Senin, 17 Agustus 2020

Arah Sejarah Indonesia Di Tengah Krisis Global Berlarut

Arah sejarah indonesia yang baru adalah menjadikan Indonesia sebagai salah satu dari kekuatan utama dunia. Partai Gelora Indonesia mengajak seluruh bangsa untuk menuju ke sana.

Arah Baru Indonesia kita butuhkan, karena apa yang telah kita capai sampai hari ini sebagai bangsa yang merdeka, masih terlalu kecil dari apa yang seharusnya bisa kita capai. Langit kita masih terlalu tinggi, tapi kita terbang terlalu rendah

Di tengah krisis global seperti ini, Arah Baru juga kita butuhkan karena sistem kapitalisme global sedang menunjukkan tanda-tanda kegagalannya. Bisa turut andil dalam menciptakan ketertiban dunia adalah amanat konstitusi. Ini tugas sejarah. Ini tugas agama.

Arah Baru juga kita butuhkan, karena shifiting pada sistem politik global bisa saja berujung pada terjadinya perang dunia.

Studi sejarah dalam 500 tahun kebelakang menunjukkan bahwa dari 16 peristiwa shifting politik, 12 diantaranya telah memicu terjadinya perang. Jika ada kekuatan baru yang muncul sebagai penantang kekuatan politik global yang eksist, biasanya efek kerusakan yang ditimbulkannya sangat besar bahkan perang sangat mungkin terjadi.

Menjadi kekuatan kelima dunia, maknanya adalah kita ingin duduk satu meja dengan para elit global itu, agar terjadi keseimbangan politik dunia yang baru, sehingga potensi perang global bisa kita hindari. Ini adalah amanat para pendiri bangsa: “ikut serta melaksanakan ketertiban dunia”

Untuk sampai ke sana ada 3 hal yang harus kita kuatkan: Teknologi, Ekonomi dan Militer. Jika kita punya ketiganya, kita akan punya posisi yang setara dengan Amerika, dengan China, dengan Uni Eropa. Kita bisa bicara kepada mereka sebagai teman yang setara.

Bangsa Indonesia pernah memimpin Asia dengan menggagas Gerakan Non Blok pada periode Perang Dingin. Kita bisa Insha Allah, mengulangi lagi sejarah ini. Kita bisa mengambil kembali posisi sebagai bangsa yang pernah sangat dihormati di Kawasan Asia-Afrika.

Disisi yang lain, kita juga adalah saudara terbesar dari negeri-negeri muslim. Kita adalah negara dengan jumlah penduduk muslim paling besar. Bersama gerbong-gerbong negeri-negeri muslim itu, kita ingin menggagas arah kehidupan dunia baru yang lebih damai

#GELORAKEMERDEKAANINDONESIA2020
#AkademiPemimpinIndonesia20200
#GeloraIndonesia
#IndonesiaPanggungKitaBersama
readmore »»ǴǴ

Partai Gelora di Lini Masa Sejarah Indonesia dan Dunia

Kita tumbuh dengan pendekatan yang tidak tepat dalam membaca sejarah. Sejarah Indonesia, hanya kita baca sebagai sejarah Indonesia. Sejarah Dunia Islam, hanya kita baca sebagai sejarah dunia islam. Sejarah Dunia, hanya kita baca sebagai sejarah dunia.

Maka Kesadaran kita akan sejarah, adalah kesadaran yang terpisah-pisah sejak awal.

Di pertengahan abad 17 sampai pertengahan abad 18, Eropa mengalami revolusi Industri. Seabad setelahnya muncul negara-negara ultranasional ( yang lebih jauh melahirkan imperialisme), sedangkan di dunia Islam sedang tumbuh subur Pan Islamisme (sekitar akhir 1800an).

Politik Etis yang dijalankan Belanda (1901) selama masa penjajahan, sebagai kelanjutan dari imperialisme barat, kemudian melahirkan kaum terpelajar, dan dimulailah Era Kebangkitan Nasional dengan kelahiran kaum gerakan terpelajar yang terhimpun dalam Boedi Oetomo (1908). Sedangkan Pan Islamisme yang terjadi di Dunia Islam (akhir 1800an/awal abad 19), juga telah menginspirasi kelahiran Nahdatul Ulama (1926) dan Muhammadiyah (1912) di Nusantara

Perjuangan kemerdekaan yang telah berlangsung puluhan tahun sebelumnya, bertemu momentum kekalahan Jepang dalam Perang Dunia, setelah Amerika menjatuhkan Bom Nuklir di dua kota utama Jepang: Hiroshima dan Nagasaki. Pertemua dua peristiwa itu menajdi jalan bagi kita untuk mendeklarasikan Kemerdekaan, yang hari ini kita peringati.

