Kalau mau di tanya tentang bagaimana hubungan antara beban dakwah dengan usia kita dalam dakwah mungkin kalimat "Jalan Dakwah, Bukan Bus Kota" cukup bisa mewakilinya.
Detik, menit, jam, hari, bulan bahkan tahun terus berlalu, tak kita sadari mungkin usia kita dalam dakwah ini sudah dalam hitungan tahun atau mungkin lebih. Seiring pergantian waktu, semakin lama usia kita di dalam dakwah ini, maka kita akan menyadari satu hakekat bahwa beban-beban yang akan kita pikul dalam dakwah ini semakin lama tidak berkurang tapi malah semakin berat dan bebannya terus bertambah.
ketika berada dijalan dakwah ini, kita tidak sedang seperti mengendarai Bus, dimana penumpang yang akan kita temui sepanjang perjalanan ada yang naik dan ada yang turun. Jadi bebannya kadang banyak dan kadang sedikit.
Tapi, dalam dakwah, beban yang kita akan pikul sepanjang perjalanan menuju terminal tujuan dakwah ini beban-bebannya terus bertambah dan tidak berkurang sama sekali. Beban - beban amanah yang kita emban yang begitu banyak, di tambah dengan kebingungan-kebingungan yang akan kita alami selama perjalanan, sebenarnya akan menjadi tumpukan beban pada setiap penempuh jalan ini
Tersenyum ia sambil berjalan, entah kemana ia menuju. sesekali ia tersenyum, entah apa yang ia senyumi. Tubuhnya basah, rambutnya basah, ia berjalan di bawah derasnya hujan sepanjang jalan malino.
Usianya masih muda, mungkin baru 20-an tahun, tubuhnya memang tidak kekar tapi dari pancaran mata dan senyumannya ia menyimpan sebuah optimisme. Entah, sudah berapa lama ia berjalan. Tapi, melihat jejaknya dan kotor kain yang ia pakai, terlihat jelas ia telah cukup lama berjalan.
Ia tersenyum lagi, sambil menggenggam jemari tanganya ia terus mengayuh langkah. Ditengah deru dan derasnya hujan ia terus berjalan. Optimisme di hatinya masih jelas terpancar dari binar mata dan langkah-langkah yang terus ia ayunkan.
Dialah pemuda itu, dialah yang kelak akan hadir di panggung sejarah bangsa ini, untuk mengatakan dan meneriakan lantang kepada bangsanya bahkan dunia. Bahwa hidup ini harus selalu di penuhi optimisme tinggi. Bahwa harapan akan hari esok yang lebih baik adalah pasti. Bahwa di tengah bangsa yang sedang sekarat dan penuh dengan luka ini, ia ada, pemuda ini ada untuk menjadi pilar kebangkitan bangsanya. Bahwa ia bisa, dan ingin berkata kepada yang lain, kepada setiap orang yang di temuinya sepanjang jalan malino.
* Di Inspirasi dari Diskusi Pengurus KAMMI Unhas terkait tema yang sama
”Janganlah orang-orang kafir itu berpikir bahwa mereka dapat mendahului Allah...”
Krisis ekonomi yang melanda Amerika Serikat ternyata berdampak besar terhadap kondisi perekonomian global. Hal ini tentu saja menjadi hal yang sangat realistis sebab Amerika Serikat adalah sentral perekonomian dunia. Menurut Kompas penyebab dari krisis yang dialami oleh Amerika Serikat ini adalah adanya penumpukan hutang nasional yang mencapai 8.89 triliun US Dollar, pengurangan pajak korporasi, pembengkakan biaya perang Irak Afganistan dan yang paling krusial adalah Subprime Mortgage : kerugian surat berharga property yang berimbas pada bangrutnya Lehman Brothers, Merryl linch, Goldman Sachs, Northern Rock, UBS dan Mitsubishi
Masih hangat dalam ingatan kita bahkan dampak krisis tahun 1997 yang kita alami, secara khusus di Indonesia masih kita rasakan. Di mana negara-negara dikawasan Asia dihadapkan pada sebuah krisis parah yang kemudian menghancurkan kondisi perekonomiannya pada era tersebut. Kecuali beberapa negara semisal Malaysia yang meskipun mengalami dampak yang sama akibat krisis tersebut namun mereka dapat segera bangkit secara ” mandiri”. Krisis global yang kita alami saat ini sesungguhnya kurang lebih sama dengan yang terjadi pada tahun 1997. Betapa tidak dampak krisis yang melanda Amerika ternyata berdampak juga terdapat seluruh kawasan tak terkecuali di Indonesia.
