Rabu, 03 Oktober 2012

Dakwah, Rumah Tangga dan Penghasilan

Makassar
Rabu, 4 Oktober 2012

Tema ini, saya tulis dari perenungan akan fakta – fakta yang saya amati di lingkungan. Meskipun tidak dominan, tetapi kasus-kasusnya cukup sering kita temui. Ini adalah pandangan saya, yang terlalu subjektif dan mungkin tak akan disetujui oleh banyak orang, terutama yang sudah berumah tangga. Ini hanyalah pandangan ideal, dari saya, sebagai kacamata pandang akan kedudukan rumah tangga terhadap dakwah, dimana salah satu determinan yang menentukan sinergitas keduanya adalah penghasilan.

Beberapa pekan lalu waktu ke Jakarta, sekitar pertengahan bulan September, saya singgah di salah satu tempat seorang ikhwa. Ada sebuah diskusi singkat dengan dia, ketika saya menyentilnya dengan pertanyaan: “eh, kapan ente nikah, teman-teman kita di organisasi, tahun-tahun lalu sudah punya istri dan sebagiannya sudah punya anak?”

Tapi ada jawaban yang menarik dari dia : “kadang – kadang rumah tangga itu, menjadi penghambat bagi kita untuk mengembangkan diri, karena beberapa kasus, setelah berumah tangga, kita disibukkan dengan urusan mencari uang, sehingga lupa atau terpaksa lupa untuk mengembangkan diri”

Menurut saya, jawaban di atas terlalu subjektif memang, dan mungkin cara pandangnya terlalu pesimistis. Dan tidak bisa menjadi alasan untuk tidak menikah. Tapi pada sebagiannya, pernyataan tersebut juga mengandung kebenaran. Minimal dari dua tiga kasus yang saya temukan dari pengalaman pribadi, dan pengamatan terhadap orang-orang di lingkungan saya berada (pastinya bukan anda yang sedang membaca tulisan ini).

Ini adalah tulisan kedua saya dalam tema tentang persiapan menuju pernikahan. Setelah saya menulis beberapa waktu lalu tentang visi rumah tangga (baca disini (kalau mau, heheh : http://arifatul-daily.blogspot.com/2010/12/presepsi-menuju-tangga-kedua-perjalanan.html ).

Saya tidak sedang bermaksud menakuti-nakuti anda yang ingin menikah. Tapi menurut saya tiga kosa kata ini, Penghasilan, Rumah Tangga dan Dakwah, hubungan ketiganya adalah salah satu konsep yang harus tuntas dalam pemahaman saya sebelum memasuki jenjang rumah tangga.

Dakwah, sebagaimana yang saya pahami adalah pekerjaan sepanjang usia sebagai muslim. Hal Itu (mudah-mudahan) telah saya pahami dengan baik. Saya juga tahu bahwa konteks dakwah yang kita serukan ini adalah pada semua sisi dan di semua level kehidupan. Tetapi saya juga menyepakati pendapat, bahwa perjalan dakwah itu adalah perjalanan yang beban – bebannya terus bertambah dan tidak berkurang. Jika berkurang, kita perlu curiga, boleh jadi itulah cara Allah menyingkirkan kita dari jalan dakwah ini secara perlahan (boleh dibaca di: http://arifatul-daily.blogspot.com/2011/05/akumulasi-beban.html )

Rumah tangga adalah bagian dari tangga peradaban yang harus saya tempuh, tetapi boleh jadi, rumah tangga akan menjadi salah satu tangga ujian yang akan menjadi batu sandungan saya dalam dakwah. Tetapi hal ini harus saya lampaui dalam perjalanan dakwah sebagai kader umat, sebagai kader agama ini. Dan sebelum saya melampauinya di alam nyata, saya perlu melampauinya terlebih dahulu dalam pemahaman saya.

