Rabu, 07 Januari 2009

Kisah Cinta Para Pahlawan

Oleh : Arif Atul Mahmudah


Ini kisah tentang cinta.

Dalam bingkai hidup pahlawan. Kita kagum kepada mereka. Kita memang kagum kepada mereka. Karena mereka pahlawan. Hadir dalam panggung sejarah. Memberi tanpa henti. Kontribusi yang tak pernah henti. Melakukan pekerjaan besar ditengah situasi yang begitu sulit. Ketika tak seorang pun peduli. Karena memang mereka memiliki sisi kehidupan yang luar biasa. Dalam kaca mata manusia biasa. Merekalah adalah manusia yang telah melakukan kerja besar. Terhimpun dalam pribadinya banyak sisi yang agung dan kita kagumi.


Tapi, satu sisi yang sering dan mungkin juga tidak pernah dipedulikan. Satu sisi kepribadian, dalam pribadi agung pahlawan. Itulah sisi cinta. Cinta yang begitu agung. Cinta kepada misi besarnya. Cinta kepada semangat kontribusi tanpa henti. Cinta kepada kerja keras sampai kerja dan misinya tuntas. Dalam semua bingkai pribadi pahlawan yang pernah tampil dalam panggung sejarah, mereka telah mengukir prestasi agung, karya yang tidak dikerjakan oleh manusia biasa.


Tapi ada satu sisi dari sekian banyak sisi cinta dalam pribadinya. Cinta pada wanita. Mereka, para pahlawan. Dalam mengukir karya besar dalam mozaik sejarah peradaban. Ternyata para pahlawan juga menghadapi satu situasi jiwa ini. Ternyata mereka memiliki sisi ini. Tapi ini fitrahnya. Dari sana memang mereka diciptakan. Dari perpaduan dua cinta, laki-laki dan perempuan.. Sisi inilah yang kadang menjebak pahlawan. Ditengah luka-luka dalam perjuangan mereka. Cinta Wanita. Untuk kembali turun kebumi. Berhenti memyelesaikan karya agung yang sedang ia kerjakan. Itulah godaannya. Tapi, pahlawan mukmin sejati, tetap bisa bertahan dalam situasi ini. Itu memang fitrah, tapi mereka selalu berkata “ ini ujian bagi pahlawan.”


Ada hal yang memang tidak diketahui oleh para pemuja pahlawan. Sisi ini, cinta pada wanita. Hal agung yang tidak di ketahui para pengagum. Mereka, pra pahlawan mukmin sejati selalu mampu bertahan dari godaan ini, bahkan dalam benturan kejiwaan yang begitu lama oleh syahwat ini. Melawan semua jenak-jenak jiwa yang terusik oleh syahwat. Menepis semua bisikan untuk jatuh kedalam cinta yang rapuh ini Karena itulah, para pahlawan mukmin sejati adalah para pecinta sejati dalam bingkai cinta agung kepada Sang Pencipta.


Mereka juga memiliki semangat mencinta yang agung. Semangat kontribusi dalam bingkai cinta misi, kata Anis Matta. Itulah sebabnya para pahlawan mukmin sejati, selalu memiliki semangat besar untuk terus memberi, memberi apa yang mereka miliki. Karena mereka memang kaya. Kaya akan cinta. Kaya akan perhatian. Untuk terus memberi dalam situasi apapun. Itulah mereka, para pahlawan itu. Tidak peduli seberapa banyak cinta yang mereka terima sebagai balasan. Yang pasti, mereka akan terus memberi.


