Minggu, 22 Mei 2011

Asy Syajaah

Kamis, 10 Februari 2011

Kita pernah mendengar satu penjelasan dari salah satu hadist Rasulullah SAW yang menyebutkan bahwa kita, kaum muslimin, pada suatu ketika akan hidup seperti makanan yang diperebutkan oleh banyak orang atau umat-umat yang lainnya. Dan ketika seorang sahabat bertanya, mengapa hal itu terjadi, Rasulullah menjawab: “karena kaum muslimin menderita suatu penyakit yang disebut wahn”. Meskipun, jumlah kaum muslimin sangat banyak.

Alasan inilah yang kemudian menjelaskan satu realitas yang sedang kita hadapi saat ini. Yaitu ketiadaan kewibawaan kaum muslimin dihadapan umat-umat yang lain. Ketiadaan mentalitas keberanian, Asy Syajaah, selain berefek pada tak dipandangnya umat muslimin secara eksternal, penyakit ini justru tidak sedikit kita temukan berkembang dikalangan internal kaum muslimin sehingga keberanian untuk memikul beban yang lebih banyak sangat jarang kita temukan.

Kita belum akan berbicara pada keberanian secara eksternal, tapi di sini kita hanya akan berbicara tentang keberanian secara internal yang mendorong seseorang untuk mengambil peran-peran keislaman seiring dengan usia perjalanannya di muka bumi.

Tugas meneruskan risalah ini, jika kita bisa menganalogikannya, maka perjalanan hidup ini bukanlah seperti kerja sebuah bus, yang sepanjang perjalanannya ada saja muatannya yang naik dan ada juga turun. Tetapi sifat pekerjaan meneruskan risalah ini adalah sebuah kendaraan yang penumpangnnya tidak pernah turun, yang ada hanyalah terus menerus bertambah bebannya seiring dengan pertambahan usia perjalanannya.

Iman, tentu saja tidak akan bernilai jika tidak mendorong pemiliknya untuk merealisasikannya menjadi amal yang nyata di tengah realitas kehidupan. Kita yang dididik dalam keislaman sekian lama, untuk membangun kembali karakter keislaman kita, tentu saja dalam doktrin-doktrin keislman itu, kita yang menyebutkan bahwa nahnu qaum amaliyyun, kalian adalah kaum yang beramal. Bukan para propagandis kebaikan. Tapi kita adalah pekerja amal.

Sebagian aktivis, sekali lagi mengalami kendala ini. Ketiadaan sifat Asy Syajaah dalam jiwanya. Sehingga hal inilah yang menjadi alasan yang menjelaskan bahwa sebagian muslim tidak berani mengambil alih tugas-tugas keislaman secara berani. Entah, sebesar apapun risiko yang kemudian akan hadapi karena tugas itu. Adanya ketakutan bahwa suatu saat ia akan disalahkan karena ketidaksanggupannya menyelesaikan target-target tugas yang diberikan kepadanya.

Rasulullah SAW punya cara sendiri untuk membangkitkan dan mendorong karakter ini keluar dari kedalaman jiwa para sahabat-sahabatnya. Pada suatu malam, menjelang hari peperangan Rasulullah SAW mengangkat pedang dihadapan para sahabat dan kemudian berkata: “ Siapa yang mau mengambil pedang ini, maka Allah SWT akan mencintainya”. Maka tak satupun sahabat yang tidak mengangkat tangannya. Sampai kemudian Rasulullah SAW mengatakan: “tapi yang mengambil pedang ini harus mampu menunaikan tugasnya”. Yaitu memenangkan peperangan. Inilah cara Rasulullah SAW, memupuk, memelihara, bibit keberanian di hati sahabat-sahabatnya.

