Sabtu, 22 November 2008

Sebenarnya Allah menginginkan saya menjadi apa?



Perjalanku sudah hampir separuh, usia yang telah kuhabiskan dengan begitu banyak peristiwa didalamnya, mengantarkan aku pada sebuah masa dimana aku mengenal satu pekerjaan baru dalam hidupku.

Hidup dalam bingkai dakwah adalah hidup yang senantiasa penuh dengan beban perjuangan. Ketika diterpa oleh begitu banyak godaan. Ketika harus berpeluh keringat, air mata dan semua keletihan perjuangan. Selangkah demi selangkah jalan ini aku tapaki. Memang baru memulai, tapi bebannya semakin berat. Semakin lama usia saya di dakwah ini, kok bebannya tidak berkurang, namun semakin bertambah. Lalu aku menyaksikan, ada saja penempuh perjalanan ini yang berkorban apa saja untuk tetap sampai pada jalan ini

Lalu, aku teringat sebuah kalimat dari Hasan Al Banna : "Di dunia ini ada banyak orang yang memiliki akal, tapi hanya sedikit yang mempelajari Al Qur`an. Dari sedikit yang mempelajari Al Qur`an, hanya sedikit yang mampu mengamalkannya. Dan dari sedikit yang mengamalkannya hanya sedikit yang mampu mendakwahkannya. Dari dari sedikit yang mampu mendakwahkannya, hanya sedikit yang bersabar dalam dakwahnya. Dan dari jumlah yang sudah sangat sedikit dalam bersabar di atas jalan dakwah, hanya sedikit yang benar-benar sampai ke tujuan akhirnya"

Kubisiki jiwa ini, ternyata dalam perjalanan yang sudah penuh dengan beban ini, dengan tuntutan pengorbanan yang begitu banyak, tidak satu orang pun yang nyaman dalam menempuhnya. Bahwa, mungkin pada suatu saat kita masih bersama-sama dengan teman-teman dalam perjuangan. Namun, esok harinya sudah ada orang yang berhenti atau menjauh dari barisan ini.

Lalu, kurenungi do`a yang sangat sering dibaca oleh Sang Guru : "ya Allah teguhkanlah aku di jalan dakwah-Mu ini"

Keterlibatan saya dalam proyek besar Allah ini, menyadarkan aku bahwa memang sayal-ah yang membutuhkan dakwah, bahwa saya-lah yang harus meminta kepada-Mu agar punggung ini dikuatkan dalam memikul beban dakwah ini.

Aku juga ingin seperti mereka. Orang-orang yang telah menyampaikan cahaya Islam sampai kepada kita semua hari ini. Meskipun jasad mereka telah hancur ditelan tanah, namun mereka terus menerima pahala dari seluruh amalan kebaikan yang telah mereka lakukan.

Saudaraku... mari... kita rapatkan barisan lagi...kita perkokoh lagi nilai - nilai yang mampu menguatkan hati-hati kita dijalan ini.
readmore »»ǴǴ

Selasa, 18 November 2008

Fenomena “Cinta di Kalangan Aktivis Dakwah”

Oleh : Arif Atul M Dullah / Dikutip dari Buletin Al Firdaus dengan beberapa penyesuaian



Seperti angin membadai. Kau tak melihatnya. Kau merasakannya.

Merasakan Kerjanya saat ia memindahkan pasir di tengah gurun.

Atau merangsang amuk gelombang ditengah laut lepas.

Atau meluluhlantahkan bangunan-bangunan angkuh

Di pusat kota metropolitan. Begitulah cinta.

Ia ditakdirkan kata tanpa benda.

Tak terlihat hanya terasa.

Tapi dahsyat”

( Anis Matta)

Ketika Aktivis Jatuh Cinta


Begitulah kira-kira kita menggambarkan defenisi sebuah kata ”Cinta”. Kata yang memiliki makna dalam hidup manusia. Cinta adalah anugerah Allah yang besar. Fenomena jatuh cinta adalah hal yang sangat umum di masyarakat kita, khususnya kaum muda. Mungkin kita adalah salah satu pelakunya. Hal yang mungkin muncul dalam benak kita ketika berbicara tentang aktivis dakwah adalah apa iya, para aktivis dakwah itu juga mengalami yang namanya jatuh cinta?? Atau jangan-jangan mereka lebih parah dari yang lain, orang-orang yang ada diluar aktivis dakwah??