Ada begitu banyak dampak yang di alami oleh negara-negara yang memiliki ketergantungan besar terhadap Amerika. Di Indonesia misalnya kita sudah banyak menyaksikan di media dampak krisis yang sekarang melanda dunia antara lain Nilai tukar rupiah yang melemah bahkan melebih Rp. 12.000 per USD Amerika, PHK yang terjadi secara besar-besaran, Banyaknya perusahan-perusahan dalam negeri yang mengalami kebangkrutan/gulung tikar. Dan pasar Saham yang mengalami penurun transaksi. Bahkan pada beberapa bulan lalu kita juga menyaksikan bahwa Bursa Efek Jakarta pernha ditutup beberapa hari sebagai respon terhadap krisis tersebut.
Krisis Ekonomi Amerika Serikat, Awal kehancuran Amerika Serikat?
Berbicara tentang apakah krisis ini adalah awal kehancuran Amerika, tentu saja belum tepat untuk mengambil kesimpulan seperti ini sebab banyak hal yang perlu kita perhatikan. Salah satunya kita melihat kembali sejarah, akar Kapitalisme itu sendiri dan sejarah bagaimana awal lahirnya Amerika sebagai super power.
Kalau kita berbicara tentang materialisme maka kita akan menemukan akan menemukan fakta sejarah bahwa pernah ada dua isme besar sebagai sayap materialisme yang pernah hadir dalam panggung sejarah dunia yaitu sosialisme dan kapitalisme. Uni Sovietdengan Sosialismenya dan Amerika serikat dengan kapitalismenya. Dalam proses perjalananya dua sayap materialisme ini senantiasa bersaing untuk eksistensinya. Pasca keruntuhan Uni Soviet tentu saja satu-satunya kekuatan besar yang menguasai dunia adalah Kapitalisme dalam hal ini adalah Amerika Serikat. Kemudian Amerika menjadi negara super power yang memiliki pengaruh besar pada kondisi politik global, tak terkecuali dalam bidang ekonomi.
Namun, belakangan kita juga melihat bahwa kekuatan ekonomi Amerikadihadapkan pada sebuah kondisi dimana pada tahun 2008 ini mungkin menjadi masa kritis bagi Amerika karena mengalami krisis yang cukup parah, sehingga sebagian kalangan berpikir bahwa krisis ini adalah awal kehancuran dari kapitalisme Amerika Serikat. Pandangan ini mungkin saja bisa benar dan bisa juga salah.
Kalau kita menelaah lebih jauh maka kita akan menemukan satu fakta bahwa krisis ini tidak terjadi secara alami tetapi dibuat secara sengaja. Dengan posisinya sebagai negara superpower termasuk dibidang ekonomi, sangat realistis jika dalam situasi krisis seperti saat ini Amerika Serikat-lah yang paling mampu bertahan. Krisis yang terjadi tidak secara alami sesungguhnya akan dapat menyebabkan banyak perusahaan strategis dengan sasaran utamanya wilayah Eropa (uni eropa) mengalami kebangkrutan atau gulung tikar dan yang paling bisa membelinya kembali adalah Amerika Serikat. Maka tentu saja krisis ini adalah langkah awal untuk semakin menguatkan cengkramannya terhadap dunia.