Keberanian ini adalah sejenis keberanian yang pernah dimiliki oleh Umar bin Khatab. Ketika hendak hijrah, beliau mengatakan: “ Saya akan melakukan hijrah, dan saya akan melalui jalan ini, siapa yang mau menjandakan istrinya, meyatimkan anaknya, maka silahkan tunggu saya di sana.” Atau jenis keberanian spektakuler yang pernah diperlihatkan oleh Khalid bin Walid pada wajah sejarah yang ketika hendak memasuki suatu wilayah, maka raja-raja di daerah tersebut tidak lagi melakukan perlawanan kecuali menyerah pasrah.

Sebagian orang memang memiliki sifat As Syajaah ini sebagai sifat bawaan memang mereka miliki sejak lahir. Boleh jadi memang kita tidak memilikinya sebagai bawaan sejak lahir, tetapi sifat ini bisa kita munculkan melalui latihan.

Inilah yang senantiasa dilakukan oleh Rasulullah SAW, yang pada suatu malam menjelang esok hari peperangan ia mengangkat pedangnya dan mengatakan “siapa yang mau mengambil pedang ini, maka ia akan dicintai Allah.” Artinya Rasulullah menstimulasi sifat keberanian untuk mengambil beban dengan risiko berat bagi para sahabatnya.

Keberanian yang tentu saja mengandung risiko ini, hanya akan dimiliki oleh mereka yang memiliki kekuatan iman tak goyah. Yang dengan keimanan yang kuat itulah ia meyakini adanya pertolongan Allah SWT. Apakah Anda memiliki sifat ini? Saya tidak tahu. Tapi saya kira kita bisa melatihnya agar sifat ini muncul sebagai karakter.
readmore »»ǴǴ

Selasa, 10 Mei 2011

Akumulasi Beban



Jum`at, 11 Maret 2011

Hakekat sebuah perjalanan adalah ujian. Hanya saja, pemahaman yang baik akan tabiat jalan yang ditempuh akan mampu memberikan seseorang kesadaran yang kuat tentang apa yang perlu dipersiapkannya agar perjalanannya dapat sampai ke tujuan.

Pengetahuan tentang tabiat jalan, juga akan memberikan kesadaran yang kuat bagi seseorang bahwa mungkin akan ada tikungan-tikungan perjalanan yang akan ia temui selama perjalanan menuju tujuan tersebut. Dimana tikungan-tikungan tersebut bisa saja membuatnya tersesat sehingga tidak dapat sampai ke tujuan yang telah ia tetapkan.

Jika kita mencoba merefleksi ulang perjalan kita dalam dakwah ini, maka kita akan menemukan bahwa ada korelasi positif antara lamanya perjalanan atau usia kita dalam dakwah dengan pertambahan beban yang kita pikul.

Jika kita mencoba merefleksi ulang, saat pertama kita disentuh oleh tarbiyah, maka beban kita hanya ada satu, yaitu kehadiran di halaqoh. Tetapi seiring pertambahan usia kita dalam tarbiyah, kita merasakan bahwa beban-beban yang kita pikul dalam dakwah ini semakin berat dan bertambah. Sekarang antum semuanya mendapatkan banyak sekali amanah dakwah, yang membuat antum semuanya hampir tidak punya waktu untuk mengurusi diri sendiri.

Peerlahan-lahan kita mulai merasakan kebenaran dari kalimat Ustad Hasan Al Banna bahwa: “kewajiban seorang muslim itu, jauh lebih banyak dibandingkan dengan waktu yang tersedia baginya”

Maka benarlah sebuah analogi yang menyebutkan bahwa “perjalanan dakwah itu, bukanlah seperti perjalanan sebuah bus, dimana ada saja penumpangnya yang turun dan ada juga penumpangnya yang naik. Tetapi hakekat dakwah ini, adalah seperti sebuah kendaran, apa saja namanya, tetapi kendaraan itu hanya memberikan satu pintu masuk bagi penumpang-penumpang baru untuk naik tetapi tidak memberikan jalan keluar, jalan turun bagi penumpang yang telah berada di atas bus”

Itulah pelajaran sejarah yang bisa kita temukan dalam kehidupan Rasulullah SAW. Karena beliau adalah teladan terbaik maka darinyalah kita juga bisa belajar tentang hakekat ini.