Mereka, para pahlawan. adalah pecinta sejati. Bukan Romeo dan Juliet. Bukan Rama dan Shinta. Atau kisah Laila Majnun. Tapi merekalah yang terus menghiasi bumi ini dengan cinta. Memberikannya kedamaian. Bahkan ketika mereka telah kembali kepangkuan Sang Pencinta Sejati. Ruh cinta mereka masih terasa segar di bumi. Dalam alam manusia. Karena memang cinta mereka abadi. Terus mengiringi dan menaungi para pecinta setelah mereka. Para pahlawan setelah mereka. Karena itulah mereka selalu dikenang. Meskipun jasad pahlawan tak lagi berbentuk.

readmore »»วดวด

Senin, 29 Desember 2008

Menuju Jama`atul Muslimin

Bagian III Rambu-rambu Sirah Nabi SAW

dalam menegakkan Jamaah

1. Rambu I : Menyebarkan Prinsip – Prinsip Dakwah


a. Kontak Pribadi (Ittishal Fardhi)

Dilakukan oleh Nabi SAW pada fase dakwah sirriyah. Tujuannya agar dakwah tidak “dipukul”. Penyebaran Dakwah dengan model ini dilakukan dalam dua keadaan : pada permulaan dakwah dan penegakan jamaah & pada saat pemerintah berkuasa melarang aktivitas dakwah secara terang-terangan. Contoh : Siti Khadijah dan Ali bin Abi Thalib


b. Kontak Umum (Ittishal Jama`i)

Dilakukan pada fase dakwah jahirriyah. Dengan pemanfaatan sarana-sarana (media massa) untuk menyampaikan dakwah : mengumpulkan manusia dalam suatu jamuan makan dirumahnya, mengumpulkan manusia dalam berbagai tempat, pergi ketempat-tempat pertemuan manusia, pergi keberbagai Negara untuk menyampaikan dakwah, mengirimkan surat kepada para Raja atau kepala Suku/Kabilah. Contoh Rasulullah mengumpulkan bani Abdul Muthalib, Dakwah ke Tha`if. dll


2. Rambu II : Pembentukan Dakwah


Merupakan tahap lanjutan dari rambu pertama. Orang yang menerima dakwah pada fase pertama masuk dalam fase ini (fase takwin) yaitu tarbiyah dan ta`lim. Sedangkan yang tidak menerima, hubungan dakwah dengan kelompok ini bersifat tabligh dan indzar (pemberian peringatan). Takwin ini dilakukan pada fase dakwah Sirriyah dan `Alaniyah


a. Takwin dalam tahapan Sirriyah

Orang yang menerima dakwah pada tahapan Ittishal Fardhi dibagi dalam kelompok kecil 3-5 orang untuk ditakwin. Contoh : Rasulullah menyembunyikan shalat mereka dilorong-lorong Makkah. Kisah masuk islammya Umar (adik dan iparnya yang didapatinya pada satu tempat)

b. Takwin dalam tahapan `alaniyah

Takwin ini dilakukan untuk dakwah yang bersifat ittishal `am. Beberapa cara yang ditempuh Rasulullah :

1) Membuat Halaqah Jama`iyah yang besar (Rumah Al Arqam bin Abil Arqam)

2) Mengadakah Rihlah Jama`iyah (Hijrah ke Habasyah pertama dan kedua)

3) Mengkondisikan situasi umum terhadap dakwah melalui khutbah dan ceramah umum


3. Rambu III : Konfrontasi Bersenjata Terhadap Musuh


Kelompok yang tidak menerima dakwah (setelah diberi peringatan), maka konfrontasi bersenjata terhadap para penentang dakwah. Untuk mempertahan kelompok yang di takwin.

Menghadapi penentang dakwah dalam dua periode :

Diawali dari kenabian sampai hijrah dan Sejak Rasulullah menetap di Madinah hingga wafat

Syiar pada periode ini untuk menjauhi medan perlawanan, menghindari permusuhan, melakukan pembentukan kader dakwah, sikap berdamai tidak melakukan permusuhan. Watak ini bukan watak asli jama`ah islam (Asy syura : 39) sebab ini adalah tuntutan takwiniyah. Dakwah yang tidak memenuhi sifat ini pada fase takwiniah akan dapat dipastikan mati pada usia muda.

