Minggu, 13 November 2011

“Inilah Aku”

Sabtu, 12 November 2011

Tidakkah kau lihat anak kecil, hai orang yang berakal
Ia tak punya pengetahuan tentang dirinya
Telinganya tidak tahu apa itu irama
(Iqbal)

Laki-laki itu berdiri tegap di tengah-ditengah zamannya. Ketika zaman dibingungkan oleh hilangnya identitas manusianya. Jejak-jejak kemunduran telah nampak begitu jelas. Ketika manusia tenggelam dalam parsialisasi agama dan kehidupan, laki-laki itu berdiri menentang badai parsialisasi. Ketika para pendahulu, larut dalam kebingungan atau mulai putus asa terhadap realitas, laki-laki itu berteriak lantang “inilah aku”. Laki-laki itu adalah Hasan Al Banna.

Keruntuhan kekhalifahan Turki Utsmani menjadi puncak kebingungan manusia muslim tentang siapa dirinya. Mereka bagaiakan anak-anak ayam yang kehilangan induk. Hasan Al Banna muda berdiri dan berteriak lantang di tengah zaman untuk menegaskan dirinya. Bukan hanya sebagai individu tapi sebagai muslim.

“Akulah petualang yang mencari kebenaran, Akulah manusia yang mencari makna dan hakekat kemanusiaannya di tengah manusia. Akulah patriot yang berjuang menegakkan kehormatan, kebebasan, ketenangan, dan kehidupan yang baik bagi tanah air di bawah naungan Islam yang hanif.

Adalah kalimat-kalimatnya untuk penegasan tentang jati dirinya. Tentang siapa dirinya dan bagaimana ia akan bekerja mengambil tugas kemanusiaannya. Dan ini juga penjelasan tentang besar cita-citanya.

Akulah lelaki bebas yang telah mengetahui rahasia wujudnya, maka Ia pun berseru, 'Sesungguhnya Shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah, tuhan semesta Alam yang tiada sekutu bagi-Nya. Kepada yang demikian itulah aku diperintahkan, dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri.' Inilah Aku. Dan kamu, Kamu sendiri siapa?"

Adalah kalimat-kalimatnya untuk menegaskan orientasi dari semua amal kehidupan yang telah dan akan terus-menerus dilakukannya selama hidup tanpa henti. Juga penjelasan tentang penyerahan diri yang total kepada Sang Pencipta terhadap semua upaya manusiawinya.

Sikap ini memang tak dimiliki oleh banyak orang. Seperti itulah sejarah akhirnya mengajarkan kepada kita kisah Dzul Jausyan, yang ditawari Rasulullah SAW untuk masuk islam setelah usainya perang badar. Tapi ia menolak bergabung, karena alasan kaum muslimin saat itu begitu tertindas dan terusir dari tanah tercinta mereka. Dzul Jausyan hanya akan bergabung jika Rasulullah berhasil menaklukkan kota mekkah. Dan Rasulullah menjanjikan kemenangan itu. Berselang 7 tahun kemudian, kota mekkah dibebaskan, Dzul Jausyan kemudian menyesali ketidakbergabungannya sejak awal, dan ia tertinggal jauh dari kemuliaan mereka yang merintis jalan menuju pembebasan kota Mekkah, setelah 10 tahun hijrah.

“Inilah aku” adalah kata yang mewakili sifat kepeloporan, inisiatif mengambil tanggung jawab sekaligus penegasan jati diri yang hakiki di tengah kebingungan manusia tentang siapa dirinya. Dan sikap ini mungkin tak kita temukan di zaman saat ia hidup.

Kita perlu meniru sikap ini, karena ini juga merupakan sikap yang telah dicontohkan oleh Nabi umat ini. Ketika ia harus berdiri tegap di tengah-tengah masyarakat jahiliyah jazirah arab untuk menegaskan hakekat kemanusiaan dan penghambaan yang tanpa kompromi, hanya kepada Allah SWT.