Di awal-awal dakwahnya, di Mekkah, beliau mungkin hanya punya beberapa beban, antaralain beban untuk menyeru manusia kepada risalah yang dibawanya, atau juga ancaman pembunuhan yang didapatkannya dari orang-orang Quraisy, atau juga ia hanya punya satu beban, seorang Istri. Khadijah r.a.

Tapi seiring pertambahan usianya didalam dakwah, di Madinnah, beban-beban itu semakin bertambah. Beliau, bukan hanya mendapatkan ancaman pembunuhan saja, tetapi beliau harus berhadap-hadapan secara langsung dengan para kafirun dan quraisy. Bukan hanya mengatakan “bersabar” tapi, kakek yang berusia 57 tahun itu kini harus mengenakan pakaian dari besi untuk melindungi tubuhnya dari ancaman libasan pedang yang datang dari musuh-musuhnya di medan perang.

Istri, ini juga bertambah. Jika di Mekkah ia hanya mengurusi Khadijah, kini, di Madinah, beliau harus mengurusi sembilan orang istri dalam rumahnya, bahkan dalam salah satu riwayat disebutkan bahwa istrinya ada 13 orang.

Jadi jika pada suatu waktu kita menemukan riwayat bahwa salah satu doa yang paling sering dibaca oleh Rasulullah SAW adalah: “Ya Allah, jadikanlah amal-amal terbaikku adalah amal yang terakhir, dan jadikanlah umur terbaikku adalah di akhirnya, dan jadikanlah hari-hari terbaikku adalah hari ketika aku bertemu dengan-Mu.”

Maka ini adalah penjelasan tentang konsistensi, penjelasan tentang keteguhan dalam melakukan kebaikan dan menyeru manusia ke jalan dakwah.

Tentang hal ini Ustad Hasan Al Banna telah menyebutkan bahwa:
“Di dunia ini banyak orang yang memiliki akal tetapi hanya sedikit yang mempelajari Al Quran, dari yang sedikit mempelajari Al Quran hanya sedikit dari mereka yang mengamalkannya, dari sedikit yang mengamalkannya hanya sedikit yang mendakwahkannya, dari sedikit yang mendakwahkannya hanya sedikit yang bersabar dalam dakwah, dari sedikit yang bersabar itu hanya sedikit yang bertahan sampai ke ujungnya.”

Artinya, bahwa dakwah ini hakekatnya adalah seleksi. Dan karena perjalanan dakwah ini adalah perjalanan yang sangat panjang, maka kita menemukan bahwa banyak orang yang akhirnya berhenti, mundur dari dakwah.

Dan seiring pertambahan usia kita dalam dakwah, di sepanjang pertambahan usia itu, Allah SWT juga menyediakan banyak sekali peristiwa-peristiwa dakwah, untuk menguji kita, dalam banyak bentuknya, untuk membuat karakter asli dari setiap kita keluar satu persatu. Dan dalam ujian-ujian itu, ada yang akhirnya tak mampu bertahan sehingga memilih mundur dari perjalanan. Tetapi ada juga, yang menjadikan peristiwa-peristiwa itu sebagai alat untuk meningkatkan keteguhannya di jalan dakwah. Karena besarnya cadangan kesabaran di banker perasaan dan jiwanya.

Jika pada suatu waktu kita mendengarkan kalimat : “likulli marhalatin rijaluha, likulii marhalatin tabi`atuha”. Setiap zaman ada rijalnya, setiap zaman ada tantangan-tantangannya sendiri. Artinya, bahwa setiap zaman itu punya tabiatnya sendiri-sendiri dan orang yang dapat hidup di suatu zaman itu harus bisa menyesuaikan dirinya dengan kondisi zaman tersebut agar ia bisa bertahan.

