar KAMMI saat ini adalah membentuk stok “gerombolan pemimpin” dengan sifat-sifat kepemimpinan yang harus dipupuk sejak saat ini, dan dapat menjadi acuan bagi para kader untuk mendidik dan mendesain dirinya. Adapun sifat-sifat kepemimpinan ideal yang kita inginkan ada pada kader-kader KAMMI adalah:

Karakter Visioner.

Visi suatu organisasi atau visi hidup seseorang seperti mercusuar yang menyorotkan lampu untuk menunjuk arah kemana suatu kapal akan menuju. Seperti itu jugalah visi yang terkandung pada diri seorang pemimpin, visi yang jelas akan menjadi sumber motivasi yang besar baginya untuk mendesain dan menentukan langkah-langkah yang tepat menuju tujuan tersebut.

Indonesia yang dicita-citakan oleh KAMMI telah digariskan sebagaimana yang tertuang dalam visi KAMMI yang menyebutkan bahwa KAMMI adalah wadah perjuangan permanen yang akan melahirkan kader-kader pemimpin masa depan dalam upaya mewujudkan masyarakat Islami di Indonesia.

Masyarakat madani dalam pandangan KAMMI merupakan suatu masyarakat yang jauh dari semangat otoriteranisme, dipenuhi dengan nilai-nilai keadilan, persamaan, kebebasan, dan kemerdekaan.

Dalam konteks cita-cita menegakkan masyarakat madani, KAMMI, menyadari dengan sangat kuat bahwa peran pemimpin sangat signifikan dalam setiap proses perubahan. Hal ini secara jelas juga tertuang dalam prinsip perjuangan KAMMI yang menyebutkan bahwa kepemimpinan umat adalah strategi perjuangan KAMMI.

Visi ini harus terintegrasi secara kuat dalam diri seorang kader. Sehinggga kader menjadi gambaran dari visi itu sendiri. Cita-cita tentang masyarakat madani di Indonesia adalah satu cita-cita yang sangat besar.

Kejelasan visi seorang pemimpin akan mampu mengarahkan seluruh potensi bangsa yang sedang kebingungan mencari arah. Visi yang jelas akan mampu membuat bagsa ini lebih mampu menentukan sikapnya tentang hal yang akan dikontribusikan bagi pencapaian visi tersebut.

Dalam konteks keindonesiaan, sosok kepemimpinan tersebut harus memiliki kapasitas intelektual memadai dan menguasai kondisi makro nasional dari berbagai aspeknya, sehingga dapat menyelesaikan agenda perubahan yang dicita-citakan. Pengetahuan yang kuat akan kondisi politik, ekonomi, sosial dan budaya bangsa sangat penting, agar sikap-sikap dan langkah-langkah yang diambil dalam menegakkan cita-cita yang diinginkan dapat sesuai serta tidak bertentangan dengan realitas masyarakat indonesia. Agar peran dan sikap-sikap kepemimpinan yang dijalankan di masa depan tidak menyebabkan luka bagi masyarakat.

Sifat ini telah tersirat dalam karakter muslim negarawan point pertama dan kedua yaitu Memiliki Basis Ideologi Islam yang Mengakar dan Memiliki Basis Pengetahuan dan Pemikiran yang Mapan.

Karakter Pelayan.

Kepimimpinan pada dasarnya adalah investasi jangka panjang. Kepemimpinan terhadap masyarakat tidak serta merta hadir begitu saja, Karena ia selama dibangun dari kontribusi-kontribusi kebaikan di masa lalu. Sifat ini, menunjukan karakter kader sebagai pekerja yang tekun dan taat pada proses perencanaan yang sudah dicita-citakan oleh KAMMI, menguasai detil masalah-masalah inti kebangsaan dan mampu melibatkan semua elemen yang kompeten sebagai tim kerja yang solid.

Begitulah sejarah kepemimpinan yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Aspek trust, kepercayaan, dengan gelar Al Amin yang diperolehnya di usia muda menjadi modal sosial yang sangat berharga bagi peran-peran kenabian yang beliau lakukan. Karena masa transisi adalah masa yang sangat rawan bagi terjadinya perpecahan sehingga karakter ini sangat dibutuhkan untuk dapat menciptakan solidaritas yang kuat antara berbagai elemen bangsa untuk bersama-sama bekerja mendesain Indonesia yang lebih baik.

Cara pandang yang terbaik dalam memandang bangsa ini adalah bahwa negeri ini adalah satu kesatuan yang utuh, yang tidak dapat dipisahkan oleh keragaman kehidupan masyarakatnya. Keragaman bukanlah hal yang harus menyebabkan perpecahan, tetapi keragaman adalah potensi yang bisa didayagunakan untuk kemanfaatan bagi bangsa secara keseluruhan. Bangsa ini, dengan masyarakatnya haruslah dapat dijadikan sebagai objek sekaligus sebagai subjek pembangunan, dengan partisipasi total seluruh masyarakatnya.