“Inilah Aku” adalah penjelasan tentang kepeloporan, yang dengannya seseorang berdiri tegap seorang diri dan kini diikuti oleh ribuan dan bahkan milyaran manusia. Tapi harga yang harus di bayar oleh sikap ini memang mahal. Sehingga banyak yang kemudian memilih untuk tidak mengambil sikap-sikap ini karena tidak sanggup menanggung beban dan benturan yang kelak pasti dihadapinya.

Dalam konteks perubahan, kata “inilah aku” adalah titik tolak untuk bergerak. “Inilah aku” dimulai dengan penegasan tentang jati diri, lalu keluar membimbing manusia mengenalkan hakekat diri mereka sendiri, sebagai manusia dan sebagai muslim. Pengenalan jati diri ini akan menjadi langkah awal menuju perubahan arah kehidupan manusia. Dan itulah juga sebabnya mereka, para pelopor itu menjadi teladan sepanjang masa, yang dari merekalah kita belajar.

readmore »»ǴǴ

Senin, 31 Oktober 2011

Profesionalisme

Rabu, 7 Juli 2010
Pukul 20.22 WITA

Masyarakat kampus adalah stok masyarakat kelas menengah bagi masyarakat secara kesuruhannya di masa depan. Ini juga memiliki makna lain bahwa mahasiswa adalah stok pemimpin masyarakat.

Olehnya itu, setiap kader harokah sudah seharusnya menyadari bahwa penyiapan diri untuk menjadi bagian dari stok kepemimpinan masyarakat masa depan adalah sebuah keniscayaan. Juga untuk merespon kebutuhan harokah yang sedang menjalani tahapan dakwah institusi menuju tahapan dakwah pada level negara. Inilah alasan yang menjelaskan bahwa profesionalisme kader harokah sudah harus ditumbuhkan sejak dini. Di usia kampus. Usia mahasiswa.


Yang saya maksud dengan profesionalisme di sini adalah bidang profesi dimana kader harokah menempuh pendidikan. Inilah yang disebutkan oleh Anis Matta dengan kata “kontribusi”. Dari tiga langkah peradaban yang hendak kita lakukan. Afiliasi, Partisipasi dan Kontribusi. Pemahaman tentang hal ini yang memang masih missing pada sebagian kader harokah. Bukan karena fikroh tetapi lebih disebabkan karena selama usia-usia kampus, kader-kader harokah disibukkan dengan aktifitas yang bersifat dakwah amm dan aktifitas politik sehingga kurang fokus terhadap bidang profesinya masing-masing.

Juga selain karena efek yang masih tersisa dari tahap awal perintisan dakwah di lingkungan terdidik ini. Dimana dahulu, kader-kader perintis dakwah kampus memberikan perhatian yang lebih besar terhadap peletakan dasar dakwah yang kuat dan kurang memperhatikan profesionalisme bidang akademiknya.

Akan tetapi, realitas zaman telah memaksa setiap kader harokah untuk mengupayakan mobilitas vertikal. Mobilitas vertikal pada berbagai struktur kenegaraan dan pada semua levelnya. Sudah saatnya mobilitas ini digelorakan dengan gelombang yang semakin besar.

Paradigma pandang kader sudah saatnya diubah bahwa mobilitas vertikal muslim tidak lagi cukup dilakukan secara terbatas pada lembaga-lembaga tertentu saja. Sebab, jika pada suatu saat, ketika kader harokah diamanahkan oleh zaman untuk mengelola negeri ini, maka adalah niscaya tidak hanya dibutuhkan orang-orang yang memiliki komitmen keIslaman yang sama, komitmen perbaikan yang sama tetapi memerlukan orang sholeh dengan kompetensi profesionalisme yang memadai.

Ustadz Cahyadi Takariawan menyebutkan bahwa gerakan dakwah harus mempersiapkan dirinya untuk memasuki orbit kelembagaan politik. Politik, sebagaimana defenisi umum yang kita pahami, yaitu upaya-upaya untuk mendistribusikan kebaikan-kebaikan secara utuh kepada seluruh lapisan masyarakat dan meminimalisir terjadinya kemungkaran-kemungkaran pada semua level masyarakat.