Dakwah kita ini, sudah menempuh sekian dari tahapan-tahapan dakwah yang digariskannya menuju pencapaian cita-citanya. Dakwah ini telah melalui dua tahapannya, tandzimi dan sya`bi. Dan saat ini, generasi kita ini hidup di era muasassi. Tetapi, sebagaimana yang kita pahami, bahwa perubahan marahalah, bukanlah sebuah perpindahan, tetapi perluasan pekerjaan. Dan itu artinya, beban-beban yang kita akan pikul, beban-beban yang harus dipikul oleh kader dakwah pada dua marahalah sebelumnya harus tetap kita pikul, oleh kita, kader dakwah yang hidup di generasi ini, ditambah dengan beban-beban di marahalah ini.

Jika kita masih mengingat pelajaran kita di bangku sekolah, tentang adaptasi, bahwa makhluk-makhluk hidup yang dapat bertahan hidup pada suatu perubahan zaman adalah makhluk hidup yang harus dapat menyesuaiakan dirinya dengan karakter zaman baru.

Ini artinya perubahan marahalah dakwah ini, harus kita sikapi dengan mengkondisikan diri kita, mengkondisikan dan membentuk binaan-bianaan kita agar dapat hidup dan bertahan di zaman ini, di marahalah ini. Karena jika tidak, maka akan ada seleksi alam yang membuat kita tersisih dan mati.

Mungkin pada suatu waktu, kita akan menemukan bahwa dakwah ini membuat satu kebijakan yang tidak kita setujui, lalu kita ngambek dan tidak mau bekerja. Di tengah kesibukan, di tengah banyaknya tuntutan-tuntutan kebutuhan pribadi kita terkadang kita mulai memilih-memilih perkerjaan dakwah berdasarkan apa yang kita senangi dan yang tidak kita senangi.

Dakwah ini, bukan pekerjaan yang kita kerjakan karena suka atau tidak suka, tapi dakwah sudah menetapkan garisnya sendirinya. Jika sudah seperti ini, maka kita telah mencerabut dari hakekat dakwah ini bahwa jalan ini adalah jalan yang pahit. Yang tak dihiasi oleh bunga-bunga indah. Demikianlah Rasulullah berkata: “katakanlah kebenaran itu meskipun pahit”. Pahit bukan untuk objek dakwah, tapi pahit untuk sang da`i. Dan inilah hakekat dari apa yang disebutkan oleh Ust. Hasan Al Banna dalam rukun taat.

Jadi, kesadaran yang kuat tentang adanya pertambahan beban dakwah seiring dengan pertambahan usia kita di dalamnya menjadi sesuatu yang sangat kita butuhkan. Dan dari pelajaran kehidupan Rasulullah SAW, kita bisa mengatakan dengan sangat sadar bahwa:

“jika pada suatu masa, seiring dengan pertambahan usia kita di dalam dakwah, tetapi beban-bebannya tidak bertambah, maka curigalah, jangan-jangan itu adalah isyarat bahwa kita perlahan-lahan akan tersingkir dari jalan dakwah, apalagi jika kita yang meminta untuk peringanan amanah dan beban dakwah, naudzubillah”
readmore »»ǴǴ

Jumat, 25 Februari 2011

Dari Gerakan Ke Negara “Realitas dari Tabiat Asli Islam”


Ahad, 20 Juni 2010

Dari gerakan ke negara, satu tabiat yang tidak mungkin dipisahkan dari cita-cita besar suatu umat yang meyakini bahwa islam adalah agama yang harus hadir di bumi, mengejewantah menjadi realitas, setelah ia diturunkan dari langit oleh Penciptanya, melaui Jibril.

Harus kesana memang ujungnya. Islam pertama kali hadir dalam pribadi manusia. Makanya, sejak semula islam telah mengatakan, “Iqro”. Perintah untuk membaca. Tapi kepada siapa?. Pribadi manusia muslimnya. Itulah yang pertama kali dibidik Sang Tuhan untuk realisasi awal nilai-nilai ajaran Islam.