Sifat ini telah tersirat dalam karakter muslim negarawan point ketiga dan keempat, idealis dan konsisten berkotribusi pada pemecahan permasalahan umat dan bangsa.

Karakter Pembina,

Karakter ini akan terbangun dari integritas kepribadian yang kuat dari seorang pemimpin. Integritas kepribadian yang kuat, tonggak pemikiran yang kokoh akan menjadi modal utama untuk membangun kepercayaan masyarakat, dan menjadi rujukan semua pihak dalam perencanaan masalah bangsa, yang setia dengan nilai-nilai dasar bangsa dan menjadi teladan bagi kehidupan bermasyarakat secara komprehensif.

Salah satu masalah besar bangsa ini adalah ketiadaan keteladanan para pemimpinannya. Nilai-nilai moralitas yang kuat sudah tidak kita temukan. Kredibilitas moral akan menjadi salah satu kunci pengaruh seorang kader terhadap masyarakat. Dan sifat ini telah tersirat dalam karakter muslim negarawan point kelima, menjadi perekat komponen bangsa sebagai upaya perbaikan.

Izinkan Kami Menata Ulang Indonesia

Untuk meralisasikan cita-cita perubahan yan diinginkan tentu tidak bisa hanya melalui perubahan pada puncak kekuasaan di Indonesia. Tetapi perlu ada gerombolan kepemimpinan baru yang diciptakan, agar dapat mengisi “kekosongan” kepemimpinan yang terjadi pada berbagai sektor kehidupan bangsa ini saat ini.

Sejumlah besar stok kepemimpinan baru harus dapat segera disiapkan. Dimana stok kepemimpinan ini nantinya akan menjadi penerus ide perubahan yang telah dicita-citakan oleh KAMMI, melalui mobilitas kader, penyebaran kader ke berbagai pusat kekuatan dan kekuasaan dalam rangka mempengaruhi, merumuskan dan mengimplementasikan kebijakan publik agar sesuai dengan nilai-nilai islam.

Karakter Muslim Negarawan harus terinternalisasi secara kuat pada diri kader-kadernya, setelah itu, tersedialah stok kepemimpinan bangsa dalam jumlah yang besar untuk kemudian melakukan perubahan pada berbagai sektor kehidupan bangsa melalui gerakan mobilitas pada berbagai sektor tersebut. Gerakan perubahan yang ingin kita lakukan harus melalui dua bentuk. Yaitu gerakan kultural dan gerakan struktural.
Gerakan kultural (mobilitas horizontal) dilakukan melalui penyebaran kader ke berbagai kalangan dan lapisan masyarakat, agar masyarakat dapat mentransformasi diri mereka sendiri menjadi lebih baik.

Mobilitas horizontal ini lebih bersifat bottom up dimana kader akan bergerak bersama-sama masyarakat untuk berpartisipasi dalam melakukan perbaikan dalam berbagai bidang kehidupan bangsa, baik itu ekonomi, sosial, budaya, lingkungan hidup, kependudukan, kewanitaan, kemiskinan dan lain sebagainya. Oleh karena itu, dibutuhkan jumlah kader yang besar dan juga tentu memiliki kualitas yang terbaik, agar gelombang perubahan bottom up yang hendak dilakukan menjadi lebih besar.

Penyebaran kader-kader KAMMI ke berbagai kalangan dan lapisan bangsa ini adalah untuk menggerakkan peran serta masyarakat dalam mentransformasi diri mereka sendiri. Karena kaidah dasar perubahan sesungguhnya selalu bermula dari diri mereka sendiri. Bukan dari luar diri, atau lingkungan eksternal seseorang. “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sampai mereka merubah diri mereka sendiri.”

Gerakan perubahan horizontal ini, juga memungkinkan kader-kader KAMMI berinteraksi dan mentransformasi ide-ide perubahan yang diinginkannya, sehingga kelak akan terbentuk satu barisan pendukung dalam jumlah besar terhadap cita-cita perubahan yang ingin dilakukan. Dan keberhasilan menciptakan pendukung dalam jumlah besar akan mampu memberikan kontribusi bagi mudahnya kader-kader KAMMI melakukan mobilitas vertical.

Mobilitas struktural (mobilitas vertikal) dilakukan dengan mendorong kader-kader untuk terlibat secara intensif ke lembaga pemerintah (sektor publik), sektor swasta dan organisasi kemasyarakatan (LSM/third sector).

Keterlibatan kader-kader KAMMI dalam tiga sektor ini bertujuan untuk berkontribusi dalam membangun sistem, membuat kebijakan publi, regulasi dan perundangan secara struktural, top down, untuk digunakan sebagai pedoman dalam rangka transformasi masyarakat. Gerakan struktural ini juga berperan dalam rangka implementasi dan pengawasan pembangunan bangsa.

Di era keterbukaan ini faktor yang paling menentukan kesuksesan dalam merebutkan pengaruh dan kepemimpinan adalah yaitu faktor kualitas dan faktor peluang. Faktor kualitas kader berkaitan dengan kredibiltas personal sedangkan peluang mobilitas vertikal sangat ditentukan oleh kondisi internal dan eksternal organisasi.

