Dakwah yang berjalan tanpa kesatuan gerak, tanpa arah, tanpa target-target pencapaian, tanpa kesolidan dari semua unsurnya yang membangunnya hanya akan menjadi pekerjaan melelahkan tanpa hasil, tanpa ada perubahan pada sasaran yang hendak kita perbaiki.
Disini, pada situasi inilah aku kadang merasa sangat lelah, bukan karena pada beratnya beban ini, tapi karena tidak adanya arah yang mengarahkannya menuju cita-cita itu. padahal salah satu syarat kemenagan itu adalah adanya perencanaan yang matang. Apa yang hari ini kita capai, dakwah yang telah berkembang hari, bukanlah sebuah pekerjaan yang hanya dikerjakan sambil lalu. tapi, ia adalah sebuah cita-cita besar yang telah di impikan sejak 30 tahun yang lalu.
Disini, dalam lingkup ruang kecil ini. aku ingin kita juga harus memahami hakekat ini. karena sebenarnya salah satu karakter pahlawan dan orang-orang sukses itu adalah memiliki cara pandang yang jauh kedepan.
Dalam realitas ini, sebuah bangunan dakwah yang sedang hendak kita kerjakan ini. kita ibaratkan sebuah mobil atau kereta. Ya kereta dakwah, ada kesatuan unsur dan alat yang membentuknya sehingga ia bisa berjalanan.
Padahal Rasulullah mengingatkan kita bahwa kita ini, ibarat satu tubuh. satu organ tubuh yang sakit maka tentu saja yang lain tidak akan bekerja maksimal. tentu saja, bangunan dakwah ini juga demikian. perlu ada evaluasi, perlu ada perhatian yang lebih serius terhadap permasalahan ini. Karena kita punya cita-cita besar, maka cara pandang kita juga harus jauh kedepan.
Pemilu 2009, telah menjelang, tinggal sekitar 2 bulan lebih lagi, bangsa ini akan menghadapi satu momen sejarah dalam rangkaian panjang perjalanannya. Bangsa besar ini, sedang dan semua pihak pasti sedang ingin berbenah untuk terus menata diri menjadi lebih baik. Maka pemilu 2009, menjadi momen dan peluang bagi penataan bangsa yang lebih baik.
kesibukan parpol menjelang pemilu mulai menjadi, mulai dari sibuk menggalang suara calon pemilih sampai kepada kesibukan mempersiapkan caleg-calegnya untuk mencapai kemenangan pada tahun ini. Yang pasti semua parpol tengah berusaha berbenah untuk terus memperbaiki citra dirinya.
Namun ada satu hal ironi yang kita hadapi, ditengah realitas diatas, ternyata ada realitas lain, yang mau tidak mau hal ini harus segera ditangani, Golput, (golongan putih). Kelompok ini sebenarnya datang dari berbagai kalangan dengan berbagai macam kepentingan, dari kalangan umum bahkan dari kalangan organisasi gerakan islam sendiri. terlalu banyak alasan yang mereka kemukakan untuk membenarkan pendapat mereka tentang golput, mulai dari ketidak percayaan mereka terhadap partai sampai pada pernyataan bahwa sistem yang kita anut adalah sistem kufur sehingga sampai pada batas mengharamkan kita berpartisipasi di dalamnya terutama ikut serta sebagai pemilu.
Sebelumnya saya meminta maaf, karena sebenarnya ini hanya sekedar sharing kepada setiap pembaca, karena kapasitas saya sebenarnya bukan pemfatwa tapi hal ini saya kemukakan hanya berdasarkan pada apa yang saya pahami tentu saja masih terbatas, tapi mudah-mudahan bermanfaat.
Dalam fiqh Islam, sebenarnya kita memahami bahwa permasalahan kepemimpinan dalam tubuh umat adalah permasalahan yang sangat urgen untuk segera diselesaikan. Mengapa? sebab tanpa imamah dalam permasalahan agama ini tentu saja kita dan umat ini akan seperti anak-anak ayam yang kehilangan induk, kita akan berjalan sendiri-sendiri, tidak terarah, mudah terombang-ambing oleh badai bahkan kita akan seperti kijang yang terpisah dari kawanannya sehingga ia mudah diterkam oleh serigala.