Tema ini mungkin lost dalam pemahaman saya (saya tidak sedang menyalahkan), karena kurangnya pembahasan tentang uang dan penghasilan selama masa-masa pendidikan dan pembentukan diri selama kuliah dan tarbiyah.

Tetapi dalam tema inilah, Allah memberikan peringatan, tentang ujian yang mungkin menimpa para mujahid dengan mengatakan:

“Jika bapak - bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”

Kalimat di atas adalah peringatan yang disampaikan oleh Allah SWT, tetapi semuanya memiliki keterkaitan erat dengan kata ini “rumah tangga”.

Ada saja aktivis dakwah, dengan modal semangat dan prasangka baik mereka kepada Allah SWT, bahwa masalah rezeki (baca: penghasilan) itu sudah ditentukan langit, jadi tidak perlu memiliki kekhawatiran yang berlebihan, untuk segera berumah tangga.

Menurut saya itu benar, dan tidak ada salahnya. Sekali lagi, sama sekali tidak ada salahnya. Tetapi setelah coba saya ingat-ingat (sembari berusaha memprasangkai yang baik-baik untuk mereka yang telah menikah). Mungkin ada yang berubah atau akan berubah setelah saya menikah nanti.

Inilah di antara faktor (padangan subjektif saya) yang berpotensi mengurangi intensitas saya menuntaskan amanah dakwah. Firman tersebut tidak kontradiktif sama sekali dengan apa yang saya pahami dalam kehidupan Rasulullah. Ketika beliau menikah, mahar yang diberikannya kepada Khadijah, adalah 100 ekor unta, kalau perekornya Rp. 10.000.000 artinya mahar Rasulullah kepada Khadijah adalah sekitar 1 milyar. Kita mungkin tak bisa menyamainya, termasuk (hampir pasti) saya. Heheh. Tetapi itulah fakta kehidupan Rasulullah.

Maka dalam konteks inilah, saya menyetujui salah satu pendapat yang menyebutkan, bahwa, minimal, jika belum berpenghasilan, kita sudah harus memahami tentang bagaimana caranya menghasilkan uang ketika telah menikah.

Dua tiga kasus yang saya temukan, ada saja amanah yang (nampak dalam pandangan saya) berkurang setelah kita memasuki jenjang rumah tangga ini. Di antara faktor penyebabnya adalah “kesibukan” mencari uang untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Saya tidak sedang ingin mengatakan bahwa penghasilan untuk keluarga itu adalah hal yang terpisah dari dakwah. Sama sekali tidak, justru hal ini adalah bagian yang integral dalam pemahaman kita tentang “syumuliatul islam” itu sendiri. Sehingga jangan dipisah-pisah. Dan penghasilan adalah bagian dari “pekerjaan“ dakwah saya kepada keluarga kelak.

Tetapi saya ingin meluaskan pemahaman tentang penghasilan ini dalam konteks “penghasilan yang cukup”. Cukup yang saya maksud adalah bahwa sebelum menikah, sudah punya penghasilan atau tahu bagaimana memenuhinya setelah menikah, yang bisa meyakinkan diri saya sendiri bahwa, amanah-amanah dakwah yang sebelum saya menikah, tidak akan berkurang setelah menikah oleh karena potensi masalah penghasilan ini.

Dan mengertilah saya, mengapa Imam Hasan Al Banna menyebutkan, bahwa diantara karakter yang harus dimiliki seorang aktivis dakwah adalah bahwa dia (harus) berpenghasilan. Mungkin itulah alasannya. Karena penghasilan bisa berpotensi menjadi “penghambat” saya dalam dakwah

Tulisan ini, lebih ditujukan kepada diri saya pribadi, juga sekaligus merupakan sebagian penjelasan tentang “keterlambatan” saya memenuhi jenjang yang kedua dari tahapan-tahapan kita dalam. Tetapi mudah-mudahan dipenghujung tahun ini, itu semua sudah selesai saya realisasikan (mohon doanya ye).

