Rabu, 26 Oktober 2011

Masih Tentang Cinta (2)

Rabu, 26 Oktober 2011
Pukul. 15.45 WITA

Kita telah berbicara cinta dalam tema khusus. Cinta kepada Allah SWT. Dan itulah puncak gunung cinta. Karena kata Ibnu Qoyyim Al Jauziah “cinta kepada kesempurnaan adalah cinta yang tertinggi”. Dan Itu artinya cinta jenis ini adalah cinta kepada Allah SWT karena Dia-lah yang Maha Sempurna. Sekaran kita ingin berbicara tentang cinta yang terkhususkan kepada seseorang. Seseorang yang telah ditakdirkan untuk menjadi pendamping hidup.

Dalam konteks takdir, cinta kepada seseorang atau lebih dikenal dengan jodoh, adalah sesuatu yang telah diciptakan sejak semula sebagai sebuah kepastian. Akan tetapi, pertanyaan yang tak bisa kita jawab adalah bagaimana cara kita memastikan siapa sebenarnya seseorang yang ditakdirkan untuk menjadi pendamping hidup kita? Sekali lagi tidak, kita tak bisa memastikannya. Maka dalam makna inilah kita akan menemukan fakta bahwa jatuh cinta adalah fenomena manusiawi yang hadir di ruang jiwa seorang manusia. Ia sesuatu yang tak mungkin bisa kita ingkari. Maka kita akan bertanya, sebenarnya cinta jenis ini, cinta kepada seseorang, dari mana ia berasal?


Keserasian. Itulah alasan ketertarikan itu. Seperti sifat zat di alam, bahwa ia akan memiliki daya kohesifitas yang kuat jika sejenis. Seperti ketika kita mencampur air ke dalam air. Dan seperti itulah lahirnya cinta.

Cinta, sesungguhnya bermula dari pandangan, tapi ia lahir bukan karena ketertarikan jiwa kepada objek yg dicintai, berupa fisik, harta karena ia fana. Jika ia lahir karena alasan fisik, alasan harta maka cinta akan berkurang seiring dengan berkurangnya kualitas dan kadar fisik dan harta. Pandangan akan menjadi pintu yang menemukan keserasian-keserasian itu pada objek yang kita amati.

Keserasian itu, kata Ibnu Qoyyim Al Jauziah bisa dalam banyak hal tetapi yang tertinggi dan keserasian yang terbaik adalah keserasian dalam hal tujuan hidup. Jika pada satu waktu kita menemukan bahwa Rasulullah SAW mengatakan “perumpamaan mukmin dengan mukmin yang lain itu seperti satu tubuh, jika ada satu bagian yang sakit makan bagian tubuh yang lain akan merasakan sakit. Maka inilah penjelasannya. Kata mukmin dalam hadits tersebut adalah kata penjelas tentang makna kesamaan tujuan ini.

Karena keserasian itu bisa dari banyak hal, maka cinta yang lahir di jiwa seseorang haruslah punya alasan yang abadi untuk membuat cinta itu abadi. Begitulah, maka cinta kepada hal yang lain harus dibangun di atas landasan cinta kepada Allah, Dia abadi. karena hanya dengan itulah cinta akan menjadi abadi.

Lalu jika perasaan cinta itu lahir karena keserasian. Kenapa kita menemukan fakta ada "cinta yang bertepuk sebelah tangan? Cinta yang lahir dari seseorang, kata Ibnu Qoyyim Al Jauzaih bisa ada dalam dua jenisnya yaitu cinta di permukaan dan cinta yg bersumber dari jiwa.

Cinta di permukaan ini, biasanya lahir karena tampilan fisik yang menarik dari objek yang dipandang, Tapi daya tarik itu tidak sampai di kedalaman jiwa orang yang jatuh cinta. Cinta jenis ini memang tak menuntut pada kebersamaan, Ataupun jika akhirnya berlanjut biasanya hubungan itu tidak akan berlangsung lebih lama, jika akhirnya daya tarik fisik itu tak berujung pd kecocokan tujuan. Mungkin inilah alasan yang menjelaskan kita menemukan kasus-kasus perceraian. Menikah tak begitu lama dan akhirnya harus berujung pada perceraian.