Dengan kondisi ini, maka kewajiban untuk penataan kader menjadi sangat dibutuhkan. Karena banyaknya sektor kehidupan di bangsa ini begitu luas, maka perlu diciptakan “gerombolan pemimpin” dalam jumlah yang besar.

Oleh sebab itulah, untuk semakin memperbesar peluang mobilitas kader, maka transparansi kelembagaan harus terus menerus didorong dan dengan cara inilah Peluang mobilitas kader-kader KAMMI ke berbagai lembaga dan sektor kehidupan bangsa masyarakat akan menjadi sangat besar (mobilitas vertikal). Karena masyarakat akan memiliki kecenderungan positif untuk menentukan pilihan-pilihan mereka secara nasional.

Dan Keberanian kader untuk mencoba masuk ke wilayah-wilayah heterogen akan menjadi salah satu faktor keberhasilan dan peningkatan kapasitasnya. Karena kader akan langsung berhadapan dengan lapangan/medan amal yang sesungguhnya. Selain tentu saja, secara internal kelembagaan, KAMMI juga harus melakukan penataan kader ini.
Hal ini akan memberikan keuntungan secara tidak langsung bagi organisasi dan juga bagi kader.

Karena cita-cita besar KAMMI untuk melakukan perubahan pada bangsa adalah melalui kepemimpinan, dan kepemimpinan pada dasarnya adalah investasi dalam jangka waktu yang panjang, maka jika sejak awal kader telah dilatih dan dididik hidup di dunia heterogen dengan kredibilitas moral dan profesionalisme yang baik yang mereka miliki tentu saja akan menjadi investasi yang baik untuk merebut kepemimpinan masa depan. Atau mungkin jika penyiapan ini telah ada dan tertata baik, masyarakat akan segera memberikan tugas kepemimpinan itu kepada kader-kader KAMMI dengan ikhlas, karena mereka tidak punya solusi lain untuk perbaikan. Kecuali, memberikan dan menitipkan harapan itu kepada kader-kader KAMMI. Wallahualam
readmore »»ǴǴ

Senin, 23 Mei 2011

Lintasan Pikiran

Mereka berhak mendapatkan keabadian dalam ingatan hati mati manusia, krn kebajikan yg telah mereka ukir di sana, di atas lembar hati manusia. Maka kematian bagi mereka, adalah tempat istrahat dan menikmati balasan kebajikan abadi atas kebajikan yg telah mereka berikan tanpa henti selama hidup.

Keberanian ini adalah sejenis keberanian yang pernah dimiliki oleh Umar bin Khatab. Ketika hendak hijrah, beliau mengatakan: “ Saya akan melakukan hijrah, dan saya akan melalui jalan ini, siapa yang mau menjandakan istrinya, meyatimkan anaknya, maka silahkan tunggu saya di sana.”

Jujurlah, maka kamu akan dicintai manusia....

Kita tentu berduka dengan kepergian mereka. Kepergian generasi perintis. Tapi mereka telah berkarya besar, peletak dasar kesuksesan yang telah dicapai saat ini. Amal mereka takkan pernah berhenti dituai. Selamat Jalan.......

Hal yang harus segera berubah dalam hidup kita seiring pertambahan usia adalah TERUS MENJADI LEBIH BAIK. Krn setiap hari pengetahuan kita tentang hidup terus bertambah dan itu berarti sikap kita juga harus berubah

Sepertinya waktu benar-benar menjadi alat uji komitmen. Jika kita telah memikul beban sekian lama, maka kita akan tahu bahwa godaan ut melepaskan beban itu mgkn semakin besar. Maka yang harus kita lakukan ad menambah pengetahuan ttg hidup, lalu memelihara kedekatan dengan-Nya, kemudian memperkuat harapan akan syurga dan wajah-Nya


Dedaunan yang berjatuhan di taman, seperti itulah kehidupan. Ada daun yang gugur, tapi ada tunas yang terus tumbuh. Maka begitulah sunatullah kehidupan

Air. Ia lembut dan lentur. Tapi anda juga takkan menduga jika pada suatu waktu amukkannya bisa memporakkan bangunan teguh.

Jika anda punya cita-cita besar, segera ubah cita-cita itu menjadi kapasitas diri anda melalui proses belajar yang tak pernah henti

Ajarannya sudah ada, Lengkap (Q.S Al Maidah: 3). Ruang implementasinya juga telah ada, Bumi keseluruhannya (tanpa kecuali) (Q.S Al Anbiya : 107). Ia hanya butuh eksekutornya ut membumikan risalah langit itu. Itulah Manusia (Q.S. Al Baqarah: 30). Manusia yang sempurna dalam takaran Allah SWT (Q.S Al Ashr).