Konfrontasi merupakan kewenangan khusus pemimpin jama`ah. Beberapa aspek perhatian :

a. Independensi bumi tempat tegaknya jama`ah. Jama`ah harus berkuasa penuh terhadap bumi tempat berpijak dan melancarkan aktivitasnya.

b. Jumlah yang memadai. Q.S Al Anfal 65-66, Isyarat lainnya misalnya jumlah pasukan pada perang Badar.

4. Rambu IV : Sirriyah dalam Kerja Membina Jama`ah


a. Sirriyah dalam kerja membina jamaah adalah membatasi pengetahuan program kerja pada lingkungan pemimpin. Setiap individu tidak boleh mengetahui tugas anggota lain.

Banyak da`i yang keliru memahami sirriya dalam kerja membina jama`ah ini. Pertama, bahwa ajaran islam harus disebarluaskan sebagai sesuatu yang harus dirahasiakan. Kedua, “mengobral”segala sesuatu disetiap tempat dan kepada siapa saja.

Sirriyah merupakan kotak tempat menyimpan program amal jamai dan tirai yang menutupi dan melindungi program tersebut. Sirriyah merupakan kunci keamanan yang akan melindungi amal jamai dari intaian mata-mata mush yang senantiasa mengawasinya.


5. Rambu V : Bersabar Atas Gangguan Musuh


Kesabaran merupakan factor penting, disamping merupakan sunnah Ilahiyah untuk melindungi jama`ah pada tahapan pembentukannya (al-Muzzammil : 10 dan al Muddatstsir : 7) Contoh : Dakwah Rasulullah ke Tha`if


6. Rambu VI : Menghindari Medan Pertempuran


Fikrah ini merupakan sikap yang diwajibkan Islam dan ditutut oleh keadaan jamaah pada tahapannya yang masih awal. Hijrah adalah factor yang dapat memelihara Jama`ah dan pelaksanaan ibadah kepada Allah.

Pemberian pertolongan kepada orang islam yang ada didaerah kafir harus dikaitkan dengan hijrahnya harus memperhatikan dua hal. Pertama, ketidakberdayaannya melawan tekanan kekuatan kaum kafir pada tahapan takwiniyah. Kedua, keberadaannya dalam jamaah akan menambah kekuatan Jama`ah ( Q.S Al Anfal : 72) dan an Nisa : 97.

Menjauhkan orang-orang yang telah menerima dakwah, dari tekanan penguasa zalim, kesuatu bumi yang dapat memberikan keamanan bagi jiwa dan dakwah adalah hal wajib.





Faktor yang dapat menjamin keberlangsungan proses pembinaan jamaah.

a.

Sirriyah dalam gerak pembinaan jama`ahb. Bersabar atas segala kesulitan

c. Menghindari konfrontasi melawan kebatilan dalam dua tahapan awal : penyebaran dan takwin

Bagian IV

Tabiat Jalan Menuju Jama`atul Muslimin

1. Tabiat Jalan Menuju Jama`atul Muslimin

Jalan ujian dan cobaan, berat dan bahkan sangat berat oleh jiwa manusia. Tetapi, orang yang bersabar atas tabiat ini akan sampai kesurga yang luasnya seluas langit dan bumi. Sabda Rasulullah “surga itu dikelilingi oleh berbagai hal yang tidak disukai”. Disepanjang trotar jalan ini Rasulullah melihat penjara-penjara dan tempat-tempat tahanan. Disetiap persimpangan jalan ini pula Rasulullah yang mulia melihat rekan-rekannya digergaji tubuhnya menjadi dua, melihat mereka yang disikat dagingnya dengan sikat besi, melihat parit berisi api yang membakar tubuh kaum mukminin, melihat mereka digantung, diborgol dan di injak-injak. (di jelaskan juga dalam al Baqarah : 214, Ali Imran : 142, At Taubah : 16, dan al Ankabut : 2-3).

Di ujung jalan ini Rasulah menyaksikan hasil perjuangan dan kesudahan para tiran dan orang-orang yang menolak Islam. Mereka diseret ke neraka jahanam tempat tinggal terburuk. Pemandangan yang mengerikan itu diberitakan kepada mukmin agar mereka menjadi lega dan puas lantaran mengetahui kesudahan para musuhnya.