Sedangkan jenis cinta yang bersumber dari jiwa, biasanya akan berujung pada kebersamaan. Karena jiwa pemiliknya akan bersahut-sahut saling memanggil, karena kecocokan keduanya. Cinta yang bersumber dari jiwa ini biasanya hanya menjadikan fisik sebagai kebutuhan berikutnya.Tapi bukan yang utama. Karena fisik memang digerakkan oleh jiwa. Maka jika cinta pada suatu waktu kita menemukan tak berbalas, Itu artinnya cinta yang lahir adalah cinta dipermukaan. Cinta yang lahir karena fatamorgana pandang. Cinta kepada fisik yang akhirnya tak menemukn kesamaan tujuan pada pemilik perasaan itu.


readmore »»ǴǴ

Masih Tentang Cinta (1)

Rabu, 26 Oktober 2011
Pukul 06.00 WITA

Pembicaraan tentang cinta memang tak akan pernah habis. Seperti ketika kita hendak mendefenisikan apa arti kata cinta. Karena cintalah yang melatari semua peristiwa di kehidupan. Matahari yang terbit di pagi hari, Bumi yang berputar mengelilingi porosnya, kelahiran seorang anak manusia ke dunia, dan bahkan cintalah yang melatari lahirnya alam semesta. Maka pembicaraan kita tentang cinta memang tak akan pernah bisa berakhir. Tapi izinkan saya berbicara tentang cinta dari tema ini. Tentang bagaimana cinta itu dijalani dan konsekuensi yang harus ditempuh para pecinta untuk sampai kepada yang mereka cintai.

Jika kita membaca dari firman-firman-Nya tentang bagaimana Allah SWT berbicara tentang cinta, maka kita akan menyimpulkan bahwa kata cinta mengandung konsekuensi yang teramat agung. Ketika kita mempersaksikan-Nya sebagai Tuhan satu-satunya, Allah menggunakan kata ini “mitsaqan ghalizho”. Perjanjian yang berat.


Mitsaqon Ghaliza berarti perjanjian yang berat. Dalam Al Quran, kata Mitsaqon Ghaliza hanya disebutkan tiga kali, yaitu ketika Allah SWT membuat perjanjian dengan para Nabi dan Rasul Ulul Azmi , ketika Allah SWT mengangkat Bukit Tsur di atas kepala Bani Israil dan menyuruh mereka bersumpah setia di hadapan Allah, dan ketika Allah SWT menyatakan hubungan pernikahan. Dua hal yang pertama tentang tauhid dan terakhir tentang hubungan antara dua manusia yang berbeda jenis.Untuk tauhid [QS 33 : 7] [QS 4 : 154] untuk pernikahan [QS 4 : 21] Tapi semuanya adalah peristiwa agung yang menggetarkan jiwa manusia.

Begitulah, kata cinta yang kita ucapkan akan menuntut banyak hal. Cinta akan membuat anda siap menjalani hal terpahit dalam hidup untuk sampai kepada yang anda cintai. Seperti ketika sakit, tak peduli sepahit apapun obat yang harus anda minum untuk sehat, karena anda mencintai sehat. Maka Allah menyediakan hal-hal "pahit" untuk sampai kepada-Nya, ketika mengatakan Aku Mencintai-Mu, ya Allah.

Tapi Allah, menciptakan lebih banyak hal-hal yang bisa Anda cintai dibandingkan dengan hal-hal yang Anda benci. Ketika kita mengatakan Aku Mencintai-Mu Ya Allah, Dia mensyaratkan satu hal bahwa cinta itu sama sekali tak boleh lagi berbagi. Tak boleh untuk siapapun. Cinta kepada Allah, harus berujung pada kesiapan kita untuk mewarnai diri dengan nilai-nilai yang dikehendaki-Nya. Hal Ini bukan sebentuk paksaan. Tapi memang begitulah cinta, ia ditakdirkan untuk membuat kita siap menghamba, siap tunduk dan merendah kepada-Nya.

Kita memang boleh mencintai hal yang lain, mencintai harta, mencintai benda, kendaraan, dan bahkan secara khusus kepada manusia dan wanita. Tapi bukan untuk menghamba. Bukan untuk patuh seperti kepatuhan pada-Nya. Karena semua kecintaan kita kepada yang lain selain-Nya, hanyalah bagian dari cara kita mencintai Allah. Dan itu artinya kecintaan kita kepada hal yang lain tak boleh bertentangan dengan apa yang dikehendaki-Nya.
readmore »»ǴǴ

Senin, 10 Oktober 2011

Tegar Di Tengah Badai

Ahad, 9 Oktober 2011
Pukul 06.02 WITA


Di perjalanan panjang kehidupan ini, sesekali kita akan diterpa badai kehidupan. Hal ini bukan sesuatu hal yang harus kita cemaskan, tetapi hal Ini justru kita butuhkan untuk mengokohkan, untuk meneguhkan dan untuk menguatkan seluruh instrumen kepribadian kita, fisik, jiwa, dan akal agar mampu menuntaskan sisa perjalanan kehidupan kita.