Mungkin kita akan bertanya-tanya, bagaimana bisa sebuah krisis menjadi awal lahirnya Amerika Serikat sebagaisatu-satunya kekuatan dunia?
Jawabannya sederhana yaitu krisis ini adalah langkah awal penjajahan ekonomi Amerika Serikat dengan menancapkan kekuatan ekonomi di negara-negara lain yang kelak akan menjadi negara satelit Amerika. Kita kembali melihat sejarah Perang Dunia II. Pasca kemenangan Amerika Serikat pada perang dunia II,negara-negara seperti Jepang, Taiwan,”dihidupkan kembali” oleh Amerika Serikat dalam bentuk bantuan ekonomi-mungkin termasuk yang dialami Indonesia sekaran-. Sehingga secara tidak langsung Amerika Serikat memiliki kekuatan dan pengaruh besar terhadap negara tersebut karena adanya budi yang telah mereka tanamkan termasuk utang-utang dalam bentuk pinjaman dari negara-negara tersebut.
Dengan cara seperti ini, maka kawasan lainnya (Eropa kemungkinan menjadi sasaran krisis yang dibuat tidak alami ini)-setelah Kawasan Asia berhasil ”dikuasai” pasca krisis Ekonomi tahun 1997- akan mengalami dampak resesi ekonomi global ini. Dan dengan logika tadi, ekonomi Eropa akan kembali ”dihidupkan” dan menjadi negara satelit bagi Amerika Serikat.
Krisis Global adalah Awal Semakin Menguatnya Kapitalisme Amerika Serikat
Maka Krisis ekonomi global yang di alami oleh dunia saat ini sesungguhnya adalah sebuah upaya yang sengaja dilakukan untuk semakin menguatkan power Amerika Serikat terhadap dunia. Dan ini adalah awal untuk tampilnya Amerika sebagai negara Kapitalis besar, sebagai satu-satunya negara superpower di Dunia. Dimana setelah kebangkrutan ekonomi oleh negara-negara secara khusus di Eropa, Amerikalah yang akan kemudian tampil ”sebagai pahlawan” untuk menyelamatkan.
Seorang analis mengatakan bahwa berdasarkan perspektif bagaimana Allah memberlakukan takdir-takdirnya bahwa awal kehancuran Amerika Serikat sesungguhnya diawali bukan pada krisis ini, tetapi pada saat Amerika Serikat telah menjadi satu-satunya kekuatan dunia dan akumulasi kezaliman adalah awal kehancurannya. Karena setelah Amerika menjadi satu-satunya superpower dunia maka perlahan-perlahan Amerika Serikat akan terasing sendiri oleh negara-negara lainnya.
Semua kondisi yang kita alami saat ini sesungguhnya adalah sebuah awal bagaimana Allah SWTmulai memberlakukan takdir-takdir-Nya untuk tampilnya kembali kekuatan Islam. Dan kita juga terkadang harus selalu berpikir bahwa semua kondisi, baik itu krisis ekonomi atau apapun namanya adalah tidak lepas dari apa yang disebut sebagai pertarungan peradaban. Maka kita jangan lagi membiasakan diri untuk berpikir kecil dan menjadi orang-orang kecil, tetapi kita harus siap merespon semua kondisi yang ada di sekitar kita termasuk kondisi Global. Wallahu `alam bisawab
Perjalanku sudah hampir separuh, usia yang telah kuhabiskan dengan begitu banyak peristiwa didalamnya, mengantarkan aku pada sebuah masa dimana aku mengenal satu pekerjaan baru dalam hidupku.
