Rabu, 23 Desember 2009

Betapa Latah Kita Menyelesaikan Masalah Yang Kita Hadapi

Betapa latah negeri ini, menafsirkan penyelesaian penyakit bangsanya tdk dari
sumber penyakitnya. seseorang yang sakit bukan disembuhkan penyakitnya. sakit dihilangkan dengan menghilangkan nyawa si sakit.

latah memang, masalah tak lagi di selesaikan dari sumber masalahnya. padahal mengobati sakit bukan dengan menghancurkan jasad si sakit. mengubah negeri ini tidak dengan membunuh semua penduduk negeri ini
lalu menghadirkan generasi yang baik (karena itu hanyalah hak Allah).

itu yang hari ini terjadi. lihatlah, betapa bobroknya pendidikan negeri ini. pesimistis adalah dasar berpikir mereka. Seorang siswa, bukan murid, karena murid berbeda dengan siswa. murid, memiliki kecintaan yang tinggi terhadap kebenaran. Lantang ia berkata : " nilai saya yang lain tinggi, hanya satu yang tidak memenuhi standar kelulusan" Ia selalu menilai dirinya dengan standar pesimistis, tidak maksimal" lalu di respon sama oleh orang-orang yang latah dalam membuat konsep pendidikan di negeri ini


Sistem pendidikan di negeri ini tidak mampu menampung kecendurangan seorang warganya, tidak menyediakan fasilitas yang tepat untuk bakat dan kesukaan seseorang di bidang ilmu. Tidak ada fokus pendidikan yang sesuai bakat seseorang. Hingga lahirlah putera-puteri generasi yang memiliki split personality. Seorang sarjana Ilmu sosial mengajar pelajaran olah raga di sebuah sekolah SD

Manusia Indonesia juga tak memiliki kesadaran tentang dirinya. Ia bingung tentang jati dirinya. Ia adalah air yang masuk ke dalam kubangan minyak. tak tahu bahwa ia tidak dapat bercampur dengan minyak sampai kapanpun.

Menelan mentah teori-teori barat, tanpa tahu bahwa jati diri bangsanya sesungguhnya berbeda, tak sejalan, bahkan arusnya berbda.
readmore »»ǴǴ

Jumat, 23 Oktober 2009

Proses Penjagaan Harakah, Keniscayaan Dalam Perjalanan Sebuah Gerakan

Makassar, 6 oktober 2009

Oleh Arif Atul M Dullah

“ Saat ini kalian belum berjalan pada jalan dakwah sesungguhnya, kelak ketika mereka mulai memahami dakwah kalian pasti mereka akan melakukan semua upaya untuk memusuhi kalian, di saat itulah kalian mulai melalui jalan dakwah sesungguhnya {Hasan Al Banna}”

Merefeleksi Sirah dan mempelajari Fiqh Siroh akan memberikan gambaran yang begitu jelas bagi kita tentang tabiat dakwah dan tahapan-tahapannya. Begitu banyak nilai, begitu banyak pelajaran yang harusnya bisa kita jadikan pelajaran khususnya bagi mereka-mereka yang meniti jalan dakwah dan hidup untuknya.

Ada fenomena yang kontradiktif kita temukan disebagian kalangan aktifis dakwah. Ada sebuah ketidak nyambungan antara idealisme dan cita-cita yang sedang ingin mereka bangun dengan sarana yang untuk mencapai tujuan mulia itu. Ada sebuah sikap “gagap” ketika ingin agar semua manusia menjadikan islam sebagai literatur hukum yang mengatur keseluruhan hidup mereka.

Mereka ingin mewujudkan tegaknya aturan-aturan Allah dimuka bumi, tapi mereka hanya mengatakan dengan dakwah saja, menyeru manusia untuk tunduk kepada syariat Allah swt. Ini adalah sebuah kegamangan cita-cita. Luhur memang cita-citanya. Tapi idealisme seperti ini hanyalah sebuah idealisme yang dibangun diatas dasar kepasrahan tanpa kemampuan mendefenisikan cita-cita itu.

Sirah nabawiah adalah sumber pelajaran besar yang mampu memberikan gambaran bagaimana sebuah cita-cita seperti itu harusnya diwujudkan.

Kalau kita membuka sirah nabawiah dan memahaminya dengan detil maka kita akan menemukan sebuah desain perencanaan dan strategi dakwah Rasulullah saw untuk melakukan sebuah transformasi dakwah menjadi sebuah institusi untuk menjamin kelangsungan dakwah ketika tekanan-tekanan Quraisy berupa pengusiran dan bahkan ancaman pembunuhan kepada para Sahabat dan Rasulullah SAW terjadi.

Kita tahu bahwa sekitar tahun kesepuluh kenabian, 2 pelindung utama Rasulullah wafat. Khadijah r.a dan paman beliau SAW, Abu Thalib. Acaman penyiksaan dan pembunuhan terus mengintai para Sahabat. Sampai kita tahu dalam tahun-tahun menjelang hijrah ini, tertumpahlah darah syahidah pertama Islam, yaitu Ibu Amr bin Yasir.