Rasulullah pernah mengatakan bahwa "bangunan pertama yang akan runtuh dari umat ini adalah kepemimpinan....dan yang terakhir adalah shalat" . Inilah realitas yang kita temui hari ini. kita menjadi umat yang bingung, ditambah lagi dengan ketidakadaannya kesepakatan dan mau saling memahami diantara sesama kaum muslimin padahal hanya perkara-perkara yang seharusnya kita bertoleransi diatasnya.
Terkait dengan pemilu 2009, sebagai ajang untuk memilih kepemimpinan baru di negeri ini merupakan hal yang harus kita pahami sebagai hal yang penting bahkan sangat penting, bukan hanya karena sebagai sebuah bangsa tetapi juga terkait dengan keislaman kita. Dalam lima dimensi islam yang kita pahami ( aqidah, ibadah, akhlak, muamalah dan syariah) maka permasalah sistem negara adalah permasalah syariah jadi menghukuminya adalah bukan dengan fiqh taharah (halal atau haram) tetapi pada fiqh muamalah (mubah)
Alasan-alasan orang yang golput terutama dari kalangan kaum muslimin bahkan aktivis pergerakan, harus segera diubah. Ada banyak alasan yang mengharuskan kita untuk terlibat aktif dalam pemilu 2009 ini sebab :
1. Kita diajari satu kaidah oleh Rasulullah : bahwa pemimpin yang maksiat tetapi ia kuat dalam pemerintahan (bijaksana) harus lebih didahulukan untuk dipilih dari pada pemimpin yang shaleh tapi lemah.
Karena keshalehan dan maksiat hanya berdampak pada pribadi pemimpinnya, sedangkan kebijaksanaannya berdampak lebih luas kepada masyarakat.Kita mengakui memang bahwa dalam realitas bangsa ini memang begini, bahwa yang memimpin kita menang tidak terlalu shaleh - kalau tidak mau dikatakan maksiat- tapi permasalahannya adalah hari ini kepercayaan masyarakat dan mungkin juga kapasitas orang-orang shaleh memang belum ada yang benar-benar bisa memimpin bangsa ini. Maka solusinya adalah bukan meninggalkan semuanya tetapi, mencari yang terbaik. Karena permasalahannya adalah ketika kita tidak mencari pemimpin yang lebih sedikit mudharatnya, kalau tidak kita katakan yang terbaik itu wajib dari pada tidak memilih. sebab terlalu banyak alasan mengapa hal ini harus di lakukan, salah satunya adalah ini.
2. Negara ini sistemnya sistem kufur, sistem demokrasi, dan terlibat didalamnya adalah haram
Sebenarnya kita memahami dari 5 dimensi islam yang saya sebutkan di atas, sistem demokrasi terkait dengan muamalah , dan cara menilainya bukan dengan halal atau haram. Tetapi pada boleh atau tidak. dengan pertimbangan mana yang lebih banyak maslahatnya. Karena dalam hal ini, tentang sistem ini kita hanya diberikan dua pilihan, menjadikan demokrasi sebagai sarana dakwah atau merubah sistem demokrasi secara total, tentu saja dengan revolusi. tetapi menurut saya mudharatnya akan lebih banyak kalau kita memilih jalan yang kedua. Dan setahu saya dalam dakwah Rasulullah tidak demikian.
Kemudian tentang keterlibatan kita dalam sistem ini saya kira, kalau kita memahami dan mendalami Al Quran maka kita akan menemukan satu fakta, bahwa dalam kisah Nabi Yusuf a.s dia juga terlibat dalam sebuah sistem yang bukan sistem islam ketika dia di angkat sebagai bendahara pada saat itu. siapa yang bisa membantah ini. Karena ini realitasnya.
3. Keterlibatan kita didalam pemilu, dan memberikan hak suara kita, sebenarnya adalah sebuah upaya agar orang-orang yang memimpin kita kelak bukanlah orang-orang zalim, para koruptor, penindas dan sebagainya. Meskipun mungkin kita akan menemukan dari sekian banya calon legislatif maupun eksekutif tidak ada yang benar-benar shaleh dan baik, minimal kita bisa mencari yang paling sedikit dampak atau mudharatnya.