Jika pada suatu waktu Allah SWT mengatakan “Apakah kalian akan menyatakan diri kalian beriman padahal kalian belum benar-benar diuji” maka ini adalah penjelasan tentang hakekat bahwa Allah SWT akan menyediakan tantangan-tantangan kehidupan untuk menaikan kita pada satu tangga kemuliaan yang lebih tinggi dari posisi hidup kita sebelumnya.

Lihatlah sejarah, dan semua karya fenomenal yang pernah diukir manusia-manusia besar dalam kehidupan, akan kita temukan disana satu fakta bahwa sebelum mereka mencapai tangga prestisius kehidupan yang membuat mereka terhormat, mereka harus melalui jalan yang berdarah-darah, jalan yang menguras air mata dan fisik, serta debu-debu kehidupan.

Seorang Sayyid Quthb yang menyelesaikan karya fenomenal Tafsir Fii Zilalil Qur`an justru ketika ia menjalani masa-masa penyiksaan dalam penjara. Atau kisah terusirnya Rasulullah SAW dan para sahabatnya dari tanah air tercinta, lalu hidup di negeri baru tanpa harta, tanpa keluarga sebelum mereka kembali ke kota Mekakkah 10 tahun kemudian.

Tetapi, yang kita butuhkan setelah kesadaraan ini adalah jawaban akan pertanyaan ini, apa yang kita butuhkan agar terpaaan badai kehidupan itu dapat kita lalui, agar kita mampu mencapai tangga kemuliaan hidup?. Yang kita butuhkan untuk mampu melampaui badai hidup itu adalah kejelasan tujuan, cadangan kesabaran yang tak terbatas dan keyakinan yang teguh akan dekatnya pertolongan Allah SWT


Kejelasan tujuan menjadi instrument yang menjelaskan bahwa setiap sikap kita dalam hidup hanya akan mengarahkan kita pada satu arah yang jelas. Tujuan itu seperti setitik cahaya di dalam lorong gelap. Tujuan memberi arah kepada kita untuk selalu menuju ke sana. Kejelasan tujuan juga akan menjadi patron bagi kita, bahwa jika pada suatu saat dalam hidup, kita mulai menjauh dari arah yang telah kita tetapkan, kita akan mampu mengatur ulang langkah agar kembali ke track semula.

Inilah alasan yang menjelaskan mengapa Allah SWT ketika hendak menciptakan manusia, yang pertama kali dilakukan-Nya adalah menjelaskan apa tujuan menciptakan manusia. “Dan berkata Allah kepada malaikat: Saya hendak menciptakan khalifah (manusia) di muka bumi”. Agar kelak manusia yang akan diciptakan ini memiliki kejelasan orientasi, kejelasan tentang peran kehidupannya di muka bumi, yaitu sebagai wakil Allah SWT.

Yang kita butuhkan setelah itu adalah kesabaran. Kesabaran adalah karakter dasar yang harus dimiliki oleh penempuh jalan panjang menuju titik akhir hidupnya. Tak satupun yang mampu menyelesaikan perjalanan jika ia tak memiliki cadangan kesabaran yang besar. Kesabaran ini akan terus menerus diuji oleh waktu yang dihabiskan dalam perjalanan panjang menuju terminal akhir perjalanan hidup kita.

Kesabaran menjadi kebutuhan yang tak pernah boleh tak terawat. Karena kesabaran kita butuhkan ketika hendak mengatur ulang langkah, yang lelah akibat terpaan badai hidup. Juga, kesabaran ini kita butuhkan untuk menunggu datangnya jawaban atas setiap upaya kehidupan dari Sang Pencipta. Semua hal yang kita kerjakan dalam perjalan kehidupan membutuhkan sifat ini.