Mari. Mari kita rehat sejenak dari rutinitas. Rutinitas yang telah mengikis banyak sekali energi jiwa kita. Sesekali, marilah kita membuka lembar-lembar sejarah yang telah kita tulis-tulis. Mungkin disana, dicoret-coret tak beraturan itu, kita bisa menemukan mutiara. Ya. Rangkaian Mutiara perjalanan hidup

Jika anda takut sesuatu, maka ut menghilangkan ketakutan itu, segera lakukan. Misalnya, jika anda takut naik gunung, maka segera naik gunung.

Mereka memilih menjadi pemenang kehidupan setelah menang terhadap dirinya sendiri. Krn ia tahu bahwa sejak lahir ia telah menjadi pemenang. Maka kesuksesannya itu harus terus berlanjut hingga ke negeri keabadian (akhirat)

waktu dan kesabaran. panjangnya waktu yg dibutuhkan untuk menempuh perjalanan adalah gambaran ttg kadar kesabaran yang kita butuh untuk itu atau bahkan lebih

Karena setiap hari pengetahuan kita bertambah, maka setiap hari juga pengetahuan itu membuat sikap hidup kita berubah (seharusnya menjadi lebih baik)

Jika ada kerinduan yang sangat pada diri seorang muslim terhadap dunia, maka seharusnya kerinduan itu adalah kerinduan akan "keinginannya untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik bagi sebanyak-banyaknya manusia".

Entahlah arah sejarah akan seperti apa (dalam takdir-Nya), kita hanya perlu menerawangnya sesuai yang kita impikan dengan kerja-kerja yang maksimal dan doa yang tak henti

Suatu waktu, aku ingin mengajakmu jalan-jalan, untuk melihat-lihat taman-taman yang telah ditanami oleh generasi pendahulu. Setelah itu aku ajak engkau untuk merawatnya........

Jika yakin bahwa engkau bekerja untuk-Nya, lalu apa lagi yang engkau takutkan untuk masa depanmu. Mustahil, Dia yang Maha Perkasa menyia-nyiakan hamba-Nya yang ikhlas bekerja untuk-Nya

Di pagi ini....mari kita bertekad, untuk menjadi peserta paling sadar di alam semesta. Setelah itu berupaya sekuatnya untuk menjadi manusia yang efektif

Gurat-gurat wajahnya memahamkan kita satu hal. Bahwa laki-laki itu begitu tenang dalam menjalani kehidupannya. krn ia memiliki sumber harapan yang tak terbatas.

Gurat-gurat wajahnya memahamkan kita satu hal. Bahwa laki-laki itu begitu tenang dalam menjalani kehidupannya. krn ia memiliki sumber harapan yang tak terbatas.

Hari-hari ini adalah hari-hari yang penuh ujian. dari eksternal mencoba menghantam untuk memecah barisan. di internal banyak cobaan yang menimpa teman-teman tercinta. Semoga ujian ini bisa kita lalui dan semoga Allah senantiasa memberikan kita karunia kekuatan. BERSABARLAH
readmore »»ǴǴ

Minggu, 22 Mei 2011

Asy Syajaah

Kamis, 10 Februari 2011

Kita pernah mendengar satu penjelasan dari salah satu hadist Rasulullah SAW yang menyebutkan bahwa kita, kaum muslimin, pada suatu ketika akan hidup seperti makanan yang diperebutkan oleh banyak orang atau umat-umat yang lainnya. Dan ketika seorang sahabat bertanya, mengapa hal itu terjadi, Rasulullah menjawab: “karena kaum muslimin menderita suatu penyakit yang disebut wahn”. Meskipun, jumlah kaum muslimin sangat banyak.

Alasan inilah yang kemudian menjelaskan satu realitas yang sedang kita hadapi saat ini. Yaitu ketiadaan kewibawaan kaum muslimin dihadapan umat-umat yang lain. Ketiadaan mentalitas keberanian, Asy Syajaah, selain berefek pada tak dipandangnya umat muslimin secara eksternal, penyakit ini justru tidak sedikit kita temukan berkembang dikalangan internal kaum muslimin sehingga keberanian untuk memikul beban yang lebih banyak sangat jarang kita temukan.

Kita belum akan berbicara pada keberanian secara eksternal, tapi di sini kita hanya akan berbicara tentang keberanian secara internal yang mendorong seseorang untuk mengambil peran-peran keislaman seiring dengan usia perjalanannya di muka bumi.

Tugas meneruskan risalah ini, jika kita bisa menganalogikannya, maka perjalanan hidup ini bukanlah seperti kerja sebuah bus, yang sepanjang perjalanannya ada saja muatannya yang naik dan ada juga turun. Tetapi sifat pekerjaan meneruskan risalah ini adalah sebuah kendaraan yang penumpangnnya tidak pernah turun, yang ada hanyalah terus menerus bertambah bebannya seiring dengan pertambahan usia perjalanannya.

Iman, tentu saja tidak akan bernilai jika tidak mendorong pemiliknya untuk merealisasikannya menjadi amal yang nyata di tengah realitas kehidupan. Kita yang dididik dalam keislaman sekian lama, untuk membangun kembali karakter keislaman kita, tentu saja dalam doktrin-doktrin keislman itu, kita yang menyebutkan bahwa nahnu qaum amaliyyun, kalian adalah kaum yang beramal. Bukan para propagandis kebaikan. Tapi kita adalah pekerja amal.