Di potongan sejarah yang lain, Kemenangan Sekutu pada Perang Dunia II (1945), telah melahirkan 2 negara kuat yaitu Uni Soviet dan Amerika. Dua Negera yang berbeda secara ideologi ini kemudian bersaing dan melakukan rekrutmen besaran-besaran (aliansi global) untuk berebut pengaruh di dunia dalam satu periode yang kita baca sebagai periode perang dingin (1947-1991)

Sebagaimana Vietnam yang menjadi proxy Uni Soviet menghadapi Amerika dalam Perang Vietnam (1957-1975). Atau Afganistan yang menjadi proxy Amerika menghadapi Uni Soviet (1979-1989) dalam perang Afganistan. Indonesia juga menjadi “korban” dari proxy dua negara ini pada periode perang dingin itu.

Kita di Indonesia akhirnya mendapatkan dampak dari residu perang dingin itu, yang puncaknya terjadi pada Peristiwa G-30 S PKI. Pancasila mendapatkan ujian. Kegagalan Pemberontakan Partai Komunis saat itu kemudian melahirkan Orde Baru. Orde Baru berhasil membawa Indonesia tumbuh kuat secara ekonomi setelah “join” dengan Kapitalisme Amerika, yang saat itu telah muncul sebagai kekuatan utama dunia pasca kemenangannya dalam perang dingin.

Itulah peristiwa-peristiwa eksternal yang selalu memberikan pengaruh pada situasi dalam negeri Indonesia. Karena ternyata, sejarah adalah hasil interaksi antara krisis/tantangan dan respon.

Dalam Arah Baru Indonesia, dalam situasi krisis global dan Persaingan dua kekuatan utama dunia, China dan Amerika, kita tidak ingin lagi sekedar menjadi bangsa yang hanya berselancar dari peristiwa yang diciptakan orang lain. Kitalah yang hendak menciptakan gelombang.

arifmahmudah 16/08/2020
Mari Menggelorakan Indonesia.
#GELORAKEMERDEKAANINDONESIA2020
#IndonesiaPamggungKitaBersama
#GeloraIndonesia
readmore »»ǴǴ

Partai Gelora Berasaskan Pancasila, Semua Orang Bisa Duduk Nyaman Disini

Partai Gelora memandang bahwa konflik Ideologi sudah tidak relevan lagi, dan Pancasila dipandang sangat memadai untuk menjadi alat pemersatu bangsa, sebagai konsesus para founding fathers negara ini.

Partai Demokrasi datang dengan Jati diri INDEKS: Islam, Nasionalis, Demokrasi dan Kesejahteraan. Yang dahulu, nilai-nilai ini terpisah-pisah bahkan menjadi sumber konflik di tubuh bangsa. Islam, menjadikan nilai-nilai agama sebagai salah satu rujukan nilai utama, sebagaimana Agama telah menjadi salah satu hal yang telah sejak lama menopang negara. Dicerminkan dalam Sila 1 Pancasila: “Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Nasionalisme, adalah bentuk kecintaan yang mendalam terhadap negara. Nilai-nilai konstitusi menjadi tools utama untuk merespon persoalan-persoalan global. Di tengah ancaman krisis dan perang global, konstitusi mengamanatkan bahwa untuk ikut serta menciptakan ketertiban dunia. Gelora lahir di atas dasar kesadaran konstitusi itu, maka Arah Baru Indonesia yang hendak kita tuju, salah satunya adalah ingin mencegah potensi perang global yang diduga kuat akan terjadi pada tahun-tahun mendatang. Ini tercermin juga dalam Visi Partai Gelora

Demokrasi, nilai-nilai demokrasi yang subtantif, tempat dimana gagasan-gagasan kebangsaan kita kontestasikan untuk kemajuan bangsa. Politik yang subtantif, bukan politik yang hanya bermodalkan citra. Demokrasi adalah pasar ide. Sedangkan partai adalah salah satu pabrik idenya.

