Sabtu, 04 Desember 2010

Presepsi Menuju Tangga Kedua Perjalanan

Ahad, 7 November 2010

Digores awal penaku. Ingin kurekam lagi sebagian dari makna kesiapan jiwa dalam meniti satu tangga kehidupan. Ini tentang seseorang. Dan ini tentang langkah lanjut yang ingin kujejaki setelah proses pembentukan karakter yang telah kita jalani selama kurang lebih 5 tahun usia kita di dunia kampus. Tempat dimana kita digembleng oleh zaman untuk membentuk kesadaran yang kuat akan orientasi akhir dari perjalan panjang hidup kita di dunia.

Dalam pencarian panjang tentangnya di atas jalan keimanan. Semua masih tentang cinta memang. Tapi cinta yang ingin kita tulis di sini adalah cinta yang terkhususkan pada seseorang. Yach, seseorang yang ingin kita jadikan teman hidup dalam perjalanan meniti jalan panjang perjuangan. Yach, sekali lagi ini tentang wanita.

Telah kita susuri lebih dari seperti tiga usia hidup. Dan direntang waktu itu, telah banyak pengalaman hidup yang mengajarikan kita banyak hikmah tentang makhluk ciptaan Allah yang satu ini. Wanita. Yach, sekali lagi tentang wanita.

Sebagian orang mungkin memang mempresepsi mereka hanya sebagai makhluk pelengkap kehidupan lelaki. Dan menganggap mereka sebagai makhluk yang hanya akan melayani kita. Para lelaki. Tetapi tidak demikian seharusnya kita memahami ini. Kerinduan akan kehadiran mereka. Makhluk yang bernama wanita. Memang menjadi satu kebutuhan yang begitu kuat mendesak jiwa. Terutama perasaan ini berkembang kuat kala usia kita telah tumbuh merangkak menuju usia kedewasaan. Itulah sebagian hikmah dari kisah sejarah yang terbentang sepanjang sejarah manusia. Mulai dari Adam dan Hawa, lalu Yusuf dan Zulaikha.

Tapi kadang memang akhirnya, kita tak mampu membendung perasaan ini. Apalagi ini adalah tentang perasaan fitrahwi. Bukan karena rindu yang membuat perasaan itu hadir. Tetapi memang, sejak semula ternyata cinta jenis ini diciptakan bersama jiwa. Sehingga sebagian orang menempuh jalan-jalan yang melanggar nilai-nilai iman. Atau sebagian yang lain, dengan semangat ibadah lalu memutuskan untuk segera “menyempurnakan separuh agamanya”. Tidak salah memang. Ini tetap saja menjadi sesuatu hal yang baik. Karena mereka akhirnya mampu menjaga hati dan perasaan mereka dari pelanggaran syariat. Karena godaan syahwat ini

Tetapi, hal ini seharusnya bisa dipandang dari kacamata yang berbeda. Pernikahan harusnya kita presepsi pada perannya yang jauh lebih besar dari sekadar pemenuhan kebutuhan fitrahwi dengan segala macam hak dan kewajiban di dalamnya. Karena sudah seharusnya dipahami begini. Pernikahan dan Rumah Tangga haruslah dapat menentukan perannya sendiri terhadap bangunan peradaban islam yang sedang dikerjakan oleh umat ini saat ini.

Karena Rumah Tangga dan semua yang terlibat di dalamnya punya peranannya sendiri dalam kehidupan. Hasan Al Banna menjelaskan tentang ini. Bahwa rumah tangga adalah langkah kedua yang harus dilalui setiap muslim termasuk sekian banyak daftar peranannya terhadap bangunan peradaban Islam. Dari sini mengertilah kita bahwa orang-orang yang harusnya menyusunan bangunan Rumah Tangga itu haruslah memiliki visi peradaban dari Islam itu sendiri. Dan untuk itu, memulainya haruslah dengan memilih wanita yang baik, yang sesuai dengan bingkai cita-cita itu tadi.

Inilah kesadaran yang harus dimiliki oleh setiap muslim. Terutama awal sebelum ia melangkah lebih jauh pada pernikahan. Karena itulah rumah tangga menjadi salah satu hal yang begitu konsen diperhatikan dan di atur dalam ajaran islam.
readmore »»ǴǴ

Rabu, 23 Desember 2009

Betapa Latah Kita Menyelesaikan Masalah Yang Kita Hadapi

Betapa latah negeri ini, menafsirkan penyelesaian penyakit bangsanya tdk dari
sumber penyakitnya. seseorang yang sakit bukan disembuhkan penyakitnya. sakit dihilangkan dengan menghilangkan nyawa si sakit.

latah memang, masalah tak lagi di selesaikan dari sumber masalahnya. padahal mengobati sakit bukan dengan menghancurkan jasad si sakit. mengubah negeri ini tidak dengan membunuh semua penduduk negeri ini
lalu menghadirkan generasi yang baik (karena itu hanyalah hak Allah).