Sebagian aktivis, sekali lagi mengalami kendala ini. Ketiadaan sifat Asy Syajaah dalam jiwanya. Sehingga hal inilah yang menjadi alasan yang menjelaskan bahwa sebagian muslim tidak berani mengambil alih tugas-tugas keislaman secara berani. Entah, sebesar apapun risiko yang kemudian akan hadapi karena tugas itu. Adanya ketakutan bahwa suatu saat ia akan disalahkan karena ketidaksanggupannya menyelesaikan target-target tugas yang diberikan kepadanya.

Rasulullah SAW punya cara sendiri untuk membangkitkan dan mendorong karakter ini keluar dari kedalaman jiwa para sahabat-sahabatnya. Pada suatu malam, menjelang hari peperangan Rasulullah SAW mengangkat pedang dihadapan para sahabat dan kemudian berkata: “ Siapa yang mau mengambil pedang ini, maka Allah SWT akan mencintainya”. Maka tak satupun sahabat yang tidak mengangkat tangannya. Sampai kemudian Rasulullah SAW mengatakan: “tapi yang mengambil pedang ini harus mampu menunaikan tugasnya”. Yaitu memenangkan peperangan. Inilah cara Rasulullah SAW, memupuk, memelihara, bibit keberanian di hati sahabat-sahabatnya.

Keberanian ini adalah sejenis keberanian yang pernah dimiliki oleh Umar bin Khatab. Ketika hendak hijrah, beliau mengatakan: “ Saya akan melakukan hijrah, dan saya akan melalui jalan ini, siapa yang mau menjandakan istrinya, meyatimkan anaknya, maka silahkan tunggu saya di sana.” Atau jenis keberanian spektakuler yang pernah diperlihatkan oleh Khalid bin Walid pada wajah sejarah yang ketika hendak memasuki suatu wilayah, maka raja-raja di daerah tersebut tidak lagi melakukan perlawanan kecuali menyerah pasrah.

Sebagian orang memang memiliki sifat As Syajaah ini sebagai sifat bawaan memang mereka miliki sejak lahir. Boleh jadi memang kita tidak memilikinya sebagai bawaan sejak lahir, tetapi sifat ini bisa kita munculkan melalui latihan.

Inilah yang senantiasa dilakukan oleh Rasulullah SAW, yang pada suatu malam menjelang esok hari peperangan ia mengangkat pedangnya dan mengatakan “siapa yang mau mengambil pedang ini, maka ia akan dicintai Allah.” Artinya Rasulullah menstimulasi sifat keberanian untuk mengambil beban dengan risiko berat bagi para sahabatnya.

Keberanian yang tentu saja mengandung risiko ini, hanya akan dimiliki oleh mereka yang memiliki kekuatan iman tak goyah. Yang dengan keimanan yang kuat itulah ia meyakini adanya pertolongan Allah SWT. Apakah Anda memiliki sifat ini? Saya tidak tahu. Tapi saya kira kita bisa melatihnya agar sifat ini muncul sebagai karakter.
readmore »»ǴǴ

Selasa, 10 Mei 2011

Akumulasi Beban



Jum`at, 11 Maret 2011

Hakekat sebuah perjalanan adalah ujian. Hanya saja, pemahaman yang baik akan tabiat jalan yang ditempuh akan mampu memberikan seseorang kesadaran yang kuat tentang apa yang perlu dipersiapkannya agar perjalanannya dapat sampai ke tujuan.

Pengetahuan tentang tabiat jalan, juga akan memberikan kesadaran yang kuat bagi seseorang bahwa mungkin akan ada tikungan-tikungan perjalanan yang akan ia temui selama perjalanan menuju tujuan tersebut. Dimana tikungan-tikungan tersebut bisa saja membuatnya tersesat sehingga tidak dapat sampai ke tujuan yang telah ia tetapkan.

Jika kita mencoba merefleksi ulang perjalan kita dalam dakwah ini, maka kita akan menemukan bahwa ada korelasi positif antara lamanya perjalanan atau usia kita dalam dakwah dengan pertambahan beban yang kita pikul.

Jika kita mencoba merefleksi ulang, saat pertama kita disentuh oleh tarbiyah, maka beban kita hanya ada satu, yaitu kehadiran di halaqoh. Tetapi seiring pertambahan usia kita dalam tarbiyah, kita merasakan bahwa beban-beban yang kita pikul dalam dakwah ini semakin berat dan bertambah. Sekarang antum semuanya mendapatkan banyak sekali amanah dakwah, yang membuat antum semuanya hampir tidak punya waktu untuk mengurusi diri sendiri.