Jatuh cinta merupakan sunatullah. Siapun ia, bisa mengalami kondisi ini. Tak terkecuali orang-orang yang kita kenal dengan nama ”Aktivis Dakwah”. Fenomena ini mungkin juga umum dikalangan aktivis dakwah. Jiwa muda yang penuh dengan gejolak dan semangat, tentu saja sangat rentan degan berbolak baliknya perasaan cinta. Memang tidak ada yang salah.


Akan tetapi, sudah seharusnya, cintanya para aktvisi bukanlah cinta buta yang tidak berdasar. Bukan pula cinta yang membabi buta seperti kehilangan akal sehat. Tetapi, cinta para aktivis seperti ruh orang-orang yang mabuk cinta dijalan Allah. Ketika aktivis jatuh cinta, jiwa dan raganya harus menjadi pengikut setia syariat. Tidak ada tempat bagi unsur-unsur yang merusak. Semuanya harus melebur ke dalam ketaatan dan keingin beramal soleh.

Seorang aktivis tatkala jatuh cinta bukanlah peniupu yang diliputi ketamakan dan kebusukan untuk mengambil kenikmatan tanpa mengikuti aturan syariat. Sebab setiap urusan para pejuang dakwa harus berbuah kebaikan. Termasuk soal cinta. Saat aktivis jatuh cinta, pada hakekatnya ia sedang jatuh cinta pada keindahan ilahiyah. Ia harus beranjak dari egoisme pembangunan unsur diri kepada manfaat bagi umat.


Jangan ada noda di antara aktivis dakwah


Jatuh cinta sebenarnya perasaan. Tempatnya sangat tersembunyi di dalam sanubari. Tatkala ia ada, seluruh anggota tubuh akan memberikan respon terhadapnya. Hingga ilmu terkadang bisa dinomor duakan. Pengetahuan akan batasan bergaul dengan lawan jenis atau bagaimana seharusnya seorang aktivis senantiasa membersihkan jiwanya terkadang tidak mampu melawa rasa cinta itu.


Jatuh cinta bagi para aktivis dakwah bukanlah perkara sederhana. Dalam konteks keimanan, jatuh cinta adalah bukti ketundukan kepada sunnah Rasulullah dan jalam meraih ridho Allah SWT serta kesiapan untuk terjun dalam medan dakwah yang lebih besar. Bukan justru membuat para aktivis berguguran di jalan dakwah. Atau membuat mereka futur.


Betapa Allah sangat memuliakan para penyeru dakwah. Olehnya tidak selayaknya mereka mengotori dakwah ini dengan setitik nila. Menghianati perjuangan ini dengan hawa nafsu sesaat. Dan tentu saja menggoreskan warna hitam dalam lembaran putih dien ini. Hingga nanti terbentuk mozaik hati yang indah, yang mampu memantulkan cahaya matahari dengan sempurna.


Berdakwah kepada lawan jenis


Ini juga merupakan fenomena yang kadang kita temukan, bahkan mungkin keluar dari lisan sang aktivis dakwah.

Universalitas dakwah islam lebih jauh lagi merupakan salah satu segi yang membedakan ajaran Rasulullah SAW, dengan ajaran nabi dan rasul sebelumnya. Termasuk dalam konteks berdakwah, tidak mengenal perbedaan antara jenis kelamin.


Allah berfirman :

”Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh yang ma`ruf dan mencegah yang mungkar...” (Q.S At Taubah – 71)


Mengomentari ayat ini Ibn An Nahhas dalam kitabnya Tanhibul Ghafilin, menegaskan bahwa penyebutan orang-orang beriman perempuan secara eksplisit dalam ayat ini mengindikasikan wajibnya hukum berdakwah bagi wanita, sebagaiman pria.


Namun dalam tataran teknis dan operasional, berdakwah pada lain jenis perlu untuk memperhatikan rambu-rambu syariatl. Sebab sudah merupakan fitrah bagi keduanya untuk saling tertarik pada lawan jenisnya. Ditambah lagi faktor hawa nafsu dan godaan syaitan yang sangat mungkin mempengaruhi nilai dakwah. Niat awal yang suci luhur bisa berubah keruh dan kotor. Dakwah yang semestinya membawa rahmat dapat berubah menjadi ajang perilaku kemunafikan.