Hal terakhir yang kita butuhkan adalah bahwa kita harus benar-benar meyakini dengan sekuat-kuatnya akan adanya tangan Allah SWT yang akan menuntun kita agar tak jatuh ke dalam lumpur, ada tangan Allah yang akan menyingkirkan setiap hambatan kehidupan. Kita tak mungkin dibiarkan sendiri tanpa pertolongan-Nya.

Manusia, kadang begitu cemas karena terlalu seringnya gagal atas suatu usahanya dalam hidup. Tetapi saya percaya bahwa teruslah berupaya, jangan pernah berhenti mewujudkan mimpi anda, karena setelah jatah kegagalan anda telah terlampaui yang datang sesudahnya adalah kesuksesan-kesuksesan. Pada saat yang sama, kita memiliki tempat menggantung kehidupan. Maka orang-orang beriman yang diberi beban menempuh jalan panjang keimanan akan selalu memiliki harapan yang permanen, karena mereka memilki Allah.

Mungkin memang kisah hidup kita tak seindah kisah-kisah yang diceritakan dalam serial cinta yang ditulis oleh Anis Matta dan juga tak seperkasa para pahlawan yang diceritakannya dalam serial kepahlawanan, tetapi kita memiliki serial pembelajaran hidup yang akan memberikan kita satu hal, yaitu kemampuan untuk mengindahkan cinta dan memiliki karakter seperkasa pahlawan. Karena sekolah kehidupan ini mengajarkan kita satu hakekat, bahwa waktu kita untuk belajar selalu jauh lebih lama dibandingkan dengan waktu ujian.

readmore »»ǴǴ

Kamis, 08 September 2011

Akhir Sejarah Kita

Senin, 19 Juli 2010
Pukul 20.27 WITA

Kita telah di didik dalam tarbiyah sekian lama. Dimulai saat kali pertama kita menginjakkan kaki di dunia kampus. Dunia intelektual. Disanalah kita dikenalkan tentang jati diri sebagai muslim. Juga telah dijelaskan tentang visi hidup kita. Untuk hidup di dunia hanya dalam bingkai ibadah. juga telah sangat memahami dengan sesadar-sadarnya tugas sejarah kita. Sebagai khalifah Allah swt di muka bumi ini

Kita telah menanamkan semua hal tersebut secara kuat di dasar laut sanubari kita. Dan dengan keyakinan yang sangat kuat bahwa sekeras apapun badai yang menghadang di hadapan kita kelak, badai itu tak akan pernah dapat menggoyahkan langkah-langkah kaki kita untuk mewujudkan tugas sejarah itu tadi. Karena akar pohon iman kita telah menancap jauh ke dasar bumi jiwa kita.

Disanalah, di dalam tarbiyah itulah juga kita di didik untuk menjadi orang-orang yang memiliki mimpi. Mengimpikan peran-peran besar kita dalam sejarah peradaban manusia.

Kini tiba saatnya kita bekerja. Setelah memiliki mimpi-mimpi. Kini saatnya kita mengintegrasikan diri dengan umat dan manusia secara keseluruhannya setelah kita didik di lingkungan yang nyaman itu. Haloqah tarbiyah.

Saatnya kita keluar menyalalakan lilin iman ditengah kegelapan umat ini. Karena inilah tugas sejarah kita.

Dan rentang usia yang kita miliki, yang menentukan usia hidup kita tidaklah begitu panjang. Akan tetapi, inilah anugerah yang telah diberikan oleh Allah SWT kepada kita. Di usia kita yang masih muda ini. Kita telah memutuskan untuk hidup sebagai jundi-Nya. Dan telah dengan penuh kesungguhan untuk memaksimalkan sisa usia kita bagi perjuangan di jalan-Nya

Dan kelak insya Allah di masa depan, jika Allah memberikan kita kesempatan dan umur panjang, kita akan melihat manusia berbondong-bondong masuk ke dalam islam. “Sampai aku melihat manusia bersujud dari barat hingga ketimur.” Kata Rasulullah saat Perang Khandak. Sebagai sebuah janji yang pasti akan terjadi.

Tapi kita ingin memulainya dari kelompok masyarakat terdidik ini. Karena merekalah masa depan bangsa dan peradaban. Agar transformasi masyarakat bisa lebih maksimal kita lakukan dengan tampilnya pemimpin yang karakternya merupakan paduan dari tingkat intelektual yang baik dan kualitas keimananan yang baik pula.