Peerlahan-lahan kita mulai merasakan kebenaran dari kalimat Ustad Hasan Al Banna bahwa: “kewajiban seorang muslim itu, jauh lebih banyak dibandingkan dengan waktu yang tersedia baginya”

Maka benarlah sebuah analogi yang menyebutkan bahwa “perjalanan dakwah itu, bukanlah seperti perjalanan sebuah bus, dimana ada saja penumpangnya yang turun dan ada juga penumpangnya yang naik. Tetapi hakekat dakwah ini, adalah seperti sebuah kendaran, apa saja namanya, tetapi kendaraan itu hanya memberikan satu pintu masuk bagi penumpang-penumpang baru untuk naik tetapi tidak memberikan jalan keluar, jalan turun bagi penumpang yang telah berada di atas bus”

Itulah pelajaran sejarah yang bisa kita temukan dalam kehidupan Rasulullah SAW. Karena beliau adalah teladan terbaik maka darinyalah kita juga bisa belajar tentang hakekat ini.

Di awal-awal dakwahnya, di Mekkah, beliau mungkin hanya punya beberapa beban, antaralain beban untuk menyeru manusia kepada risalah yang dibawanya, atau juga ancaman pembunuhan yang didapatkannya dari orang-orang Quraisy, atau juga ia hanya punya satu beban, seorang Istri. Khadijah r.a.

Tapi seiring pertambahan usianya didalam dakwah, di Madinnah, beban-beban itu semakin bertambah. Beliau, bukan hanya mendapatkan ancaman pembunuhan saja, tetapi beliau harus berhadap-hadapan secara langsung dengan para kafirun dan quraisy. Bukan hanya mengatakan “bersabar” tapi, kakek yang berusia 57 tahun itu kini harus mengenakan pakaian dari besi untuk melindungi tubuhnya dari ancaman libasan pedang yang datang dari musuh-musuhnya di medan perang.

Istri, ini juga bertambah. Jika di Mekkah ia hanya mengurusi Khadijah, kini, di Madinah, beliau harus mengurusi sembilan orang istri dalam rumahnya, bahkan dalam salah satu riwayat disebutkan bahwa istrinya ada 13 orang.

Jadi jika pada suatu waktu kita menemukan riwayat bahwa salah satu doa yang paling sering dibaca oleh Rasulullah SAW adalah: “Ya Allah, jadikanlah amal-amal terbaikku adalah amal yang terakhir, dan jadikanlah umur terbaikku adalah di akhirnya, dan jadikanlah hari-hari terbaikku adalah hari ketika aku bertemu dengan-Mu.”

Maka ini adalah penjelasan tentang konsistensi, penjelasan tentang keteguhan dalam melakukan kebaikan dan menyeru manusia ke jalan dakwah.

Tentang hal ini Ustad Hasan Al Banna telah menyebutkan bahwa:
“Di dunia ini banyak orang yang memiliki akal tetapi hanya sedikit yang mempelajari Al Quran, dari yang sedikit mempelajari Al Quran hanya sedikit dari mereka yang mengamalkannya, dari sedikit yang mengamalkannya hanya sedikit yang mendakwahkannya, dari sedikit yang mendakwahkannya hanya sedikit yang bersabar dalam dakwah, dari sedikit yang bersabar itu hanya sedikit yang bertahan sampai ke ujungnya.”

Artinya, bahwa dakwah ini hakekatnya adalah seleksi. Dan karena perjalanan dakwah ini adalah perjalanan yang sangat panjang, maka kita menemukan bahwa banyak orang yang akhirnya berhenti, mundur dari dakwah.

Dan seiring pertambahan usia kita dalam dakwah, di sepanjang pertambahan usia itu, Allah SWT juga menyediakan banyak sekali peristiwa-peristiwa dakwah, untuk menguji kita, dalam banyak bentuknya, untuk membuat karakter asli dari setiap kita keluar satu persatu. Dan dalam ujian-ujian itu, ada yang akhirnya tak mampu bertahan sehingga memilih mundur dari perjalanan. Tetapi ada juga, yang menjadikan peristiwa-peristiwa itu sebagai alat untuk meningkatkan keteguhannya di jalan dakwah. Karena besarnya cadangan kesabaran di banker perasaan dan jiwanya.

Jika pada suatu waktu kita mendengarkan kalimat : “likulli marhalatin rijaluha, likulii marhalatin tabi`atuha”. Setiap zaman ada rijalnya, setiap zaman ada tantangan-tantangannya sendiri. Artinya, bahwa setiap zaman itu punya tabiatnya sendiri-sendiri dan orang yang dapat hidup di suatu zaman itu harus bisa menyesuaikan dirinya dengan kondisi zaman tersebut agar ia bisa bertahan.

Dakwah kita ini, sudah menempuh sekian dari tahapan-tahapan dakwah yang digariskannya menuju pencapaian cita-citanya. Dakwah ini telah melalui dua tahapannya, tandzimi dan sya`bi. Dan saat ini, generasi kita ini hidup di era muasassi. Tetapi, sebagaimana yang kita pahami, bahwa perubahan marahalah, bukanlah sebuah perpindahan, tetapi perluasan pekerjaan. Dan itu artinya, beban-beban yang kita akan pikul, beban-beban yang harus dipikul oleh kader dakwah pada dua marahalah sebelumnya harus tetap kita pikul, oleh kita, kader dakwah yang hidup di generasi ini, ditambah dengan beban-beban di marahalah ini.

