Senin, 28 November 2011

Kontrol Gagasan

7 Juli 2010

Realitas dunia kampus tak ada bedanya dengan realitas kehidupan dalam skala nasional. Dakwah yang kita lakukan di kampus sesungguhnya sama persis dengan dakwah yang kita lakukan pada skala negara. Komponen objek dakwah yang harus kita urus juga sama. Di sana ada politik, di sana ada realitas sosial, dan di sana juga ada realitas ekonomi. Yang membedakan keduanya hanyalah pada besaran wilayah amal yang harus kita kelola dan kerjakan.

Jika kondisinya demikian, maka Interaksi kita sebagai dai dan organisasi yang membawa misi Islam dengan berbagai lembaga kemahasiswaan adalah satu realitas yang tak bisa dihindari. Termasuk interkasi dengan organ-organ kultur mahasiswa kampus. Organisasi kemahasiswaan dengan berbagai ragam basis ideology yang dimilikinya. Di sana ada Islam. di sana juga ada agama lainnya. Di sana juga ada kelompok nasionalis dan bahkan sekuler.


Nah, ketika kita ingin menguatkan pijakan kaki dakwah di tengah masyarakat kampus. Maka menjadi satu keniscayaan akan adanya interaksi antara harokah dan kadernya dengan beragam pemikiran dan basis ideologi tersebut. Dan keberadaan kita seharusnya dapatlah di terima oleh semua masyarakat kampus. Dan salah satu alasan penerimaan itu sesungguhnya adalah gagasan.

Gagasan yang ingin kita berikan sebagai sebentuk keinginan luhur kepada penataan masyarakat kampus. Tetapi di silah letak masalahnya. Kita dihadapkan pada pertanyaan ini: Bagaimana caranya agar gagasan yang kita berikan dapat diterima oleh banyak kelompok masyarakat kampus dengan ideology yang juga beragam tersebut, tanpa meninggalkan nilai-nilai yang menjadi dasar amal yang kita lakukan. Yaitu Islam.

Gagasan adalah mutiara. Mutiara yang menjadi nilai tawar yang sangat menentukan grade harokah di mata masyarakat kampus. Juga, gagasan dalam dakwah adalah faktor yang mampu mendinamisasi gerak harokah.

Akan tetapi, ketika dakwah memasuki era terbuka, dan terjadi interaksi dengan ragam pemikiran, maka gagasan yang lahir dari harokah dan kader harokah menjadi sangat mungkin telah mendapatkan pengaruh luar, akibat interaksi yang intens dengan realitas masyarakat kampus secara umum maupun melalui dialog antar gerakan, sehingga boleh jadi gagasan menjadi jauh terpinggirkan dari aspek-aspek orisinalitas Islam dan dakwah itu sendiri.

Ada hal yang utama untuk dilakukan di sini. Yaitu bagaimana menjaga orisinalitas gagasan yang kita release pada masyarakat kampus, agar tidak keluar dari bingai ideology yang kita pahami? Jawabannya adalah pemahaman yang mendalam terhadap aspek tsawabit dan mutaghayiirat dalam Islam. Tsawabit dalam agama. itulah yang kita sebut dengan aqidah, syariat, ibadah dan akhlak. Juga aspek tsawabit dalam fikroh. Tentang metode perjuangan dan cara pencapaian cita-cita dakwah. Dan hal lainnya, Yang semuanya tak boleh berubah.

Juga, pengetahuan yang mendalam tentang aspek Islam yang mana saja yang boleh disesuaikan dengan realitas zaman. Inilah yang kita sebut dengan aspek mutaghayiirat. Aspek mutaghayiirat memberikan ruang gerak yang luas bagi harokah untuk mencreate satu model perjuangan tetapi tetap dalam bingkai keislmanan. Jika mutaghayyirat member ruang gerak yang luas, maka tsawabitlah yang menjaga orisinalitas dakwah dan Islam.

Oleh sebab itulah kader harokah harus benar-benar memahami dua aspek ini. Dalam Islam dan juga dalam harokah. Agar dakwah bisa terus mengembangkan sayap selebar-lebarnya tetapi tetap dalam bingkai nilai-nilai Islam yang kita yakini.

Maka dasar pengetahuan yang kuat akan kedua aspek tersebut di atas menjadi sangat penting. Karena di tengah begitu banyaknya subhat kehidupan yang menari-nari di sekitar kita, kita memerlukan satu daya proteksi yang kuat, agar interaksi kita dengan subhat-subhat tersebut tidak mempegaruhi struktur bangunan kepribadian kita dan organisasi kita.