Rasulullah mendapati sisi lain tabiat jalan kaum Muslimin ini-jalan kemenangan dan kekuasaan. Jalan yang penuh limpahan nikmat berupa harta, keluarga dan pengikut. Sisi inilah yang justru sangat dikhawatirkan bahayanya atas kaum Muslimin. Sisi inilah yang menyebabkan kaum Muslimin sulit untuk bergerak dan lebih tertarik kepada aspek duniawi sehingga mereka berjatuhan ditengah perjalana.

a. Macam – macam tabiat jalan ( Q.S al anbiya : 35)

Sayyid Quthb membaginya : Penganiayaan dari pelaku kebatilan tanpa pertolongan, fitnah yang menimpa keluarga padahan mereka memintanya berdamai dan menyerah demi cinta dan keselamatan, pemihakan dunia pada orang yang menolak kebenaran sementara orang beriman tak ada yang membelanya, keasingan ditengah lingkungan karean aqidah, Mendapati bangsa-bangsa maksiat tetapi mereka makmur, fitnah popularitas, fitnah lambatnya kemenangan dan panjangnya perjalan, fitnah kebanggaan diri setelah tercapainya kemenangan.

b. Tujuan Tabiat ini

sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada dibumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya” (al Kahfi ; 7) dan dalil lainya al Mulk :2, ar-Rum : 41, al A`raf : 56

Tujuan tabiat jalan ini adalah untuk membentuk manusia yang baik melalui perbuatannya, agar pergerakan manusia dibumi juga menjadi baik.

Contoh : Kisah Thalut bersama kaum elit Bani Israel (Al Baqarah 246-251)

Thalut mengadakan seleksi pasukannya, siapa yang tepat untuk memasuki pertempuran. Untuk menyingkirkan orang-orang yang lemah dalam semangat dari barisan kaum Mukminin yang memiliki kesabaran dan dan kekuatan yang mampu mengalahkan segala kekuatannya dibumi. Akhirnya akhir pertempuran dapat diselesaikan oleh satu orang yang memiliki kualitas terbaik “…dan (dalam pertempuran itu) Daud membunuh Jalut ( al Baqarah : 251)

2. Contoh-Contoh Tabiat Jalan

a. Contoh – Contoh sebelum Kenabian

1. Kisah kedua anak Adam a.s ( Habil dan Qabil). Suatu gambaran kebenaran yang dilenyapkan diatas bumi untuk sekali lagi kembali ke surga dengan memperoleh kemenangan.. Mengajarkan kita bahwa panjang jalan ini sepanjang jarak antara bumi dan surga, tatapi waktu yang diperlukan hanyalah beberapa detik pencabutan nyawa.

2. Kisah Habib an Najjr (Yasin : 25-27). Mengajarkan kita bahwa waktu yang dibtuhkan untuk sampai kesyurga hanyalah detik-detik waktu antara pengucapan “Dengarkanlah aku” dan kata sambutan “dikatakan” yang disebutkan dalam ayat ini. Menjadi pelajaran generasi demi generasi dan contoh abadi bagi jalan ini

3. Kisah Ashhabul ukhdud ( Al Buruj : 1-9)

Kisahnya berakhir dengan dibinasakannya seluruh orang-orang mukmin dalam sebuah parit api yang membakar jasad mereka. Tidak ada kemenangan dalam cermin realitas. Tapi, Inilah pelajarannya. Bahwa nilai terbesar dalam timbangan Ilahi adalah nilai aqidah dan kemenangan ruh atas materi (jasad). Mereka bisa menyelematkan diri dengan mengorbankan keimanan, tapi berapa besar nilai kehidupan dibadingkan harga keimanan?. Juga, bahwa dalam pertarungan kebenaran dan kebatilan kadang berkahir dengan berakhir dengan pemusnahan kaum mukminin dan dibiarkannya kaum pendusta. Kita diajarkan lagi, bahwa kadang kita harus menghadapi akhir perjalanannya seperti Ashhabul ukhdud (buka sejarah Ikhwanul Muslimin di Mesir)

