Minggu, 16 November 2014

Lisan Guruku

Kita hanya menyaksikan apa yang disajikan media.
Sedangkan kita tidak paham persis situasi yang ada dibalik peristiwa itu.

Tapi ada yang lebih buruk dari itu:
kita menerima informasi media sebagai kebenaran tanpa pernah merasa ngeri.

Pagi ini, aku dihentak lagi oleh nasehat seorang Guruku:

"Jangan terpesona oleh fenomena-fenomena, fokuskanlah perhatianmu pada hakekat dari suatu peristiwa"

Dua mata, dua kali melihat. Dua telinga, dua kali mendengar.
Tapi kita hanya diberikan satu mulut, agar hanya satu kali bicara.
Itulah ajaran tentang "kearifan".
Ajaran tentang kebijaksanaan.

Yang bisa memfungsikan karunia Allah diatas secara tepat,
maka dia adalah orang yg paling punya potensi memiliki ilmu lebih banyak.
Yang paling mampu menggali hikmah dari setiap peristiwa

Salah satu hal yang menggerahkan, dari sekian banyaknya kelemahan generasi,
adalah karena mereka memfungsikan lisannya lebih banyak.
Sedangkan mata dan telinga hanya difungsikan sedikit

Guru, terbaringlah engkau dalam keabadian akhirat,
sambil menikmati buah dari jerih payah kebaikan yang telah kau tanam,
dan kini kau nikmati tunai, balasan atas itu
readmore »»ǴǴ

Hujan Kematian

Tanah mulai basah. Tidakkah engkau mulai merasakan dingin?!
Sedangkan malam mulai berlalu tanpa nyanyian burung.
Dan senja, pergi lebih cepat dari biasanya

Tak ada yang bisa memastikan apa yang akan terjadi esok.
Hujan ataukah banjir
Tapi mengapa aku merasakan, waktu tak mau beranjak pergi?

Bunuh. Mereka saling membunuh.
Kematian dimana-mana. Meski gerak jasad masih ada

Apakah dunia telah menjadi rimba yg menakutkan?
Rimba yang tak pernah kutemukan kisahnya dalam buku-buku...
Rimba yang peristiwanya tak pernah ada dalam sejarah para binatang

Ketika Ibu membunuh anaknya.
Atau ketika para anak menistakan ayah dan ibunya
Mengapa manusia kini menatap kita dengan begitu dingin? Seolah mangsa?
Menatap kita dengan tatapan yang lebih dingin dari malam ini.

Bahkan kini engkau tak harus menunggu datangnya hujan....
karena bumi telah tenggelam dalam lautan air mata
Tak ada lagi cinta yang menghangatkan hubungan....

Kita harus kembali memaknai Cinta....
agar hidup kita bisa berlanjut
readmore »»ǴǴ

Sabtu, 11 Oktober 2014

Mentari Membakarku, Aku Ingin Meneguk Air Kejayaan

Pagi ini, aku meronta-ronta karena rindu.....
Ketika mentari membakar tubuhku... aku gersang...
Ombak-ombak pun sepi....

tapi layar mimpi harus terus berkembang.....
ini semua hanyalah lakon hidup....
yang dipenuhi misteri....

Mimpi selalu menghadirkan pesona yang memekakkan mata...

Inilah risalah cinta.....
Yang membuat kita tidak akan pernah menyerah kalah....

Inilah perjanjian...
yang telah kita buat sendiri dengan Tuhan....
Yang telah dibuktikan dalam catatan sepanjang sejarah manusia....

Kita pernah punya kebanggaan masa lalu.....
Tapi kita juga hidup dalam realitas zaman hari ini.....

Menyinambungkan sejarah....
itulah tugas generasi kita....

Itulah yang menciptakan gelombang....
bukan hanya ombak dalam jiwamu....

Itulah yang menciptakan api....
yang bukan hanya membakar tubuhmu...
tapi juga jiwamu

Itulah yang menciptakan kehausan yang abadi...
sampai kita bisa, sekali lagi, meneguk air kejayaan...

Atau jika kita harus kembali pada-Nya sebelum itu terwujud...
biarkan ia menjadi doa bagi generasi mendatang...
readmore »»ǴǴ

Senin, 06 Oktober 2014

Undang - Undang Pilkada dan Pembelajaran Demokrasi Bagi Umat Islam

Makassar, 26 September 2014

Hiruk pikuk RUU pilkada mungkin masih saja terjadi. Tapi saya ingin memotret satu sudut pandang lain, diluar hiruk pikuk RUU yang baru saja disahkan jadi UU ini. Mudah-mudahan kita bisa mengambil pembelajaran darinya.

Beberapa hari lalu, kita menyaksikan euforia kemenangan salah satu pasangan capres cawapres dan partai-partai pendukungnya setelah gugatan pilpres tidak diterima oleh MK.

Dalam salah satu momentum,Rakornas PDIP, ibu Megawati berdiri dengan gagahnya dalam suatu silaturahim partai-partai tersebut dan berorasi dengan konten kurang lebih seperti ini:

“Ketahuilah bahwa ini adalah partai yang telah menjadi oposisi selama 10 tahun, dan kini kita menjadi partai pemerintah”

Menurut saya (dengan seluruh kerendahan hati dan sedikitnya ilmu), inilah “kesalahan” ibu megawati dalam menjalankan praktik politiknya, pengalaman dan kehebatan politiknya selama puluhan tahun, justru nampak menganga kelemahannya dalam kalimat di atas.

Terlalu lama “menjomblo” memang sepertinya tidak baik juga….
waktu oposisi sendirian, sekarang berkuasanya juga ingin sendirian…

Itulah pembelajaran demokrasi…
jangan pernah punya niat untuk menciptakan musuh yang abadi disini…
karena engkau akan kesepian selamanya…

Dan jika sudah menang….
jangan pula pernah berpikir dan berusaha untuk berkuasa sendirian…
ini negeri besar, kita hidup dengan banyak jenis manusia di sini

Wahai muslim, belajarlah untuk menjadi representase dari manusia indonesia seluruhnya….sebelum kalian benar-benar memimpin…
readmore »»ǴǴ

Merebut Masa Depan

Orang yang bisa sukses dan berjaya di masa depan hanyalah mereka yang bisa memprediksi masa depan,
Yang mampu membaca kemana arah sejarah sedang berjalan.

Mungkin itulah makna dari salah satu sabda Rasulullah:
"Hati-hati dengan firasat seorang muslim, karena dia melihat dengan "cahaya" Allah...

Dan mungkin karena kesadaran itulah, sampai-sampai seorang Ulama,
Syaikh Mustafa Mu`athi menulis satu buku yang berjudul:
"Dahsyatnya Ramalan Rasulullah"
readmore »»ǴǴ