satu hal lagi, sebenarnya semua hal ini didasari pada distorsi sejarah, yang dialami oleh umat ini setelah mereka terpinggirkan dalam perjalanan sejarah bangsa ini. sehingga seolah-olah antara Islam dan negara ini terpisah, antara kita dan negara ini terpisah. sehingga kita memandang dan selalu melihat negara ini dari luar, bukan sebagai milik kita, padahal realitasnya negeri ini adalah milik kita, milik umat islam, karena kita mayoritas disini. dinegeri ini tempat kita tumbuh dan besar. Ini adalah kewajiban, bukan hanya kewajiban sebagai warga negara, tetapi juga sebagai seorang muslim. untuk terus memperbaiki negeri tempat ia lahir. Wallahu`alam
Ini tentang Jalan dakwah. Jalan yang tak pernah berhenti menyeleksi satu persatu orang yang melaluinya. Jalan yang hanya dapat ditempuh oleh sedikit orang. Karena terminal perhentiannya terlalu jauh. Jauh, dalam jangkauan kaki, juga jauh dalam jangkauan perasaan orang-orang lemah.
Pengalaman sepanjang perjalanan ini. Terus dan terus mengajarkan kita. Tentang tabiat perjalanan ini. Bahwa diawalnya, kita bersama mereka, teman-teman perjalanan. Semangat itu menyala pada mulanya. Namun, semakin lama mungkin semangat itu akan melemah atau bahkan mungkin padam. Oleh terpaan badai di sepanjang jalan ini. Hingga suatu hari nanti kita melihat bahwa tinggal beberapa orang yang terus berjalan menuju terminal dakwah ini. Mereka tersisih, terseleksi oleh badai sepanjang perjalanan. Oleh badai ujian pemahaman. Oleh badai ujian kepercayaan bahwa diujung jalan ini ada kemenangan.
Mungkin memang kita yang ikut dalam kafilah ini tidak akan sampai ujung jalan ini. Karena mungkin Allah akan memanggil kita sebelum sampai ke ujung jalan ini. Tapi, kita juga dijanjikan kenikmatan lain selain janji kemenangan. Syurga, disanalah semuanya akan berakhir. Mereka yang sampai pada terminal di ujung jalan ini kelak juga akan kembali ke sana, Syurga.
Ujian disepanjang jalan ini. Terus dan terus lagi mengajarkan kita. Semakin luas dan lebar jalan yang harus kita lalui, maka ujiannya semakin berat. Kita kelak akan menemukan, ada saja orang yang kemudian mempertanyakan, mengapa jalan ini harus begini? Bahwa kadang mereka menuntut untuk juga diperhatikan. Mereka kadang akan meminta bahwa kenapa dakwah ini tidak pernah dijelaskan kepada mereka.
Padahal mereka tidak pernah mau memahami. Bahwa perjalanan ini terus menerus menuntut untuk terus mempercepat langkah. Padahal mereka harus terus berjalan dan mencari semua sarana untuk membuat mereka tetap bertahan. Ujiannya akan terus ada hingga di ujung jalan ini kita akan menemukan bahwa tinggal beberapa saja yang ada disisi kita.
Ujian pemahaman. Ujian pengetahuan. Tentang tabiat jalan ini. Tentang siapa yang kelak akan terus bertahan. “Banyak orang yang memiliki akal tapi hanya sedikit yang mempelajari Al Qur`an. Dari sedikit itu, hanya sedikit yang mengamalkannya. Dari sedikit itu, hanya sedikit yang mendakwahkannya. Dari sedikit itu, hanya sedikit yang bersabar. Dari sedikit yang bersabar, hanya sedikit yang sampai keujungnya” Kata Hasan Al Banna. Itu hakekatnya. Satu persatu orang akan terseleksi. Tertinggal oleh kereta dakwah. Karena tak mampu bertahan.
Kita semua yang berjalan dijalan ini memang tidak pernah aman. Bahwa kelak mungkin kita akan tersisih. “ Ya Allah kuatkanlah aku di atas jalan agama-Mu ini” kata Rasulullah. Itulah gambarannya. Bahwa kita memang harus terus mencari apa saja yang bisa membuat kita tetap terus berjalan di atas jalan ini. Hingga kita menemui ujung jalan ini atau kembali ke syurga-Nya.