Oleh sebab itulah, kader-kader dakwah harus menjadi bagian dari manusia-manusia yang mengambil kebijakan agar eksistensi dakwah semakin kokoh dengan tampilnya orang-orang sholeh dengan profesionalisme yang memadai pada semua lembaga-lembaga negara. Agar nilai-nilai kebaikan dapat didistribusikan melalui semua sarana yang bisa digunakan untuk itu.

Tentu saja, generasi yang disiapkan harus memiliki kompetensi yang terbaik dibidangnya masing-masing. Memimpin perubahan tidaklah cukup dilakukan hanya pada satu bidang saja. Tapi perlu ada kontribusi yang sama besarnya pada semua bidang kehidupan. Itulah salah satu desain masa depan yang sudah harus sejak awal dipikirkan dan dikerjakan. Oleh kader dan juga oleh harokah secara keseluruhannya.

Akan tetapi untuk dapat bertahan (survive) dan semakin kompetitif di masa depan dan mencapai mobilitas yang maksimal untuk memimpin, maka diperlukan suatu pola kaderisasi yang mapan, mulai dari rekrutmen, pembinaan, pemberdayaan dan pengujian kepemimpinan kader.

Sekali lagi pemahaman dan kesadaran tentang hal ini sangat penting. Sebab, ketika kita berbicara mihwar muassasi dan mihwar daulah, itu artinya akan dibutuhkan sekian banyak kader professional, unggul dibidangnya masing-masing untuk mengelola berbagai institusi. Agar Islam dan kadernya bisa ada pada setiap sisi kehidupan bangsa ini. Seperti ketika Islam ada di setiap rumah penduduk madinah pada masa Rasulullah SAW.


readmore »»ǴǴ

Rabu, 26 Oktober 2011

Masih Tentang Cinta (2)

Rabu, 26 Oktober 2011
Pukul. 15.45 WITA

Kita telah berbicara cinta dalam tema khusus. Cinta kepada Allah SWT. Dan itulah puncak gunung cinta. Karena kata Ibnu Qoyyim Al Jauziah “cinta kepada kesempurnaan adalah cinta yang tertinggi”. Dan Itu artinya cinta jenis ini adalah cinta kepada Allah SWT karena Dia-lah yang Maha Sempurna. Sekaran kita ingin berbicara tentang cinta yang terkhususkan kepada seseorang. Seseorang yang telah ditakdirkan untuk menjadi pendamping hidup.

Dalam konteks takdir, cinta kepada seseorang atau lebih dikenal dengan jodoh, adalah sesuatu yang telah diciptakan sejak semula sebagai sebuah kepastian. Akan tetapi, pertanyaan yang tak bisa kita jawab adalah bagaimana cara kita memastikan siapa sebenarnya seseorang yang ditakdirkan untuk menjadi pendamping hidup kita? Sekali lagi tidak, kita tak bisa memastikannya. Maka dalam makna inilah kita akan menemukan fakta bahwa jatuh cinta adalah fenomena manusiawi yang hadir di ruang jiwa seorang manusia. Ia sesuatu yang tak mungkin bisa kita ingkari. Maka kita akan bertanya, sebenarnya cinta jenis ini, cinta kepada seseorang, dari mana ia berasal?


Keserasian. Itulah alasan ketertarikan itu. Seperti sifat zat di alam, bahwa ia akan memiliki daya kohesifitas yang kuat jika sejenis. Seperti ketika kita mencampur air ke dalam air. Dan seperti itulah lahirnya cinta.

Cinta, sesungguhnya bermula dari pandangan, tapi ia lahir bukan karena ketertarikan jiwa kepada objek yg dicintai, berupa fisik, harta karena ia fana. Jika ia lahir karena alasan fisik, alasan harta maka cinta akan berkurang seiring dengan berkurangnya kualitas dan kadar fisik dan harta. Pandangan akan menjadi pintu yang menemukan keserasian-keserasian itu pada objek yang kita amati.