b. Contoh di masa kenabian

1. Gangguan kepada Rasulullah. Sesungguhnya pengejaran terhadap Muhammad SAW dan pelemparan atasnya dengan batu hingga melukai tumit dan dahi dan menciderai kepalanya yang mulia, merupakan factor terbaik untuk mendorong orang-orang yang meniti jalan ini bahwa dakwah harus terus melaju kedepan. Sangat menakutkan gangguan yang ia alami, manusia paling mulia. Tapi Rasulullah menanggungnya agar menjadi balsam penyejuk bagi orang-orang yang kehormatnnya dinodai di jalan dakwah ini

(Lihat ; Shad : 4, Al Anfal : 30, Al Qamar : 25)

Bujukan Kaum Musyrikin kepada Rasulullah SAW. Lihat Al Isra : 73

2. Gangguan Kaum Musyrikin kepada para Sahabat

Kisah Penyiksaan keluarga Yasir, Kisah Umar bin Khatab, Kisah Masuk Islamnya Abu Bakar. Dst

Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasulnya kepada kita. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan kedudukan. ( Al Ahzab : 22)

c. Mengingatkan sebagian yang sudah hilang dan sedang terjadi

· Pembantaian di Turkistan, 26 juta kaum Muslimin di bantai dengan biadab dan kejam

· Di India, 50 ribu orang dibantai dalam perjalan ke pengungsian

· Partai Masyumi yang dibunuh dan dipenjarakan para tokonya

· Jama`at Islami di India, Abu A`la al Maududi dihukum mati

· Ikhwanul Muslimin, para tokohnya dihukum mati dan harta kekayaannya dirampas

· Pulau Aba di Sudan berikut seluruh penduduknya dihancurkan dan dibunuh dalam sehari

readmore »»วดวด

Kamis, 25 Desember 2008

Islam dan Kekuasaan

Islam dan Kekuasaan adalah dua yang sangat sensitif ketika ingin berbicara tentang apa arti kekuasaan dalam islam. Sebab yang selama ini mengisi kepala dan otak umat manusia bahkan mungkin dikalangan umat islam sendiri atau bahkan dikalangan aktivis pergerakan islam sendiri bahwa islam telah cukup ketika kita telah soleh (soleh secara pribadi) -akibat dari proses sekulerisasi yang selama ini telah mengisi kepala kaum muslimin- tanpa peduli dengan sunnah-sunnah Rasulullah SAW tentang bagaimana ia memimpin, bagaimana nilai sebuah kekuasaan bagi dakwah.

Kita merefleksi sedikit kepada sejarah perjalan dakwah Rasulullah SAW. Kita mengenal bahwa fase dakwah Rasulullah, oleh para ulama membaginya menjadi dua : Fase Makkiyah (13 tahun) dan fase Madaniah (10 tahun). Pada fase Makkiyah, kita memahami bahwa dakwah Rasulullah hanya diimani oleh sekitar 40 orang sahabat. Dan jumlah inilah yang kelak akan menjadi pembangun struktur utama dakwah islam, seperti Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali. Inilah inti bangunan dakwah Islam dizaman Rasulullah. Tapi ada perubahan besar, setelah fase dakwah Madanniyah, jumlah pengikut Rasulullah seperti yang dicatat oleh sejarawan ada sekitar 100-125 ribu orang (jumlah ini diambil dari jumlah sahabat yang ikut bersama Rasulullah pada haji Wada). Kalau kita melihat mengapa ada perubahan signifikan dari dakwahnya, salah satunya karena Rasulullah pada fase madinah menjadi kepala negara (kekuasaan)