Mengapa Rasa itu Hadir ???


Jatuh cinta adalah jalan yang dapat menggoyahkan pendirian. Ia ibarat lautan yang penuh dengan riak gelombang. Siapa saja yang mengarungi samudera cinta pasti akan dipermainkan oleh riak gelombang.


Ada beberapa alasan, yang menjadi penyebab munculnya perasaan ini dikalangan aktivis dakwah :

  • Mengumbar pandangan mata. Ibnul Qayyim Al Jauziah mengatakan bahwa mata adalah pintu terdekat yang dapat menjerumuskan seseorang pada kemaksiatan. Maka pandangan mata diharamkan kecuali dalam koridor syariat.
  • Lemahnya keimanan dan minimnya pengetahuan yang menjadikan kita menganggap biasa hal yang sebenarnya maksiat.
  • Mendengar perilaku melalui obrolan asyik mengenai ikhwah atau akhwat.
  • dikondisikan dengan lingkungan kita. Misalnya kamu cocok deh dengan ikhwa ini atau akhwat itu.

Ada banyak sarana yang menyebabkan kisah cinta itu tumbuh. Mulai dari seringnya mengadakan musyawarah hingga timbul kekaguman, simpati dan apresiasi terhadap ikhwan maupun akhwat. Atau sekedar saling mengingatkan program kerja melalui SMS. Bisa juga melalui dunia cyber atau chatting. Di sela-sela itulah seruan syaitan kemudian muncul dengan rayuan mautnya, sehinggat terseliplah pesan-pesan pribadi diantara keduanya.


Berdakwah merupakan sebaik-baiknya pekerjaan. Dakwah adalah tugas nabi dan rasul. Akan tetapi jika pekerjaan mulia itu telah ternodai oelh para pengembannya, tentu menjadi sesuatu yang ironi. Bukan saja akan mencoreng pelakunya, tetapi juga agama yang sempurna ini. Ada kasus – kalau kita tidak menyebutnya banyak- kisah kasih sesama aktivis itu dimuali dari ”strategi mengembangkan dakwah” tidak ada tendensi saat awal melakukan ekspansi dakwah. Tapi seiring dengan interaksi yang semaki intens, keberadaan penyakit ini menjadi hal yang sulit dihindari.


Penutup


Semestinya para aktivis dakwah lebih paham apa itu interaksi yang hanif dan tidak. Semestinya, kita lebih paham bahwa kita adalah manusia yang tidak bisa hanya menasehati dan menebarkan kebaikan. namun, kita luruh dari kebaikan itu sendiri.


cinta dan semua hal yang dirasakan manusia tidak bisa hanya diteorikan. Pembuktian ucapan dan keteguhan hati para aktivis dakwah ketika hati tersapa cinta adalah sebuah fase jeda untuk kembali mengingatkan orientasi hidup kita sesungguhnya. Menyelami bahwa sapaan-sapaan rasa adalah ujian maha berat yang menjadikan kita semakin memiliki izzah atau justru melunturkannya.


Jalan dakwah memang bukan jalan yang membuat kita menjadi robot atau rahib. Biarkan saja romantika itu ada dalam ekspresi-ekspresi wajar dan penuh penjagaan diri. Bukan mencari kesempatan dengan cara-cara yang sama dengan kebanyakan orang


Bagaimana mungkin, kita yang setiap saat berupaya menjaga pergaulan binaan kita, ternyata justru melakukan hal-hal yang berlawanan meskipun tidak terlihat. Memang bagaimana lagi?? Jalan ini telah kita pilih sebagai rujukan utama kita melakukan atau tidak melakukannya. Dan kemuliaan Allahlah yang mengangkat kita dari kehinaan. Sedangkan kehinaan dan kelenaan perilaku kita akan meluruhkan izzah jalan dakwah kita. Dakwah adalah jalan yang kita pilih, bukan dakwah yang membutuhkan kita. Tapi, kita yang membutuhkan jalan ini untuk semakin berbeda dalam neyikapi banyak hal termasuk CINTA

readmore »»ǴǴ

Senin, 10 November 2008

Meretas jalan menuju kebangkitan

Jalan ini...
Jalan para petarung
Jalan para pahlawan
Kepastian yang takkan ternafikkan