Maka mari kita tekadkan sejak hari ini. Bahwa kita akan terus bekerja agar tak satupun manusia yang diperbudak oleh manusia yang lain. Setelah itu kita berikan kebebasan kepada mereka untuk memilih akidah yang diinginkannya. Dan lebih jauh setelahnya, kita akan membingkai hidup mereka dalam bingkai nilai-nilai islam yang universal.

Karena kita adalah guru peradaban manusia. Dan dari sinilah kita memulai langkah untuk merangkai indah akhir sejarah kita di lembar sejarah peradaban manusia. Agar alam semesta ini kembali pada hakekat diciptakannya.

Karena inilah akhir sejarah kita.
readmore »»ǴǴ

Minggu, 07 Agustus 2011

"Ramadhan, Mardrasah bagi Fisik, Jiwa dan Akal Untuk Merealisasikan Tugas Sebagai Wakil Allah Di Muka Bumi”

kamis, 4 Agustus 2011

Bismillahirrahmanirrahim……

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.
(Q.S Al Baqarah : 183)

Saudara-saudara sekalian,
Adalah satu kesyukuran yang sangat besar, atas karunia ramadhan yang diberikan oleh Allah swt kepada kita semua. Ramadhan yang kita jalani hari ini, dan juga tentu oleh saudara-saudara kita muslim yang lainnya, seharusnya berujung dengan hadirnya ketakwaan yang menguat pada diri kita sebagai muslim yang beriman. Karena takwa adalah output dari Ramadhan yang kita jalani saat ini, juga ibadah lainnya.

Salawat, salam kepada Rasulullah SAW. Teladan yang telah mengajarkan kita banyak hal dalam kehidupan ini, termasuk bagaimana cara terbaik untuk mempersiapkan diri menghadapi dan menjalani ramadhan, bahkan mengajarkan kepada kita tentang bagaimana memanfaatkan energi ramadhan untuk melakukan perubahan-perubahan besar dalam sejarah kehidupan kaum muslim, bahkan lebih luas, dalam skala peradaban manusia.

Saya ingin, memulai materi ini, dengan apa yang disebutkan terakhir, yaitu tentang bagaimana memanfaatkan energi ramadhan untuk melakukan perubahan-perubahan yang besar dalam kehidupan kita terutama dalam kehidupan kita secara pribadi sebagai seorang muslim.

Saudara-saudara sekalian,
Saya ingin memulai tema ini dengan menggambarkan sedikit tentang sejarah awal berdirinya institusi islam sebagai pengejawantahan dari nilai-nilai islam yang sejati. Karena kata Allah “wamaa`arsalnaaka illa rahmatal lil alamin”


Setelah Rasulullah SAW, meletakkan dasar-dasar keislaman yang paling hakiki, pada sekitar 200 orang muslim yang terdiri dari kaum muhajirin (Madinah dan Yastrib) dan Anshar, beliau menuntaskan tahap awal dakwahnya dengan melakukan hijrah ke Madinah dan mulai membangun islam sebagai sebuah institusi di sana (Madinah).

Akan tetapi, institusi madinah masih harus mengalami ujian eksistensinya, dan kita memahami secara baik bahwa kaum muslimin madinah harus menghadapi puluhan kali peperangan untuk melewati tahapan uji eksistensi ini.

Syariat puasa kemudian diturunkan oleh Allah SWT, pada tahun kedua hijriah pada bulan ramadhan, dan kita juga memahami persis bahwa Perang Badar Qubra terjadi pada bulan yang sama. Tetapi ketika menghadapi kondisi yang berat seperti ini, perhatikanlah, diantara kalimat-kalimat sahabat saat menghadapi peperangan ini (Badar):

Sa`ad bin Muadz : “kami benar-benar telah beriman kepadamu, kami membenarkanmu dan bersaksi bahwa engkau membawa kebenaran. Kami berikan untuk semua itu janji dan kesetiaan kami untuk mendengar dan taat, maka laksanakanlah apa yang engkau mau. Dan kami akan bersamamu. Demi Tuhan yang telah mengutusmu dengan kebenaran, Seandainya saja dihadapan kami terdapat lautan, niscaya kami akan menyelaminya bersamamu, tak seorang pun dari kami yang akan tinggal”

Atau seperti kalimat Umair bin Himam, ketika Rasulullah mengatakan: “demi zat yang jiwaku berada ditangan-Nya, tidaklah seseorang memerangi mereka pada hari ini, kemudian terbunuh, maju dan tak lari dari peperangan niscaya Allah akan memasukannya ke dalam syurga”. Beliau (Umair bin Himam) menyambut seruan itu: “bakh….bakh….(aku redho, aku redho).

