Kamis, 11 Desember 2008

Bait-Bait Ibnu Mubarak

Wahai ahli ibadah di Haramain
seandainya kau melihat kami
niscaya kamu tahu bahwa kau bermain-main dalam ibadah
siapa yang mewarnai lehernya dengan air mata
maka dada-dada kami terwarnai dengan darah-darah kami
atau siapa yang untanya letih dalam urusan kebatilan
maka unta-unta kami letih pada hari malapetaka

aroma kalian semerbak
sedangkan aroma kami debu tanah keras dan debu yang paling wangi

ucapan nabi telah sampai kepada kami
sebuah ucapan yang benar dan tidak ada dusta
tidaklah sama debu kuda-kuda Allah
dihidung seseorang dan asap neraka yang bergolak
inilah kitab Allah yang berbicara di antara kita
sang syahid tidak mati, itu tidak dusta
readmore »»ǴǴ

Mobilisasi

Berbicara tentang kelompok, group atau organisasi, gerakan mahasiswa, lembaga, maka aspek kuantitas dan kualitas adalah dua hal yang tidak terpisah. Aspek kuantitas menunjuk kepada jumlah dan aspek kualitas menunjuk kepada kapasitas individu/kelompok yang dalam sebuah gerakan/organisasi. Kedua aspek inilah yang bisa kita jadikan sebagai ukuran sebuah organisasi tentang seberapa besarkah organisasi itu, atau seberapa kuatkah organisasi itu dalam memainkan peran-perannya.

Kalau kita pernah membaca siroh nabawiyah, misalnya dalam riwayat disebutkan tentang ukuran yang dimaksud. Pada perang Badar, jumlah yang disebutkan ternyata hanya sekitar 300-an orang. Demikian juga dalam perang lainnya. Yang disebutkan tersebut ternyata adalah jumlah orang ikut dalam peperangan saja. Atau juga misalnya Nabi Ibrahim a.s. yang di dalam Al Qur`an disebut setara dengan sekelompok umat. Atau misalnya tiga orang sahabat yang diutus oleh Amirul Mukminin sebagai utusan dalam sebuah peperangan. Dan jumlah 3 orang ini disetarakan dengan 3000 orang. Atau juga misalnya ditempat lain bahwa 1 orang sahabat mukmin dalam peperangan dapat mengalahkan sepuluh orang kafir, dst.

Dari gambaran diatas kita bisa mulai merangkum satu hal, bahwa umat itu ditentukan pada kemampuan mobilisasinya.

Dalam realitas kondisi kita hari ini misalnya, ada beberapa ormas Islam di Indonesia yang menyebutkan bahwa kadernya jutaan orang. tapi berapa banyak yang bisa mereka mobilisasi pada setiap agenda? ternyata tidak banyak. Maka kita menyebut bahwa jumlah kader yang mereka maksud ternyata hanyalah klaim, bukan begitu kenyataannya dilapangan

Jadi sesungguhnya ukuran kekuatan sebuah gerakan itu ditentukan oleh kemampuannya untuk memobilisasi kader-kadernya dalam setiap agendanya. Bukan klaim.

Sehingga perlu adannya evaluasi yang lebih baik, tentang jumlah kader suatu organisasi, tentang kualitas yang dimiliki oleh suatu organisasi.
readmore »»ǴǴ

Selasa, 09 Desember 2008

Sepenggal Kalimat Untuk dan Dari Saudara-Saudaraku

"Banyak Sudah putera-puteri terbaik dakwah, yang telah hilang
tak tercatat oleh sejarah. Jangan khianati jejak langkah mereka dengan
menerlantarkan haraqah ini. Hendaknya kita tetap beristiqomah walaupun
kita berhadapan dengan berbagai macam gangguan. Walaupun kebatilan senantiasa
mengancam, menakut-nakuti atau menggertak, sebab kita mempunyai contoh teladan terbaik
yaitu Rasulullah dan Sahabanya"

"Ladang Dakwah terhampar luas, kewajiban kita menyirami tanah-tanah tandus,
menyemai benih-benih unggul, agar tumbuh pohon-pohon kejayaan islam.
Dakwah ini akan terus mengali menuju ridho ilahi. Jangan bersedih
Dimanapun kita berada..disitulah dakwah kita sebarkan. Semoga segala keadaan
mampu kita jadikan sebagai sarana pematangan diri menuju ridho ilahi"