Buat ente-ente yang belum menikah, menikahlah, ini adalah pendapat saya pribadi. Untuk konsumsi pribadi….
readmore »»ǴǴ

Rabu, 26 September 2012

Tawuran Ala Anak Galau

Rabu, 26 September 2012

Sdhlah. Itu anak2 yg gak punya bakat sekolah gak usah dipaksa sekolah. Yg suka tawuran, masukin klub tinju saja, atau pencak silat #Tawuran

Mrk yg suka tawuran, tdk melihat sekolah sbg jalan menuju cita2. Jdi gak usah dipaksa sekolah. Ini PR pemerintah & org tua #Tawuran

Negara melihat hanya sekolah resmi sj sbg satu2nya jalan memperbaiki kualitas SDM. padahal tdk semua org "suka pergi sekolah" #Tawuran

Lagi pula, sekolah akhirnya tdk menjamin masa depan mrk yg "tdk suka pergi sekolah". Sekolah alternative hrs disiapkan #Tawuran

Sekolah alternatif yg sesuai "bakat".Jd wajib belajar 9 thn itu shrsnya lbh kpd subtansi tujuannya. Jd bsa dipenuhi dg jln lain

Sarana belajar begitu byk. Tp mrk dipaksa sekolah yg resmi. Padahal mrk tdk suka pergi kesekolah. Pdhal itu tak jamin masa depan #Tawuran #Tawuran

Dulu, teman saya bilang: "bgmn kita mau peduli masa bangsa, kita saja yg kuliah ini, masa depannya tdk jelas". Ini mmg kasuistik. #Tawuran

Tp sy meyakini, itulah yg mengisi kepala anak2 sekolah yg tawuran itu. Sekolah bagi mrk ad tempat yg buat stress. #Tawuran pelampiasannya

Belum lagi, sekolah termasuk kampus2, skrg ini mengkondisikan org mudah jadi stress. Kurikulum yg padat dan hrs selesai cepat #Tawuran

Itu yg alasan pertama. Kenapa #Tawuran terjadi. Kedua, dari faktor orangnya. Ini juga masalah besar yg picu #Tawuran. Jg hrs diperhatikan

Kita sering ribut, bhw penyelesaian masalah2 kita ad dengan menata lembaganya. Semalam nonton ILC, debater2nya hebat2 tapi.....#Tawuran

mrk mau buat lembaga ini ut mengawasi lembaga ini, mau buat aturan ini supaya perannya maks. Woi...itu yg jalankan org semua pak #Tawuran

Hampir pasti, kita selalu lupa dlm mmbicarakan penyelesaian masalah2, bgmn memikirkan membentuk org2 yg mengisi setiap lembaga itu #Tawuran

Sama dg membicarakan #Tawuran di sekolah. Penyelesaiannya harus komprehensif. Gak boleh sekadar SanksiHukum, dikeluarkan jk salah #Tawuran

#1. Siapkan ekskul yg bisa salurkan bakat mereka, jg bisa yakinkan mereka, bhw sekolah jadi jln menuju cita2 mereka #Tawuran

#2. Siapkan ekskul yg bisa kondisikan siswa2 itu, mmbentuk "sistem kendali internal" dlm diri mrk. #Rohis bagus Jgn dituduh teroris #Tawuran

#3. Tata kurikulum sekolah, yg dibutuhkan ut hidup, dan mereka butuhkan dilapangan. Sekolah jgn jadi lembaga ut bentuk 1 jenis org #Tawuran

#4. Tenaga pendidik, gak boleh sekadar menyampaikan materi. Tpi bentuk jg jiwa dan mentalitas para murid. Ini yg skrg hilang. #Tawuran

#5. Org tua, jg harus membentuk anak2 mereka sejak dlm rumah, terutama pendidikan moralitas. Jgn hanya sibuk kerja. Urus tuh anak2 #Tawuran

#6. Terakhir, pemerintah harus menyiapkan lapangan kerja. Jadi anak2 sekolah yakin, bhw setelah sekolah, mrk gak perlu khawatir #Tawuran