Hidup, bagai dalam gua tak berlentera
Ditengah bangsa yang tak mengerti jati diri
Disekitar umat yang bingung akan ideologi hidupnya
Dan diantara para pencuri berdasi

Di negeri yang syarat dengan duka
Air mata, adalah ceritanya
Darah dan penindasan adalah bahasa sosialnya
penipuan adalah bahasa sehari-harinya

aku....
meindukan lagi pahlawan
bangsa ini merindukan lagi orang yang bisa berkata lantang
menyuarakan kebenaran
meneriakan pemberontakkan atas semua tirani

kini....
pahlawan itu kurindukan
tapi aku tak perlu menggodanya untuk hadir di sini
atau berdo`a agar Tuhan menurunkannya dari langit
karena ia lahir dan besar dinegeri ini...

dan...
biarlah aku berkata....akulah pahlawan itu
aku hanya tinggal menunggu waktu
untuk merebut momentum kepahlawananku
readmore »»ǴǴ

Muslim Negarawan: Spirit kebangkitan Bangsa, Harapan Di Balik Kepenatan Ruang Muktamar (Refleksi Perjalanan Muktamar KAMMI VI)


Oleh : Arif Atul M Dullah
( Mahasiswa FKM Unhas Angkatan 2005 )

Muktamar VI KAMMI resmi di tutup pada tanggal 9 November 2008. Banyak moment, banyak kisah, banyak kejadian yang menjadi rangkaian yang menghiasi perjalan Muktamar yang berlangsung di LAN Antang ini. Mulai dari cerita kesuksesan sampai kepada kisah pilu yang di alami oleh beberapa kader KAMMI, secara khusus kita menyebut Taufik Amrullah (ketua KAMMI) dan Rahman Thoha (Sekjen KAMMI) yang terpaksa tidak dapat mendampingi ayahandanya saat meninggal. Ada banyak sudut yang bisa menjadi perhatian kita. Namun, dari semuanya, ada satu hal yang paling menjadi sorotan mata peserta muktamar. Tentang siapa yang kelak menduduki kursi 01 KAMMI?

Ada harapan besar yang ingin kita titipkan dari sekian banyak moment dan peristiwa yang menghiasi muktamar, dibalik kepenatan ruang pertanggungjawaban dan pilihan siapa yang paling tepat untuk mengatur arah KAMMI kedepannya adalah bahwa KAMMI harus lebih baik, harus dapat tampil sebagai inisiator setiap agenda perbaikan.

Daya kritis terhadap semua agenda yang telah dilakukan oleh pengurus KAMMI sebelumnya adalah sebuah catatan perbaikan kedepan, karena kata Rasulullah SAW “…Sesungguhnya orang-orang yang beruntung itu adalah orang yang hari ini lebih baik dari kemarin”. KAMMI juga harus demikian.
Jargon “ Muslim Negarawan” haruslah tidak sekedar ide dalam tataran teori. Tapi, ia harus terlihat dalam cermin realitas, karena kata Rasulllah“ Iman itu bukanlah angan-angan.” Ia harus berwujud dalam tataran praktis. Juga karena bangsa ini, tidak butuh orang yang hanya bisa mengatakan bahwa ini solusi masalah kita sekarang. Tapi KAMMI sudah harus mengatakan bahwa apa lagi yang hendak kami selesaikan dengan konsep Muslim Negarawan.

Muslim Negarawan, hari ini, dalam realitas bangsa yang sangat terpuruk memang menjadi hal yang niscaya. Sudah saatnya, Kader Muslim Negarawan tampil untuk menghadirkan solusi -sekali lagi bukan dalam tataran teori non-aplikatif -. Inilah tantangannya. Tapi, Kader Muslim Negarawan harus merebut momentum itu. Momentum perbaikan untuk hadir sebagai solusi.

Muslim Negarawan, Alternatif Kepemimpinan Solusi Bangkit Indonesia

Dalam momentum 100 tahun kebangkitan nasional, bangsa ini sedang dihadapkan pada realitas untuk tidak sekedar memperingati kebangkitan nasional lagi. Bangsa ini telah mengalami krisis yang begitu parah, yang telah lama tenggelam dalam keterpurukan yang hampir tak berujung. Maka, jika kita mendiagnosis akar masalahnya maka kita akan menemukan satu kesimpulan bahwa masalahnya adalah pada kepemimpinan. Kita bisa mengambil analogi berikut, bahwa Negara ini bisa kita analogikan sebagai sebuah kapal, dimana Nahkodalah yang mengatur kendali jalannya kapal. Demikian pula Negara ini, baik tidaknya perjalanan sebuah Negara menuju kemandirian dan kemajuannya, sebagaian besarnya ditentukan oleh pemimpinannya.