Lalu Sang Rasul memilih manusia-manusia terbaik sebagai langkah awal perjalan sebuah gerakan menuju negara. Manusia-manusia yang memiliki kekokohan karakter. Tapi sebelumnya, iman mereka telah teguh membaja. Akar-akar imannya tertanam ke dalam dasar hati manusia-manusia itu. Setelah itu, Sang Rasul memilih tanah. Tanah Madinah. Langkah lanjut untuk sekali lagi membuktikan kemegahan Islam. Tapi tetap memang sebelum itu Islam harus menyatu dulu dengan karakter-karakter manusianya. Realitas inilah yang telah dibuktikan oleh sejarah.

Begitu tabiatnya. Islam memang tidak mungkin bisa menunjukan karakter aslinya, sebelum ia menjadi nyata di alam manusia. Lalu ketika islam telah bertransformasi dari sebuah gerakan menjadi sebuah Negara. Islam telah menunjukkan karakter aslinya. Tabiat yang telah pernah dicatatkan dalam sejarah dalam kalimat tuhannya “wama`arsalnaaka illa kaaffatallinnas”. Untuk seluruh manusia. Tanpa tekecuali.
Disanalah islam membuktikan keagungannya tidak hanya untuk umat islam. Tapi untuk semua manusia. Hak-hak diberikan. Kewajiban-kewajiban kenegeraan direalisasikan. Tidak peduli dia muslim atau bukan. Begitulah cara mereka memahami kebajikan ilahiah yang senantiasa memberikan karunia kebaikan dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan setiap makhluk-Nya, muslim dan nonmuslim.

Tapi islam tidak berujung disitu, pada keshalehan pribadi. Ia harus segera keluar, hadir untuk memenuhi kalimat tuhannya yang kedua, “wama arsalnaaka illa rahmatal lil alamin”. Untuk seluruh alam. Karena Islam ingin mengharmonisasi seluruh alam semesta dalam satu bingkai nilai-nilai kebajikan universal. Dan inilah tugas utama manusia-manusia muslimnya.

Tabiat setiap perubahan adalah adanya makna adaptasi. Demikian, dalam perubahan alam harokah. Hanya akan ada dua kelompok kader harokah. Kader yang tak mampu bertahan dialam baru, lalu mati. Tapi ada yang tetap hidup, lalu meneruskan kehidupannya. Tapi di dunia gerakan mungkin akan ada kelompok yang ketiga. Kelompok yang tidak mati, Tapi juga tak mampu mengikuti perkembangan realitas baru zamannya.
Kader yang tak mampu bertahan lalu mati. Biasanya lahir karena kedangkalan pemahaman. Tapi juga sebelumnya, mereka memang tidak pernah memberikan kontribusi terhadap harokah selama masa-masa perjalanan harokah dalam mendaki tangga-tangga tahapan pewujudan cita-citanya. “bersama-sama kita tapi sesungguhnya dia tidak bersama-sama kita”. Ia ada tapi tak berkontribusi. Fisiknya bersama harokah tapi jiwanya tak menyatu dengan tubuh harokah. Mereka mungkin masih disana, bersama harokah. Tapi jika ia tetap demikian, takkan lama sejarah akan segera menghempasnya.

Kelompok yang kedua. Mereka adalah kelompok yang memang tetap mampu bertahan dalam setiap perubahan harokah. Tapi ia sekadar ikut saja dalam perubahan itu. Kelompok kedua ini adalah kelompok kader harokah yang keterlibatan dalam kontribusi-kontribusinya tidak lahir diatas dasar pemahaman yang baik. Tentang mengapa ia harus berkontribusi?

Kelompok yang ketiga. Inilah kader harokah sesungguhnya. Merekalah yang selalu berkata seperti kalimat Saad bin Mu’az dalam perang Badar:
“Wahai Rasulullah, sungguh kami ini telah beriman kepadamu, telah seratus persen meyakini agama dan telah mengakui kebenaran agama yang engkau bawa kepada kami. Kami telah bersumpah setia untuk melaksanakan semua yang telah kami Janjikan kepadamu. Oleh karena itu, segeralah laksanakan apa yang telah menjadi keputusanmu, ya Rasulullah, dan kami setia kepadamu.”