Keserasian itu, kata Ibnu Qoyyim Al Jauziah bisa dalam banyak hal tetapi yang tertinggi dan keserasian yang terbaik adalah keserasian dalam hal tujuan hidup. Jika pada satu waktu kita menemukan bahwa Rasulullah SAW mengatakan “perumpamaan mukmin dengan mukmin yang lain itu seperti satu tubuh, jika ada satu bagian yang sakit makan bagian tubuh yang lain akan merasakan sakit. Maka inilah penjelasannya. Kata mukmin dalam hadits tersebut adalah kata penjelas tentang makna kesamaan tujuan ini.

Karena keserasian itu bisa dari banyak hal, maka cinta yang lahir di jiwa seseorang haruslah punya alasan yang abadi untuk membuat cinta itu abadi. Begitulah, maka cinta kepada hal yang lain harus dibangun di atas landasan cinta kepada Allah, Dia abadi. karena hanya dengan itulah cinta akan menjadi abadi.

Lalu jika perasaan cinta itu lahir karena keserasian. Kenapa kita menemukan fakta ada "cinta yang bertepuk sebelah tangan? Cinta yang lahir dari seseorang, kata Ibnu Qoyyim Al Jauzaih bisa ada dalam dua jenisnya yaitu cinta di permukaan dan cinta yg bersumber dari jiwa.

Cinta di permukaan ini, biasanya lahir karena tampilan fisik yang menarik dari objek yang dipandang, Tapi daya tarik itu tidak sampai di kedalaman jiwa orang yang jatuh cinta. Cinta jenis ini memang tak menuntut pada kebersamaan, Ataupun jika akhirnya berlanjut biasanya hubungan itu tidak akan berlangsung lebih lama, jika akhirnya daya tarik fisik itu tak berujung pd kecocokan tujuan. Mungkin inilah alasan yang menjelaskan kita menemukan kasus-kasus perceraian. Menikah tak begitu lama dan akhirnya harus berujung pada perceraian.

Sedangkan jenis cinta yang bersumber dari jiwa, biasanya akan berujung pada kebersamaan. Karena jiwa pemiliknya akan bersahut-sahut saling memanggil, karena kecocokan keduanya. Cinta yang bersumber dari jiwa ini biasanya hanya menjadikan fisik sebagai kebutuhan berikutnya.Tapi bukan yang utama. Karena fisik memang digerakkan oleh jiwa. Maka jika cinta pada suatu waktu kita menemukan tak berbalas, Itu artinnya cinta yang lahir adalah cinta dipermukaan. Cinta yang lahir karena fatamorgana pandang. Cinta kepada fisik yang akhirnya tak menemukn kesamaan tujuan pada pemilik perasaan itu.


readmore »»ǴǴ

Masih Tentang Cinta (1)

Rabu, 26 Oktober 2011
Pukul 06.00 WITA

Pembicaraan tentang cinta memang tak akan pernah habis. Seperti ketika kita hendak mendefenisikan apa arti kata cinta. Karena cintalah yang melatari semua peristiwa di kehidupan. Matahari yang terbit di pagi hari, Bumi yang berputar mengelilingi porosnya, kelahiran seorang anak manusia ke dunia, dan bahkan cintalah yang melatari lahirnya alam semesta. Maka pembicaraan kita tentang cinta memang tak akan pernah bisa berakhir. Tapi izinkan saya berbicara tentang cinta dari tema ini. Tentang bagaimana cinta itu dijalani dan konsekuensi yang harus ditempuh para pecinta untuk sampai kepada yang mereka cintai.

Jika kita membaca dari firman-firman-Nya tentang bagaimana Allah SWT berbicara tentang cinta, maka kita akan menyimpulkan bahwa kata cinta mengandung konsekuensi yang teramat agung. Ketika kita mempersaksikan-Nya sebagai Tuhan satu-satunya, Allah menggunakan kata ini “mitsaqan ghalizho”. Perjanjian yang berat.