Hidup dalam bingkai dakwah adalah hidup yang senantiasa penuh dengan beban perjuangan. Ketika diterpa oleh begitu banyak godaan. Ketika harus berpeluh keringat, air mata dan semua keletihan perjuangan. Selangkah demi selangkah jalan ini aku tapaki. Memang baru memulai, tapi bebannya semakin berat. Semakin lama usia saya di dakwah ini, kok bebannya tidak berkurang, namun semakin bertambah. Lalu aku menyaksikan, ada saja penempuh perjalanan ini yang berkorban apa saja untuk tetap sampai pada jalan ini
Lalu, aku teringat sebuah kalimat dari Hasan Al Banna : "Di dunia ini ada banyak orang yang memiliki akal, tapi hanya sedikit yang mempelajari Al Qur`an. Dari sedikit yang mempelajari Al Qur`an, hanya sedikit yang mampu mengamalkannya. Dan dari sedikit yang mengamalkannya hanya sedikit yang mampu mendakwahkannya. Dari dari sedikit yang mampu mendakwahkannya, hanya sedikit yang bersabar dalam dakwahnya. Dan dari jumlah yang sudah sangat sedikit dalam bersabar di atas jalan dakwah, hanya sedikit yang benar-benar sampai ke tujuan akhirnya"
Kubisiki jiwa ini, ternyata dalam perjalanan yang sudah penuh dengan beban ini, dengan tuntutan pengorbanan yang begitu banyak, tidak satu orang pun yang nyaman dalam menempuhnya. Bahwa, mungkin pada suatu saat kita masih bersama-sama dengan teman-teman dalam perjuangan. Namun, esok harinya sudah ada orang yang berhenti atau menjauh dari barisan ini.
Lalu, kurenungi do`a yang sangat sering dibaca oleh Sang Guru : "ya Allah teguhkanlah aku di jalan dakwah-Mu ini"
Keterlibatan saya dalam proyek besar Allah ini, menyadarkan aku bahwa memang sayal-ah yang membutuhkan dakwah, bahwa saya-lah yang harus meminta kepada-Mu agar punggung ini dikuatkan dalam memikul beban dakwah ini.
Aku juga ingin seperti mereka. Orang-orang yang telah menyampaikan cahaya Islam sampai kepada kita semua hari ini. Meskipun jasad mereka telah hancur ditelan tanah, namun mereka terus menerima pahala dari seluruh amalan kebaikan yang telah mereka lakukan.
Saudaraku... mari... kita rapatkan barisan lagi...kita perkokoh lagi nilai - nilai yang mampu menguatkan hati-hati kita dijalan ini.
Oleh : Arif Atul M Dullah / Dikutip dari Buletin Al Firdaus dengan beberapa penyesuaian
“Seperti angin membadai. Kau tak melihatnya. Kau merasakannya.
Merasakan Kerjanya saat ia memindahkan pasir di tengah gurun.
Atau merangsang amuk gelombang ditengah laut lepas.
Atau meluluhlantahkan bangunan-bangunan angkuh
Di pusat kota metropolitan. Begitulah cinta.
Ia ditakdirkan kata tanpa benda.
Tak terlihat hanya terasa.
Tapi dahsyat”
( Anis Matta)
Ketika Aktivis Jatuh Cinta
Begitulah kira-kira kita menggambarkan defenisi sebuah kata ”Cinta”. Kata yang memiliki makna dalam hidup manusia. Cinta adalah anugerah Allah yang besar. Fenomena jatuh cinta adalah hal yang sangat umum di masyarakat kita, khususnya kaum muda. Mungkin kita adalah salah satu pelakunya. Hal yang mungkin muncul dalam benak kita ketika berbicara tentang aktivis dakwah adalah apa iya, para aktivis dakwah itu juga mengalami yang namanya jatuh cinta?? Atau jangan-jangan mereka lebih parah dari yang lain, orang-orang yang ada diluar aktivis dakwah??
Jatuh cinta merupakan sunatullah. Siapun ia, bisa mengalami kondisi ini. Tak terkecuali orang-orang yang kita kenal dengan nama ”Aktivis Dakwah”. Fenomena ini mungkin juga umum dikalangan aktivis dakwah. Jiwa muda yang penuh dengan gejolak dan semangat, tentu saja sangat rentan degan berbolak baliknya perasaan cinta. Memang tidak ada yang salah.