Jumlah kaum muslimin pada saat itu hanya 300-an orang, harus berhadapan dengan pasukan yang dipimpin Abu Jahal dengan jumlah sekitar 1000 orang lengkap dengan pakaian perang, sedangkan kaum muslimin hanya menggunakan senjata sederhana, yang senjata itu sebenarnya hanya bertujuan untuk menghadang kafilah dagang Abu Sofyan.

Peristiwa tersebut, juga tentang sikap-sikap para sahabat, membuat kita menghasilkan satu kesimpulan: adanya kesadaran tentang orientasi akhir dari kehidupan kita sebagai seorang muslim, mampu menghilangkan semua rasa takut akan penderitaan hidup.

Saudara-saudara sekalian
Kesadaran yang kuat tentang muara akhir dari kehidupan ini, akan memberikan kita keterarahan, sekaligus kemampuan untuk menghemat energi hidup kita, untuk hanya menuju kepada satu hal, akhirat. Karena kesadaran inilah yang pertama kali ditanamkan oleh Rasulullah SAW, selama 13 tahun dakwahnya di Makkah, menjelaskan tentang, Iman kepada Allah, Iman kepada Rasulullah dan Iman kepada hari akhirat, sebelum merubah hal-hal lainnya pada diri seorang manusia.

Saudara-saudara sekalian
Kesadaran inilah yang juga ingin kita perkuat, terutama dimomen ramadhan ini, ketika nuansa ruhiyah tengah menguat di dada-dada kita. Kita, adalah manusia yang diciptakan oleh Allah SWT, dan sejak semula kita telah memahami dengan jelas, bahwa ketika Allah SWT hendak menciptakan manusia, Allah terlebih dahulu menjelaskan secara tegas, tugas yang akan diemban oleh makhluk baru yang disebut manusia itu.

Allah SWT mengatakan: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." (Q.S. 2 : 30)

Khalifah (wakil Allah SWT di bumi) adalah misi hidup yang telah diberikan oleh Allah SWT kepada kita semua. Ini adalah tanggungjawab yang besar. Karena tugas ini tidak mampu diemban oleh makhluk-makhluk lainnya. Peran yang akan kita emban, dalam perjalanan menuju muara akhir dari kehidupan kita ini dalam kondisi yang terbaik, muara akhir itu adalah akhirat. Disanalah Allah SWT menyediakan balasan bagi peran itu, jika kita berhasil mengembannya secara baik, Allah menjaminkan syurga bagi kita, dan sebaliknya, Allah menjanjikan neraka bagi kita.

Momentum ramadhan adalah waktu yang sangat tepat untuk menguatkan kembali kesadaran kita akan hal ini, kesadaran akan visi hidup kita sebagai muslim, karena kita ingin menjadikan ramadhan ini sebagai awal bagi perubahan-perubahan besar dalam hidup kita di masa yang akan datang.

Saudara-saudara sekalian
Untuk tugas besar itu, untuk menuntaskan tugas besar sebagai wakil Allah SWT di muka bumi, Dia, Allah SWT telah memberikan kita penjelasan tentang bagaimana seharusnya kita menjalani kehidupan ini, melalui para nabi yang diutus-Nya sampai matarantai kenabian itu ditutup oleh Rasulullah SAW dengan mukjizatnya, Al Quran. Setelah, Allah SWT, membekali kita, manusia, untuk menjalankan peran itu, berupa akal, jiwa dan jasad untuk dapat menyelsaikan tugas itu.

Saudara-saudara sekalian,
Pada dasarnya Allah SWT, telah menyediakan sarana-sarana penguatan tiga infrakstruktur kepribadian kita tersebut. Sarana itu adalah ibadah-ibadah yang ada.
Ramadhan, adalah madrasah terbaik untuk mengasah dan mendidik 3 infrastruktur kepribadian kita ini, melalui puasa dan ibadah-ibadah lain, yang kita maksimalkan, pada bulan ramadhan ini. Ramadhan akan melatih kita, untuk mendidik 3 infrastruktur kepribadian kita ini, agar efektif, agar maksimal dalam menjalan peran-peran kekhalifan, peran-peran sebagai wakil Allah SWT di muka bumi ini.