Mereka memenuhi janjinya kepada Allah SWT. Tetapi sebelumnya, kekokohan karakter dan pemahamanya telah terintegrasi kuat dalam setiap sendi-sendi jiwanya. Menyatu. Lalu islam menjadi bagian dirinya. Dan dirinya menjadi bagian dari islam. Manusia yang keluar dari nilai kesendiriannya, untuk diberdayakan untuk semua manusia. Siapapun mereka. Di belahan bumi manapun mereka berada. Dan agama apapun dia.

Masih ada ruang manusia lain. Ruang manusia yang melingkupi tubuh harokah. Itulah masyarakat. Manusia-manusia yang kelak akan menjadi medan, dimana islam membuktikan makna-makna kata-kata ini “wama`arsalnaaka illa kaaffatallinnas” dan “wama arsalnaaka illa rahmatal lil alamin.”

Akan ada tiga kelompok manusia yang kita temukan disini. Pertama, Kelompok yang karena kelurusan fitrahnya ia menerima islam secara objektif. Dia menjadi muslim atau tidak. Menyenangi islam karena nilai-nilai kebaikan universalnya.

Kedua, kelompok yang sangat tidak memahami makna-makna diatas. Dia muslim. Lalu karena kedangkalan pengetahuannya, juga karena memang dia adalah manusia yang tumbuh besar dalam alam pemisah-misahkan makna islam dengan realitas kehidupan. Boleh, oleh dominasi rezim yang menjadi tempat manusia itu tumbuh berkembang. Lalu ia latah bersikap. Memusuhi segala bentuk penggabungan nilai-nilai islam dalam kehidupan.

Ketiga, kelompok yang begitu keras penentangannya. Kelompok ini biasanya berasal dari kelompok yang merasakan ancaman, ketika islam menunjukan karakter aslinya. Karena kepetingannya terancam. Eksistensinya terganggu. Merekalah yang disebutkan oleh Hasan Al Banna “nanti ketika mereka mengetahui karakter dakwah mu yang sesungguhnya maka mereka akan menunjukan pertentangan kepadamu dengan sangat keras”

Inilah realitas yang tetap akan ada. Kecuali jika harokah memang tidak berada diatas rel perjuangannya yang benar.
readmore »»ǴǴ

Kamis, 10 Februari 2011

Impian Besar Pekerjaan Besar


Arif Atul M Dullah
Kamis, 8 Juni 2010


Ada satu gejala yang luar biasa di sebagian kalangan masyarakat barat, kalau tidak bisa disebut semuanya, dan mungkin inilah yang membedakan kita dengan mereka. Sebagai sebuah bangsa. Mungkin juga kita sebagai muslim. Setidaknya inilah yang kita bisa temukan pada penulis-penulis scenario film barat. Atau pada ilmuwan-ilmuwan barat. Ada satu kemampuan mengkhayal yang kuat disana. Sebelum mereka menulis cerita tentang film. Seperti film “the journey to the earth centre”. Cerita tentang perjalanan menuju pusat bumi. Dan dengan sangat yakin saya ingin mengatakan bahwa inilah yang tidak dimiliki oleh sebagian kaum muslimin.

Mungkin kelihatannya terlalu naïf secara nurani keislaman kita, jika menganggap bahwa film-film tersebut benar. Misalnya khayalan mereka tentang adanya satu kehidupan di pusat bumi sana. Atau cerita tentang beberapa astronot yang berhasil menghancurkan meteor besar yang akan menghancurkan bumi. Hampir mustahil memang. Tapi kondisi inilah yang mendorong diri mereka dengan sangat kuat untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan besar untuk membuktikan impian mereka itu. Minimal ada satu sisi positif disini. Mereka merangkai satu mimpi yang mungkin memang mustahil ada. Ceritanya mungkin fiksi. Tapi itulah daya jangkau akal yang besar. Yang kemudian memotivasi mereka secara terus-menerus untuk membuktikan impian mereka itu.