Dalam bingkai hidup pahlawan. Kita kagum kepada mereka. Kita memang kagum kepada mereka. Karena mereka pahlawan. Hadir dalam panggung sejarah. Memberi tanpa henti. Kontribusi yang tak pernah henti. Melakukan pekerjaan besar ditengah situasi yang begitu sulit. Ketika tak seorang pun peduli. Karena memang mereka memiliki sisi kehidupan yang luar biasa. Dalam kaca mata manusia biasa. Merekalah adalah manusia yang telah melakukan kerja besar. Terhimpun dalam pribadinya banyak sisi yang agung dan kita kagumi.
Tapi, satu sisi yang sering dan mungkin juga tidak pernah dipedulikan. Satu sisi kepribadian, dalam pribadi agung pahlawan. Itulah sisi cinta. Cinta yang begitu agung. Cinta kepada misi besarnya. Cinta kepada semangat kontribusi tanpa henti. Cinta kepada kerja keras sampai kerja dan misinya tuntas. Dalam semua bingkai pribadi pahlawan yang pernah tampil dalam panggung sejarah, mereka telah mengukir prestasi agung, karya yang tidak dikerjakan oleh manusia biasa.
Tapi ada satu sisi dari sekian banyak sisi cinta dalam pribadinya. Cinta pada wanita. Mereka, para pahlawan. Dalam mengukir karya besar dalam mozaik sejarah peradaban. Ternyata para pahlawan juga menghadapi satu situasi jiwa ini. Ternyata mereka memiliki sisi ini. Tapi ini fitrahnya. Dari sana memang mereka diciptakan. Dari perpaduan dua cinta, laki-laki dan perempuan.. Sisi inilah yang kadang menjebak pahlawan. Ditengah luka-luka dalam perjuangan mereka. Cinta Wanita. Untuk kembali turun kebumi. Berhenti memyelesaikan karya agung yang sedang ia kerjakan. Itulah godaannya. Tapi, pahlawan mukmin sejati, tetap bisa bertahan dalam situasi ini. Itu memang fitrah, tapi mereka selalu berkata “ ini ujian bagi pahlawan.”
Ada hal yang memang tidak diketahui oleh para pemuja pahlawan. Sisi ini, cinta pada wanita. Hal agung yang tidak di ketahui para pengagum. Mereka, pra pahlawan mukmin sejati selalu mampu bertahan dari godaan ini, bahkan dalam benturan kejiwaan yang begitu lama oleh syahwat ini. Melawan semua jenak-jenak jiwa yang terusik oleh syahwat. Menepis semua bisikan untuk jatuh kedalam cinta yang rapuh ini Karena itulah, para pahlawan mukmin sejati adalah para pecinta sejati dalam bingkai cinta agung kepada Sang Pencipta.
Mereka juga memiliki semangat mencinta yang agung. Semangat kontribusi dalam bingkai cinta misi, kata Anis Matta. Itulah sebabnya para pahlawan mukmin sejati, selalu memiliki semangat besar untuk terus memberi, memberi apa yang mereka miliki. Karena mereka memang kaya. Kaya akan cinta. Kaya akan perhatian. Untuk terus memberi dalam situasi apapun. Itulah mereka, para pahlawan itu. Tidak peduli seberapa banyak cinta yang mereka terima sebagai balasan. Yang pasti, mereka akan terus memberi.
Mereka, para pahlawan. adalah pecinta sejati. Bukan Romeo dan Juliet. Bukan Rama dan Shinta. Atau kisah Laila Majnun. Tapi merekalah yang terus menghiasi bumi ini dengan cinta. Memberikannya kedamaian. Bahkan ketika mereka telah kembali kepangkuan Sang Pencinta Sejati. Ruh cinta mereka masih terasa segar di bumi. Dalam alam manusia. Karena memang cinta mereka abadi. Terus mengiringi dan menaungi para pecinta setelah mereka. Para pahlawan setelah mereka. Karena itulah mereka selalu dikenang. Meskipun jasad pahlawan tak lagi berbentuk.