itu yang hari ini terjadi. lihatlah, betapa bobroknya pendidikan negeri ini. pesimistis adalah dasar berpikir mereka. Seorang siswa, bukan murid, karena murid berbeda dengan siswa. murid, memiliki kecintaan yang tinggi terhadap kebenaran. Lantang ia berkata : " nilai saya yang lain tinggi, hanya satu yang tidak memenuhi standar kelulusan" Ia selalu menilai dirinya dengan standar pesimistis, tidak maksimal" lalu di respon sama oleh orang-orang yang latah dalam membuat konsep pendidikan di negeri ini


Sistem pendidikan di negeri ini tidak mampu menampung kecendurangan seorang warganya, tidak menyediakan fasilitas yang tepat untuk bakat dan kesukaan seseorang di bidang ilmu. Tidak ada fokus pendidikan yang sesuai bakat seseorang. Hingga lahirlah putera-puteri generasi yang memiliki split personality. Seorang sarjana Ilmu sosial mengajar pelajaran olah raga di sebuah sekolah SD

Manusia Indonesia juga tak memiliki kesadaran tentang dirinya. Ia bingung tentang jati dirinya. Ia adalah air yang masuk ke dalam kubangan minyak. tak tahu bahwa ia tidak dapat bercampur dengan minyak sampai kapanpun.

Menelan mentah teori-teori barat, tanpa tahu bahwa jati diri bangsanya sesungguhnya berbeda, tak sejalan, bahkan arusnya berbda.
readmore »»ǴǴ

Jumat, 23 Oktober 2009

Proses Penjagaan Harakah, Keniscayaan Dalam Perjalanan Sebuah Gerakan

Makassar, 6 oktober 2009

Oleh Arif Atul M Dullah

“ Saat ini kalian belum berjalan pada jalan dakwah sesungguhnya, kelak ketika mereka mulai memahami dakwah kalian pasti mereka akan melakukan semua upaya untuk memusuhi kalian, di saat itulah kalian mulai melalui jalan dakwah sesungguhnya {Hasan Al Banna}”

Merefeleksi Sirah dan mempelajari Fiqh Siroh akan memberikan gambaran yang begitu jelas bagi kita tentang tabiat dakwah dan tahapan-tahapannya. Begitu banyak nilai, begitu banyak pelajaran yang harusnya bisa kita jadikan pelajaran khususnya bagi mereka-mereka yang meniti jalan dakwah dan hidup untuknya.

Ada fenomena yang kontradiktif kita temukan disebagian kalangan aktifis dakwah. Ada sebuah ketidak nyambungan antara idealisme dan cita-cita yang sedang ingin mereka bangun dengan sarana yang untuk mencapai tujuan mulia itu. Ada sebuah sikap “gagap” ketika ingin agar semua manusia menjadikan islam sebagai literatur hukum yang mengatur keseluruhan hidup mereka.

Mereka ingin mewujudkan tegaknya aturan-aturan Allah dimuka bumi, tapi mereka hanya mengatakan dengan dakwah saja, menyeru manusia untuk tunduk kepada syariat Allah swt. Ini adalah sebuah kegamangan cita-cita. Luhur memang cita-citanya. Tapi idealisme seperti ini hanyalah sebuah idealisme yang dibangun diatas dasar kepasrahan tanpa kemampuan mendefenisikan cita-cita itu.

Sirah nabawiah adalah sumber pelajaran besar yang mampu memberikan gambaran bagaimana sebuah cita-cita seperti itu harusnya diwujudkan.

Kalau kita membuka sirah nabawiah dan memahaminya dengan detil maka kita akan menemukan sebuah desain perencanaan dan strategi dakwah Rasulullah saw untuk melakukan sebuah transformasi dakwah menjadi sebuah institusi untuk menjamin kelangsungan dakwah ketika tekanan-tekanan Quraisy berupa pengusiran dan bahkan ancaman pembunuhan kepada para Sahabat dan Rasulullah SAW terjadi.

Kita tahu bahwa sekitar tahun kesepuluh kenabian, 2 pelindung utama Rasulullah wafat. Khadijah r.a dan paman beliau SAW, Abu Thalib. Acaman penyiksaan dan pembunuhan terus mengintai para Sahabat. Sampai kita tahu dalam tahun-tahun menjelang hijrah ini, tertumpahlah darah syahidah pertama Islam, yaitu Ibu Amr bin Yasir.

Karena saat itu aktivitas harakah sudah mulai terancam, maka sebuah upaya ekspansi dakwah harus sudah mulai dipikirkan, untuk membangun basis baru, komunitas islam di luar Mekkah. Lalu kondisi ini mendapatkan momentum terbaiknya dengan masuknya 6 orang tokoh Khazraj untuk menyebarkan Islam kepada kaum mereka. Dan momentum ini seperti yang di catat oleh syaikh Muhammad Munir Al Gadbhan, dalam Sirah Nabawiyah menjadikan islam itu ada pada setiap rumah di Madinah. Tidak ada satupun rumah di Madinah kecuali di dalamnya di bicarakan tentang Islam dan Rasululllah. Inilah awal proses transformasi islam menjadi sebuah Negara.