Karena saat itu aktivitas harakah sudah mulai terancam, maka sebuah upaya ekspansi dakwah harus sudah mulai dipikirkan, untuk membangun basis baru, komunitas islam di luar Mekkah. Lalu kondisi ini mendapatkan momentum terbaiknya dengan masuknya 6 orang tokoh Khazraj untuk menyebarkan Islam kepada kaum mereka. Dan momentum ini seperti yang di catat oleh syaikh Muhammad Munir Al Gadbhan, dalam Sirah Nabawiyah menjadikan islam itu ada pada setiap rumah di Madinah. Tidak ada satupun rumah di Madinah kecuali di dalamnya di bicarakan tentang Islam dan Rasululllah. Inilah awal proses transformasi islam menjadi sebuah Negara.

Maka, sebuah cita-cita besar yang saat ini sedang kita bangun dan kita rasakan hari ini tanpa tekanan, tanpa ancaman pembunuhan, kelak akan melalui dan merasakan tabiat jalan ini. Sehingga cita-cita yang sedang dibangun dan tumbuh ini, juga harus dipahami bahwa tidak selamanya kondusif akan terus berjalan seperti hari ini.

Memang karena baru tumbuh, maka orang-orang yang tidak pernah mau melihat islam ini tumbuh besar belum merasa keberadaan kita hari ini mengancam kepentingan-kepentingan mereka sehingga relative bersahabat dengan kita. Aktivis yang merasa bahwa dakwah sudah cukup dengan teriakan ceramah tanpa memikirkan untuk menciptakan ruang yang aman untuk berdakwah, sangat mungkin dakwah yang mereka bangun tidak akan tumbuh menjadi besar. Dan seandainya pun tumbuh besar, maka mereka akan segera mendapatkan ancaman pembumihangusan dari musuh-musuhnya.

Jadi membangun idealismE itu tidak pernah bisa hanya dengan ide “mengajak” orang berislam dengan baik tanpa pernah memikirkan untuk menjadikan dakwah sebagai sebuah legalitas. Dan legalitas ini hanya bisa dilakukan ketika kita menjadikan diri harakah itu sebagai harakah legal-formal.

readmore »»ǴǴ

UNTUKMU YANG TURUN KE JALAN

Makassar, 7 Oktober 2009

Untukmu yang turun ke jalan
meneriakkan jeritan anak-anak manusia
jeritan yang tak pernah bergaung
ditengah angkuhnya gedung-gedung birokrat

untukmu yang turun ke jalan
memilih berpeluh keringat
di tengah sejuknya AC ruang-ruang kuliahmu
ketika mereka enggan turun kejalan

kau lukis setitik harapan
di tiap lembar hari
bagi mereka anak-anak manusia
yang hidup dalam belenggu tirani

kini....
di tengah deru perjuanganmu
ku tempuh jua jalan perjuanganku
jalan juang itu kini berbeda
fisik tak lagi bertemu fisik, sepertimu
fisik tak lagi bertemu pentungan para polisi

tapi....
jalan juang ini dibangun diatas idealisme yang sama,
kini jalan juang ini tak lagi menapaki jalur jalan sepertimu
fisik tak lagi bertemu fisik
fisik tak lagi bertemu pentungan para polisi

untukmu yang turun ke jalan
kini idealisme di dadaku masih sama sepertimu
hanya, perjuangan itu ada tahapnya
hanya, zaman itu butuh model juang yang berbeda
itu caramu....seperti saat itu...aku juga sepertimu

untukmu yang turun kejalan
teriakkanlah suara anak-anak manusia itu
terikkan ia, hingga menembus tembok-tembok
angkuh para birokrat
hingga nurani memahami nuraninya....

untukmu yang turun ke jalan
jangan pernah biarkan idealismemu
terpasung diantara tingginya gedung-gedung birokrat
kini dan hari esok adalah milik kita
kitalah yang akan merubah dunia
oleh kita saat ini, bukan oleh siapapun

hingga idealisme kita berdiri tegak
berkibar di antara panggung sandiwara
dan retorika elit-elit birokrat itu.
readmore »»ǴǴ

Jalan Panjang dan Cita-Cita

Oleh : Arif Atul M Dullah

jalan, jalan panjang cita-cita
harus di hiasi dengan
semangat yang tak pernah padam

rangkai, rangkai impianmu sebesar engkau mau
takdirmu adalah impianmu

berlarilah kejar ia rengkuh dalam dekapmu
jangan lepaskan ia,juga
jangan pernah biarkan engkau jatuh dan mati

jatuh, jatuh, bangkitlah
tidak peduli berapa kali kita terjatuh
setiap kali kita berlari menuju mimpi itu
yang pasti bangkit..tetaplah bangkit setelah jatuh

rangkai, rangkai masa depanmu
ditanganmu, bukan ditangan mereka,atau siapa pun

ia adalah takdirmu
maka ukirlah ia seperti inginmu
jangan pernah biarkan mereka mengusik