Kesejahteraan, adalah output. Kita ingin menciptakan manusia yang berdaya, bukan seperti negara kesejahteraan, yang menggantungkan sumber kesejahteraan masyarakatnya secara total kepada negara.

#GELORAKEMERDEKAAN2020 #AkademiPemimpinIndonesia #GeloraIndonesia
readmore »»ǴǴ

Senin, 15 Juni 2020

Kesadaran Akan Krisis (2) : NKRI Yang Kehilangan Arah

Reformasi telah berjalan lebih dari 20 tahun. Belum lagi ada perubahan besar yang bisa kita saksikan. Amanat reformasi belum lagi tertunaikan tuntas, tetapi Indonesia kini dihadapkan dengan fakta internalnya yang cukup rumit.

Utang luar negeri yang terus bertambah, pembelahan masyarakat akibat politik/pemilu yang makin besar, persoalan penegakan hukum, kualitas pendidikan yang rendah, belum lagi konflik elit politik yang berterusan, adalah sajian hari-hari yang terus kita saksikan.

Pada saat yang sama, dalam skala global kita juga dihadapkan pada kondisi ekonomi dan politik global yang rumit, terutama dampak dari kontestasi China-Amerika dalam berebut pengaruh dan posisi di level global.

Dalam konteks global itulah, posisi Indonesia pasti akan mendapatkan pengaruh dari kontestasi negara-negara maju itu, terutama China-Amerika.

Dalam perjalanannya, di gelombang pertama sejarah Indonesia, revolusi Industri telah mendorong terjadinya ekspansi negara-negara Eropa, lalu lahirlah kolonialisme, yang menjadi cerita permulaan dari Perang Dunia I.

Politik etis yang dijalankan oleh Belanda terhadap Indonesia di masa itu, telah melahirkan kaum terdidik di kalangan masyarkat Indonesia, lalu dimulailah “era kebangkitan nasional” yang melahirkan gagasan tentang *Indonesia Merdeka*.

Jepang sebagai salah satu kekuatan Asia saat itu, kemudian menggantikan posisi Belanda di Indonesia dalam Perang Dunia II, dan menjadikan Indonesia sebagai “pangkalan militer” terpenting menghadapi Amerika Serikat dalam Perang Pasifik. Kekalahan Jepang, dalam perang ini, setelah Hirosima dan Nagasaki diporak-porandakan oleh nuklir Amerika, telah membuka lebar jalan, bagi Kemerdekaan Bangsa Indonesia. Ada kekalahan perang disana, ada celah jalan untuk merdeka.

Peristiwa-peristiwa eksternal telah mendorong perubahan-perubahan besar di Indonesia.

Selalu ada ekses, dari peristiwa-peristiwa global, terhadap kondisi dalam negeri Indonesia.

Saat perang dingin Soviet-Amerika, kita juga mendapatkan pengaruhnya. Kita, bangsa Indonesia mengalami konflik Ideologi, terutama karena pengaruh Soviet sebagai negara sosialis (komunis) dan Amerika sebagai representase negara kapitalis.

Dari perang dingin itu, kita mengalami konflik segitiga: Nasionalisme-Komunisme-Islam.

Itulah sepenggal cerita, bangsa Indonesia di gelombang kedua: *menjadi negara Indonesia modern* dan itulah hari-hari yang kita jalani dalam proses pembentukan konsep negara Indonesia Modern.

Dalam situasi krisis seperti ini, kita membutuhkan faktor pendorong dari dalam, agar kita bisa keluar sebagai negara yang lebih kuat dari celah patahan sejarah yang sangat mungkin ditimbulkan oleh konflik China-Amerika ini.

Harus ada kerja kepemimpinan yang akan memicu lahirnya gelombang kesadaran baru, yang memberikan kita arah menuju pencapaian baru sebagai bangsa modern.

Menunjukkan arah bangsa, dan mengajak seluruh bangsa ini ke sana, adalah tugas kepemimpinan terpeting saat ini.