Mitsaqon Ghaliza berarti perjanjian yang berat. Dalam Al Quran, kata Mitsaqon Ghaliza hanya disebutkan tiga kali, yaitu ketika Allah SWT membuat perjanjian dengan para Nabi dan Rasul Ulul Azmi , ketika Allah SWT mengangkat Bukit Tsur di atas kepala Bani Israil dan menyuruh mereka bersumpah setia di hadapan Allah, dan ketika Allah SWT menyatakan hubungan pernikahan. Dua hal yang pertama tentang tauhid dan terakhir tentang hubungan antara dua manusia yang berbeda jenis.Untuk tauhid [QS 33 : 7] [QS 4 : 154] untuk pernikahan [QS 4 : 21] Tapi semuanya adalah peristiwa agung yang menggetarkan jiwa manusia.

Begitulah, kata cinta yang kita ucapkan akan menuntut banyak hal. Cinta akan membuat anda siap menjalani hal terpahit dalam hidup untuk sampai kepada yang anda cintai. Seperti ketika sakit, tak peduli sepahit apapun obat yang harus anda minum untuk sehat, karena anda mencintai sehat. Maka Allah menyediakan hal-hal "pahit" untuk sampai kepada-Nya, ketika mengatakan Aku Mencintai-Mu, ya Allah.

Tapi Allah, menciptakan lebih banyak hal-hal yang bisa Anda cintai dibandingkan dengan hal-hal yang Anda benci. Ketika kita mengatakan Aku Mencintai-Mu Ya Allah, Dia mensyaratkan satu hal bahwa cinta itu sama sekali tak boleh lagi berbagi. Tak boleh untuk siapapun. Cinta kepada Allah, harus berujung pada kesiapan kita untuk mewarnai diri dengan nilai-nilai yang dikehendaki-Nya. Hal Ini bukan sebentuk paksaan. Tapi memang begitulah cinta, ia ditakdirkan untuk membuat kita siap menghamba, siap tunduk dan merendah kepada-Nya.

Kita memang boleh mencintai hal yang lain, mencintai harta, mencintai benda, kendaraan, dan bahkan secara khusus kepada manusia dan wanita. Tapi bukan untuk menghamba. Bukan untuk patuh seperti kepatuhan pada-Nya. Karena semua kecintaan kita kepada yang lain selain-Nya, hanyalah bagian dari cara kita mencintai Allah. Dan itu artinya kecintaan kita kepada hal yang lain tak boleh bertentangan dengan apa yang dikehendaki-Nya.
readmore »»ǴǴ

Senin, 10 Oktober 2011

Tegar Di Tengah Badai

Ahad, 9 Oktober 2011
Pukul 06.02 WITA


Di perjalanan panjang kehidupan ini, sesekali kita akan diterpa badai kehidupan. Hal ini bukan sesuatu hal yang harus kita cemaskan, tetapi hal Ini justru kita butuhkan untuk mengokohkan, untuk meneguhkan dan untuk menguatkan seluruh instrumen kepribadian kita, fisik, jiwa, dan akal agar mampu menuntaskan sisa perjalanan kehidupan kita.

Jika pada suatu waktu Allah SWT mengatakan “Apakah kalian akan menyatakan diri kalian beriman padahal kalian belum benar-benar diuji” maka ini adalah penjelasan tentang hakekat bahwa Allah SWT akan menyediakan tantangan-tantangan kehidupan untuk menaikan kita pada satu tangga kemuliaan yang lebih tinggi dari posisi hidup kita sebelumnya.

Lihatlah sejarah, dan semua karya fenomenal yang pernah diukir manusia-manusia besar dalam kehidupan, akan kita temukan disana satu fakta bahwa sebelum mereka mencapai tangga prestisius kehidupan yang membuat mereka terhormat, mereka harus melalui jalan yang berdarah-darah, jalan yang menguras air mata dan fisik, serta debu-debu kehidupan.

Seorang Sayyid Quthb yang menyelesaikan karya fenomenal Tafsir Fii Zilalil Qur`an justru ketika ia menjalani masa-masa penyiksaan dalam penjara. Atau kisah terusirnya Rasulullah SAW dan para sahabatnya dari tanah air tercinta, lalu hidup di negeri baru tanpa harta, tanpa keluarga sebelum mereka kembali ke kota Mekakkah 10 tahun kemudian.