Dan hanyalah orang-orang yang memiliki ke dalam ilmulah yang dapat tetap bertahan dengan identitasnya di tengah subhat-subhat tersebut. “Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami."

readmore »»ǴǴ

Sabtu, 26 November 2011

Tradisi Ilmiah

Ahad, 11 Juli 2010

Dalam sebuah pertemuan para penanggung jawab dakwah. Muncul satu diskusi tentang dasar pertimbangan penentuan model pelaksanaan beberapa program dakwah yang akan dieksekusi di lapangan. Termasuk kebijakan-kebijakan lain secara umum dalam dakwah. Dalam diskusi, ditentukanlah dan ditetapkan satu model kegiatan yang begitu perfect. Dengan satu model pelaksanaan yang sangat ideal dan memang sangat menjanjikan. Bahwa hasil akan dicapai bisa maksimal bagi pemenuhan target-target dan tujuan pelaksanaannya.

Tapi ada yang missing dari kebijakan yang telah kita tetapkan. Pertanyaan ini yang belum bisa dijawab dengan baik: seberapa mampukah dan seberapa efektifkah strategi yang telah ditetapkan untuk melaksanakan konsep ideal yang ada?

Kebijakan-kebijkan yang kita tetapkan dalam dakwah haruslah dapat dijelaskan secara rasional. Kebijakan yang kita ambil untuk merespon realitas lapangan dakwah haruslah mampu menggabungkan dua nilai sekaligus. Nilai kebenaran dan nilai ketepatan. Kebenaran menjelaskan tetang kebijakan yang kita ambil benar secara manhaj dan ketepatan menjelaskan tentang kebijakan yang telah kita ambil bersesuaian dengan realitas internal dan realitas eksternal dakwah.

Kebenaran dan ketepatan dalam merespon realitas dakwah sangat ditentukan oleh satu kompetensi yang kita sebut dengan tradisi ilmiah. Inilah yang terkadang kita lupakan jika tidak bisa dikatakan terlalu sering kita abaikan.

Tradisi ilmiah sesungguhnya berasal dari kemampuan untuk menilai dan menganalisis realitas internal dan realitas eksternal. Realitas internal menjelaskan segala kekurangan dan kekuatan yang dimliki oleh harokah dan kader harokah. Sedangkan realitas eksternal menjelaskan tentang seberapa besar hambatan dan peluang-peluang yang ada di lapangan amal.

Karena tentu saja kita tidak ingin melakukan dan menetapkan satu kebijakan dakwah di tengah situasi yang begitu besar ruang ketidakpastiannya tanpa di bangun di atas dasar rasionalisasi yang kuat, yang mampu menjelaskan bahwa kebijakan yang kita ambil untuk dilaksanakan tidak hanya mengandung nilai kebenaran tetapi juga mengandung dengan nilai ketepatan (Waqi)

Rasulullah SAW mengatakan: “Allah SWT merahmati orang yang mengetahui kapasitas dirinya.” Pernyataan ini menjelaskan kepada kita tentang pentingnya memahami kapasitas diri. baik kapasitas internal harokah maupun kadernya secara keseluruhan. Pemahaman yang baik tentang diri ini, akan mampu menempatkan kader dan diri harokah pada sikap-sikap yang benar. Bahwa kebijakan yang telah diambi tidak lebih rendah dari kemampuannya. Juga, tidak melebihi kapasitas yang dimilikinya.

Tradisi ilmiah merupakan suatu kebijakan yang menjelaskan bahwa setiap sikap dan kebijkan yang kita tetapkan harus dibangun di atas basis data yang kuat. Data tentang realitas internal dan realitas eksternal.

Memang. Dalam kenyataannya tidaklah menjadi mustahil bahwa hal besar yang akan kita tetapkan dapat dengan mudah untuk kita capai. Tapi jika obsesi yang kita tetapkan itu terlalu tinggi sementara kapasitas internal yang kita memiliki tidak memenuhi syarat, maka secara matematis target tersebut sangat sulit tercapai. Karena adanya jurang pemisah di sini. Jurang pemisah yang membentang antara kapasitas internal dan realitas sosial yang kita inginkan.