Dilakukan oleh Nabi SAW pada fase dakwah sirriyah. Tujuannya agar dakwah tidak “dipukul”. Penyebaran Dakwah dengan model ini dilakukan dalam dua keadaan : pada permulaan dakwah dan penegakan jamaah & pada saat pemerintah berkuasa melarang aktivitas dakwah secara terang-terangan. Contoh : Siti Khadijah dan Ali bin Abi Thalib
b.Kontak Umum (Ittishal Jama`i)
Dilakukan pada fase dakwah jahirriyah. Dengan pemanfaatan sarana-sarana (media massa) untuk menyampaikan dakwah : mengumpulkan manusia dalam suatu jamuan makan dirumahnya, mengumpulkan manusia dalam berbagai tempat, pergi ketempat-tempat pertemuan manusia, pergi keberbagai Negara untuk menyampaikan dakwah, mengirimkan surat kepada para Raja atau kepala Suku/Kabilah. Contoh Rasulullah mengumpulkan bani Abdul Muthalib, Dakwah ke Tha`if. dll
2.Rambu II : Pembentukan Dakwah
Merupakan tahap lanjutan dari rambu pertama. Orang yang menerima dakwah pada fase pertama masuk dalam fase ini (fase takwin) yaitu tarbiyah dan ta`lim. Sedangkan yang tidak menerima, hubungan dakwah dengan kelompok ini bersifat tabligh dan indzar (pemberian peringatan). Takwin ini dilakukan pada fase dakwah Sirriyah dan `Alaniyah
a.Takwin dalam tahapan Sirriyah
Orang yang menerima dakwah pada tahapan Ittishal Fardhi dibagi dalam kelompok kecil 3-5 orang untuk ditakwin. Contoh : Rasulullah menyembunyikan shalat mereka dilorong-lorong Makkah. Kisah masuk islammya Umar (adik dan iparnya yang didapatinya pada satu tempat)
b.Takwin dalam tahapan `alaniyah
Takwin ini dilakukan untuk dakwah yang bersifat ittishal `am. Beberapa cara yang ditempuh Rasulullah :
1)Membuat Halaqah Jama`iyah yang besar (Rumah Al Arqam bin Abil Arqam)
2)MengadakahRihlah Jama`iyah (Hijrah ke Habasyah pertama dan kedua)
3)Mengkondisikan situasi umum terhadap dakwah melalui khutbah dan ceramah umum
3.Rambu III : Konfrontasi Bersenjata Terhadap Musuh
Kelompok yang tidak menerima dakwah(setelah diberi peringatan), maka konfrontasi bersenjata terhadap para penentang dakwah. Untukmempertahan kelompok yang di takwin.
Menghadapi penentang dakwah dalam dua periode :
Diawali dari kenabian sampai hijrah dan Sejak Rasulullah menetap di Madinah hingga wafat
Syiar pada periode ini untuk menjauhi medan perlawanan, menghindari permusuhan, melakukan pembentukan kader dakwah, sikap berdamai tidak melakukan permusuhan. Watak ini bukan watak asli jama`ah islam (Asy syura : 39) sebab ini adalah tuntutan takwiniyah. Dakwah yang tidak memenuhi sifat ini pada fase takwiniah akan dapat dipastikan mati pada usia muda.
Konfrontasimerupakan kewenangan khusus pemimpin jama`ah. Beberapa aspek perhatian :
a.Independensi bumi tempat tegaknya jama`ah. Jama`ah harus berkuasa penuh terhadap bumi tempat berpijak dan melancarkan aktivitasnya.
b.Jumlah yang memadai. Q.S Al Anfal 65-66,Isyarat lainnya misalnya jumlah pasukan pada perang Badar.
4.Rambu IV : Sirriyah dalam Kerja Membina Jama`ah
a.Sirriyah dalam kerja membina jamaah adalah membatasi pengetahuan program kerja pada lingkungan pemimpin. Setiap individu tidak boleh mengetahui tugas anggota lain.
Banyak da`i yang keliru memahami sirriya dalam kerja membina jama`ah ini. Pertama, bahwa ajaran islam harus disebarluaskan sebagai sesuatu yang harus dirahasiakan. Kedua, “mengobral”segala sesuatu disetiap tempat dan kepada siapa saja.
Sirriyah merupakan kotak tempat menyimpan program amal jamai dan tirai yang menutupi dan melindungi program tersebut. Sirriyah merupakan kunci keamanan yang akan melindungi amal jamai dari intaian mata-mata mush yang senantiasa mengawasinya.