Saudara-saudara sekalian,
Pendidikan ruhiah (jiwa).
Menjelang ramadhan, kita telah jauh-jauh hari, bahkan jika melihat sikap para sahabat menghadapi ramadhan, telah menyiapkan diri untuk menyambut kehadiran bulan yang agung ini. Lalu kita menyusun target-target amal yang hendak kita kerjakan selama ramadhan.

Semua perencanaan itu kita mulai dengan satu hal, azzam (tekad). Tekad, adalah satu hal yang terdapat dalam jiwa. Kita tentu saja, dalam menyusun target-target tersebut bukan tanpa kemauan yang kuat karena kita mengharapkan pahala sebanyak-banyaknya. Lalu, ketika ramadhan tiba kita juga dengan tekad yang kuat berupaya untuk merealisasikan semua perencanaan-perencaan itu, karena kita ingin meraih gelar fitrah di ujung ramadhan.

Lalu, semua perencanaan amal itu, dengan sangat sungguh-sungguh ingin kita wujudkan selama 30 hari di Ramadhan. Dan tekad yang itu akan semakin kuat jika benar-benar menanamkan satu kesadaran yang kuat akan manfaat dari semua ibadah-ibadah tersebut.
Atau contoh lain misalnya, alasan apa yang menjelaskan kepada kita bahwa kita sama sekali tidak tergoda untuk makan dan minum disiang hari, hal yang biasa kita lakukan di luar ramadhan padahal kita kan bisa saja melakukan hal tersebut secara sembunyi-sembunyi.

Ahli-ahli kesehatan menyebutkan bahwa sugesti yang kita berikan kepada jiwa kita (niat) untuk puasa, akan memasuki sel-sel saraf dan merangsangnya. Sugesti itu, benar-benar memberikan efek yang luar biasa pada jiwa kita. Bayangkanlah, di siang hari di luar bulan ramadhan, kita begitu mudah lapar jika sejak pagi sampai siang tidak makan, itu karena sejak awal yang muncul dalam presepsi jiwa kita adalah bahwa kita bisa makan jika kita lapar.

Jika pada suatu waktu Rasulullah mengatakan: “Allah tidak melihat kepada rupa kalian, tidak melihat kepada wajah kalian, tetapi Allah melihat hati-hati kalian”. Tekad (iradah), adalah salah satu nilai yang terdapat dalam jiwa yang sangat diperhatikan oleh Allah SWT, misalnya: “waidza azzamta fatawakkal alallah.”

Itu adalah latihan dan ujian tekad yang panjang karena kita akan melakukan hal tersebut kurang lebih 30 hari. Meskipun ada fenomena yang kita temukan pada sebagian orang, bahwa tekad menuntaskan semua rencana amal mereka tidak selesai sampai di akhirnya. Karena masjid-masjid akhirnya mulai kosong terutama pada sepuluh hari terakhir ramadhan. Hal ini disebabkan karena tekad mereka tidak kuat, dan karena kesadaran akan balasan kebaikan di ramadhan tidak mengakar kokoh dalam kesadaran mereka.

Pendidikan fisik
Diantara hadist-hadist Rasulullah tentang puasa adalah “summu tasihhu.” Berpuasalah, agar kalian sehat. Sehat, dalam hal jiwa (ruhiy) dan juga termasuk kesehatan fisik. Fisik adalah kendaraan jiwa dan pikiran. Perintah-perintah jiwa dan pikiran tidak akan terlaksana dengan baik bila fisik tidak berada dalam kondisi yang baik dan prima. Sehingga fisik membutuhkan perawatan yang baik.

Ahli-ahli kesehatan dengan perkembangan ilmu pengetahun saat ini menyebutkan bahwa beberapa manfaat puasa antara lain adalah:
a.Berpuasa, memberikan kesempatan bagi organ pencernaan dan saraf untuk beristrahat bekerja selama kurang lebih 14 jam
b.Berpuasa membantu menurunkan kadar gula dalam darah, kolesterol, dan tekanan darah yang berlebihan akibat pola makan yang buruk
c.Berpuasa dapat menurunkan berat badan
d.Berpuasa adalah diet yang sehat karena ia tidak menyebabkan kekuarangan zat gizi tertentu

Saudara-saudara sekalian
Kesehatan fisik adalah modal yang kita butuhkan untuk meralisasikan keinginan-keinginan baik bagi seorang muslim. Kekuatan tekad, cita-cita yang besar, dan tanggung jawab yang besar seorang muslim, membutuhkan kendaraan yang kuat yaitu fisik yang kuat, bugar, sehat untuk bekerja, untuk beramal dan memberikan manfaat kepada sebanyak-banyaknya manusia. Apalagi untuk tugas sebesar, wakil Allah SWT dimuka bumi. Dan puasa, sekali lagi telah menjelaskan banyak sekali fakta, adalah madrasah yang sangat baik untuk mengkondisikan fisik agar tetap sehat.