Jurang pemisah inilah yang harus diatasi dan dicarikan solusi. Membuat jembatan penguhubung antara target realistis sesuai dengan kondisi internal dan internal kita. Maka yang perlu kita lakukan adalah menetapkan target sederhana dan realistis jika kita tidak bisa mengupgrade kapasitas dan menghilangkan hambatan internal dalam waktu singkat. Tapi mungkin sebagai pekerja proyek peradaban, sifat sepert ini kurang baik untuk dipertahankan karena mentarlitas seperti ini adalah mentalitas orang-orang yang kalah dan lemah.

Maka kita memang perlu membuat target itu sebesarnya-besarnya lalu menghitung seberapa lebar jurang pemisah yang ada yang dapat menghambat pencapaian tujuan. Kondisi yang kedua inilah yang diselesaikan dengan mengupgrade kapasitas internal dan menghilangkan hambatan eksternal kita.

Up grade kapasitas internal dapat dilakukan dalam satu program yang terencana, baik itu dari kapasitas organisasi maupun kader harokah. sedangkan hambatan ekseternal dapat dihilangkan dengan kemapuan strategi yang baik terutama para qiyadah harokah terutama melalui proses belajar yang tidak pernah boleh berhenti. Setiap peristiwa dan pengalaman yang melingkupi kita di lapangan dakwah adalah pelajaran berharga yang dapat kita jadikan sumber pelajaran untuk menata organisasi ini menjadi lebih kuat dimasa depan. Agar kebenaran yang kita bahwa ini dapat diterima dengan baik oleh setiap orang. Dari kelompok manapun dia. Dan dengan ideologi apapun dia hidup. “karena kelemah lembutanmu dalam menyampaikan kebenaran itu. Maka musuh-musuh dakwah ini menganggapmu sebagai teman yang sangat baik”.

Sedangkan secara eksternal, masyarakat perlu kita kondisikan agar mereka mampu menerima nilai-nilai baik yang kita bawa. Melalui proses pembauran, menjadi bagian dari mereka. Dan pada saat yang sama kita mendidik mereka, tak sekadar membantu mereka, tapi mendorong mereka untuk secara mandiri menata hidup mereka menjadi lebih baik. Inilah yang kita harapkan. Bahwa hasil-hasil penataan pribadi-pribadi muslim, harus lebih berdaya, untuk melakukan proses perubahan dalam skala yang lebih besar. Masyarakat. Agar nilai-nilai kebaikan ini mendapatkan dukungan yang kuat dari masyarakat. Wallahualam

readmore »»ǴǴ

Selasa, 15 November 2011

Untuk Sang Guru

Saya menulisnya, di hari wafatnya,Fathi Yakan, Salah satu Tokoh Gerakan Islam
13 Juni 2009

Seluruh makhluk tertunduk. Karena kehilangan lagi satu mutiara indah di tengah kerikil-kerikil tajam kehidupan. Mutiara, yang telah memberikan kemilau indah di alam kehidupan manusia. Ia pergi menghadap Sang Khalik. Setelah ia menulis tinta emas dalam perjalanan panjang harakah dakwah ini. Setelah pengalaman panjang hidupnya dituang dalam sekitar 35 buah buku yang dibaca oleh murid-muridnya.
Wajah itu sumringah dipembaringannya. Ia tersenyum menjemput rindu yang telah lama. Perjumpaan dengan sang kekasih. Maka ia melepaskan seluruh lelahnya di dalam pelukan sang kekasih. Ia memang hanya merindukan itu. Seluruh waktu hidupnya dihabiskan untuk mengumpulkan bekal agar dapat bertemu sang kekasih. Wajah itu sumringah. Ia ingin berkata, sekarang aku akan beristrahat setelah menempuh lelah mengantar harakah ini ke gerbang marhalahnya.
readmore »»ǴǴ

Minggu, 13 November 2011

“Inilah Aku”

Sabtu, 12 November 2011

Tidakkah kau lihat anak kecil, hai orang yang berakal
Ia tak punya pengetahuan tentang dirinya
Telinganya tidak tahu apa itu irama
(Iqbal)

Laki-laki itu berdiri tegap di tengah-ditengah zamannya. Ketika zaman dibingungkan oleh hilangnya identitas manusianya. Jejak-jejak kemunduran telah nampak begitu jelas. Ketika manusia tenggelam dalam parsialisasi agama dan kehidupan, laki-laki itu berdiri menentang badai parsialisasi. Ketika para pendahulu, larut dalam kebingungan atau mulai putus asa terhadap realitas, laki-laki itu berteriak lantang “inilah aku”. Laki-laki itu adalah Hasan Al Banna.