gapai cita menuju jalan panjang kemenangan
karena mimpi adalah awal
awal lahirnya kenyataan
kenyataan hari esok

disini... di ruang keyakinan
impian itu terangkai
masa depan itu terangkai
untuk layak menjadi impian

disini di ruang keyakinan
keyakinan yang bukan keyakinan
tapi keyakinan yang terealisasi
untuk sekali lagi merebut takdir kita


readmore »»ǴǴ

Jumat, 05 Juni 2009

Mengukur Kekokohan Pemahaman Kita

Oleh : Arif Atul M Dullah

Dalam sebuah perjalanan, adalah suatu hal niscaya badai cobaan dalam perjalanan kehidupan yang panjang itu akan kita temui. Berat bahkan lebih berat. Kadang ia menyesakkan. Mungkin juga membuat kekokohan karakter, kekokohan mental, kekokohan iman menjadi terkikis. Mungkin habis dan atau tidak tersisa sama sekali. Atau juga sebaliknya, semakin memperkokoh pijakan kaki kita di atas jalan kehidupan.

Begitu juga dengan perjalanan sebuah harakah dakwah. Ada masa dimana ia berjalan indah tanpa tekanan, tanpa cercaan. Tapi, sebuah tabiat perjalanan sebagaimana Rasulullah SAW dan sahabatnya, pernah melalui suatu fase dakwah yang penuh dengan tekanan, cercaan, bahkan pengsuiran dan pembunuhan. Mekkah menjadi awal tekanan berat perjalanan dakwahnya. Sekitar 10 tahun manusia-manusia peradaban itu dididik dalam tekanan. Disanalah dimulai pengorbanan itu sampai akhirnya mereka juga harus meninggalkan tanah kelahiran tercinta, Mekkah. Menuju satu tanah baru, Kota Madinah. Namun, tekanan itu belum berakhir. Lima tahun dalam perjalanan awal dakwah, perjalanan awal menyeru manusia di tanah baru, menjadi fase-fase yang jauh lebih sulit. Tidak kurang 48 kali pertempuran yang harus di alaminya untuk mempertahankan eksistensinya. Sebelum para budak itu, para kabilah yang tidak pernah dihitung oleh imperium besar di masanya, Romawi dan Persia berubah menjadi manusia-manusia langit yang memimpin manusia. Menjadi sokoguru peradaban bagi manusia. Di awali oleh kalimat sang Rasul “Hari kita akan menyerang mereka, setelah itu mereka tidak akan pernah menyerang kita lagi” saat perang Khandaq, sampai penaklukan Andalusia Spanyol.

Situasi sulit memang tabiat perjalanan ini. Tekanan, cercaan, hinaan bahkan kadang darah juga menjadi harga yang harus dibayar sebelum sampai pada masa-masa kemenangan dan kejayaan. Seperti darah yang harus mengalir dari tubuh penghulu para syuhada, Hamzah Bin Abdul Mutalib, dan sekitar 70 sahabat lainnya yang menjadi syuhada. Itu bayarannya. Tapi, setelah itu mereka dicatat sebagai pasukan yang tidak pernah lagi mengalami kekalahan dalam semua pertempuran. Karena disanalah mereka belajar, tentang harga sebuah kekeliruan sikap dalam perjuangan. Bahwa harta rampasan perang, dunia, dan kedudukan bukan cita-cita yang harus memalingkan mereka dari cita-cita tertinggi, meninggikan kalimat Allah.

Perjalanan sebuah harakah dakwah pasti akan melalui fase ini. Kadang cercaan itu, terasa menyesakkan dada, membuat kita ingin marah, berteriak dan memberontak.Tetapi, disinilah kita di uji. Disinilah kekokohan pemahaman, kekokohan karakter manusia-manusia haraqah itu teruji. Menguji pemahaman kita tentang tabiat jalan ini. Menguji pemahaman kita tentang manhaj dakwah kita. Untuk mendorong kita terus beramal dalam situasi sesulit apapun. Sebagaimana tekanan yang dialami oleh para pendahulu dalam haraqah dakwah ini. Mereka telah membayarnya dengan pengorbanan harta, waktu dan energei yang sudah tidak bisa kita hitung, bahkan ada yang telah menjemput syahidnya menuju syurga.

Tapi, tidak selamanya kesulitan akan ada. Harapan itu selalu ada. Ada masa dimana kesulitan, tekanan, cercaan itu akan pergi. Kebatilan dan kesulitan itu akan roboh. Lalu kebenaran akan tegak dengan pilar-pilarnya yang kokoh. Setelah itu kita akan menemukan bahwa, orang-orang yang tetap bertahan diujung jalan ini adalah mereka yang memiliki kekokohan pemahaman tentang tabiat jalan ini. Tentang manhaj dakwah ini. Mereka adalah orang-orang yang terus beramal ditengah kerasnya badai kehidupan di jalan ini.

readmore »»ǴǴ