Terasa sangat berbeda dengan diri kita. Sebagai sebuah bangsa atau sebagai seorang muslim. Mungkin kita tidak pernah berani untuk menetapkan satu impian besar dalam hidup kita. Atau mungkin tidak pernah ada memang. Dan jika mungkin ada, maka ada jurang yang besar antara impian dan realisasi impian itu.

Padahal ketika berbicara tentang khilafah. Sebuah cita-cita yang mungkin tidak ada pada sebagian besar kaum muslimin. Sebuah Negara yang luas, Yang disana kita memberikan keadilan bagi manusia secara keseluruhannya. Dan mendistribusikan kesejahteraan bagi seluruh masyarakatnya. Lalu ada janji Allah yang pasti. Yang tidak ada pada keyakinan penulis film-film tadi. Atau ilmuan-ilmuan barat tadi.

Atau misalnya ketika kita membaca ayat-ayat Allah swt. “idza jaa anasrullahi wal fath, wara`aitannasa yadkhuluuna fii dinillahi afwaja”. Atau janji-janji Rasulullah seperti penaklukan kota Roma yang kedua (Italia). Lalu ketika Allah menjanjikan tentang akan datangnya satu masa dimana manusia berbondong-bondong memasuki pintu gerbang keislaman. Sekali lagi mungkin ini tidak ada pada sebagian impian muslim. Atau jika mungkin ada, maka kita akan menemukan adanya jurang pemisah yang besar yang membentang antara impian dan realitas itu.

Jurang pemisah itulah yang ingin saya sebut dengan kerja besar. Janji-janji Allah tersebut terlalu besar. Lalu jika memang menanamkan dalam hati kita tentang kepastian janji tersebut, menyatu dalam impian setiap muslim. Dan mungkin setiap muslim punya impian yang besar itu dalam jiwanya. Tapi mungkin dia tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan besar untuk merealisisasikan janji itu. Padahal impian besar tidak mungkin dicapai hanya dengan melakukan pekerjaan pekerjaan kecil.

Itu realitas yang tak mungkin kita pungkiri. Maka sudah saatnya impian itu kita tanamkan kuat dalam dasar alam jiwa kita. Sebagai muslim. Setelah itu kita mulai melakukan pekerjaan-pekerjaan besar dalam hidup untuk merealisasikan janji tadi.

Jika impian para penulis cerita film-film fiksi itu tidak dibangun dari motivasi iman. Maka kita berbeda, kita memiliki keyakinan akan kepastian janji Allah. Hanya saja untuk merealisasikan cita-cita itu, kita sudah sangat wajib untuk mulai melakukan pekerjaan-pekerjaan besar selama hidup. Agar jurang pemisah antara impian dan realisasi janji itu dapat dijembatani oleh kerja-kerja besar yang akan terus kita lakukan secara berkesinambungan.
readmore »»ǴǴ

Selasa, 08 Februari 2011

Mutiara Di Balik Sejarah Yang Tersimpan Di Bawah Lembar-Lembar


Arif Atul Mahmudah Dullah
Kamis, 1 Juli 2010


Mari. Mari kita rehat sejenak dari rutinitas. Rutinitas yang telah mengikis banyak sekali energi jiwa kita. Sesekali, marilah kita membuka lembar-lembar sejarah yang telah kita tulis-tulis. Mungkin disana, dicoret-coret tak beraturan itu, kita bisa menemukan mutiara. Ya. Rangkaian Mutiara perjalanan hidup.

Mutiara yang ada di setiap langkah yang telah kita tapaki. Dan pada jejak yang telah kita tinggalkan dibelakang. Satu-satu kita baca. Lalu merenungi apa yang ada dibalik setiap katanya. Disanalah mungkin kita bisa menemukan banyak sekali mutiara. Mutiara hikmah yang terpendam dilembar-lembar sejarah itu. Disana ada cerita tentang pendakian gunung cita-cita. Disana ada cerita tentang menuruni bukit ujian perjalanan. Perjalanan yang belum terlalu jauh memang. Tetapi semoga saja mutiara itu mampu memantulkan cahayanya untuk menerangi jalan panjang yang masih terbentang dihadapan.