Konsep Muslim Negarawan adalah solusi yang ingin KAMMI, anak-anak muda negeri ini coba tawarkan sebagai solusi kepemimpina kebangkitan bangsa. Coba amati secara objektif. Maka kita akan menemukan sebuah realitas bahwa kepemimpinan negeri ini telah mengombang-ambing negeri ini pada arah yang tidak jelas.

Muslim Negarawan yang merupakan perpaduan dua kata ini, adalah interpretasi dari sosok ” Pemimpin Masa Depan yang tangguh” sebagai mana yang termaktub dalam Visi KAMMI.

Menurut Rijalul Imam S. Hum. bahwa kader muslim negarawan harus memiliki lima elemen kunci yaitu : Pertama, memiliki basis ideologi Islam yang mengakar yaitu islam menjadi titik tolak pergerkan adalah ideologi yang mewarnai pergerakan dan kebijakannya serta hanya menggunakan Islam sebagai landasan dan kaidah perjuangannya. Kedua, memiliki basis pengetahuan dan pemikiran yang mapan yaitu ia berpikir dan bertindak berdasarkan pengetahuan ilmiah dan pemikiran yang mapan, tidak bergerak secara emosional tetapi bergerak dengan penuh argumen yang lengkap dan solid. Ketiga, Idealis dan konsiten artinya seorang Muslim Negarawan harus berpikir, berniat dan bertindak berangkat dari nilai-nilai ideal dan kepentingan sesaat dan tidak mudah menjual diri pada kepentingan pragmatis.

Keempat, Berkontribusi pada pemecahan problematika umat dan bangsa. Artinya bahwa Muslim Negarawan tidak menjadi beban dan masalah bagi umat dan bangsa, justru sebaliknya ekspresi kader Kader KAMMI dalam pikiran, niat, dan tindakan diarahkan untuk memecahkan perbaikan umat dan bangsa.Kelima, Mampu menjadi perekat komponen bangsa pada upaya perbaikan artinya kader KAMMI bukanlah musuh bagi pihak tertentu, gerakan atau institusi lainnya, tetapi KAMMI dapat memainkan peranannya dalam merekatkan komponen bangsa untuk kemudain bersama-sama dalam upaya perabikan dan pembangunan bangsa.

Menunggu Kiprah KAMMI sebagai gerakan ekstra parlementer dalam pengawalan Pemilu 2009.

Dalam Muktamar VI KAMMI tanggal 3 – 9 November, KAMMI mengusung tema ” Muslim Negarawan: Spirit Kebangkitan Bangsa. KAMMI sebagai gerakan ekstra parlementer tentu saja, memandang bahwa pemilu 2009 sudah saatnya menjadi momentum bagi bangsa ini untuk mencari sosok muslim negarawan. Inilah yang sosok pemimpin yang coba KAMMI tawarkan kepada masyarakat. Selanjutnya KAMMI, tetap akan mengawal segala proses pemilu 2009 untuk berupaya memberikan pendidikan politik bagi masyarakat serta mengusahakan agar kualitas dan output dari proses pesta demokrasi bangsa ini bisa menjadi lebih baik. Dan ini kita titipkan pada pengurus KAMMI periode mendatang.






readmore »»ǴǴ

Jumat, 24 Oktober 2008

Kontroversi Seputar RUU Pornografi

oleh ; Arif Atul M Dullah

Beberapa pekan terakhir atau bahkan sejak beberapa bulan yang lalu kita sudah sering menyaksikan di media-media baik media lokal atau pun media nasional berita tentang akan segara disyahkannya RUU pronografi oleh DPR. Lantas muncul bermacam reaksi terhadap pantas atau tidaknya RUU tersebut baik oleh individu maupun kelompok. Beberapa aksi massa pun terjadi, baik itu dari kalangan yang menolak RUU tersebut namun tidak sedikit juga yang mendukung RUU tersebut.