Jika kita masih mengingat pelajaran kita di bangku sekolah, tentang adaptasi, bahwa makhluk-makhluk hidup yang dapat bertahan hidup pada suatu perubahan zaman adalah makhluk hidup yang harus dapat menyesuaiakan dirinya dengan karakter zaman baru.

Ini artinya perubahan marahalah dakwah ini, harus kita sikapi dengan mengkondisikan diri kita, mengkondisikan dan membentuk binaan-bianaan kita agar dapat hidup dan bertahan di zaman ini, di marahalah ini. Karena jika tidak, maka akan ada seleksi alam yang membuat kita tersisih dan mati.

Mungkin pada suatu waktu, kita akan menemukan bahwa dakwah ini membuat satu kebijakan yang tidak kita setujui, lalu kita ngambek dan tidak mau bekerja. Di tengah kesibukan, di tengah banyaknya tuntutan-tuntutan kebutuhan pribadi kita terkadang kita mulai memilih-memilih perkerjaan dakwah berdasarkan apa yang kita senangi dan yang tidak kita senangi.

Dakwah ini, bukan pekerjaan yang kita kerjakan karena suka atau tidak suka, tapi dakwah sudah menetapkan garisnya sendirinya. Jika sudah seperti ini, maka kita telah mencerabut dari hakekat dakwah ini bahwa jalan ini adalah jalan yang pahit. Yang tak dihiasi oleh bunga-bunga indah. Demikianlah Rasulullah berkata: “katakanlah kebenaran itu meskipun pahit”. Pahit bukan untuk objek dakwah, tapi pahit untuk sang da`i. Dan inilah hakekat dari apa yang disebutkan oleh Ust. Hasan Al Banna dalam rukun taat.

Jadi, kesadaran yang kuat tentang adanya pertambahan beban dakwah seiring dengan pertambahan usia kita di dalamnya menjadi sesuatu yang sangat kita butuhkan. Dan dari pelajaran kehidupan Rasulullah SAW, kita bisa mengatakan dengan sangat sadar bahwa:

“jika pada suatu masa, seiring dengan pertambahan usia kita di dalam dakwah, tetapi beban-bebannya tidak bertambah, maka curigalah, jangan-jangan itu adalah isyarat bahwa kita perlahan-lahan akan tersingkir dari jalan dakwah, apalagi jika kita yang meminta untuk peringanan amanah dan beban dakwah, naudzubillah”
readmore »»ǴǴ

Jumat, 25 Februari 2011

Dari Gerakan Ke Negara “Realitas dari Tabiat Asli Islam”


Ahad, 20 Juni 2010

Dari gerakan ke negara, satu tabiat yang tidak mungkin dipisahkan dari cita-cita besar suatu umat yang meyakini bahwa islam adalah agama yang harus hadir di bumi, mengejewantah menjadi realitas, setelah ia diturunkan dari langit oleh Penciptanya, melaui Jibril.

Harus kesana memang ujungnya. Islam pertama kali hadir dalam pribadi manusia. Makanya, sejak semula islam telah mengatakan, “Iqro”. Perintah untuk membaca. Tapi kepada siapa?. Pribadi manusia muslimnya. Itulah yang pertama kali dibidik Sang Tuhan untuk realisasi awal nilai-nilai ajaran Islam.

Lalu Sang Rasul memilih manusia-manusia terbaik sebagai langkah awal perjalan sebuah gerakan menuju negara. Manusia-manusia yang memiliki kekokohan karakter. Tapi sebelumnya, iman mereka telah teguh membaja. Akar-akar imannya tertanam ke dalam dasar hati manusia-manusia itu. Setelah itu, Sang Rasul memilih tanah. Tanah Madinah. Langkah lanjut untuk sekali lagi membuktikan kemegahan Islam. Tapi tetap memang sebelum itu Islam harus menyatu dulu dengan karakter-karakter manusianya. Realitas inilah yang telah dibuktikan oleh sejarah.

Begitu tabiatnya. Islam memang tidak mungkin bisa menunjukan karakter aslinya, sebelum ia menjadi nyata di alam manusia. Lalu ketika islam telah bertransformasi dari sebuah gerakan menjadi sebuah Negara. Islam telah menunjukkan karakter aslinya. Tabiat yang telah pernah dicatatkan dalam sejarah dalam kalimat tuhannya “wama`arsalnaaka illa kaaffatallinnas”. Untuk seluruh manusia. Tanpa tekecuali.
Disanalah islam membuktikan keagungannya tidak hanya untuk umat islam. Tapi untuk semua manusia. Hak-hak diberikan. Kewajiban-kewajiban kenegeraan direalisasikan. Tidak peduli dia muslim atau bukan. Begitulah cara mereka memahami kebajikan ilahiah yang senantiasa memberikan karunia kebaikan dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan setiap makhluk-Nya, muslim dan nonmuslim.