Disana akan engkau temui cerita tentang perjalanan. Perjalanan mu sendiri. Perjalanan orang lain, saudaramu. Atau juga tentang realitas jiwamu saat menyebrangi jembatan jahiliah menuju terminal iman. Lalu bukalah berangkas amalmu. Bertanyalah sudah seberapa banyak investasimu untuk masa depan. Masa depan yang engkau impikan.

Disana juga akan engkau temukan cerita tentang badai perjalanan. Badai yang menguji seberapa kokohkah engkau, untuk tetap berada dijalan itu. Mungkin disana juga akan engkau temui, bahwa itu bukanlah badai. Tetapi angin sepoi. Karena justru badai sebenarnya sedang menantimu dihadapan. Dihadapan jalan yang sedang jalani saat ini. Ambillah mutiara masa lalumu. Mutiara sejarah itu. Lalu bertanyalah lagi, seberapa kuat engkau bisa bertahan, jika yang datang justru badai sesungguhnya. Bukan angin sepoi.

Tidak…itu realitas duniamu dimasa lalu. Pejamkan matamu. Lalu ambilah mutiara di balik sejarah yang tersimpan di bawah lembar-lembar itu. Kemudian bukalah matamu untuk melihat realitas duniamu kini. Karena inilah realitas duniamu. Indonesia dan dunia Islam mu.

Disana ada hujan air mata yang terus-menerus menyirami bumi tandus keadilan negerimu. Saat linangan air mata seorang Ibu untuk sang anak yang kehilangan dua cahaya matanya. Atau cerita tentang seorang anak yang tak mampu mengerjakan dan mewujudkan apa yang menjadi impiannya. Karena terhempas badai selama perjalannya kesana. Atau kisah tentang anak-anak muslim yang harus mengambil alih peran orang tua mereka, untuk membela nilai-nilai kemanusiaannya. Menjaga harga imannya.

Mutiara sejarah itu adalah cerita tentang bagaimana caramu belajar. Belajar untuk menjadi lebih baik. Sebagai muslim. Dan kini sudah saatnya engkau, untuk keluar menuju ke medan-medan. Lalu nyalakanlah lilin keimananmu untuk menerangi lorong-lorong gelap keadilan di negerimu.

Mungkin memang, engkau hanya bisa menjadi sebatang lilin dengan seberkas cahaya ditengah luasnya kegelapan negeri mu. Tetapi dengan tiupan angin cintamu, berkas sinarnya bisa merambah, membakar sumbu lilin-lilin lain disekitarnya sampai ribuan bahkan jutaan lilin menebarkan cahayanya. Sepertimu pertama kali. Hingga kelak cahanya tak hanya lagi menerangi bumi indonesiamu tapi juga peradaban manusia.

Mungkin memang engkau juga tidak bisa menjadi bangunan baru peradaban negerimu, tetapi tutuplah matamu sekali lagi. Lalu katakan. Akulah batu bata yang akan menjadi bagian dari batu bata yang banyak itu. Batu bata peradaban. Melalui kontribusi kebaikan yang terus menerus aku berikan. Sekecil apapun itu. Sesederhana apapun itu.

Engkau hanya perlu berucap kepada dirimu sendiri sekali lagi. Aku memang bukan matahari. Tapi aku adalah satu lilin yang telah memberikan cahayanya untuk menyalakan lilin-lilin lainnya. Memang. Aku hanyalah sebatang lilin. Aku memang bukanlah sebuah bangunan peradaban. Tapi aku adalah bagian dari batu bata peradaban itu.

Setelah itu kelak, saat engkau hendak menghadap Sang Penciptamu, engkau bisa berkata dihadapan-Nya dengan bangga: Aku telah melakukan apa yang aku bisa. Hanya untukmu Ya Allah. Lalu tutuplah matamu dalam damai. Karena syurga-Nya menunggu.

readmore »»ǴǴ