Sekian. Semoga #Tawuran gak ada lagi....
readmore »»ǴǴ

Fokus Ke Preventif

Makassar
22 September 2012

#1. Kita yg bergelut di bidang kesehatan ini, lbh byk belajar ttg sejarah kesehatan dari barat. Sy mau share ttg kesling dlm sejarah Islam

#2. Ini hanya sedikit pengetahuan, tdk terstruktur, tp mudah2an melengkapi apa yg telah kita ketahui. Bacalah sejarah Islam, kita akan temui

#3. Baca sejarah bangsa arab, sebelum kelahiran Rasulullah SAW. Ada satu tradisi dikalangan mrk, bhw setiap anak yg lahir, mrk disusukan....

#4. Kpd wanita lain, yang (sejauh pengetahuan sy) berasal dari luar Makkah. Ini juga yg dialami oleh Rasulullah sejak lahir

#5. Ktk Rasulullah lahir, beliau disusukan kpd seorg dari Bani Sa`ad, namanya Halimah As Sa`diah. Alasannya: ut hindarkan beliau dr penyakit

#6. Jika melihat posisi kota Makkah (kapan bisa ke sana ya? hehe, Ini dari baca sejarah), ternyata Makkah itu spt ada dlm sebuah mangkok

#7. Makanya Makkah, kan disebut "lembah". Bacalah firman Allah tentang kisah Ibrahim a.s dlm Q.S Ibrahim 37. Kata Allah begini...

#8. Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman .....

#9. Dlm ilmu kesmas, di daerah lembah seperti ini, jika timbul satu penyakit menular, maka akan bgt mudah menjadi wabah, menyebarnya cepat .

#10. Itulah sebabnya Rasulullah, disusukan kpd wanita bani sa`ad. Yg tempatnya hidup di gurun pasir yg luas, di luar kota Makkah.

#11. Jadi telah ada kesadaran, ttg #UpayaPreventif, pencegahan penyakit yg dilakukan oleh org2 Arab, sejak dahulu. Kisah lainnya...

#12. Suatu saat dlm sebuah perjalanan, Kaum muslimin yg dipimpin Abu Bakar, hendak masuk ke sebuah perkampungan yg sdg terjadi wabah

#13. Tp ketika hendak masuk, Umar tdk sepakat. Lalu kaum muslimin tdk jadi masuk. Dlm konsep preventif, ini dikenal dg #Isolasi penyakit

#14. Org2 yg ada dlm suatu wilayah yg sdg terjadi penyakit menular, tdk boleh keluar, dan org2 yg dari luar, tdk boleh masuk, agar aman

#15. Bacalah larangan2 Allah, dlm Al Quran, sebenarnya sebagian besarnya berbicara ttg aspek #pencegahan (preventif) thdp sesuatu yg buruk

#16. Inilah masalah yg tak dperhatikan selama ini dlm upaya penanganan masalah penyakit dlm masyarakat. Orientasinya kuratif/obat

#17. Shrsnya orientasi utama kita ad pencegahan (KPK juga begitu hrsnya hehe). Orientasi kuratif rawan korupsi jg. Heheh #NyambungAja

#18. Sy mau kasih contoh, Misalnya penanggunalangan AIDS. Sy protes keras thdp kebijakan menkes yg kampanye kondom. Gak Normal

#19. Kenapa sy protes? alasannya sederhana: itu tdk menyelesaikan masalah dari akarnya. Krn fokus Menkes harusnya itu tadi #prenventif

#20. Kata Allah: "Jangan dekati Zina". Itu pencegahan. Jadi sy dulu bilang: Identifikasi akar masalahnya kenapa mrk melakukan "itu

#21. Kembali ke konsep pencegahan ala Rasulullah. Seorg dr. pernah ngomong ke saya: "Mau sehat itu mudah, cuma ikuti pola hidup Rrasulullah"