Maka, sebuah cita-cita besar yang saat ini sedang kita bangun dan kita rasakan hari ini tanpa tekanan, tanpa ancaman pembunuhan, kelak akan melalui dan merasakan tabiat jalan ini. Sehingga cita-cita yang sedang dibangun dan tumbuh ini, juga harus dipahami bahwa tidak selamanya kondusif akan terus berjalan seperti hari ini.

Memang karena baru tumbuh, maka orang-orang yang tidak pernah mau melihat islam ini tumbuh besar belum merasa keberadaan kita hari ini mengancam kepentingan-kepentingan mereka sehingga relative bersahabat dengan kita. Aktivis yang merasa bahwa dakwah sudah cukup dengan teriakan ceramah tanpa memikirkan untuk menciptakan ruang yang aman untuk berdakwah, sangat mungkin dakwah yang mereka bangun tidak akan tumbuh menjadi besar. Dan seandainya pun tumbuh besar, maka mereka akan segera mendapatkan ancaman pembumihangusan dari musuh-musuhnya.

Jadi membangun idealismE itu tidak pernah bisa hanya dengan ide “mengajak” orang berislam dengan baik tanpa pernah memikirkan untuk menjadikan dakwah sebagai sebuah legalitas. Dan legalitas ini hanya bisa dilakukan ketika kita menjadikan diri harakah itu sebagai harakah legal-formal.

readmore »»ǴǴ

UNTUKMU YANG TURUN KE JALAN

Makassar, 7 Oktober 2009

Untukmu yang turun ke jalan
meneriakkan jeritan anak-anak manusia
jeritan yang tak pernah bergaung
ditengah angkuhnya gedung-gedung birokrat

untukmu yang turun ke jalan
memilih berpeluh keringat
di tengah sejuknya AC ruang-ruang kuliahmu
ketika mereka enggan turun kejalan

kau lukis setitik harapan
di tiap lembar hari
bagi mereka anak-anak manusia
yang hidup dalam belenggu tirani

kini....
di tengah deru perjuanganmu
ku tempuh jua jalan perjuanganku
jalan juang itu kini berbeda
fisik tak lagi bertemu fisik, sepertimu
fisik tak lagi bertemu pentungan para polisi

tapi....
jalan juang ini dibangun diatas idealisme yang sama,
kini jalan juang ini tak lagi menapaki jalur jalan sepertimu
fisik tak lagi bertemu fisik
fisik tak lagi bertemu pentungan para polisi

untukmu yang turun ke jalan
kini idealisme di dadaku masih sama sepertimu
hanya, perjuangan itu ada tahapnya
hanya, zaman itu butuh model juang yang berbeda
itu caramu....seperti saat itu...aku juga sepertimu

untukmu yang turun kejalan
teriakkanlah suara anak-anak manusia itu
terikkan ia, hingga menembus tembok-tembok
angkuh para birokrat
hingga nurani memahami nuraninya....

untukmu yang turun ke jalan
jangan pernah biarkan idealismemu
terpasung diantara tingginya gedung-gedung birokrat
kini dan hari esok adalah milik kita
kitalah yang akan merubah dunia
oleh kita saat ini, bukan oleh siapapun

hingga idealisme kita berdiri tegak
berkibar di antara panggung sandiwara
dan retorika elit-elit birokrat itu.
readmore »»ǴǴ

Jalan Panjang dan Cita-Cita

Oleh : Arif Atul M Dullah

jalan, jalan panjang cita-cita
harus di hiasi dengan
semangat yang tak pernah padam

rangkai, rangkai impianmu sebesar engkau mau
takdirmu adalah impianmu

berlarilah kejar ia rengkuh dalam dekapmu
jangan lepaskan ia,juga
jangan pernah biarkan engkau jatuh dan mati

jatuh, jatuh, bangkitlah
tidak peduli berapa kali kita terjatuh
setiap kali kita berlari menuju mimpi itu
yang pasti bangkit..tetaplah bangkit setelah jatuh

rangkai, rangkai masa depanmu
ditanganmu, bukan ditangan mereka,atau siapa pun

ia adalah takdirmu
maka ukirlah ia seperti inginmu
jangan pernah biarkan mereka mengusik

gapai cita menuju jalan panjang kemenangan
karena mimpi adalah awal
awal lahirnya kenyataan
kenyataan hari esok

disini... di ruang keyakinan
impian itu terangkai
masa depan itu terangkai
untuk layak menjadi impian

disini di ruang keyakinan
keyakinan yang bukan keyakinan
tapi keyakinan yang terealisasi
untuk sekali lagi merebut takdir kita


readmore »»ǴǴ