"Segala kondisi dalam perjalanan ini, adalah saran untuk proses pematangan diri kita.
Kita pernah merasakan, bahwa teman-teman dalam dakwah ini sepertinya, sudah tidak
lagi memiliki loyalitas terhadap dakwah. Maka ketika itu, saya mencari dan belajar kepada "orang-orang kuat". Kemudian mengertilah saya, bahwa yang akan bisa bertahan didalam dakwah hanyalah orang - orang kuat. sedangkan orang-orang lemah akan berguguran"

"Kedewasaan adalah seseorang yang menjadi kuat, bangkit dari keterpurukan, karena sesuatu
hal yang menyedihkan, dan menyengsarakan hidup"

"Bekal kita bukanlah jabatan atau harta, tapi ilmu dan amal. Baju yang kita pakai bukan merk
ternama, tapi kain kafan. Yang melayani kita bukan pramugari, tapi munkar dan nakir. Pendaratan kita bukanlah bandara tapi kuburan. Pasport kita buka Indonesian tapi Muslim.
Ingat!!! cita kita hanya satu : "hidup mulia atau mati syahid"

"Tiap detik waktu yang kita lalui di lorong waktu kehidupan ini adalah jejak-jejak yang
akan kita pertanggungjawabkan dihadapan Allah. Setiap sisi ruang dan waktu
merupakan implementasi ibadah. sebab hanya dalam kerangka itu semua, semua gerak, memperoleh makna hakiki di hadapan Allah"
readmore »»ǴǴ

Jalan Sunyi Para Perindu Syurga

Pilihan jalan hidup begitu banyak....ada godaan harta, ada godaan perhiasan, ada godaan wanita,

Telah kususuri hampir sepertiga perjalanan hidupku. Dan telah kudapati begitu banyak hikmah dan pelajaran. Mengajarkan aku tentang arti hidup, arti perjuangan, arti kedewasaan, arti tentang hakekat aku ada di sini hari ini.

Di jalan sunyi ini..ku susuri lorong-lorong kehidupan, menapaki jalan menuju syurga. Jalan yang penuh dengan duri, jalan yang jauh dari semerbak harum bunga. Sesekali, kulewati persimpangan, jalan menggoda aku untuk berpaling, menjauh dari jalan ini..menggoda aku untuk terjatuh dan turun kebumi, menguji iman yang terus terkikis disepanjang jalan ini

Jalan Sunyi para perindu syurga Jalan yang selalu aku rindukan. Meski sunyi, meski sepi, bahkan kadang harus sendiri. Perjalanan yang telah mencabut rasa ngantuk dari pelupuk mata. Jalan yang hampir saja dan mungkin kelak akan merubuhkan jasad ini.

Ditengah keletihan ini...kembali kurenungi tentang hakekat perjalanan ini jalan yang tidak banyak yang menempuhnya jalan yang telah menyeleksi banyak saudara-saudara seperjalan kemudian. mereka tersisih, jauh...terhempas...mungkin tak akan tak akan lagi menemukan jalan ini.

Aku segera bangkit...lalu ku ayun lagi langkah ini. Dan ku teriakan kepada nurani...hei.....bangkit, disini bukan tempatmu berhenti...beristrahat....berjalanlah terus....istrahatmu adalah ketika engkau telah menginjakan kakimu di depan pintu syurga-Nya
readmore »»ǴǴ

Rabu, 03 Desember 2008

Refleksi Siroh - Ikhlas : Nilai Inti Perjuangan

"Dakwah ini akan berjalan terus,
sebagai mana titipan mengagungkan Allah akan tetap Allah pilihkan orang. Tugas-tugas dakwah ini mendidik kita dalam waktu yang panjang, untuk tidak mengukur diri kita pada gelar-gelar yang dberikan, tapi pada seberapa besar kita mengambil peran-peran dakwah ini, dimanapun kita berada, dan keikhlasan ini akan teruji dengan pengambilan tugas-tugas dakwah yang berkelanjutan"
(Mujetaba Mustafa)

Pada masa sepuluh tahun kenabian, Rasulullah SAW di tinggal oleh dua pendukung dakwahnya yaitu wafatnya Khadijah r.a dan Abu Thalib, paman Rasulullah. Dalam kondisi ini tekanan yang dilakukan oleh kaum kafir Quraisy semakin berat dirasakan oleh Rasulullah. Sehingga hirjah pun terpaksa dilakukan oleh Rasulullah bersama sahabat-sahabatnya.