Tetapi, yang kita butuhkan setelah kesadaraan ini adalah jawaban akan pertanyaan ini, apa yang kita butuhkan agar terpaaan badai kehidupan itu dapat kita lalui, agar kita mampu mencapai tangga kemuliaan hidup?. Yang kita butuhkan untuk mampu melampaui badai hidup itu adalah kejelasan tujuan, cadangan kesabaran yang tak terbatas dan keyakinan yang teguh akan dekatnya pertolongan Allah SWT


Kejelasan tujuan menjadi instrument yang menjelaskan bahwa setiap sikap kita dalam hidup hanya akan mengarahkan kita pada satu arah yang jelas. Tujuan itu seperti setitik cahaya di dalam lorong gelap. Tujuan memberi arah kepada kita untuk selalu menuju ke sana. Kejelasan tujuan juga akan menjadi patron bagi kita, bahwa jika pada suatu saat dalam hidup, kita mulai menjauh dari arah yang telah kita tetapkan, kita akan mampu mengatur ulang langkah agar kembali ke track semula.

Inilah alasan yang menjelaskan mengapa Allah SWT ketika hendak menciptakan manusia, yang pertama kali dilakukan-Nya adalah menjelaskan apa tujuan menciptakan manusia. “Dan berkata Allah kepada malaikat: Saya hendak menciptakan khalifah (manusia) di muka bumi”. Agar kelak manusia yang akan diciptakan ini memiliki kejelasan orientasi, kejelasan tentang peran kehidupannya di muka bumi, yaitu sebagai wakil Allah SWT.

Yang kita butuhkan setelah itu adalah kesabaran. Kesabaran adalah karakter dasar yang harus dimiliki oleh penempuh jalan panjang menuju titik akhir hidupnya. Tak satupun yang mampu menyelesaikan perjalanan jika ia tak memiliki cadangan kesabaran yang besar. Kesabaran ini akan terus menerus diuji oleh waktu yang dihabiskan dalam perjalanan panjang menuju terminal akhir perjalanan hidup kita.

Kesabaran menjadi kebutuhan yang tak pernah boleh tak terawat. Karena kesabaran kita butuhkan ketika hendak mengatur ulang langkah, yang lelah akibat terpaan badai hidup. Juga, kesabaran ini kita butuhkan untuk menunggu datangnya jawaban atas setiap upaya kehidupan dari Sang Pencipta. Semua hal yang kita kerjakan dalam perjalan kehidupan membutuhkan sifat ini.

Hal terakhir yang kita butuhkan adalah bahwa kita harus benar-benar meyakini dengan sekuat-kuatnya akan adanya tangan Allah SWT yang akan menuntun kita agar tak jatuh ke dalam lumpur, ada tangan Allah yang akan menyingkirkan setiap hambatan kehidupan. Kita tak mungkin dibiarkan sendiri tanpa pertolongan-Nya.

Manusia, kadang begitu cemas karena terlalu seringnya gagal atas suatu usahanya dalam hidup. Tetapi saya percaya bahwa teruslah berupaya, jangan pernah berhenti mewujudkan mimpi anda, karena setelah jatah kegagalan anda telah terlampaui yang datang sesudahnya adalah kesuksesan-kesuksesan. Pada saat yang sama, kita memiliki tempat menggantung kehidupan. Maka orang-orang beriman yang diberi beban menempuh jalan panjang keimanan akan selalu memiliki harapan yang permanen, karena mereka memilki Allah.

Mungkin memang kisah hidup kita tak seindah kisah-kisah yang diceritakan dalam serial cinta yang ditulis oleh Anis Matta dan juga tak seperkasa para pahlawan yang diceritakannya dalam serial kepahlawanan, tetapi kita memiliki serial pembelajaran hidup yang akan memberikan kita satu hal, yaitu kemampuan untuk mengindahkan cinta dan memiliki karakter seperkasa pahlawan. Karena sekolah kehidupan ini mengajarkan kita satu hakekat, bahwa waktu kita untuk belajar selalu jauh lebih lama dibandingkan dengan waktu ujian.

readmore »»ǴǴ