#22. Perbanyak senyum, merecovery saraf-saraf. Kata Rasulullah: "senyummu kpd suadaramu adalah sedekah". Gak hanya pahala, tp jg sehat

#23. Menderita Insomnia, perbanyak saja laksanakan sholat sunnah, Insya Allah hilang. Gak percaya?? Coba dech...
readmore »»ǴǴ

Jumat, 21 September 2012

KesanKu Di Surah Yusuf

Kamis 23.45 WITA

Surah Yusuf adalah satu2nya surah yg "diturunkan" di "tahun kesedihan". Rasakanlah nuansanya...

Sbgmn yusuf a.s dibawa "keluar" dr pangkuan ayahnya ut menghadapi semua cobaan dakwah & akhirnya peroleh pertolongan & kekuasaan :)

Naik turunnya jalan hidup. Dari keadaan "terbuang" lalu penjara kemudian istana. bukan akhir. Krn akhirnya ad penyerahan dr total pd Allah

Tp itu bukan alur jln menuju istana yg trs menanjak. Tp istana-fitnah wanita-penjara-kuasa istana. Jdi biasa sj. Ahsanul Qosashi

Dia hanya tak meninggalkn satu hal_keimanannya_ pd jatuh bangun hidupny, Mk (pasti) benarlah Allah, menyebut kisahnya dg: Ahsanul Qhosashi

Berusaha ut bisa "segelombang" dg sikap para Nabi dan org sholeh, ad syarat datangnya realisasi dr 3 ayat terakhir Surah Yusuf. Nuansanya...

Ikhlasnya para asatidz, bercapur peluh para kader mujahid, doa tulus para masyaikh, selain ttg takdir, muhasabah hrs ttap ada, lalu perbaiki

Besok2, apakah akan ada kemiripan dengan peristiwa hari ini atau tdk? semua serba misteri yang menyimpan kecemasan, hrs berbenah!!

Tp Sang Rasul diperintahkan ut: "inilh Jlnku, Aku & org2 yg m`ikutiku m`ajak kamu dg Allah dg yakin...Kyakinn tetap ada Jlnya hrs dibenarkan
readmore »»ǴǴ

Senin, 17 September 2012

Rindu Di Sepanjang Bandung-Jakarta

Jumat, 15 September 2012

Rindu ad perjalanan jiwa menuju sang kekasih. Kata ibnul qoyyim. Tp bgiku rindu jg dlm makna khusus, rindu disertai dg "gerak fisik" #BdgJkt

Jk rindu hanya ttg perjalanan jiwa, mk yg lahir hanyalah derita tiada akhir. Krn jiwa yg ber"jasad hrs bertemu yg "Sama" agar nyata #BdgJkt

Kimia jiwa yg berjasad hanya akan saling tarik jk bertemu jg jiwa yg berjasad. Kecuali kerinduan thdp Tuhan. Yg demikian tak prl #BdgJkt

Penderitaan krn kerinduan yg tak tertemu jasad hanya terobati sedikit oleh puisi tp ia tetap sj penderitaan. Itu menyakitkan #BdgJkt

Itu kerinduan dlm konteks hubungan. Tp kerinduan yg terkait cita2 sdkt beda. Jk bermuara pd agama. Ini beda dlm realisasinya #BdgJkt

Perjalanan jiwa tetap ada. Gerak fisik jg ada atau bahkan lbh dahsyat. Krn engkau hanya prl bekerja ut realisasinya. Dg Cara terbaik #BdgJkt

Terealisasi atau tdk? Itu tetap mempengaruhi jiwamu. Tp ada nuansa lain yg mengisi jiwamu. Itu pasti menyata. Itu janji Tuhan #BdgJkt

Pasti terealisasi. Engkau hanya perlu memastikan satu hal : berkontribusi maksimal dg Cara terbaik ut membuatnya nyata #BdgJkt
readmore »»ǴǴ