Akan tetapi, sudah seharusnya, cintanya para aktvisi bukanlah cinta buta yang tidak berdasar. Bukan pula cinta yang membabi buta seperti kehilangan akal sehat. Tetapi, cinta para aktivis seperti ruh orang-orang yang mabuk cinta dijalan Allah. Ketika aktivis jatuh cinta, jiwa dan raganya harus menjadi pengikut setia syariat. Tidak ada tempat bagi unsur-unsur yang merusak. Semuanya harus melebur ke dalam ketaatan dan keingin beramal soleh.
Seorang aktivis tatkala jatuh cinta bukanlah peniupu yang diliputi ketamakan dan kebusukan untuk mengambil kenikmatan tanpa mengikuti aturan syariat. Sebab setiap urusan para pejuang dakwa harus berbuah kebaikan. Termasuk soal cinta. Saat aktivis jatuh cinta, pada hakekatnya ia sedang jatuh cinta pada keindahan ilahiyah. Ia harus beranjak dari egoisme pembangunan unsur diri kepada manfaat bagi umat.
Jangan ada noda di antara aktivis dakwah
Jatuh cinta sebenarnya perasaan. Tempatnya sangat tersembunyi di dalam sanubari. Tatkala ia ada, seluruh anggota tubuh akan memberikan respon terhadapnya. Hingga ilmu terkadang bisa dinomor duakan. Pengetahuan akan batasan bergaul dengan lawan jenis atau bagaimana seharusnya seorang aktivis senantiasa membersihkan jiwanya terkadang tidak mampu melawa rasa cinta itu.
Jatuh cinta bagi para aktivis dakwah bukanlah perkara sederhana. Dalam konteks keimanan, jatuh cinta adalah bukti ketundukan kepada sunnah Rasulullah dan jalam meraih ridho Allah SWT serta kesiapan untuk terjun dalam medan dakwah yang lebih besar. Bukan justru membuat para aktivis berguguran di jalan dakwah. Atau membuat mereka futur.
Betapa Allah sangat memuliakan para penyeru dakwah. Olehnya tidak selayaknya mereka mengotori dakwah ini dengan setitik nila. Menghianati perjuangan ini dengan hawa nafsu sesaat. Dan tentu saja menggoreskan warna hitam dalam lembaran putih dien ini. Hingga nanti terbentuk mozaik hati yang indah, yang mampu memantulkan cahaya matahari dengan sempurna.
Berdakwah kepada lawan jenis
Ini juga merupakan fenomena yang kadang kita temukan, bahkan mungkin keluar dari lisan sang aktivis dakwah.
Universalitas dakwah islam lebih jauh lagi merupakan salah satu segi yang membedakan ajaran Rasulullah SAW, dengan ajaran nabi dan rasul sebelumnya. Termasuk dalam konteks berdakwah, tidak mengenal perbedaan antara jenis kelamin.
Allah berfirman :
”Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh yang ma`ruf dan mencegah yang mungkar...” (Q.S At Taubah – 71)
Mengomentari ayat ini Ibn An Nahhas dalam kitabnya Tanhibul Ghafilin, menegaskan bahwa penyebutan orang-orang beriman perempuan secara eksplisit dalam ayat ini mengindikasikan wajibnya hukum berdakwah bagi wanita, sebagaiman pria.
Namun dalam tataran teknis dan operasional, berdakwah pada lain jenis perlu untuk memperhatikan rambu-rambu syariatl. Sebab sudah merupakan fitrah bagi keduanya untuk saling tertarik pada lawan jenisnya. Ditambah lagi faktor hawa nafsu dan godaan syaitan yang sangat mungkin mempengaruhi nilai dakwah. Niat awal yang suci luhur bisa berubah keruh dan kotor. Dakwah yang semestinya membawa rahmat dapat berubah menjadi ajang perilaku kemunafikan.
Mengapa Rasa itu Hadir ???