Dalam sistem siyasah "politik" islam kekuasaan bukanlah tujuan akhir, tapi kekuasaan adalah sarana paling efektif untuk menyebarkan dan mengembangkan dakwah serta memberikan kesejahteraan bagi semua umat manusia. Secara umum kita bisa mengatakan bahwa tidak ada islam tanpa kekuasaan dan tidak ada kekuasaan tanpa islam. Terlalu banyak aturan syariat yang tidak bisa diterapkan kecuali adanya sebuah kekuasaan. Kekuasaan, wadahnya adalah negara. Kalau kita membaca sejarah ideologi-ideologi yang pernah mengisi panggung sejarah dunia, maka kita akan menemukan bahwa ideologi apapun, baik itu kapitalisme, komunisme, dsb, pada dasarnya menjadikan negara (kekuasaan) sebagai instrumen untuk mewujudkan dan melaksanakan semua nilai-nilai ideologi itu. Karena, sarana inilah yang paling efektif untuk itu.

Lalu, bagaimana dengan Islam?. Setelah kita memahami hakekat keberagamaan kita dengan baik, atau kita memahami makna syumuliatul Islam (kesempurnaan sistem islam). Siapapun dia, dari gerakan Islam manapun, harus memahami hakekat kekuasan (negara), sebagai alat untuk mengajak manusia memahami dan menerapkan Islam.

Tentang hakekat dakwah yaitu mengajak manusia kedalam islam. Misalnya kita memahami ayat yang menyebutkan bahwa laa ikraahafiddin "tidak ada paksaan dalam agama'. Memang demikian adanya ketika kita berdakwah mengajak manusia untuk berislam dengan baik-khusus muslim ada kewajiban yang memang harus dilaksanakan sebagai konsekuensi keberislamannya- Secara Khusus, termasuk orang-orang diluar Islam, kita tidak boleh dan bahkan Allah melarang kita memaksakan orang untuk masuk kepada Islam.

Tapi, Allah SWT juga menjelaskan didalam Al Qur!an "Alladzi arsalah rasulullahu bil huda wadiinil haq liyushirahu aladdini kulih, walau karihal kaafirun". Adalah sebuah isyarat bahwa kita memang tidak boleh memaksakan orang di luar Islam untuk masuk Islam, tapi yang harus dilakukan adalah memaksa orang di luar Islam untuk mau diatur oleh Islam dan menjadikan sebagai aturan hidup mereka -sekali lagi bukan masuk islam- agar Islam sebagai rahmatalillalamin bisa terwujud. Dan hal ini hanya bisa dilakukan dengan kekuatan kekuasaan dan instrumennya adalah negara. Inilah juga yang dilakukan oleh para Sahabat Rasulullah dan kekhalifan setelahnya. Misalnya tentang sejarah ekspansi dakwah yang dilakukan kenegeri-negeri yang pemimpinnya masih kafir. Ketika penaklukan hendak dilakukan atau bahkan sudah dilakukan, mereka hanya diberikan dua pilihan - mau masuk Islam atau menerima Islam sebagai ideologi yang akan mengatur hidup mereka (sekali lagi catat, bukan mengubah keyakinan mereka) denga membayar fidyah.

Ini sejarah, dan inilah realitas yang terjadi. Maka dakwah tidak cukup dengan hanya menghabiskan waktu dimasjid, mengkaji dan membahas sunnah Rasullah dalam shalat, puasa dan sebagainya, tetapi lupa untuk mengkaji bagaimana cara Rasulullah memimpin dan memperluas ekspansi dakwahnya. Allahu alam bisawab

readmore »»วดวด

Minggu, 21 Desember 2008

Blog...Bukan Ajang Curhat, Bukan Ajang Coba-coba

Maaf, Tulisannya Kurang Jelas, Habis lagi bingun mau tulis apa. Tapi saya pikir bisa kita terjemahkan sendiri
(kata yang perlu kita terjemahkan banyak sih di tulisan ini, tapi....yang paling penting adalah masalah "perasaan, ucapan terimakasih karena telah menasehati...dan lain-lain termasuk yang tidak ada didalam tulisan ini