Sebagaimana dulu, ada gerakan kebangkitan nasional saat Perang Dunia I, dan ada gerakan perjuangan kemerdekaan saat Perang Dunia II. Atau gerakan non blok yang digagas terutama oleh Soekarno dalam periode Perang Dingin yang mendorong kemerdekaan bangsa-bangsa di Dunia.

Tapi, inilah *krisis kedua*, *setelah krisis pertama (krisis gerakan islam politik)*, yang menjadi kenyataan yang harus kita terima: NKRI kehilangan arah

Kepemimpinan nasional tidak bisa memberikan kita cerita, gagasan, tentang arah yang harus kita tuju bersama di tengah makin kuatnya prediksi potensi terjadinya Perang Dunia III di tahun-tahun mendatang.

Ahad, 14/06/2020
@arifmahmudah
readmore »»ǴǴ

Kesadaran Akan Krisis (1) : Krisis Gerakan Islam Politik

Saya ingin menulis ini, untuk merefleksi kembali perjalanan, dari titik awal saat kita mulai menyadari adanya krisis. Untuk menguatkan kembali orientasi kita, agar tidak goyah, karena perjalanan panjang dan mungkin melelahkan sedang terbentang dihadapan kita.

Kira-kira akhir tahun 2017 yang lalu, ada semacam kegelisahan yang muncul dalam diri saya secara pribadi dan juga teman-teman. Kegelisahaan itu terutama, ketika kita dibentur oleh dua fakta.

Fakta pertama adalah persoalan yang sangat dekat dengan saya secara pribadi, yaitu kegagapan partai islam dalam mensikapi realitas baru tentang negara, setelah dalam jangka waktu yang lama dididik dan hidup dengan nilai-nilai internal, tiba-tiba bertemu dengan realitas lain: *Ketaatan tanpa syarat kepada pimpinan, tiba-tiba hendak digunakan untuk menganulir pencapaian yang kita peroleh melalui mekanisme bernegara, tanpa perlu ada alasan rasional untuk menjelaskan pilihan kebijakan itu*

Apakah aturan organisasi bisa lebih tinggi dari aturan main bernegara?. Itu kira-kira pertanyaan besar yang muncul, diluar persoalan pribadi Fahri Hamzah dengan pimpinan partainya pada tahun 2016 itu.

Fakta pertama ini, melahirkan satu proses refleksi sejarah yang jauh kebelakang dan dari refleksi ini, kita akan menemukan satu fakta bahwa konflik internal partai politik islam di berbagai belahan dunia islam adalah kenyataan yang selalu muncul setiap kali mereka memasuki fase politik dan mulai masuk lebih jauh ke dalam arena kekuasaan.

Cerita ini banyak kita temukan, misalnya konflik Erdogan dan Erbakan yang menyebabkan lahirnya AKP dan Saadet Party di Turki.

Fakta kedua adalah peristiwa yang terjadi tahun 2013, kegagalan kelompok islamis di panggung negara, dalam gelombang kontra arab spring, yang kira-kira puncak peristiwanya adalah jatuhnya Mursi dipanggung kekuasaan.

Peristiwa ini, menguatkan kembali opini tentang relevansi gagasan islam politik, karena pemerintah Mursi hanya bisa bertahan setahun.

Belum lagi fakta-fakta lain tentang kegagalan politik islam di dalam mengelola negara yang telah berlangsung di tahun-tahun sebelumnya. Sebut saja diantaranya En Nahdah, Tunisia; FIS Aljazair, Hamas Palestina, Refah Turki, dan seterusnya.

Fakta kedua ini, melahirkan refleksi lain, bahwa semua literatur politik islam yang kita miliki dan kita warisi, tidak lagi relevan untuk membaca dan menjawab realitas politik kontemporer, termasuk relevansinya untuk membuat kaum islam politik sampai pada capaian politik yang sukses besar.

Dua fakta diatas, telah menghadirkan satu kesadaran yang kuat, bahwa *Gerakan Islam Politik sedang mengalami krisis*. Krisis yang membuat mereka tidak bisa membaca persoalan secara tepat apalagi berpikir untuk menghadirkan solusi atas persoalan itu.

*Krisis Gerakan Islam politik*, terjadi saat mereka belum lagi sukses mengelola negara.

Jumat 12/06/2020
@arifmahmudah
readmore »»ǴǴ