5.Rambu V : Bersabar Atas Gangguan Musuh
Kesabaran merupakan factor penting, disamping merupakan sunnah Ilahiyah untuk melindungi jama`ah pada tahapan pembentukannya (al-Muzzammil : 10 dan al Muddatstsir : 7) Contoh : Dakwah Rasulullah ke Tha`if
6.Rambu VI : Menghindari Medan Pertempuran
Fikrah ini merupakan sikap yang diwajibkan Islam dan ditutut oleh keadaan jamaah pada tahapannya yang masih awal. Hijrah adalah factor yang dapat memelihara Jama`ah dan pelaksanaan ibadah kepada Allah.
Pemberian pertolongan kepada orang islam yang ada didaerah kafir harus dikaitkan dengan hijrahnya harus memperhatikan dua hal. Pertama, ketidakberdayaannya melawan tekanan kekuatan kaum kafir pada tahapan takwiniyah. Kedua, keberadaannya dalam jamaah akan menambah kekuatan Jama`ah ( Q.S Al Anfal : 72) dan an Nisa : 97.
Menjauhkan orang-orang yang telah menerima dakwah, dari tekanan penguasa zalim, kesuatu bumi yang dapat memberikan keamanan bagi jiwa dan dakwah adalah hal wajib.
Faktor yang dapat menjamin keberlangsungan proses pembinaan jamaah.
a.
Sirriyah dalam gerak pembinaan jama`ahb.Bersabar atas segala kesulitan
c.Menghindari konfrontasi melawan kebatilan dalam dua tahapan awal : penyebaran dan takwin
Bagian IV
Tabiat Jalan Menuju Jama`atul Muslimin
1.Tabiat Jalan Menuju Jama`atul Muslimin
Jalan ujian dan cobaan, berat dan bahkan sangat berat oleh jiwa manusia. Tetapi, orang yang bersabar atas tabiat ini akan sampai kesurga yang luasnya seluas langit dan bumi. Sabda Rasulullah “surga itu dikelilingi oleh berbagai hal yang tidak disukai”. Disepanjang trotar jalan ini Rasulullah melihat penjara-penjara dan tempat-tempat tahanan. Disetiap persimpangan jalan ini pula Rasulullah yang mulia melihat rekan-rekannya digergaji tubuhnya menjadi dua, melihat mereka yang disikat dagingnya dengan sikat besi, melihat parit berisi api yang membakar tubuh kaum mukminin, melihat mereka digantung, diborgol dan di injak-injak. (di jelaskan juga dalam al Baqarah : 214, Ali Imran : 142, At Taubah : 16, dan al Ankabut : 2-3).
Di ujung jalan ini Rasulah menyaksikan hasil perjuangan dan kesudahan para tiran dan orang-orang yang menolak Islam. Mereka diseret ke neraka jahanam tempat tinggal terburuk. Pemandangan yang mengerikan itu diberitakan kepada mukmin agar mereka menjadi lega dan puas lantaran mengetahui kesudahan para musuhnya.
Rasulullah mendapati sisi lain tabiat jalan kaum Muslimin ini-jalan kemenangan dan kekuasaan. Jalan yang penuh limpahan nikmat berupa harta, keluarga dan pengikut. Sisi inilah yang justru sangat dikhawatirkan bahayanya atas kaum Muslimin. Sisi inilah yang menyebabkan kaum Muslimin sulit untuk bergerak dan lebih tertarik kepada aspek duniawi sehingga mereka berjatuhan ditengah perjalana.
a.Macam – macam tabiat jalan ( Q.S al anbiya : 35)
Sayyid Quthb membaginya : Penganiayaan dari pelaku kebatilan tanpa pertolongan, fitnah yang menimpa keluarga padahan mereka memintanya berdamai dan menyerah demi cinta dan keselamatan, pemihakan dunia pada orang yang menolak kebenaran sementara orang beriman tak ada yang membelanya, keasingan ditengah lingkungan karean aqidah, Mendapati bangsa-bangsa maksiat tetapi mereka makmur, fitnah popularitas, fitnah lambatnya kemenangan dan panjangnya perjalan, fitnah kebanggaan diri setelah tercapainya kemenangan.
b.Tujuan Tabiat ini
“sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada dibumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya” (al Kahfi ; 7) dan dalil lainya al Mulk :2, ar-Rum : 41, al A`raf : 56
Tujuan tabiat jalan ini adalah untuk membentuk manusia yang baik melalui perbuatannya, agar pergerakan manusia dibumi juga menjadi baik.