Hijrah itu pun terjadi. Rasulullah melakukan hijrah pertamanya ke Thaif. Dalam hijrahnya tersebut Rasulullah membawa serta Zaid bin Haritsah. Dalam riwayat disebutkan bahwa upaya tersebut dilakukan juga dalam rangka ekspansi dakwah. Rasulullah senantiasa menyeru kepada setiap kabilah yang ditemuinya di jalan. Namun tidak satupun yang tertarik. Meskipun dengan seluruh kelembutan, seluruh sikap baik yang ditunjukan untuk diseru kepada Islam. Bahkan disebutkan tidak satupun lagi orang atau tokoh di Thaif yang tidak didatangi oleh Rasulullah, namun tidak satupun dari mereka yang mendapat hidayah itu. Bahkan Rasulullah dilempari dengan batu sampai bersimbah darah.

Zaid bin Haritsa senantiasa melindungi Rasulullah dari lemparan batu orang-orang Thaif. Sampai mereka keluar dari kota dan bersembunyi di Kebun Kurma. Disitu ada binaan, ada Murobbi, ada tugas dakwah. dan pemahaman qiayadah wal jundiyah. Yang semua tercatat sebagai sejarah Rasulullah menyebarkan dakwah di luar kota Mekkah

Kalau kita berbicara tentang keikhlasan, maka kita akan bertanya: Zaid akan mendapatkan apa dan Apakah ketika ia memberikan perlindungan kepada Rasulullah akan ada jaminan bahwa tidak ada yang bisa yang menjamin bahwa batu yang datang itu batu-batu kecil semuanya, Zaid tahu bahwa mungkin akan ada batu besar tapi ia berhenti memberikan perlindungan kepada Rasulullah.

Baik Murobbi maupun Mutarabbi, menghadapi beban dakwah yang begitu berat, mereka tidak mempermasalahkan beratnya, tidak mempersoalkan kesulitan yang dihadapi, tidak mempersoalkan luka yang mereka derita. Tapi, yang Rasulullah dan Zaid bin Haritsah khawatirkan adalah jangan-jangan usaha yang mereka lakukan itu, pilihan mereka lari dari lemparan itu salah. Jangan-jangan perlindungan yang dilakukan oleh Zaid itu tidak cukup memenuhi tugasnya sebagai jundiyah dan tidak cukup untuk menunjukan ketaatan terhadap tanggung jawab yang dipikulnya. Sehingga tidak mendatangkan ridho Allah tapi sebaliknya mendatangkan murka-Nya

Sehingga ketika Rasulullah tiba di kebun kurma, beliau menengadahkan tangannya dan berdoa:

"Ya Allah kepada-Mu saya keluhkan lemahnya kekuatanku, lemahnya strategi yang saya buat, Ketidakberdayaanku menujukan Izzah dihadapan manusia, Ya Arhamarrahimin, Engkau adalah Tuhan orang-orang lemah, dan Engkau adalah Tuhanku, Kepada siapapun Engkau akan perhadapkan saya, Kepada pihak yang akan menghinakan saya, atau kepada musuh yang akan Engkau serahkan urusan saya kepadanya, saya tidak peduli, asalkan Engkau tidak murka kepadaku ya Allah"

Jadi yang dikhawatirkan Rasulullah dalam menghadapi beban dakwah yang begitu berat, bukan beranya beban itu, bukan luka yang dialaminya, tapi jangan sampai pilihannya itu salah, strategi yang dibuat lah yang salah.Semua kalimat ini tidak mungkin keluar dari lisan yang memahami teori keikhlasan, kecuali terjelma dari implementasi keihklasan yang sudah keluar dari defenisi-defenisi kebahasaan.
readmore »»ǴǴ