Blog, yah...memang akhir-akhir telah menjadi trend dikalangan umum, bahkan bagi aktivis dakwah katanya. Orang yang baru 'anak kemarin" tau apa itu internet saja pasti tau apa itu blog. Blog memang menjadi tempat setiap orang bebas untuk menuang idenya. Fungsi dan Peran Blog juga semakin menjadi luas. kalau dulunya blog hanya menjadi media untuk menulis dan mempublikasikannya kini telah menjadi sarana tempat "mempromosikan" jati diri, tempat "curhat" (kan harusnya Allah tempat curhatnya) dan lain sebagainya....


Pengalaman...maaf kalo ada yang tersinggung...sesekali ketika mencoba "melirik blog orang yang ada di link" yah, peran blog ternyata telah berubah. kalau kita membaca isi pesan yang ada di kotak tamu... sangat bervariasi. Mulai dari teman satu organisasi, orang lain (gak tau siapa, karena IDnya juga tak pernah disebutkan), atau mungkin juga orang yang cuma sekedar numpang iseng nulis-nulis dikotak tamu.

Namun, ada hal yang sangat lucu atau miris ya. Ini pesan buat kita semua, yah terlebih saya. Misalnya nih, ada tuh blogger kalau melihat kota pesannya-blog nya ikhwan Anu (itu tuh sebutan untuk laki-laki aktivis dakwah) , full dengan pesan eh...ternyata dari akhwat itu " Terimakasih ya akhi atas pesannya,atas nasehatnya" atau bahkah.....(sensor) dan lain-lainnya.

Fenomena ini menjadi hal yang harus kita perhatikan dan kita sadari. Adalah sebuah hal yang pasti ketika menyebut diri kita sebagai aktivis dakwah, maka segala hal yang bisa menjadi sarana untuk mengantar kita kepada "perasaan-perasaan" yang tidak seharusnya diungkapkan apalagi dipublikasikan untuk kita hindari semuanya. Mungkin memang niat awal kita tidak demikian, namun satu hal yang harus selalu kita ingat bahwa godaan itu adalah hal yang sangat mungkin menjebak kita kepada jurang yang seharusnya kita hindari. Ikhwa, jalan ini menjadi jalan yang telah kita pilih. Jalan dakwah telah menjadi jalan kita menuju Allah. Maka mari kita menjaga diri dari hal-hal yang bisa mengantarkan kita pada murka Allah.


readmore »»วดวด

Peringatan Hari Intifada

Surat untuk Palestina

( dari Puisi Surat Untuk Osama/Anis Matta)

Palestina….kamulah yang mengajar bangsa-bangsa yang bisu

untuk bisa bicara…, maka mereka berteriak

kamulah yang menanam bibit keberanian

diladang jiwa orang-orang…. pengecut,

maka mereka melawan

kamulah yang menebar nikmat kemerdekaan….

direlung kalbu orang-orang tertindas,

maka mereka berjuang

kamulah yang mengobarkan harapan ….

direlung hati orang-orang terjajah

maka mereka memberontak

Palestina…

kamulah yang mengunci mulut bangsa-bangsa adidaya

supaya mereka…. terdiam

maka mereka hanya bisa mengamuk

kamulah yang meruntuhkan keangkuhan

dari jidat bangsa-bangsa arogan

maka mereka… terbungkam

kamulah yang merampas rasa aman

dari jiwa bangsa-bangsa tiran

maka mereka tak pernah bisa…. tidur nyenyak

kamulah yang merebut selera hidup

dari langit hati bangsa-bangsa…. makmur itu

maka mereka tak lagi menikmati hidup

Palestina …oh Palestina….

mari kita nyanyikan lagu kemenangan

bersama anak anak manusia yang telah menemukan kehidupannya

Palestina ….oh Palestina mari kita senandungkan nasyid keabadaian

bersama nurani anak-anak manusia yang merindukan taman syorga

readmore »»วดวด