Ada yang kemudian meneriakan penolakannya dengan alasan bahwa Negara ini bukan Negara Islam, Negara ini sangat multi agama, multi etnis, budaya nya pun berbeda. Sehingga UU tersebut tidak pantas di syahkan Ada juga yang mengatakan bahwa UU tersebut akan dapat menyebabkan terjadinya disintegrasi bangsa, menghilangkan kebudayaan seperti di Papua dengan budaya koteka-nya misalnya. Dan masih banyak alasan lainnya.


KAMMI sebagai sebuah organ kesatuan Aksi memandang bahwa RUU tersebut adalah sebuah keniscayaan untuk segera di syahkan. Hal ini ditandai dengan Aksi-Aksi yang mereka lakukan untuk mendesak DPR segera mengesahkan RUU tersebut. Baik itu dengan membawa bendera KAMMI sendiri atau juga melakukan aksi gabungan dengan beberapa organ lain seperti yang baru-baru di laksanakan dengan nama “Aliansi Masyarakat Sul-Sel Peduli Moral Bangsa” dengan menggandeng kurang lebih 31 elemen gerakan baik Organisasi kemahasiswaan, LSM, dll.


Ada beberapa catatan KAMMI yang bisa menjadi gambaran sikap KAMMI terhadap RUU tersebut. Pertama, UU tersebut adalah sebuah kebutuhan. Bukan pada masalah bahwa bangsa ini adalah multi agama, multi etnis dengan budaya yang berbeda sehingga tidak dapat diterapkan di Negara ini. Masalahnya bukan pada bahwa Negara ini mayoritas penduduknya adalah Muslim sehingga UU tersebut harus segera ada. Tetapi, memang Undang-Undang tersebut memang harus ada untuk membendung arus Pornografi dan Pornoaksi sehingga dapat menyelamatkan moralitas masyrakat Indonesia terutama para pemuda yang notabenenya adalah generasi penerus kepemimpinan bangsa.


Kedua,ttindakan kekerasan seksual yang banyak kita saksikan baik itu di media atau pun mungkin terjadi disekitar kita, ada anak yang menghamili ibunya, ada seorang kakak menghamili adik kandungnya sendiri dan sebagainya, salah satu penyebab utamanya adalah akibat mereka sering menyaksikan film-film porno, dsb. Sehingga Undang – Undang ini perlu ada untuk membatasi semua media dan sarana pornografi.


Ketiga, bahwa UU tersebut dapat menghilangkan beberapa budaya di negeri ini sebut sajalah koteka di Papua, atau bahkan dapat menyebabkan terjadinya disintegrasi bangsa adalah hal yang sangat tidak beralasan. Karena dalam UU tersebut tidak ada satu pasal pun yang kemudian dapat menghilangkan kebudayaan tertentu. Karena selama budaya tersebut berada pada wilayahnya, misalnya budaya koteka di Papua dilaksanakan disana, tentu saja itu bukanlah hal yang bersifat pornografi. Kecuali hal tersebut, di gunakan di luar wilayah Papua maka hal tersebut telah bersifat tindakan pornografi


Keempat, hampir seluruh fraksi (kecuali 2 fraksi, PDIP dan PDS) yang ada di DPR sebelumnya setuju untuk segera disyahkannya UU tersebut. Namun, belakangan sisa dua fraksi yang mendukung disyahkannya RUU tersebut (PPP dan PKS). Ada banyak muatan potitis terkait dengan PEMILU 2009, salah satunya mungkin ketakutan fraksi – fraksi tersebut kehilangan suara pemilih pada Pemilu 2009. Mereka lupa bahwa mereka adalah wakil-wakil rakyat yang punya tanggung jawab untuk menyelamatkan Generasi Muda bangsa, hari ini, besok dan untuk jangka waktu yang akan datang. Seharusnya, bukan kepentingan sesaat Politik Partai mereka. Tapi, mereka harus berpikir lebih jauh, tentang masa depan bangsa ini. Ketika, seharusnya anak muda, generasi muda bangsa ini menyibukkan diri dengan agenda-agenda dan prestasi yang membanggakan. Namun, ternyata mereka terpaksa melakukan tindakan kekerasan seksual, menghabiskan waktu hanya dengan menonton film-film porno di kamar mereka, dsb.

readmore »»ǴǴ