Tapi islam tidak berujung disitu, pada keshalehan pribadi. Ia harus segera keluar, hadir untuk memenuhi kalimat tuhannya yang kedua, “wama arsalnaaka illa rahmatal lil alamin”. Untuk seluruh alam. Karena Islam ingin mengharmonisasi seluruh alam semesta dalam satu bingkai nilai-nilai kebajikan universal. Dan inilah tugas utama manusia-manusia muslimnya.

Tabiat setiap perubahan adalah adanya makna adaptasi. Demikian, dalam perubahan alam harokah. Hanya akan ada dua kelompok kader harokah. Kader yang tak mampu bertahan dialam baru, lalu mati. Tapi ada yang tetap hidup, lalu meneruskan kehidupannya. Tapi di dunia gerakan mungkin akan ada kelompok yang ketiga. Kelompok yang tidak mati, Tapi juga tak mampu mengikuti perkembangan realitas baru zamannya.
Kader yang tak mampu bertahan lalu mati. Biasanya lahir karena kedangkalan pemahaman. Tapi juga sebelumnya, mereka memang tidak pernah memberikan kontribusi terhadap harokah selama masa-masa perjalanan harokah dalam mendaki tangga-tangga tahapan pewujudan cita-citanya. “bersama-sama kita tapi sesungguhnya dia tidak bersama-sama kita”. Ia ada tapi tak berkontribusi. Fisiknya bersama harokah tapi jiwanya tak menyatu dengan tubuh harokah. Mereka mungkin masih disana, bersama harokah. Tapi jika ia tetap demikian, takkan lama sejarah akan segera menghempasnya.

Kelompok yang kedua. Mereka adalah kelompok yang memang tetap mampu bertahan dalam setiap perubahan harokah. Tapi ia sekadar ikut saja dalam perubahan itu. Kelompok kedua ini adalah kelompok kader harokah yang keterlibatan dalam kontribusi-kontribusinya tidak lahir diatas dasar pemahaman yang baik. Tentang mengapa ia harus berkontribusi?

Kelompok yang ketiga. Inilah kader harokah sesungguhnya. Merekalah yang selalu berkata seperti kalimat Saad bin Mu’az dalam perang Badar:
“Wahai Rasulullah, sungguh kami ini telah beriman kepadamu, telah seratus persen meyakini agama dan telah mengakui kebenaran agama yang engkau bawa kepada kami. Kami telah bersumpah setia untuk melaksanakan semua yang telah kami Janjikan kepadamu. Oleh karena itu, segeralah laksanakan apa yang telah menjadi keputusanmu, ya Rasulullah, dan kami setia kepadamu.”

Mereka memenuhi janjinya kepada Allah SWT. Tetapi sebelumnya, kekokohan karakter dan pemahamanya telah terintegrasi kuat dalam setiap sendi-sendi jiwanya. Menyatu. Lalu islam menjadi bagian dirinya. Dan dirinya menjadi bagian dari islam. Manusia yang keluar dari nilai kesendiriannya, untuk diberdayakan untuk semua manusia. Siapapun mereka. Di belahan bumi manapun mereka berada. Dan agama apapun dia.

Masih ada ruang manusia lain. Ruang manusia yang melingkupi tubuh harokah. Itulah masyarakat. Manusia-manusia yang kelak akan menjadi medan, dimana islam membuktikan makna-makna kata-kata ini “wama`arsalnaaka illa kaaffatallinnas” dan “wama arsalnaaka illa rahmatal lil alamin.”

Akan ada tiga kelompok manusia yang kita temukan disini. Pertama, Kelompok yang karena kelurusan fitrahnya ia menerima islam secara objektif. Dia menjadi muslim atau tidak. Menyenangi islam karena nilai-nilai kebaikan universalnya.

Kedua, kelompok yang sangat tidak memahami makna-makna diatas. Dia muslim. Lalu karena kedangkalan pengetahuannya, juga karena memang dia adalah manusia yang tumbuh besar dalam alam pemisah-misahkan makna islam dengan realitas kehidupan. Boleh, oleh dominasi rezim yang menjadi tempat manusia itu tumbuh berkembang. Lalu ia latah bersikap. Memusuhi segala bentuk penggabungan nilai-nilai islam dalam kehidupan.

Ketiga, kelompok yang begitu keras penentangannya. Kelompok ini biasanya berasal dari kelompok yang merasakan ancaman, ketika islam menunjukan karakter aslinya. Karena kepetingannya terancam. Eksistensinya terganggu. Merekalah yang disebutkan oleh Hasan Al Banna “nanti ketika mereka mengetahui karakter dakwah mu yang sesungguhnya maka mereka akan menunjukan pertentangan kepadamu dengan sangat keras”

Inilah realitas yang tetap akan ada. Kecuali jika harokah memang tidak berada diatas rel perjuangannya yang benar.
readmore »»ǴǴ