Keruntuhan kekhalifahan Turki Utsmani menjadi puncak kebingungan manusia muslim tentang siapa dirinya. Mereka bagaiakan anak-anak ayam yang kehilangan induk. Hasan Al Banna muda berdiri dan berteriak lantang di tengah zaman untuk menegaskan dirinya. Bukan hanya sebagai individu tapi sebagai muslim.

“Akulah petualang yang mencari kebenaran, Akulah manusia yang mencari makna dan hakekat kemanusiaannya di tengah manusia. Akulah patriot yang berjuang menegakkan kehormatan, kebebasan, ketenangan, dan kehidupan yang baik bagi tanah air di bawah naungan Islam yang hanif.

Adalah kalimat-kalimatnya untuk penegasan tentang jati dirinya. Tentang siapa dirinya dan bagaimana ia akan bekerja mengambil tugas kemanusiaannya. Dan ini juga penjelasan tentang besar cita-citanya.

Akulah lelaki bebas yang telah mengetahui rahasia wujudnya, maka Ia pun berseru, 'Sesungguhnya Shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah, tuhan semesta Alam yang tiada sekutu bagi-Nya. Kepada yang demikian itulah aku diperintahkan, dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri.' Inilah Aku. Dan kamu, Kamu sendiri siapa?"

Adalah kalimat-kalimatnya untuk menegaskan orientasi dari semua amal kehidupan yang telah dan akan terus-menerus dilakukannya selama hidup tanpa henti. Juga penjelasan tentang penyerahan diri yang total kepada Sang Pencipta terhadap semua upaya manusiawinya.

Sikap ini memang tak dimiliki oleh banyak orang. Seperti itulah sejarah akhirnya mengajarkan kepada kita kisah Dzul Jausyan, yang ditawari Rasulullah SAW untuk masuk islam setelah usainya perang badar. Tapi ia menolak bergabung, karena alasan kaum muslimin saat itu begitu tertindas dan terusir dari tanah tercinta mereka. Dzul Jausyan hanya akan bergabung jika Rasulullah berhasil menaklukkan kota mekkah. Dan Rasulullah menjanjikan kemenangan itu. Berselang 7 tahun kemudian, kota mekkah dibebaskan, Dzul Jausyan kemudian menyesali ketidakbergabungannya sejak awal, dan ia tertinggal jauh dari kemuliaan mereka yang merintis jalan menuju pembebasan kota Mekkah, setelah 10 tahun hijrah.

“Inilah aku” adalah kata yang mewakili sifat kepeloporan, inisiatif mengambil tanggung jawab sekaligus penegasan jati diri yang hakiki di tengah kebingungan manusia tentang siapa dirinya. Dan sikap ini mungkin tak kita temukan di zaman saat ia hidup.

Kita perlu meniru sikap ini, karena ini juga merupakan sikap yang telah dicontohkan oleh Nabi umat ini. Ketika ia harus berdiri tegap di tengah-tengah masyarakat jahiliyah jazirah arab untuk menegaskan hakekat kemanusiaan dan penghambaan yang tanpa kompromi, hanya kepada Allah SWT.

“Inilah Aku” adalah penjelasan tentang kepeloporan, yang dengannya seseorang berdiri tegap seorang diri dan kini diikuti oleh ribuan dan bahkan milyaran manusia. Tapi harga yang harus di bayar oleh sikap ini memang mahal. Sehingga banyak yang kemudian memilih untuk tidak mengambil sikap-sikap ini karena tidak sanggup menanggung beban dan benturan yang kelak pasti dihadapinya.

Dalam konteks perubahan, kata “inilah aku” adalah titik tolak untuk bergerak. “Inilah aku” dimulai dengan penegasan tentang jati diri, lalu keluar membimbing manusia mengenalkan hakekat diri mereka sendiri, sebagai manusia dan sebagai muslim. Pengenalan jati diri ini akan menjadi langkah awal menuju perubahan arah kehidupan manusia. Dan itulah juga sebabnya mereka, para pelopor itu menjadi teladan sepanjang masa, yang dari merekalah kita belajar.

readmore »»ǴǴ

Senin, 31 Oktober 2011

Profesionalisme

Rabu, 7 Juli 2010
Pukul 20.22 WITA

Masyarakat kampus adalah stok masyarakat kelas menengah bagi masyarakat secara kesuruhannya di masa depan. Ini juga memiliki makna lain bahwa mahasiswa adalah stok pemimpin masyarakat.