Contoh: Kisah Thalut bersama kaum elit Bani Israel (Al Baqarah 246-251)
Thalut mengadakan seleksi pasukannya, siapa yang tepat untuk memasuki pertempuran. Untuk menyingkirkan orang-orang yang lemah dalam semangat dari barisan kaum Mukminin yang memiliki kesabaran dan dan kekuatan yang mampu mengalahkan segala kekuatannya dibumi. Akhirnya akhir pertempuran dapat diselesaikan oleh satu orang yang memiliki kualitas terbaik “…dan (dalam pertempuran itu) Daud membunuh Jalut ( al Baqarah : 251)
2.Contoh-Contoh Tabiat Jalan
a.Contoh – Contoh sebelum Kenabian
1.Kisah kedua anak Adam a.s ( Habil dan Qabil). Suatu gambaran kebenaran yang dilenyapkan diatas bumi untuk sekali lagi kembali ke surga dengan memperoleh kemenangan.. Mengajarkan kita bahwa panjang jalan ini sepanjang jarak antara bumi dan surga, tatapi waktu yang diperlukan hanyalah beberapa detik pencabutan nyawa.
2.Kisah Habib an Najjr (Yasin : 25-27). Mengajarkan kita bahwa waktu yang dibtuhkan untuk sampai kesyurga hanyalah detik-detik waktu antara pengucapan “Dengarkanlah aku” dan kata sambutan “dikatakan” yang disebutkan dalam ayat ini. Menjadi pelajaran generasi demi generasi dan contoh abadi bagi jalan ini
3.Kisah Ashhabul ukhdud ( Al Buruj : 1-9)
Kisahnya berakhir dengan dibinasakannya seluruh orang-orang mukmin dalam sebuah parit api yang membakar jasad mereka. Tidak ada kemenangan dalam cermin realitas. Tapi, Inilah pelajarannya. Bahwa nilai terbesar dalam timbangan Ilahi adalah nilai aqidah dan kemenangan ruh atas materi (jasad). Mereka bisa menyelematkan diri dengan mengorbankan keimanan, tapi berapa besar nilai kehidupan dibadingkan harga keimanan?. Juga, bahwa dalam pertarungan kebenaran dan kebatilan kadang berkahir dengan berakhir dengan pemusnahan kaum mukminin dan dibiarkannya kaum pendusta. Kita diajarkan lagi, bahwa kadang kita harus menghadapi akhir perjalanannya seperti Ashhabul ukhdud (buka sejarah Ikhwanul Muslimin di Mesir)
b.Contoh di masa kenabian
1.Gangguan kepada Rasulullah. Sesungguhnya pengejaran terhadap Muhammad SAW dan pelemparan atasnya dengan batu hingga melukai tumit dan dahi dan menciderai kepalanya yang mulia, merupakan factor terbaik untuk mendorong orang-orang yang meniti jalan ini bahwa dakwah harus terus melaju kedepan. Sangat menakutkan gangguan yang ia alami, manusia paling mulia. Tapi Rasulullah menanggungnya agar menjadi balsam penyejuk bagi orang-orang yang kehormatnnya dinodai di jalan dakwah ini
(Lihat ; Shad : 4, Al Anfal : 30, Al Qamar : 25)
Bujukan Kaum Musyrikin kepada Rasulullah SAW. Lihat Al Isra : 73
2.Gangguan Kaum Musyrikin kepada para Sahabat
Kisah Penyiksaan keluarga Yasir, Kisah Umar bin Khatab, Kisah Masuk Islamnya Abu Bakar. Dst
“Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasulnya kepada kita. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan kedudukan. ( Al Ahzab : 22)
c.Mengingatkan sebagian yang sudah hilang dan sedang terjadi
·Pembantaian di Turkistan, 26 juta kaum Muslimin di bantai dengan biadab dan kejam
·Di India,50 ribu orang dibantai dalam perjalan ke pengungsian
·Partai Masyumi yang dibunuh dan dipenjarakan para tokonya
·Jama`at Islami di India, Abu A`la al Maududi dihukum mati
·Ikhwanul Muslimin, para tokohnya dihukum mati dan harta kekayaannya dirampas
·Pulau Aba di Sudan berikut seluruh penduduknya dihancurkan dan dibunuh dalam sehari