Kondisi fisik kita haruslah menampilkan performance sistem pendukung yang seimbang dengan beban yang akan ia pikul. Dan itu artinya, diperlukan manajemen kesehatan pribadi agar kualitas fisik seorang muslim itu baik, sehat, kuat dan bugar. Dan Alhamudlillah Allah SWT menyediakan ramadhan bagi kita untuk mengkondisikan fisik kita. Selain, manfaat-manfaat ibadah ramadhan lain misalnya.

Pendidik Akal
Jiwa, raga dan pikiran kita adalah unsur yang tidak dapat kita pisah-pisahkan. Ketiganya menyatu saling mempengaruhi. Suasana jiwa yang baik atau pikiran yang jernih, akan mempengaruhi kualitas kesehatan fisik kita. Sebaliknya, kondisi kesehatan fisik yang buruk juga akan mengeruhkan suasana jiwa dan pikiran kita.

Hal ini, ingin kita kaitkan untuk memperkuat satu kesadaran akan tugas besar kita sebagai wakil Allah SWT, untuk mengelola bumi ini termasuk manusia secara keseluruhan karena kesadaran yang kuat akan orientasi kehidupan kita, akan membuat kita benar-benar mengupayakan bagaimana membangun kesadaran yang kuat tentang bagaimana memaksimalkan energi ibadah itu untuk merealisaikan tugas kita sebagai hamba. Orang-orang bijak mengatakan “semakin besar cita-cita anda, semakin kuat kesadaran anda akan tugas besar anda, maka adrenalin anda akan terpompa untuk mewujudkannya”.

Tapi kemauan yang kuat (tekad yang kuat), harus disertai dengan kapasitas akal yang besar, dan dukungan fisik yang kuat. Dan semua itu, bisa kita dapatkan melalui ibadah-ibadah ramadhan kita, selain janji akan dilipatkan gandakannya pahala. Karena energi besar dalam melaksanakan tugas-tugas besar kita sebagai wakil Allah SWT di muka bumi, seharusnya bisa kita peroleh dari ibadah-ibadah yang kita laksanakan.
Terakhir, setelah kita membangun kesadaran yang kuat akan tugas besar kita sebagai wakil Allah SWT di muka bumi, juga setelah kita membangun kesadaran akan manfaat ramadhan, bahwa ada balasan pahala berlipat dari setiap amal di dalamnya karena yang sangat kita harapkan dari Ramadhan ini kita bisa “terlahir kembali” dalam keadaan fitrah di akhir Ramadhan nanti, lalu menyadari manfaatnya, antaralain, bahwa Ramadhan bisa mendidik dengan baik fisik, jiwa dan akal kita, sebagai infrastruktur kepribadian yang menjadi modal kita untuk menjalankan tugas kekhalifahan dimuka bumi, maka itulah sebagian obsesi-obsesi besar yang ingin kita realisasikan di ramadhan tahun ini.

Kejelasan tujuan, keterarahan perjalanan, akan benar-benar membuat kita bersemangat dalam melaksanakan seluruh target-target ibadah ramadhan kita, karena tanpa target yang jelas di Ramadhan tahun, maka kita juga tidak akan dapat mengukur hasil kerja-kerja ibadah kita di ramadhan tahun ini. Semoga tekad kita, bisa terus menguat hingga akhir ramadhan dengan amal yang terus konsisten bahkan tekad itu terus kita bawa setelah ramadhan ini.

Demikian, mudah-mudahan Allah SWT, memberikan kita semuanya kekuatan untuk menjadikan ramadhan tahun ini, sebagai awal dari semua kebaikan yang akan kita peroleh di masa-masa yang akan datang, pada bulan-bulan di luar bulan Ramadhan.
readmore »»ǴǴ