Olehnya itu, setiap kader harokah sudah seharusnya menyadari bahwa penyiapan diri untuk menjadi bagian dari stok kepemimpinan masyarakat masa depan adalah sebuah keniscayaan. Juga untuk merespon kebutuhan harokah yang sedang menjalani tahapan dakwah institusi menuju tahapan dakwah pada level negara. Inilah alasan yang menjelaskan bahwa profesionalisme kader harokah sudah harus ditumbuhkan sejak dini. Di usia kampus. Usia mahasiswa.


Yang saya maksud dengan profesionalisme di sini adalah bidang profesi dimana kader harokah menempuh pendidikan. Inilah yang disebutkan oleh Anis Matta dengan kata “kontribusi”. Dari tiga langkah peradaban yang hendak kita lakukan. Afiliasi, Partisipasi dan Kontribusi. Pemahaman tentang hal ini yang memang masih missing pada sebagian kader harokah. Bukan karena fikroh tetapi lebih disebabkan karena selama usia-usia kampus, kader-kader harokah disibukkan dengan aktifitas yang bersifat dakwah amm dan aktifitas politik sehingga kurang fokus terhadap bidang profesinya masing-masing.

Juga selain karena efek yang masih tersisa dari tahap awal perintisan dakwah di lingkungan terdidik ini. Dimana dahulu, kader-kader perintis dakwah kampus memberikan perhatian yang lebih besar terhadap peletakan dasar dakwah yang kuat dan kurang memperhatikan profesionalisme bidang akademiknya.

Akan tetapi, realitas zaman telah memaksa setiap kader harokah untuk mengupayakan mobilitas vertikal. Mobilitas vertikal pada berbagai struktur kenegaraan dan pada semua levelnya. Sudah saatnya mobilitas ini digelorakan dengan gelombang yang semakin besar.

Paradigma pandang kader sudah saatnya diubah bahwa mobilitas vertikal muslim tidak lagi cukup dilakukan secara terbatas pada lembaga-lembaga tertentu saja. Sebab, jika pada suatu saat, ketika kader harokah diamanahkan oleh zaman untuk mengelola negeri ini, maka adalah niscaya tidak hanya dibutuhkan orang-orang yang memiliki komitmen keIslaman yang sama, komitmen perbaikan yang sama tetapi memerlukan orang sholeh dengan kompetensi profesionalisme yang memadai.

Ustadz Cahyadi Takariawan menyebutkan bahwa gerakan dakwah harus mempersiapkan dirinya untuk memasuki orbit kelembagaan politik. Politik, sebagaimana defenisi umum yang kita pahami, yaitu upaya-upaya untuk mendistribusikan kebaikan-kebaikan secara utuh kepada seluruh lapisan masyarakat dan meminimalisir terjadinya kemungkaran-kemungkaran pada semua level masyarakat.

Oleh sebab itulah, kader-kader dakwah harus menjadi bagian dari manusia-manusia yang mengambil kebijakan agar eksistensi dakwah semakin kokoh dengan tampilnya orang-orang sholeh dengan profesionalisme yang memadai pada semua lembaga-lembaga negara. Agar nilai-nilai kebaikan dapat didistribusikan melalui semua sarana yang bisa digunakan untuk itu.

Tentu saja, generasi yang disiapkan harus memiliki kompetensi yang terbaik dibidangnya masing-masing. Memimpin perubahan tidaklah cukup dilakukan hanya pada satu bidang saja. Tapi perlu ada kontribusi yang sama besarnya pada semua bidang kehidupan. Itulah salah satu desain masa depan yang sudah harus sejak awal dipikirkan dan dikerjakan. Oleh kader dan juga oleh harokah secara keseluruhannya.

Akan tetapi untuk dapat bertahan (survive) dan semakin kompetitif di masa depan dan mencapai mobilitas yang maksimal untuk memimpin, maka diperlukan suatu pola kaderisasi yang mapan, mulai dari rekrutmen, pembinaan, pemberdayaan dan pengujian kepemimpinan kader.

Sekali lagi pemahaman dan kesadaran tentang hal ini sangat penting. Sebab, ketika kita berbicara mihwar muassasi dan mihwar daulah, itu artinya akan dibutuhkan sekian banyak kader professional, unggul dibidangnya masing-masing untuk mengelola berbagai institusi. Agar Islam dan kadernya bisa ada pada setiap sisi kehidupan bangsa ini. Seperti ketika Islam ada di setiap rumah penduduk madinah pada masa Rasulullah SAW.


readmore »»ǴǴ