Jatuh cinta adalah jalan yang dapat menggoyahkan pendirian. Ia ibarat lautan yang penuh dengan riak gelombang. Siapa saja yang mengarungi samudera cinta pasti akan dipermainkan oleh riak gelombang.
Ada beberapa alasan, yang menjadi penyebab munculnya perasaan ini dikalangan aktivis dakwah :
Mengumbar pandangan mata. Ibnul Qayyim Al Jauziah mengatakan bahwa mata adalah pintu terdekat yang dapat menjerumuskan seseorang pada kemaksiatan. Maka pandangan mata diharamkan kecuali dalam koridor syariat.
Lemahnya keimanan dan minimnya pengetahuan yang menjadikan kita menganggap biasa hal yang sebenarnya maksiat.
Mendengar perilaku melalui obrolan asyik mengenai ikhwah atau akhwat.
dikondisikan dengan lingkungan kita. Misalnya kamu cocok deh dengan ikhwa ini atau akhwat itu.
Ada banyak sarana yang menyebabkan kisah cinta itu tumbuh. Mulai dari seringnya mengadakan musyawarah hingga timbul kekaguman, simpati dan apresiasi terhadap ikhwan maupun akhwat. Atau sekedar saling mengingatkan program kerja melalui SMS. Bisa juga melalui dunia cyber atau chatting. Di sela-sela itulah seruan syaitan kemudian muncul dengan rayuan mautnya, sehinggat terseliplah pesan-pesan pribadi diantara keduanya.
Berdakwah merupakan sebaik-baiknya pekerjaan. Dakwah adalah tugas nabi dan rasul. Akan tetapi jika pekerjaan mulia itu telah ternodai oelh para pengembannya, tentu menjadi sesuatu yang ironi. Bukan saja akan mencoreng pelakunya, tetapi juga agama yang sempurna ini. Ada kasus – kalau kita tidak menyebutnya banyak- kisah kasih sesama aktivis itu dimuali dari ”strategi mengembangkan dakwah” tidak ada tendensi saat awal melakukan ekspansi dakwah. Tapi seiring dengan interaksi yang semaki intens, keberadaan penyakit ini menjadi hal yang sulit dihindari.
Penutup
Semestinya para aktivis dakwah lebih paham apa itu interaksi yang hanif dan tidak. Semestinya, kita lebih paham bahwa kita adalah manusia yang tidak bisa hanya menasehati dan menebarkan kebaikan. namun, kita luruh dari kebaikan itu sendiri.
cinta dan semua hal yang dirasakan manusia tidak bisa hanya diteorikan. Pembuktian ucapan dan keteguhan hati para aktivis dakwah ketika hati tersapa cinta adalah sebuah fase jeda untuk kembali mengingatkan orientasi hidup kita sesungguhnya. Menyelami bahwa sapaan-sapaan rasa adalah ujian maha berat yang menjadikan kita semakin memiliki izzah atau justru melunturkannya.
Jalan dakwah memang bukan jalan yang membuat kita menjadi robot atau rahib. Biarkan saja romantika itu ada dalam ekspresi-ekspresi wajar dan penuh penjagaan diri. Bukan mencari kesempatan dengan cara-cara yang sama dengan kebanyakan orang
Bagaimana mungkin, kita yang setiap saat berupaya menjaga pergaulan binaan kita, ternyata justru melakukan hal-hal yang berlawanan meskipun tidak terlihat. Memang bagaimana lagi?? Jalan ini telah kita pilih sebagai rujukan utama kita melakukan atau tidak melakukannya. Dan kemuliaan Allahlah yang mengangkat kita dari kehinaan. Sedangkan kehinaan dan kelenaan perilaku kita akan meluruhkan izzah jalan dakwah kita. Dakwah adalah jalan yang kita pilih, bukan dakwah yang membutuhkan kita. Tapi, kita yang membutuhkan jalan ini untuk semakin berbeda dalam neyikapi banyak hal termasuk CINTA